
Suasana begitu tenang, di depan sang penghulu sana Rafeal dan Marvel duduk berdampingan, keduanya terlihat jelas begitu tegang. Para undangan pun duduk tenang dengan terus menatap kedua mempelai laki-laki dan perempuan secara bergantian.
Di sebelah utara sana ada Kania dan Mariana yang terlihat begitu cantik dalam balutan gaun putih dan jilbab putih dengan bertaburan mutiara indah hampir di semua sisi jilbab, di sebelah Mariana ada Aryani yang duduk manis mendampingi sang putri tercinta dan disebelah Kania ada Angel yang sejak tadi terus menggenggam tangan Kania.
Semua keluarga berkumpul di sana, Ada Qalesya yang duduk di samping Zafran, Tia dan Amanda, lalu di sebelahnya ada Alam, Mikeal, Reva, Luqman, dan Khaira.
Di sisi lain ada Ayu yang sejak tadi terus memangku Azan dan disebelahnya ada Zulfa yang masih sibuk bermain dengan Uzun, lalu di ikuti dengan Ismail, Adimaja, Elsaliani, Erina, Hadi, Zea, Iqbal, Rakes dan juga Roger. Sedangkan Hendra dan Revtankhar tepat berada di sebelahnya sang penghulu.
Suara pembaca akad nikah mulai terdengar, membuat suasana semakin damai dan tenang, Marvel yang lebih dulu berjabat tangan dengan Hendra setelah itu baru disusul oleh Rafeal yang mulai berhadapan dengan Revtankhar.
Pembacaan akad nikah berjalan dengan lancar membuat semuanya menghelakan nafas lega, tempat itu benar-benar di penuhi dengan kebahagiaan yang mungkin tidak bisa diukur dengan apapun itu. Dari kejauhan dalam keramaian, Marvel terus mencuri pandang, ia terus berusaha untuk menatap sosok sang istri tercinta yang sejak tadi hanya duduk dengan wajah yang terus saja menunduk, bahkan saat yang lain sibuk mengusiknya ia masih tetap betah menunduk.
Perlahan tangan Angel dengan lembut menyentuh tangan Kania membuat sang putri tercinta perlahan mengangkat pandangannya pada sang mama.
"Kenapa?" Tanya Angel dengan suara pelan.
"Huuuuf!" Hanya helaan nafas berat yang menjadi jawaban, saat itu wajah Kania benar-benar memerah sempurna.
"Kamu gemetaran sayang?" Tanya Angel.
"Ma...." Ujar Kania dengan memperat tangannya di genggaman Angel.
"Apa nggak gemetar, tante lihat tuh menantu tante dari tadi terus saja menatap Kania, waaaah lelaki tua itu memang nggak sabaran!" Jelas Mariana yang memang duduk di sampingnya Kania.
"Kak Ana...." Ujar Kania pelan.
"Ya emang sudah wajar kan? toh yang di pandang istri sendiri!" Jelas Angel.
"Mama sama kak Ana sama aja!" Cetus Kania dan kembali menunduk.
(Bukan hanya kamu Kania, aku juga, aku juga panas dingin! hufffff!") Bisik hati Mariana yang ternyata sejak tadi juga melakukan hal yang sama dengan Marvel, ia terus saja menatap kearah Rafeal.
"Ayo bangun!" Pinta Aryani
"Kemana mi??" Tanya Mariana.
"Kemana? Ana, kamu sekarang adalah seorang istri dan lihatlah! di sana Rafeal menunggu mu, ayo salam!" Jelas Aryani.
"Baiklah!" Ujar Mariana menurut dan segera bergeser mendekat pada Rafeal.
Mariana kini tepat berada di hadapan Rafeal, lalu perlahan mengulurkan tangannya pada Rafeal. Tanpa tunggu lama, Rafeal menyambut hangat tangan sang istri.
"Terima kasih karena mau menjadi suami aku, aku janji aku tidak akan membuat mu terluka!" Jelas Mariana pelan saat tangan Rafeal tepat di bibirnya.
"Bimbing aku, karena sejak awal aku memang bukanlah wanita yang sempurna, jadikan aku wanita idaman mu hingga ke surga kelak" Lanjut Mariana saat matanya beradu dengan mata indah Rafeal.
"Hmmm, terima kasih!" Ujar Rafeal lalu mengecup lembut kening Mariana.
"Sana gih!" Jelas Angel sambil menyentuh bahu Kania.
"Sekarang giliran kamu sayang!" Ujar Aryani.
"Sebentar lagi, aku mohon!" Pinta Kania yang semakin gugup.
"Kania, kamu tidak akan membuat Marvel menunggu lebih lama lagi kan?" Tanya Angel.
"Ayo Kania!" Pinta Aryani.
"Baiklah!" Ujar Kania lalu bergegas mendekat pada Marvel.
Bahkan sebelum Kania mengulurkan tangannya, Marvel malah lebih dulu menyentuh tangan kanan Kania lalu sejenak menggenggamnya dengan penuh kehangatan.
"Terima kasih karena memilih abang. Jujur, abang tidak bisa menjanjikan apapun, tapi satu hal yang pasti, abang tidak akan membuat hati mu terluka karena abang. Aku sangat mencintai mu Kania." Ucap Marvel dengan tangan kiri yang mengusap pelan jilbab Kania.
Lagi-lagi, Kania hanya bisa menundukkan pandangannya. Marvel terus saja menatap sang istri, lalu perlahan Revtankhar menyentuh bahu Kania membuat sang pemilik menoleh padanya.
"Papi!" Ujar Kania dan langsung memeluk erat tubuh Revtankhar.
Kini Mariana juga ikut memeluk sang papi.
___________________
"Jadi iri...." Ujar Zea yang sejak tadi begitu larut dalam suasana.
"Maaf!" Ujar Rakes yang perlahan menyentuh tangan kanan Zea.
"Kenapa minta maaf, aku baik-baik saja!" Ujar Zea yang sejenak menatap dalam wajah Rakes lalu kembali menunduk.
"Maaf karena abang tidak bisa memberikan apa yang seharusnya kamu terima, abang bahkan...." Penjelasan Rakes langsung terhenti saat tangan kiri Zea ikut menyentuh genggaman Rakes.
"Ini semua sudah lebih dari cukup, terlebih karena abang sudah memberikan dua bocah kecil itu!" Jelas Zea lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rakes.
_____________
"Khhhhhmmmmm!" Ujar Iqbal.
"Kenapa om?" Tanya Roger.
"Kapan nyusul?" Tanya Iqbal.
"Ya ke pelaminan dong, masak iya ke pemakaman!" Cetus Alam.
"Om jangan ngaco deh!" Cetus Roger.
"Terserah, tapi ntar kalau Reva di bawa lari sama yang lain jangan nyesal loh!" Jelas Elsaliani.
"Tante El...." Ujar Reva yang langsung memeluk Elsaliani.
"Om cuma ngingatin aja loh!" Jelas Alam.
"Sama yang itu satu lagi juga..." Jelas Hadi sambil menatap Zafran.
"Kenapa jadi aku yang di bawa-bawa?" Keluh Zafran.
"Udah Zafran, kamu santai aja, ntar kalau Qalesya diambil baru mulai deh menggila!" Jelas Lukman.
"Waaaah, harus buru nih, kalau nggak....!" Erina malah menggantungkan jawabannya.
"Tante..." Ujar Qalesya dengan wajah yang telah memerah sempurna.
"Ayo foto!" Ajak Aryani dari kejauhan sana, dimana kedua mempelai dan yang lainnya berada.
"Ayo Qalesya..." Ajak Reva yang memang sejak tadi ingin kabur dari para orang tua yang sedang asyik menjadi kompor.
"Ayo!" Ujar Qalesya dan keduanya segera kabur.
"Aku juga mau foto aja!" Jelas Zafran.
"Aku juga!" Jelas Roger dan juga ikut pergi.
"Sepertinya, kali ini kita yang harus gesit!" Jelas Alam.
"Harus!" Tegas Erina.
"Kita yang urus semuanya, biar mereka tinggal datang ke pelaminan aja!" Jelas Amanda penuh semangat.
"Harus nih kayaknya!" Jelas Khaira.
"Udah ayo ke sana, yang lain nungguin kita!" Jelas Elsaliani.
"Ayo!" Ujar Mikeal dan mereka pun bergegas untuk ikut foto bareng dengan yang lainnya.
___________________
"Mau kemana?" Tanya Mariana saat Rafeal perlahan membuka pintu Kamar.
"Terima telpon." Jelas Rafeal sambil memperlihatkan layar ponselnya.
"Harimau itu siapa?" Tanya Mariana saat melihat nama panggilan masuk yang tertera di layar ponsel Rafeal.
"Pengantin sebelah!" Jelas Rafeal yang langsung kabur dari Mariana.
"Apa itu abang Marvel? waaaaah! benar-benar!" Gumam Mariana kesal.
Rafeal yang baru saja keluar dari kamar segera melangkah menuju balkon, sambil menerima panggilan dari Marvel.
"Dimana?" Tanya Marvel.
"Terima kasih sudah menyelamatkan aku!" Jelas Rafeal lega.
"Hah apa Ana separah itu? apa dia menerkam mu?" Tanya Marvel.
"Menerkam? kamu kali yang suka nerkam! suasana tadi itu benar-benar canggung, aku sampai merinding, Ana bahkan hanya diam mematung dengan terus bermain dengan ponselnya." Jelas Rafeal.
"Apa? serius?" Tanya Marvel memastikan.
"Hmmmm! kamu sendiri dimana?" Tanya Rafeal.
"Menuju hati mu!" Jelas Marvel yang langsung memutuskan panggilan.
"Sial!" Gumam Rafeal.
Marvel yang baru datang langsung menghempaskan tubuhnya di sofa tepat di sebelahnya Rafeal.
"Bagaimana dengan Kania?" Tanya Rafeal.
"Kania, huffffff! rasanya aku seperti hantu, tidak mungkin lebih cocok disebut seperti monster, rubah, Zombie atau....bahkan Mafia pun tidak membuat orang di sampingnya gemetaran, keringat dingin bahkan ketakutan seperti Kania Sekarang!" Jelas Marvel begitu frustasi.
💜💜💜💜💜💜💜
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE 😊😊
Stay terus sama My Princess 😘😘😘
KaMsaHamida 💜💜💜💜💜