
"Ayah, ayo kita berangkat, abi sama yang lainnya nungguin kita di teras." Jelas Zea.
Zea terus melangkah mendekati Iqbal yang masih duduk diatas tempat tidurnya.
"Kamu berangkatlah lebih dulu dengan yang lainnya, ayah mau mandi sama ganti baju dulu, ayah akan nyusul." Jelas Iqbal.
"Kalau gitu Zea bakal tungguin ayah, kita berangkat sama-sama."
"Sayang, kalau uma dan Rakes bangun terus tidak ada satupun diantara kita disisi mereka, mereka bakal sedih. Kamu pergi dulu, ayah akan secepatnya nyusul."
"Benarkah?"
"Iya pergilah! jika mereka sadar segera hubungi ayah."
"Baiklah, Zea pergi dulu, assalamualaikum." Jelas Zea dan lekas keluar dari kamar Iqbal.
Zea telah Zea menutup kembali pintu kamar, Iqbal kembali menangis terisak, dadanya begitu sesak, kesabarannya habislah sudah, ia yang mencoba tetap kokoh kini roboh lah sudah, Ziyad yang pergi tanpa sempat dia dengar tangisnya, Elsaliani yang hingga saat ini masih belum sadarkan diri, Rakes yang bahkan keselamatannya masih di pertanyakan, dan juga Zea yang masih dalam keadaan begitu kacau, semuanya membuat Iqbal tidak mampu mengendalikan hatinya yang remuk, lebur, hancur tak berbekas.
Keadaan Iqbal benar-benar memilukan, nafasnya bahkan terasa tercegat di kerongkongan. Tinju kerasnya semakin ia gepal kuat-kuat.
"Temi, oke, akan ku buat kamu merasakan kehancuran karena kehilangan orang yang begitu kamu sayangi. Akan ku buat kamu mengerti dengan arti kehilangan yang sesungguhnya. Aku akan mengikuti cara licik mu, lihatlah aku dan Rakes akan menuntut balas atas apa yang kamu lakukan terhadap keluargaku. Mata di balas mata, nyawa di balas nyawa." Tegas Iqbal dengan tatapan yang begitu mematikan.
_________________
"El, ada yang datang menemuimu!" Jelas Ayu setelah membukakan pintu dan menemui sang tamu yang masih berdiri di depan pintu utama.
"Iya bunda, sebentar!" Jawab Elsaliani dari dalam rumah.
Elsaliani bergegas menuju pintu untuk menemui orang yang sedang mencarinya.
"Maaf, siapa ya?" Tanya Elsaliani setelah melihat pria berbadan tegap tepat di hadapannya.
"Maaf, saya adalah Jeska bawahannya kapten Iqbal. Saya kesini karena perintah kapten Iqbal yang meminta saya datang menjemput ibu El." Jelas lelaki yang mengaku bernama Jeska tersebut.
"Menjemput El? kenapa Iqbal sama sekali tidak memberi tau?" Tanya Ayu.
"Karena tiba-tiba kapten ada misi dadakan, jadi beliau meminta saya untuk mengantar ibu El pulang." Jelas Jeska.
"Tapi biasanya yang jemput aku itu Dodi, kenapa sekarang malah kamu yang datang?" Tanya Elsaliani.
"Kebetulan Dodi lagi ada urusan. Kalau ibu El kurang yakin, silahkan tanyakan langsung pada kapten." Jelas Jeska.
"Tidak perlu, saya percaya kok." Jawab Elsaliani.
"Tapi El, gini aja biar nanti bapak saja yang ngantar El pulang." Usul Ayu.
"Nggak apa bunda, dia benaran suruhan mas Iqbal kok, kalau gitu aku pamit pulang bunda assalamualaikum." Jelas Zea yang langsung menyalami Ayu dan lekas mengikuti Jeska menuju mobil.
Jeska langsung menjalankan mobilnya meninggalkan area rumah Adimaja.
Perlahan mobil mulai melaju menelusuri setiap jalan, hingga tiba di sebuah perempatan, Jeska memutar mobilnya ke arah yang berlawanan dengan rumah Iqbal.
"Ini bukan jalan ke rumahku." Jelas Elsaliani.
"Apa aku mengatakan kalau aku akan mengantarkan kamu pulang ke rumahmu? aku hanya datang untuk menjemput mu lalu membawamu ke neraka." Jelas Jeska.
"Hentikan mobilnya! atau aku akan teriak." Tegas Elsaliani.
"Teriak lah sepuasnya, toh tidak akan ada yang dengar." Jelas Jeska yang semakin mempercepat laju mobilnya.
"Berhenti!" Teriak Elsaliani yang sukses membuat Jeska menghentikan mobilnya.
"Buka pintunya!" Perintah Elsaliani setelah mencoba untuk membukakan pintu mobil.
"Diamlah selagi aku berbaik hati!" Tegas Jeska yang kini berpindah tempat kesamping Elsaliani.
Tangan kasar Jeska mulai menyentuh wajah Elsaliani.
"Sedang hamil besar pun kamu terlihat begitu menggoda, sepertinya akan lebih seru jika aku bermain sebentar sebelum memulainya." Jelas Jeska yang menarik paksa jilbab Elsaliani.
"Lepas, aku bilang lepas!" Teriak Elsaliani bersamaan dengan membuka lebar kedua mata indahnya.
Mendengar teriakan Elsaliani membuat Zulfa, Ayu dan Zea segera mendekat.
"Adek, tenanglah! adek sekarang baik-baik saja." Jelas Zulfa dengan menyentuh lembut wajah Elsaliani.
"Syukurlah akhirnya kamu bangun juga sayang." Ujar Ayu dengan senyuman bahagia.
"Uma, Zea rinduuu!" Ujar Zea yang langsung mengecup lembut pipi Elsaliani.
"Apa sekarang uma di rumah sakit?" Tanya Elsaliani setelah memerhatikan ke sekitar.
"Iya sayang, semuanya akan baik-baik saja, istirahatlah!" Jelas Ayu.
"Dimana mas Iqbal?" Tanya Elsaliani.
"Ayah masih rumah, sebentar lagi juga bakal datang." Jelas Zea.
"Lalu dek Ziyad dimana?" Tanya Elsaliani setelah melihat bagian perutnya yang telah mengecil sempurna.
"Sayang, kamu masih sangat lemah istirahatlah baru setelah itu kita temui Iqbal dan Ziyad." Jelas Zulfa mencoba tetap tegar.
"Tapi mi, bunda, aku sangat ingin melihat Ziyad, apa karena masih kurang dua minggu, jadi Ziyad butuh perawatan khusus?" Tanya Elsaliani.
"Istirahatlah yang cukup, Iqbal akan segera datang!" Jelas Ayu.
"Tapi....baiklah!" Ujar Elsaliani menuruti bunda dan uminya.
"Zea, kembalilah ke ruangan Rakes, biar uma, bunda dan umi yang jagain." Pinta Ayu dengan suara pelan hingga tak terdengar oleh Elsaliani.
"Kalau gitu, Zea titip uma sama bunda dan umi, Zea akan cepat kembali." Jelas Zea yang segera menuju ruang rawat Rakes.
Rakes masih juga belum bangun, tubuhnya masih terbujur kaku, disisi kanannya ada Erina yang sedari tadi terus menunggu sang putra tercinta dengan terus menggenggam lembut tangan Rakes. Sedangkan disisi kiri ada Hadi yang masih begitu setia menemani Rakes.
"Zea..." Ujar Jadi yang mendapati Zea berjalan kearahnya.
"Apa abang masih belum bangun juga?" Tanya Zea dengan nada melemah.
"Hmmmm, dia masih saja betah tidur, dia bahkan sama sekali tidak menyambut kedatangan mama." Jelas Erina yang kembali menitikkan air mata.
"Ma, udah, Jangan menangis terus, apa yang mama tangisi tidak akan terjadi, Rakes pasti akan segera bangun!" Tegas Hadi.
"Papa benar ma, abang akan segera bangun." Jelas Zea lalu semakin mendekati Hadi.
"Sini sayang, berdirilah di dekat Rakes." Pinta Hadi sembari merangkul Zea lalu memandunya untuk berdiri disisi ranjang dimana Rakes berbaring.
"Ma, ayo kita keluar sebentar, mereka butuh waktu berdua." Jelas Hadi yang segera menghampiri Erina lalu membantunya untuk bangun dari kursinya.
"Jika sesuatu terjadi, apapun itu, segera panggil mama, mama akan menunggu di luar." Jelas Erina.
"Baik ma." Ucap Zea.
Hadi merangkul bahu Erina lalu keduanya keluar dari ruangan tersebut.
Masih dengan tetesan air mata, tangan Zea dengan lembut mulai menyentuh wajah pucat Rakes lalu beralih pada perban yang ada di bahu Rakes dan kini mulai menggenggam jemari Rakes.
"Chim chim, berapa lama lagi waktu yang Chim chim inginkan untuk tidur? apa Chim chim tau saat ini aku begitu butuh kotak-kotak Chim chim untuk tetap bisa berdiri kuat. Banyak hal yang ingin aku adukan, cepatlah bangun" Pinta Zea yang terus menahan rasa pedih yang menyesakkan dada.
"Chim chim, bangun!" Gumam Zea dengan tangan yang memukul pelan dada Rakes.
"Aku mohon bangunlah! tolong bangun!" Pinta Zea lalu mengecup kedua pipi Rakes.
"Jannati, My Princess!" Ujar Rakes lalu menyentuh jilbab Zea dengan tangan yang masih terpasang infus.
"Chim chim!" Ujar Zea yang lekas memeluk erat bahu lebar Rakes
"Awww sakit!" Protes Rakes.
"Maaf!" Ucap Zea yang hendak melepaskan dekapannya namun secepat kilat ia menarik kembali tubuh Zea.
"Dimana uma?" Tanya Rakes.
"Uma di ruang sebelah."
"Uma baik-baik saja kan? trus gimana dengan dedek bayi, uma dan dedek bayi tidak kenapa-napa kan?"
"Dedek bayi, hmmmm, dia, dia sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya." Jelas Zea yang kembali bersedih.
"Apa? Zea katakan yang sebenarnya, jangan bercanda, nggak lucu!"
"Aku dan ayah baru saja selesai memakamkannya." Jelas Zea.
"******** kau Temi!" Cela Rakes yang langsung bangun, dengan kasar ia mencabut Infus dari tangannya.
"Chim chim!" Ujar Zea yang langsung berdiri di hadapan Rakes yang kini telah berdiri tegap.
"Abang akan membunuh ******** itu!" Tegas Rakes.
"Chim chim tenanglah!"
"Jaga uma, abang akan membuat ia menangis darah menyesali perbuatannya terhadap keluarga kita, abang akan membuatnya gila karena ia berani mengusik keluarga kita." Tegas Rakes yang langsung loncat lewat jendela.
Zea segera lari menuju jendela, lalu mencari sosok suami yang baru saja menghilang dari matanya.
"Abang akan segera kembali." Teriak Rakes yang ada di bawah sana.
Rakes langsung menghilang, Zea segera keluar.
"Zea, gimana keadaan Rakes?" Tanya Rafeal yang juga ikut berjaga di luar.
"Abang Kabur." Jelas Zea.
"Kabur? dia sudah sadar?" Tanya Hadi panik dan segera mengecek kedalam ruangan.
"Gimana om?" Tanya Marvel ketika Hadi kembali.
"Rakes benar-benar pergi." Jelas Hadi.
"Apa? lukanya saja belum sembuh dia malah kembali terjun bebas dari lantai tiga? pa cepat temukan Rakes, dia masih harus istirahat." Jelas Erina yang begitu khawatir.
"Tante tenanglah, kami akan mencari Rakes, ayo Rafeal." Ajak Marvel.
"Ayo...!" Rafeal dan Marvel segera mencari Rakes.
"Zea duduklah! semuanya akan baik-baik saja!" Ujar Hadi mencoba menenangkan sang menantu dan istri tercinta.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ