My Princess

My Princess
#025



🍁🍁🍁


Terima kasih banyak buat semua manteman yang udah ngikutin novel aku mulai dari Cinta Elsaliani hingga My Princess 😘😘😘


Terima kasih juga atas semua like komen dan juga vote manteman semua πŸ™πŸ™.


Tulisan aku masih sangat berantakanπŸ˜” baik dari segi penulisan ataupun alur cerita, karena pada dasarnya aku tidaklah jago dalam menulis setidaknya aku berharap


tulisan aku bisa menghibur manteman semuaπŸ˜‰πŸ˜Š


Jika ceritanya tidak sesuai dengan harapan manteman semua, mohon di maklumi karena beginilah imajinasi ku adanya🀭🀭


Selamat membacaπŸ€—πŸ€—


Love you all😘😘😘😘


🍁🍁🍁🍁🍁


"Uma pelan-pelan, perih banget!" Protes Zea.


Diruang keluarga sana Elsaliani tampak begitu telaten mengompres memar di bagian lengan dan wajah Zea. Meski berulang kali Zea protes bahkan terus nb meminta Elsaliani untuk menyudahinya namun dengan kekeh Elsaliani terus melakukannya.


"Zea, tahan dulu! kalau nggak nih memar nggak bakalan hilang sampai berhari-hari." Jelas Elsaliani yang kembali meletakkan kain yang membungkus es tepat pada wajah Zea yang sudah mulai berwarna ungu.


"Biar aja uma, berbekas sedikitpun nggak masalah kan?" Cetus Zea.


"Uma akan terus mengompresnya." Tegas Elsaliani yang membuat Zea menuruti keinginan Elsaliani.


"Assalamualaikum, sayang!" Suara Iqbal semakin mendekat diikuti dengan suara langkah yang terus menuju ruang keluarga.


"Mas...!" Ujar Elsaliani setelah melihat sosok suami yang kini tepat dihadapannya.


"Apa ada yang terluka? kalian berdua baik-baik saja kan?" Tanya Iqbal panik sambil mengecek Elsaliani dan Zea secara bergantian.


"Siapa yang membuat lebam ini?" Tanya Iqbal penuh emosi ketika tangannya menyentuh wajah Zea dan mendapati lebam di sana.


"Ayah tenang aja, Zea udah membalas mereka semua, ini cuma leban kecil di bandingkan dengan luka dan lebam yang Zea buat di tubuh mereka semua." Jelas Zea dengan senyuman memamerkan deretan gigi putihnya.


"Rakes, apa kamu baik-baik aja?" Tanya Elsaliani yang beranjak bangun dan segera menghampiri Rakes yang sedari tadi hanya diam di belakang Iqbal.


"Apa yang sayang khawatirkan tidak akan terjadi, Rakes baik-baik aja!" Jelas Iqbal.


"Beneran nggak ada yang luka?" Tanya Zea memastikan.


"Iya." Jawab Rakes.


"Ayah datang menyelamatkan abang Rakes? bukannya ayah sedang tugas?" Tanya Zea.


"Bagaimana mungkin ayah menyelamatkan orang yang lebih jago berkelahi dari ayah, udah kalian istirahatlah! malam ini pasti membuat kalian semua lelah." Jelas Iqbal.


"Ayah, apa kalian menyembunyikan sesuatu dari Zea?"


"Maksud kamu?" Tanya Iqbal.


"Bagaimana ayah tau kalau abang Rakes menemui om Fildan? Zea rasa ayah sengaja menjadikan abang Rakes sebagai umpan? jika itu benar, kenapa ayah melakukannya? kenapa menyeret masyarakat biasa dalam urusan militer?" Tanya Zea.


"Zea, Rakes...." Penjelasan Iqbal langsung terhenti.


"Abang yang setuju untuk membantu tim om Iqbal." Jelas Rakes seketika.


"Tuh, dengar sendiri kan? udah tidur gih sana!" Jelas Iqbal.


"Ayah pasti sedang berbohong kan?" Cetus Zea.


"Nggak!" Tegas Iqbal yang langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Zea.


"Kuping ayah merah tuh! nggak masalah, Zea akan cari sendiri hal yang sebenarnya terjadi." Jelas Zea dan segera menaiki tangga.


"Sampai kamu akan berbohong sama Zea?" Tanya Elsaliani.


"Aku akan ceritakan semuanya pada Zea, tante. Tapi tidak sekarang, beri aku sedikit waktu lagi." Pinta Rakes.


"Tante bukannya mau mencampuri masalah kalian, tapi Zea juga harus tau siapa kamu sebenarnya." Jelas Elsaliani.


"Lakukan yang kamu anggap baik, terima kasih untuk malam ini, istirahatlah dan jangan lupa serahkan laporannya besok pagi." Jelas Iqbal.


"Siap kapten!" Jawab Rakes tegas.


"Aku permisi Tante, selamat malam!" Lanjut Rakes.


"Senyuman yang manis, buat mas mana?" Tanya Iqbal setelah Rakes meninggalkan mereka berdua di ruangan tersebut.


"Mas cemburu? sama Rakes? jangan ngaco deh, ayo ke kamar!"


"Ke kamar?" Ulang Iqbal dengan senyuman menggoda dan mengedipkan matanya nakal sembari memainkan kedua alisnya.


"Mas jangan mesum ya!"


"Kangen sama excellent service!"


"Mas!" Seru Elsaliani bersamaan dengan cubitan yang mendarat di paha Iqbal.


"Ayo sayang!" Ajak Iqbal yang langsung mengangkat tubuh Elsaliani dan membawanya ke kamar.


________________


"Chim chim!" Panggil Zea ketika Rakes sampai di lantai dua.


"Kamu masih disini? kenapa belum tidur?" Tanya Rakes ketika mendapati Zea yang masih duduk di sofa yang ada di balkon sana.


"Apa Chim chim baik-baik aja?" Tanya Zea lalu melangkah menghampiri Rakes yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya.


"Hmmmm seperti yang kamu lihat, abang baik-baik aja."


"Tapi aku sama sekali tidak baik-baik saja!" Jelas Zea yang langsung menundukkan kepalanya.


"Dimana yang sakit?" Tanya Rakes khawatir panik dan langsung menyentuh wajah Zea.


"Disini!" Lapor Zea sambil menunjukkan wajahnya yang lebam.


"Ayo sini biar Abang obati!" Ajak Rakes sambil menggenggam tangan Zea lalu membawa Zea ikut ke kamarnya.


"Tunggu sebentar, abang akan mengambil obatnya dulu."


"Nih udah ada obatnya!" Jelas Zea sambil menyentuh wajah Rakes.


"Zea!" Karena refleks Rakes langsung menepis tangan Zea yang menyentuh wajahnya, membuat Zea meringis kesakitan karena tangan Rakes malah menyentuh lebam lainnya yang ada di tangan Zea.


"Kalau Chim chim tidak suka aku sentuh, tinggal bilang aja, nggak usah main kasar." Cetus Zea yang langsung keluar dari kamar Rakes.


"Zea...." Panggil Rakes setelah menyusul Zea keluar kamar.


"Apa Chim chim tau, setiap kali aku bersama Chim chim tangan ini terus saja memberontak, lalu mendorong hati akan memerintahkan tangan ini mendekap tubuh Chim chim dengan erat. Setiap kali menatap wajah Chim chim, jantung ini seakan meloncat dari tempatnya, terjadi sesuatu di hati ini, aku sendiri tidak bisa menjelaskannya, yang aku tau aku begitu menggilai segala hal yang ada pada Chim chim."


"Apa kamu pikir abang baik-baik saja? abang jauh lebih tersiksa. Melihat senyuman manis mu membuat abang ingin mengecup lembut pipi merah mu itu, berdiri di depanmu membuat tangan abang ingin mendekap mu, dan ketika kita berdua abang bahkan ingin melakukan hal yang lebih dari sekedar menyentuh."


"Chim chim..."


"Berapa kali sudah abang katakan, jangan robohkan pertahanan abang!"


"Aku...."


"Olesi pada lebam di wajah dan lengan mu!" Jelas Rakes setelah menyodorkan salep kearah Zea.


"Kenapa tidak abang saja yang melakukannya?"


"Zea...."


"Tangan aku juga lebam!" Jelas Zea sambil memamerkan lebam di lengannya.


"Olesi sampai rata!" Tegas Rakes sambil meletakkan salep didalam telapak tangan Zea hingga membuat Zea memanyunkan wajahnya kesal.


"Ciiiiiiih"


"Besok sore kita kencan!" Jelas Rakes dan langsung menutup rapat pintu kamarnya.


"Apa yang aku katakan? apa aku sudah gila? bisa-bisanya aku mengajaknya bocah itu kencan, dia pasti akan menggoda aku sepanjang hari." Gumam Rakes yang masih bersandar pada daun pintu kamar dari dalam.


"Chim chim, lagi-lagi hatiku meleleh dengan sikap manis mu. Kencan? tidak sabar, pengen cepat-cepat sore! manisnya my Chim chim." Ungkap Zea penuh kebahagiaan lalu segera kembali ke kamarnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya πŸ˜‰πŸ˜‰


Stay terus sama My Princess ya 😊😊


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️