
Zea langsung membuka pintu mobil dan lekas berlari menuju pantai tanpa lagi peduli pada Rakes yang hanya memilih diam membiarkan Zea melakukan apa yang dia inginkan.
Dengan tawa penuh bahagia, Zea langsung menelantarkan sepatu dan kaos kakinya begitu saja diatas pasir lalu kembali berlari, menghampiri deburan ombak yang datang menyapa bibir pantai.
"Aku datang!" Teriak Zea dengan tawa lepas tanpa beban sama sekali.
Zea membiarkan air laut membasahi rok sekolah yang ia kenakan, kakinya terus saja berputar riang dengan merentangkan kedua tangan lalu memejamkan mata dan mencoba menghirup udara laut yang begitu ia rindukan.
"I miss you so much! Tenang banget, suara ombak seakan menghapus semua beban pikiran yang selama ini mengisi otak tanpa henti. Nyaman, lega dan aku suka!" Jelas Zea.
"Kenapa begitu menyukai laut?" Tanya Rakes yang kini ikut merendamkan kakinya di air di laut.
"Sebenarnya bukan laut yang aku suka." Jawab Zea sekilas menatap Rakes lalu kembali menatap laut biru.
"Lalu?"
"Ombak. Sama halnya dengan abang Roger dan Chim chim, kenapa aku begitu manis di saat aku bersama abang Roger? karena hanya jika bersama abang Roger aku bisa melihat Chim chim, Jika aku membuat abang Roger enek dan kewalahan dengan sikap aku, dia pasti tidak akan mau bertemu dengan aku lagi itu artinya aku tidak bisa melihat Chim chim lagi. Sama halnya dengan laut, untuk bisa melihat ombak maka aku harus datang ke laut."
"Zea...."
"Maaf, aku bohong soal jawaban aku atas pertanyaan Chim chim tentang sejak kapan aku jatuh cinta sama Chim chim, sebenarnya sudah sejak dulu hati ini begitu terpaut sama Chim chim."
"Kenapa memendamnya?"
"Karena aku takut jika perasaan aku malah membuat aku tidak bisa lagi melihat Chim chim. Apa Chim chim tau, hanya karena Chim chim tidak menyimpan nomor aku, aku begitu terluka, kecewa dan tersiksa kenapa tidak menyimpannya? bahkan nomor tukang kebun aja ada di ponsel Chim chim, aku kalah dong sama tukang kebun."
"Bagaimana mungkin abang tidak menyimpan nomor orang terpenting dalam hidup abang."
"Aku udah cek, nggak ada tuh kontak atas nama Zea!"
Bukannya menanggapi pernyataan Zea, Rakes malah dengan santai mengambil ponsel dari saku jaketnya lalu segera menekan sebuah kontak.
"Chim chim yang nelpon?" Tanya Zea ketika mengambil ponselnya yang menggemakan tangga lagu favoritnya.
"Nih!" Seru Rakes sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Zea.
"My Princess?"
"Hmmmmm!"
"My Princess? bukannya itu panggilan sejak aku masih dalam kandungan?"
"Hmmmm, karena kamu adalah milik abang, princessnya abang."
"Waaaaaah, abang harus tanggung jawab!"
"Kenapa? apa ada yang salah?"
"Jantung aku mendobrak ingin meloncat keluar, aku meleleh bang!" Goda Zea sambil mengelus dadanya.
"Zea awasss!" Seru Rakes yang langsung berdiri di hadapan Zea.
Deburan ombak yang lumayan besar sukses membuat baju bagian belakang Rakes basah.
"Ayo ke tepi!" Ajak Rakes yang langsung menggandeng tangan Zea membawanya ke tepian, keluar dari air laut.
"Sorry! gara-gara aku baju Chim chim jadi basah gini." Pinta Zea setelah melihat punggung Rakes.
"Bentar lagi juga kering!"
"Tapi ini air asin loh, bakal lengket dan buat Chim chim nggak nyaman."
"It's oke!"
"Jangan kemana-mana, aku akan segera kembali." Pinta Zea dan segera berlari meninggalkan Rakes.
"Apa lagi yang bakal dia lakukan? Zea, Zea, kamu selalu saja bertingkah konyol dan anehnya abang suka dengan semua sikap aneh kamu itu, cewek bar-bar, konyol, gesrek, tomboy, judes, pokoknya abang menyukai semuanya." Ungkap Rakes sambil menatap kepergian Zea.
Perlahan Rakes melangkah mendekati pohon cemara yang agak sedikit jauh dari tepi pantai, karena panas Rakes memilih untuk berteduh di bawah pohon cemara tersebut.
"Buka!" Pinta Zea yang kini kembali menghampiri Rakes.
"Apa?"
"Baju kalau mau buka sekalian sama jeans juga nggak masalah!" Ujar Zea dengan tatapan mesum.
"Zea!"
"Terus apa hubungannya sama buka baju?"
"Ampun deh susahnya ngomong sama yang beda generasi!"
"Kamu ngatain abang tua?"
"Ets dah! udah buruan buka, sebelum aku yang paksa nih!" Ancam Zea yang kembali melangkah semakin mendekati posisi Rakes.
"Stop, oke abang bisa buka sendiri!" Cetus Rakes yang langsung membuka jaketnya lalu memberikannya pada Zea.
Zea langsung menyiram bagian punggung jaket lalu menjemurnya di rerantingan yang sedikit agak jauh dari tempat keduanya berteduh.
"Lagi!" Pinta Zea yang kembali mengulurkan tangan kearah Rakes.
"Apa lagi?"
"Kaos!"
"Zea jangan gila, udah!"
"Kaos Chim chim ikut basah juga, udah cepetan buka, atau mau tangan aku yang bantu bukain?" Zea kembali menggoda kali ini sambil memamerkan jemari tangan seolah akan menerkam tubuh Rakes.
"Zea, berhenti!" Tegas Rakes sambil beringsut mundur.
"Aku janji aku nggak bakal macam-macam, aku nggak bakal nyentuh kotak-kotak, nggak bakal nyentuh dinding beton juga!" Jelas Zea yang langsung membalikkan tubuhnya.
"Air laut bakal membuat badan Chim chim lengket dan risih, nih air basuhlah dinding beton Chim chim, aku tunggu di mobil." Jelas Zea sambil menyodorkan botol air mineral tanpa lagi menoleh kearah Rakes.
Rakes bangun dari duduknya, perlahan mengambil dua botol air mineral yang berukuran besar yang ada di dalam kresek di tangan Zea.
"Tetaplah disini! Abang butuh teman ngobrol!" Jelas Rakes.
"Dengan senang hati!" Seru Zea dengan nada girang dan senyuman lebar membuat Rakes tersipu malu.
Perlahan Rakes membuka kaosnya, lalu membasuhnya dengan air mineral diikuti dengan membasuh bagian punggung.
"Benar-benar dinding beton, kokoh banget!" Seru Zea yang sedari tadi tidak bisa melepaskan pandangannya dari punggung Rakes.
"Zea, berbaliklah! tetap di posisi seperti barusan!" Pinta Rakes.
"Nggak ah, mubazir menyianyiakan hal indah yang udah ada di depan mata, gratis pula!" Gumam Zea yang masih saja memperhatikan setiap lekuk punggung Rakes.
"Zea!" Seru Rakes yang langsung bersembunyi dibalik pohon Cemara.
"Dasar pelit, peliiiiit!" Protes Zea dengan suara lantang lalu beranjak mendekat kearah pohon cemara
"Tetap disitu! selangkah lagi kamu maju abang akan langsung kembali pakek baju basah ini lagi!" Ancam Rakes yang sontak membuat kaki Zea berhenti melangkah.
"Jahat, masak masa depan aku jadi taruhan?" Gumam Zea.
Ucapan Zea sontak membuat Rakes mengernyitkan dahinya tak paham.
"Masa depan?" Ulang Rakes yang masih tidak mengerti dengan ucapan Zea barusan.
"Chim chim polos atau ***** sih? masak itu aja nggak paham!"
"Ya emang abang nggak paham!"
"Tuh, dinding beton, kotak-kotak dan lain-lainnya, mereka semua aset masa depan Zea yang harus Chim chim jaga kelestariannya." Jelas Zea.
"Ternyata selain pandai menggoda, kamu mesum juga! dasar bocah bar-bar!" Seru Rakes.
Namun sikap Zea justru kembali membuat Rakes tersenyum bahagia dari balik pohon sana, sedangkan Zea hanya bisa berdecak kesal karena sikap Rakes.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE yaππ
Stay terus sama My Princessππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ