
"Apa sekarang kalian puas?" Tanya Zea dengan menatap tajam kearah Rakes dan Kania secara bergantian.
"Bagaimana? apa acting aku terlihat begitu natural?" Tanya Kania.
"Sempurna! muka Marvel benar-benar terlihat sangat pucat, biar tau rasa! emang dia aja yang jago acting kita juga bisa kali!" Jelas Rakes yang kini tertawa puas.
"Hah!!! Jadi kalian nggak marah?" Tanya Rafeal kebingungan.
"Kalian sengaja ngusilin abang Marvel?" Tanya Zea.
"Marah? nggak guna tau. Dapat teman anak miliader harusnya senang dong, paling tidak bisa nebeng hidup enak!" Cetus Rakes.
"Yoi banget, mulai sekarang aku bisa porotin tuh pewaris harta kekayaan yang bahkan nggak akan habis sampai puluhan turunan. Waaaah mulai sekarang tinggal nunjuk aja apa yang aku mau! membayangkannya saja begitu menyenangkan!" Jelas Kania.
"Sejak kapan kalian jadi matre gini? Iiiisshh untung aku bukan orang kaya, kalau nggak bisa habis kekayaan aku karena kalian berdua." Jelas Zea.
"Betul tuh Zea, bisa miskin mendadak kalau punya teman kayak manusia ni dua orang. Hadeeeuh!" Jelas Rafeal yang beralih untuk duduk di sofa.
"Dari tadi aja yang janggal banget, aku nggak masalah sih kalau abang Rakes sama kak Zea kesini, secara abang Marvel kan emang sahabat abang Rakes, nah kalau abang Rafeal kenapa ke sini? orang yang pertama datang lagi, apa hubungannya abang sama abang Marvel?" Pertanyaan Kania sontak membuat Rafeal dan Rakes saling memandang.
"Ahhhhh kakak yang minta dia datang ke sini, biar kakak punya kawan bolos sekolah." Bohong Zea.
"Iyap, lagian belajar mulu bosan kali!" Cetus Rafeal.
"Marvel keluar! buruan?" Panggil Rakes dengan suara lantang.
"Biar aku yang cek ke kamarnya!" Jelas Zea.
Zea bergegas menuju kamar Marvel, namun baru beberapa langkah Zea berjalan tiba-tiba, tubuh Zea ambruk ke lantai, kejadian tersebut sontak membuat Rakes dan Rafeal segera berlari menghampiri tubuh Zea yang kini bahkan tak sadarkan diri lagi.
"Zea, Zea kamu kenapa? Zea bangun!" Ujar Rakes yang begitu panik dan segera membawa tubuh Zea ke dalam pangkuannya.
"Kita bawa Princess ke rumah sakit sekarang, Cepat!" Perintah Rafeal yang tak kalah panik dari Rakes.
"Kak, bangun kak!" Ujar Kania yang begitu khawatir.
"Princess kenapa?" Tanya Marvel yang baru saja keluar kamar kerena mendengar keributan yang terjadi di luar.
"Tiba-tiba pingsan." Jelas Kania.
"Rafeal, cepat siapkan mobil!" Perintah Rakes.
"Oke!" Tegas Rafeal dan segera berlari keluar.
Rakes segera menggendong tubuh Zea lalu bergegas membawanya ke mobil, Marvel dan Kania pun segera mengikuti yang lainnya.
Rafeal langsung tancap gas, mobil terus melaju melewati kecepatan rata-rata.
_________________________
Ruangan yang begitu gelap, membuat dada Zea semakin sesak, ia bahkan kesulitan untuk bernafas. Zea mencoba untuk berdamai dengan hati dan pikirannya yang semakin ketakutan dengan keadaan sekitar yang bahkan ia tidak bisa melihatnya sama sekali. Zea berusaha menyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja, ia hanya bisa merasakan kalau saat ini tubuhnya sedang terbaring diatas kasur dengan kedua tangan yang terikat begitu erat serta mulut yang tersumpal sempurna dengan seutas kain yang terikat menutupi mulutnya.
"Ayah tolong, Zea sama sekali tidak bisa melihat apapun. Ayah cepat selamatkan Zea, Zea sudah bertahan seperti yang ayah ajarkan, Zea sama sekali tidak takut jadi cepatlah datang!" Tangis Zea yang masih saja berusaha untuk kuat.
Meski dalam keadaan gelap gulita, Zea terus berusaha untuk melepaskan ikatan yang ada di kedua tangan.
Zea menghentikan usahanya ketika ia mendengar langkah kaki yang kian mendekat kearahnya, Zea bahkan berhenti bernafas agar langkah tersebut tidak terus mendekat padanya.
Semakin lama kian mendekat, hingga Zea terkalahkan dengan usahanya sendiri ia terjatuh pingsan tak sadarkan diri.
Rasa perih pada bagian wajah dan perut bagian kanan membuat Zea tersadar kembali, perlahan ia membuka matanya lalu mencoba melirik ke setiap sisi. Jantung Zea mulai berdetak tidak normal, keringat dingin semakin bercucuran ketika pandangannya terhenti ke sisi kanannya, dimana seseorang terlelap di sana dengan tangan yang merangkul pinggang kecilnya.
Tatapan yang awalnya terhenti pada tangan putih nan kekar tersebut kini perlahan beranjak menuju wajah yang mana sisi kirinya tertutup dengan bantal dan sisi kanan tertutup dengan rambutnya.
Dengan tangan yang gemetaran, Zea mencoba untuk memindahkan rambut yang menutupi wajah lelaki tersebut, meski begitu ketakutan namun ia tetap ingin melihat wajah lelaki biadab yang entah apa saja telah ia lakukan pada tubuh mungil milik Zea.
Perlahan wajahnya mulai terlihat, mata yang begitu indah, hidung yang begitu mancung serta bentuk wajah yang terpahat sempurna.
"Abang Rakes....." Seru Zea dengan wajah yang semakin pucat dan detak jantung yang kian meloncat.
Tanpa sadar air mata kian menetes membasahi kedua pipinya.
"Zea, Zea jangan buat abang khawatir." Ujar Rakes dengan nada yang begitu lembut sembari mengusap pelan air mata yang membasahi wajah sembab Zea.
Setelah matanya terbuka sempurna, hal yang pertama ia lihat adalah wajah Rakes.
"Lepas!" Gumam Zea yang entah ia sadari atau tidak namun permintaannya sontak membuat Rakes kebingungan.
Rafeal, Marvel dan Kania yang tadinya duduk di sofa juga ikut bangun lalu mendekati ranjang Zea.
"Ada apa? apa kamu baik-baik aja?" Tanya Rafeal.
"Biar aku panggil dokter!" Ujar Marvel.
"Aku baik-baik aja, abang Marvel nggak perlu panggil dokter, istirahat sebentar juga bakal baikan, lagian nih udah dipasangkan infus kan!" Jelas Zea sambil memamerkan tangannya yang terpasang jarum infus.
"Beneran?" Tanya Rafeal memastikan
"Iya dong, bentar lagi juga bakal bisa balapan lagi!" Jelas Zea.
"Syukurlah!" Ucap Kania dan Marvel lega.
"Bentar lagi uma dan ayah pasti sampai, abang sudah mengabari mereka tentang keadaan kamu. Abang permisi sebentar, Rafeal aku titip Zea ya!" Jelas Rakes yang langsung keluar dari ruang rawat Zea.
Kepergian Rakes tidak ada cegahan sama sekali dari Zea, membuat yang lainnya kebingungan dengan tingkah pasangan tersebut.
"Apa terjadi sesuatu diantara kalian?" Tanya Marvel.
"Kami baik-baik saja, abang Rakes emang sedang ada kerjaan." Jelas Zea.
"Yakin?" Tekan Rafeal.
"Hmmmmm!" Ujar Zea.
"Ya udah kalau gitu aku dan Kania keluar sebentar, Rafeal jaga Zea baik-baik, kalau tiba-tiba dia kambuh cepat hubungi kami." Jelas Marvel.
"Siap! perintah di laksanakan!" Tegas Rafeal.
Kania dan Marvel meninggalkan Zea bersama Rafeal di ruangan tersebut.
______________________
Dari pagi sampai siang Rafeal lah yang menemani Zea di rumah sakit, baru setelahnya Iqbal dan Elsaliani datang lalu mengambil alih penjagaan. Karena kondisi Zea tidak begitu mengkhawatirkan makanya Iqbal memutuskan untuk menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu baru siangnya datang menjenguk putri tercinta.
Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama dengan bercanda ria, sudah lama ketiganya tidak berkumpul dalam waktu yang lama, hingga setelah sholat Insya Rakes datang.
Rakes meminta Elsaliani dan Iqbal untuk pulang dan istirahat di rumah, biar dirinya yang menjaga Zea.
"Kamu juga lelah Rakes, sebaiknya kamu aja yang pulang biar uma yang jagain Zea." Jelas Elsaliani.
"Uma, uma dan ayah udah seharian jagain Zea, sekarang biar aku yang jaga, lagi pula Zea emang tanggungannya aku sekarang, harusnya aku yang terus jagain dia dari tadi pagi." Jelas Rakes.
"Kami ngerti kok, kamu kan juga kerja bukannya nongkrong sana sini. Ya udah ayo sayang kita pulang, besok pagi kita ke sini lagi." Jelas Iqbal.
"Baiklah, Zea uma pulang ya. Jangan minta yang nggak-nggak, lihat tuh suami kamu lelah! istirahatlah." Jelas Elsaliani lalu mengecup kening Zea.
"Cepatlah sembuh, ayah nggak punya lawan kalau kamu terusan di rumah sakit?" Jelas Iqbal yang ikut mengecup kening Zea.
"Kami pamit, jika terjadi sesuatu kabari kami secepatnya." Jelas Elsaliani.
"Iya uma, hati-hati!" Ujar Rakes.
Setelah Iqbal dan Elsaliani pulang, Rakes kembali mendekati ranjang Zea.
"Bicaralah!" Pinta Rakes.
"Tentang apa?" Tanya Zea.
"Abang kan yang buat kamu sampai harus di rawat seperti ini? gara-gara ulah abang kamu sampai tumbang dan harus di infus begini, maafkan abang!" Ungkap Rakes dengan wajah yang di penuhi rasa bersalah.
(Mimpi tadi tidak benar kan? itu hanya kepingan masa lalu yang berantakan, tidak mungkin lelaki sebaik ini pernah memperlakukan aku dengan buruk di masa lalu. Itu cuma mimpi belaka kan? tidak mungkin abang Rakes yang ada dalam masa lalu mengerikan itu. Atau mungkin sikapnya selama ini adalah bentuk penebusan dosanya di masa silam? Bagaimana mungkin dia yang menyebabkan petaka di masa kecilku. Zea, sadarlah! itu tidak benar, itu semua hanya mimpi.) Bisik hati Zea yang larut dalam segala macam pikirannya tentang siapa sosok Rakes sebenarnya.
"Zea...." Ujar Rakes yang langsung duduk di kursi yang ada di sisi ranjang Zea.
Rakes langsung merebahkan kepalanya di dada Zea lalu tangannya mulai memeluk perut rata Zea.
"Abang janji, abang akan mengendalikan diri abang, abang tidak akan melakukannya dengan brutal lagi, cepatlah sembuh!" Jelas Rakes yang semakin membenamkan wajahnya.
Meski hati dan pikirannya terus berdebat namun perlahan Zea mulai mengusap rambut Rakes.
"Aku percaya sama Chim chim, aku sangat percaya!" Tegas Zea lalu mengecup kepala Rakes.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ