My Princess

My Princess
#084



🍁Delapan Tahun Lalu...🍁


Rakes yang terlihat begitu khawatir segera meloncat dari motornya. Ia terus berlari menelusuri setiap lorong dan tangga di gedung kumuh tersebut. Setelah mendapat kabar penculikan Zea dan Elsaliani dari Hadi, Rakes yang memang diam-diam memasangkan sebuah chip si kaki Zea beberapa hari yang lalu, langsung mengecek lokasi keberadaan Zea.


Bukan tanpa sebab Rakes melakukannya, bahkan ia nekat tanpa izin lebih dulu pada Iqbal. Rakes sengaja menanam chip tersebut hanya untuk memantau Zea, karena besok ia harus berangkat ke luar negeri.


Dengan keringat yang terus bercucuran akhirnya Rakes tiba di sebuah di atap gedung tersebut. Baru selangkah Rakes meginjakkan kakinya di atap suara tepuk tangan nan menggelegar langsung menghentikan kaki Rakes.


Seluruh atap di penuhi dengan para lelaki berbadan kekar, mereka menjaga ketat setiap sudut atap, mata Rakes tertuju pada lelaki yang duduk santai diatas sofa yang sedari tadi terus bertepuk tangan menyambut kedatangan Rakes.


Di sisi sofa tersebut ada Zea yang tak sadarkan diri, dengan kerudung yang berantakan dan lengan baju yang terkoyak sana sini.


"Kenapa kamu yang datang? dimana monster mengerikan itu?" Tanya Lelaki yang terlihat layaknya pimpinan dari kumpulan tersebut.


"Apa yang kalian inginkan? berapapun yang kalian minta akan aku bayar secara tunai, katakan kalian butuh berapa?" Tanya Rakes yang terus menatap pada tubuh mungil Zea yang terbaring di sofa.


"Uang! hahhh, jika uang tujuan kami bukankah merampok bank lebih mudah dari pada harus menculik gadis manis ini?" Jelas sang bos.


"Lalu apa yang kalian inginkan?" Tanya Rakes yang tak mengerti.


"Iqbal, hanya bisa di tukar dengan pangkat Iqbal." Jelasnya lagi.


"Biarkan aku membawanya, tolong!" Pinta Rakes yang terlihat begitu putus asa lalu kembali melangkah mendekati Zea.


"Berhenti! atau aku akan membuat gadis mu menggila!" Ancam sang bos.


Ucapan bos tersebut langsung membuat salah seorang anak buahnya mendekati Zea lalu memamerkan sebuah jarum suntik.


"Apa yang ingin om lakukan? jangan sakiti adik aku." Pinta Rakes yang semakin panik.


"Hubungi Iqbal sekarang!" Tegas sang bos.


"Baik, tapi berjanjilah untuk menjauhkan benda itu dari Zea." Jelas Rakes.


"Oke, menjauhlah!" Tegas sang bos yang langsung membuat sang anak buah melangkah mundur.


Rakes segera meraih ponsel yang ada di saku jaketnya lalu segera menghubungi nomor Iqbal.


Setelah beberapa kali mencoba, Iqbal tetap tidak menerima panggilannya hal tersebut semakin membuat Rakes gelisah, hingga suara kaki yang berlarian menuju atap mengalihkan perhatian semuanya.


Dua lelaki muda, yah terlihat sebaya dengan Rakes, keduanya menghentikan langkah mereka saat menyadari keadaan di atap gedung tersebut.


"Sepertinya kita salah tempat, ayo pulang!" Jelas laki-laki yang mengenakan jaket coklat.


"Waaaaah, tempat ini benar-benar sepi ya? nggak ada orang sama sekali, kita tidak melihat apapun kan? ayo pulang!" Jelas lelaki yang mengenakan kaos hitam dengan lengan yang menutupi bahkan semua jemarinya.


Kedua lelaki tersebut hendak kembali menuruni tangga namun dengan sigap dua orang anak buah langsung mencegat mereka.


"Kalian bernasib buruk malam ini, harusnya kalian tidak melihat semua ini!" Jelas sang bos dengan suara lantang.


"Om kami sama sekali tidak melihat apa-apa jadi biarkan kami pergi!" Pinta lelaki berjaket coklat.


"Kamu bicara dengan siapa sih, di sini sama sekali tidak ada orang, ayo kita pulang!" Ajak yang mengenakan kaos hitam.


"Berhenti! atau kepala kalian pecah!" Ancam sang bos.


"Tolong maafkan kami om!" Pinta keduanya sambil kembali menghadap kearah sang bos.


"Sebutkan nama kalian?" Perintah sang bos.


"Marvel!" Seru Lelaki yang berjaket coklat yang ternyata bernama Marvel.


"Rafeal!" Ujar Lelaki yang memakai kaos hitam dengan nada yang terdengar jelas begitu ketakutan.


"Kalian sendiri yang mengantarkan nyawa kalian, jadi selamat menuju neraka." Jelas sang bos.


"Tunggu!" Tegas Rakes saat ponselnya berdering.


"Apa itu Iqbal?" Tanya sang bos.


Rakes langsung menggeserkan tombol hijau yang terpampang di layar ponselnya, lalu menekan tombol speaker.


"Kamu di mana? apa kamu menemukan Zea?" Tanya Iqbal dari seberang.


"Hai Iqbal! apa bocah ini adalah putranya Hadi?" Tanya sang bos.


"Vian? kamu apakan anak-anak ku? Vian jangan pernah sentuh mereka sedikit pun, jika tidak aku akan melenyapkan mu!" Tegas Iqbal yang begitu kenal dengan pemilik suara yang sedang berbicara dengannya.


"Woww woww! kamu kira aku akan takut dengan ancaman mu itu?" Cetus sang bos yang tak lain adalah Vian musuh bebuyutan Iqbal sejak pertama masuk di dunia militer.


"Apa kamu pikir aku hanya megngertak? Kamu tentu belum lupa dengan apa yang pernah aku lakukan beberapa tahun silam kan?" Jelas Iqbal.


"Bagaimana aku bisa melupakannya begitu saja, jika aku lupa aku tidak akan mendatangimu kembali untuk membalas semua kekejamanmu terhadap ku!" Jelas Vian.


"Masalahmu dengan aku bukan dengan mereka!" Tegas Iqbal penuh amarah.


"Kamu kenal aku kan? aku lebih licik dari Iblis, aku tidak akan melawan kamu karena itu tidak akan berhasil, sebaliknya aku akan membuat kamu gila, aku akan membuat kamu merasakan rasa sakit bahkan saat kamu bernafas, dada kamu akan di penuhi dengan penyesalan dan rasa bersalah pada anak dan istri mu." Jelas Vian.


"Dimana istri dan anak ku? katakan di mana kamu kurung mereka!" Gumam Iqbal.


"Jika Elsaliani yang cantik jelita dan penuh kelembutan yang kamu cari, maka kamu harus memilih arah Utara dari rumahmu, tapi jika Rakes dan Zea yang kamu ingin selamatkan, maka kamu harus ke arah Barat, dan pilihanmu di mulai dari sekarang, aku akan berbaik hati memberikan mu waktu untuk berpikir selama lima menit." Jelas Vian yang begitu puas dengan kemenangannya.


"Kamu benar-benar mau mati rupanya, akan ku hisap semua darahmu, akan aku remukkan seluruh tulangmu! kali ini bukan cuma pangkat dan seragam yang akan aku cabut paksa dari mu tapi nyawa mu pun akan aku renggut dengan cara yang paling sadis!" Tegas Iqbal yang langsung memutuskan panggilan telponnya.


"Bunuh mereka semua!" Teriak Vian dengan penuh amarah.


Dengan cepat Rakes berlari kearah Vian lalu menghantam perut Vian dengan tendangannya, saat Vian masih meringis kesakitan saat itu pula Rakes menyodorkan sebelah pisau di leher Vian.


"Berhenti!" Teriak Rakes yang mulai menggila, membuat semua anak buah Vian menghentikan aksi mereka.


Rafeal dan Marvel yang tadinya kewalahan menerima pukulan dari para lelaki kekar akhirnya bisa bernafas dengan lega. Marvel dan Rafeal segera bangun, lalu berdiri tegap menghadap kearah Rakes.


"Sedikit saja kalian bergerak aku akan menggorok leher bos kalian!" Ancam Rakes.


"Kamu, aku ingin lihat semegerikan apa kamu sebenarnya!" Cetus Vian.


"Akan aku perlihatkannya!" Gumam Rakes yang dengan cepat mengarahkan pisaunya tepat di dada salah satu anak buah Vian yang berdiri tak jauh dari posisi keduanya.


Setelah membuat lelaki kekar itu menghela nafas terakhirnya, tangan Rakes kembali mengarah tepat di leher Vian dengan pisau yang masih meneteskan darah segar.


"Apa aku harus melanjutkannya?" Tanya Rakes.


"Kalian berdua, apa kalian kesini dengan menggunakan mobil?" Tanya Rakes.


"Iya." Jawab Marvel


"Tolong bawa adik aku bersama kalian, cepat pergi dari sini!" Perintah Rakes.


"Baiklah!" Jawab Rafeal yang segera berlari lalu menggendong tubuh Zea.


Marvel dan Rafeal langsung membawa tubuh Zea yang masih belum sadarkan diri untuk ikut bersamanya.


"Kamu mau bermain dengan ku? hentikan mereka bertiga!" Seru Vian.


Para pasukan Vian mulai bergerak untuk menghadang Marvel, Rafeal dan Zea, pergerakan mereka membuat Rakes dengan buas menekan pisau pada leher Vian.


Jeritan Vian membuat semua langkah terhenti seketika.


"Terus hadang mereka jika memang kalian ingin melihat lehernya jatuh ke lantai!" Gumam Rakes.


"Kamu...kamu....!" Seru Vian ketakutan.


Para anak buah Vian menghentikan langkah mereka, Marvel, Rafeal kembali membawa Zea turun dari atap tersebut.


"Aku akan membunuh mu!" Gumam Vian ketika mendengar suara deru mobil yang pastinya merupakan suara mobil Marvel yang membawa serta Zea bersama mereka.


Perlahan Rakes menyeret tubuh Vian menuju tepi atap.


"Apa yang akan kamu lakukan? kamu jangan gila!" Teriak salah seorang anak buah Vian.


"Kami akan mati bersama!" Jelas Rakes.


"Apapun yang terjadi, tembak ******** ini!" Teriak Vian.


Namun sebelum peluru mereka lepaskan tubuh Rakes sudah lebih dulu meluncur bebas.


Tubuh Rakes yang terjatuh dari lantai empat mendarat sempurna di atas tumpukan pasir yang berada di sisi gedung, meski dengan badan yang terasa remuk, Rakes segera bangkit lalu berlari menuju motornya saat suara peluru mulai meluncur kearahnya.


Setelah berhasil kabur, Rakes langsung mengabari Iqbal lalu segera mencari titik merah yang ada di layar ponselnya.


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya Rakes menemukan keberadaan Zea. Rakes yang baru datang langsung memasuki rumah minimalis tersebut.


"Untung kamu cepat datang!" Jelas Rafeal lega saat melihat kedatangan Rakes.


"Kalian berdua cepat lakukan sesuatu!" Teriak Marvel yang sedari tadi terus mengelak dari Zea.


"Apa yang terjadi? Zea..." Seru Rakes yang segera memeluk erat tubuh Zea.


"Aku nggak ngerti, setelah sadar dia terus menyerang ku." Jelas Marvel.


"Zea, sadarlah!" Pinta Rakes.


Bukannya tenang Zea malah semakin brutal menyerang Rakes, Zea bahkan terus berusaha mencium setiap inci wajah Rakes.


"Aku rasa adik mu di suntik obat perangsang oleh mereka." Jelas Rafeal setelah mengamati Zea.


"Apa yang harus aku lakukan? katakanlah!" Gumam Rakes yang terus mencegah aksi Zea terhadap tubuhnya.


"Aku nggak tau!" Tegas Rafeal yang kebingungan.


"Kami akan mencari tau penawarnya, untuk sementara bawa adik mu ke kamar, tenangkan dia sebisa kamu, aku tidak mau kalau dia sampai menyerang aku lagi, kamu pasti akan memenggal leher ku jika sampai aku ke pancing dengan godaan yang sebening ini!" Jelas Marvel yang segera menjauh dari Zea.


"Cepat temukan caranya!" Tegas Rakes dan langsung membawa Zea ke salah satu kamar yang ada di rumah tersebut.


"Zea tenanglah!" Pinta Rakes sembari membalut tubuh Zea dengan selimut.


Semua itu Rakes lakukan karena Zea secara tak sadar telah melepaskan kemeja dan juga kerudungnya.


"Abang tolong, Aku kepanasan, tolong lepaskan aku!" Pinta Zea.


"Jika abang lepaskan, kamu akan menyerang abang, lalu bagaimana jika abang tidak bisa bertahan, abang takut menyakiti mu, Zea!" Tegas Rakes.


"Abang tolong!" Tangisnya yang berusaha menjangkau wajah Rakes.


Zea terus menciumi wajah Rakes.


"Zea, tenanglah!" Tegas Rakes yang dengan spontan menampar Zea.


"Abang....!" Tangis Zea dengan tangan yang kembali mengarah pada Rakes lalu menyentuh dada Rakes.


"Zea, apa yang harus abang lakukan?"


"Tolong peluk aku, aku mohon!"


"Zea, bagaimana mungkin abang melakukannya, abang nggak bisa!"


"Aku mohon!" Pinta Zea dengan tatapan penuh harap.


Permintaan Zea meluluhkan perasaan Rakes, Rakes mendekat lalu memeluk erat tubuh Zea.


"Maafkan abang, tolong maafkan abang!" Pinta Rakes lalu mendekap wajah Zea ke dada bidangnya.


"Tenanglah, abang mohon tenanglah!" Lanjut Rakes sambil mengusap lembut rambut Zea yang berantakan.


Entah apa yang terjadi, kelembutan Rakes membuahkan keajaiban, Zea mulai tenang di pelukan Rakes, hingga beberapa saat kemudian, Zea terlelap damai meski dengan keringat yang masih bercucuran.


"Maafkan abang, maaf karena abang gagal menjaga mu dengan baik. My Princess, I love you." Ucap Rakes lembut lalu merebahkan tubuhnya keatas kasur, ia yang sedari tadi memang begitu kelelahan, ikut terlelap sambil memeluk erat tubuh mungil Zea.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Delapan Tahun Lalu masih belum kelar ya manteman, masih akan berlanjut di bab berikutnyaπŸ€—πŸ€—


Setia menunggu yaπŸ˜‰πŸ˜‰


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️