My Princess

My Princess
#105



"Zea......" Seru Rakes dan Marvel serentak.


"Jawab, yang mana? abang Marvel atau abang Rakes?" Tanya Zea.


Pertanyaan Zea sukses membuat suasana mencengkam seketika, Rakes hanya berdiam diri dengan mata yang terus menatap dalam wajah Zea yang sedang dikuasai amarah.


"Baiklah, aku mengaku! aku lah kekasih gadis itu, Rakes sama sekali tidak tau apa-apa tentang dia. Zea, Rakes kalian pulanglah!" Jelas Marvel.


"Marvel, berhenti bicara omong kosong! aku tau kamu hanya mencintai Kania, dan kamu, apa tujuan mu melakukan semua ini? siapa yang membayar mu?" Tanya Rakes.


"Kalian bertiga sungguh tak mengenali aku?" Tanya gadis tersebut.


"Cukup! katakan apa mau mu?" Tanya Rakes dengan suara yang sukses membuat semua orang ketakutan.


"Aku Risty versi ceweknya Rafeal!" Jelas Rafeal dengan tawa lepas sambil melepaskan rambut palsunya.


"Rafeal!" Gumam Marvel dan Rakes.


"Waaaaah! kamu benar-benar ingin melihat aku marah? dasar!" Gumam Zea bersamaan dengan kaki yang langsung menendang kaki Rafeal.


"Jika kalian saja tidak bisa mengenali aku, apa lagi mereka. Aku yakin aku akan langsung bisa memikat mereka dengan mudah!" Jelas Rafeal.


Rakes dan Marvel mendekat, lalu segera menyerang Rafeal.


"Kalian ngapain? jangan buat dandanan aku berantakan, awas!" Gumam Rafeal sambil terus menghindar dari serangan Rakes dan Marvel.


"Apa ini artinya kamu akan meninggalkan club kita?" Pertanyaan yang Zea ajukan membuat ketiga lelaki tersebut menghentikan candaan mereka.


"Zea, aku..." Jelas Rafeal.


"Bahkan tanpa berpamitan sama sekali!" Cetus Zea.


"Zea, aku, sebenarnya...." Keluh Rafeal.


"Meski kami bukan sahabat yang baik buat kamu, setidaknya lakukanlah perpisahan dengan cara baik-baik." Jelas Zea.


"Aku akan melakukannya, beri aku sedikit waktu!" Jelas Rafeal.


"Tidak perlu! pergilah dengan cara yang kamu inginkan." Jelas Zea yang segera berlari menuju kamar.


"Mereka semua pasti akan sangat membenciku! sudah seharusnya aku memprediksikan semua ini, lagi pula sejak awal aku bukanlah bagian dari mereka semua!" Jelas Rafeal dengan tubuh yang langsung terduduk di lantai.


"Aku akan bicara dengan Zea, aku yakin dia dan juga teman-temannya akan mengerti!" Jelas Rakes yang segera menyusul Zea ke kamarnya.


"Mereka hanya butuh sedikit waktu untuk menerima semua ini, seiring berjalannya waktu semua pasti akan kembali seperti sedia kala." Jelas Marvel.


Marvel membantu Rafeal bangun lalu membawanya untuk duduk di sofa.


"Apa pengganti mu telah datang?" Tanya Marvel.


"Hmmmmm! aku juga sudah menyerahkan tempat keramat ku di kelas untuknya, aku yakin dia pasti akan menjaga Zea lebih baik dari yang aku lakukan!" Jelas Rafeal.


"Untuk beberapa saat ini pasti akan terasa menyakitkan untuk kalian semua, namun rasa kecewa dan luka tidak akan bertahan terlalu lama. Siapa namanya?" Jelas Marvel.


"Nama siapa?" Rafeal balik bertanya.


"Pengganti mu? apa dia lebih tampan dari kamu?" Tanya Marvel.


"Jangan ngaco, ketampanannya bahkan tidak sampai sepersen dari ketampanan yang aku miliki! namanya Ivent Darman, apa kamu mengenalnya?" Jelas Rafeal.


"Ivent... hmmmmm ah aku ingat dia yang berada dua tahun di bawah kita kan?" Ujar Marvel.


"Emang penting! udah ah aku mau perbaiki dandanan aku!" Jelas Rafeal dan lekas kembali ke kamarnya.


"Ngomong ngomong kamu cantik banget, aku hampir meleleh dengan kecantikan mu itu!" Seru Marvel.


"Diam! jangan menggoda ku." Gumam Rafeal dan lekas pergi.


"Semoga semuanya akan baik-baik saja! Hingga akhir aku ingin kita tetap bersama, kita akan terus seperti ini kan? tidak ada yang akan pergi dan tidak akan ada yang ditinggalkan." Tegas Marvel pada dirinya sendiri.


___________________


"Hujannya semakin deras! sepertinya abang harus mengabari uma kalau malam ini kita akan menginap di sini." Jelas Rakes yang perlahan duduk di atas sofa.


Zea tak bergeming sama sekali, ia masih duduk di sofa dengan mata yang terus menatap tetesan hujan lewat jendela kamar.


"Zea...." Panggil Rakes lalu beralih duduk di lantai dengan menghadap pada sang istri.


"Jangan menghalangi pandangan aku!" Cetus Zea.


"Miss you!" Ujar Rakes lalu membenamkan wajahnya di pangkuan Zea.


"Beginilah dunia kami, meski sangat ingin tetap di tempat semula kami tetap harus berpindah setiap kali ada perintah. Sulit untuk di jelaskan, tapi setidaknya kalian harus tau posisi kami jauh lebih menyakitkan, melakukan hal yang bahkan bertentangan dengan keinginan hati sendiri, tapi inilah resiko yang harus kami pikul di sepanjang hidup kami. Saat ini mungkin Rafeal lah orang yang paling terluka, meski dia terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang tapi saat ini dia pasti sedang menangis seorang diri. Kamu kenal dia dengan baik kan? dia akan bertingkah konyol saat ia sedang berusaha menghibur dirinya sendiri." Jelas Rakes dengan kedua tangan yang mendekap erat pinggang Zea.


"Aku paham dengan situasi kita saat ini, tapi setidaknya dia mengatakannya, jangan menghilang tanpa kejelasan sama sekali!" Jelas Zea yang berlahan membelai rambut Rakes.


"Dia pasti akan melakukannya, berikan dia sedikit waktu. Dia pasti akan bicara dengan kalian semua, lagi pula masa bebas tugas kami masih tersisa dua hari lagi, sebelum kami memulai misi baru kami." Jelas Rakes.


"Aku akan tunggu, aku harap dia tidak mengecewakan kami semua." Ujar Zea.


"Pasti!" Ujar Rakes memastikan.


"Hmmmm, ingat jangan sampai oleng!" Jelas Rakes dengan mata tajam yang sukses membuat Zea tertawa.


"Meski pangeran dari negeri komik yang datang, aku sama sekali tidak akan pernah oleng. Bagaimana bisa aku berpaling dari raja hatiku ini, Chim chim adalah satu-satunya orang yang membuat hati ini berdebar tak karuan." Jelas Zea yang langsung mengecup lembut kening Rakes.


"Benarkah?" Tanya Rakes sumeringah.


"Haruskah aku membuktikannya?"


"Dengan senang hati!"


"Mau bukti yang bagaimana?"


"Terserah!"


Perlahan tangan Zea mulai menyentuh setiap lekuk wajah tampan Rakes.


"Biar abang yang melakukannya!" Tegas Rakes yang langsung meluncurkan aksi tabrakan mautnya.


"Terima kasih karena sudah menjadi Jannati abang." Ujar Rakes yang kembali duduk di samping Zea.


"Chim chim!"


"Hmmmmmm"


"Apa misi kali ini akan berlangsung lama?"


"Maaf, tapi abang tidak bisa mengatakan apapun. Tidak ada yang bisa abang jelaskan, maaf."


"Tidak perlu minta maaf, aku paham, aku mengerti dengan posisi abang!"


Zea merebahkan kepalanya di dada bidang Rakes, membuat tangan Rakes perlahan membelai kepala Zea yang masih terbalut dengan jilbab birunya.


"Jika Rafeal jadi cewek lalu peran apa yang akan Chim chim mainkan?" Tanya Zea.


"Abang?"


"Hmmmm? apa?"


"Kali ini abang dapat peran yang sedikit menguras otak abang, meski tidak suka abang harus tetap melakukannya, abang akan melamar sebagai pengacara pribadi organisasi mereka." Jelas Rakes.


"Pengacara?"


"Jangan meledek abang, abang sudah cukup kesal dengan semua hafalan yang membuat otak abang kusut, inilah alasannya abang lebih suka main otot dari pada main otak."


"Semoga berhasil! lalu bagaimana dengan abang Marvel?"


"Jangan membahasnya, bisa-bisa jiwa iri abang akan kembali memberontak!"


"Sorry!" Ucap Zea dengan senyuman lalu menyentuh wajah Rakes.


"Zea...."


"Hmmmmmm!"


"Jika nanti...."


"Stop jangan bicara tentang nanti, aku tidak tertarik sama sekali. Kita hanya harus menjalani hari-hari yang telah datang dengan baik, berhenti mengawatirkan sesuatu yang belum pasti akan kedatangannya, kita hanya harus terus bersama, Allah tidak akan menyulitkan jalan hambanya, hanya saja Allah akan menguji setangguh apa diri kita dalam menjalani setiap takdir."


(Bagaimana cara abang mengatakannya? Zea, mungkin kali ini tidak akan baik-baik saja, karena Roger ada di sana. Abang tidak bisa berpikir dengan waras saat keselamatannya jadi taruhan, meski saat ini dia tidak seperti Roger yang kita kenal dulu, tapi semua itu tidak mengubah apapun, dia tetap adik abang, dan abang benar benar tidak bisa menyentuhnya) Bisik hati Rakes dengan penuh kegundahan.


"Chim chim!"


"Iya!"


"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Chim chim?"


"Zea, besok ayo kita liburan!"


"Benarkah? ayo!"


"Hmmmmm! besok pagi."


"Asyik!!!" Ujar Zea yang begitu girang.


Zea bahkan segera bangun lalu segera memeluk erat tubuh Rakes.


"Sesenang ini?"


"Hmmmm!" Ujar Zea.


Rakes hanya tersenyum lalu mengeratkan pelukannya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️