My Princess

My Princess
ES_9: Impian Arina



"Abang benar-benar membuat aku terpukau!" Ujar Uzun setelah ia keluar dari ruang sidang dan langsung merangkul pundak Azan yang sedang berjalan di depan ruang sidang.


"Emang kamu pernah dengar kalau abang kalah dalam sidang?" Tanya Azan dengan gaya sombongnya.


"Ciiih baru juga di puji langsung tuh melayang terbang tak karuan!" Cetus Uzun dengan tatapan sinis.


"Yeee emang benar kan? jadi?"


"Jadi??" Ulang Uzun.


"Yang ingin adek bicarakan!"


"Mau adek bicarakan di sini? sambil jalan gini?"


"Ya udah, kita ke ruangan abang!"


"No!"


"Terus?"


"Cari makan, adek lapar!"


"Benar-benar! buruan!" Tegas Azan yang mempercepat langkahnya menuju parkiran mobil.


"Enaknya makan apa ya?hmmmm..." Tanya Uzun saat mobil mulai melaju.


"Ke tempat biasa aja, jangan banyak protes!"


"Hmmmm, hmmmmm, adek lagi butuh asupan yang seger-seger, kita makan seafood, lets go!"


"Kamu ini...." Cetus Azan yang segera meluncur menuju restoran seafood langganannya Uzun.


setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Keduanya bergegas mencari meja yang kosong, hingga sebuah suara memanggil nama mereka.


"Abang Azan, abang Uzun!" Panggil Urshia yang berada disalah satu meja yang ada di sisi kanan sana.


"Kalian janjian?" Tanya Azan yang terus melangkah menuju meja di mana Arina dan Urshia berada.


"Hmmmm, udah lama kita nggak makan bareng di luar, duduk lah!" Jelas Uzun yang langsung mengambil tempat di samping Urshia.


Azan menyusul dan langsung duduk di sebelahnya Arina.


"Sudah kami pesankan, sebentar lagi juga makanannya datang!" Jelas Urshia.


"Makasih!" Ujar Uzun dengan senyuman.


"Gimana sidangnya? sukses?" Tanya Urshia.


"Pastinya!" Jawab Azan.


"Oh ya sekedar informasi, barusan kami habis dari kampus loh! ya sekedar iseng jalan-jalan aja, siapa tau nemu jurusan yang sejalur dengan otak kami!" Jelas Urshia.


"Emang kalian seriusan mau kuliah?" Tanya Azan.


"Terus abang kira kami mau langsung nikah?" Tanya Arina kesal.


"Bukan gitu maksud abang!" Sanggah Azan.


"Kalau emang boleh, ya udah kita nikah aja sekarang!" Jelas Urshia.


"Dasar kuyang mesum!" Cetus Uzun.


"Biarin..." Ujar Urshia santai.


"Abang kira kalian bakal masuk...." Ujar Azan gantung.


"Ngikutin jejak papa maksudnya?" Tanya Arina.


"Bukannya memang sejak awal kalian maunya begitu? terus kenapa belajar beladiri?" Tanya Azan.


"Abang, kami belajar beladiri ya buat melindungi diri kami sendiri, lagian aku sama sekali tidak ingin mengikuti jejak papa!" Tegas Arina.


"Aku juga, aku mau ngikut calon imam aku, biar bisa barengan selalu!" Jelas Urshia.


"Aku juga!" Tegas Arina.


"Jadi kalian mau masuk universitas kedokteran?" Tanya Azan memastikan.


"Shia doang, kalau kak Arin bakal masuk universitas hukum!" Jelas Urshia.


"Maksudnya?" Tanya Azan.


"Iya. Aku memang mau ngikut jejak abang. Aku mau selalu ada di samping abang, baik di rumah, di jalan, di kantor pokoknya di semua tempat yang abang datangin aku akan ikut." Jelas Arina.


"Jangan bercanda!" Ujar Azan yang hendak bangun dari tempat duduknya.


"Apa karena abang punya simpanan?" Tanya Uzun yang sontak membuat Arina dan Urshia menatap horor pada Azan.


"Jangan ngasal kalau bicara!" Tegas Azan yang langsung duduk kembali.


"Terus?" Tanya Urshia.


"Terus apanya?" Tanya Azan berlagak bodoh.


"Oke! kalau emang nggak boleh ya udah aku nggak bakal ikut abang!" Tegas Arina.


"Jadi kamu mau lanjut ke mana?" Tanya Uzun.


"Aku akan jadi sukarelawan aja, aku mau ke negara yang lagi perang sekalian aja mati di sana!" Tegas Arina dan lekas pergi begitu aja.


"Buruan kejar kak Arin, abang nggak mau kan kehilangan dia? udah buruan gih sana kejar!" Desak Urshia yang langsung di laksanakan oleh Azan.


"Semoga berhasil." Ujar Uzun.


__________________


"Ayo masuk mobil!" Aja Azan yang bahkan langsung menggandeng tangan Arina lalu membawanya ke mobil.


Bahkan setelah mobil melaju Arina tetap duduk diam membisu dengan mata yang hanya menatap lurus ke depan.


"Maaf!" Pinta Azan yang mulai tidak tenang dengan keadaan di dalam mobil saat ini.


"Kenapa minta maaf? emang abang buat salah apa?" Tanya Arina yang masih dengan mood cuek.


"Tentang keputusan abang, tentang maunya abang dan juga tentang abang yang tidak bisa membaca apa yang kamu inginkan."


"Jika abang tidak bisa menebak apa mau aku, setidaknya abang dengarkan pendapat aku, biarkan aku ikut bicara lalu baru setelahnya abang putuskan apa yang terbaik untuk kita."


"Kamu tau kenapa abang memilih jadi jaksa? padahal kamu tau sendiri kan kalau abang begitu ingin menjadi seperti daddy."


"Untuk melindungi semua orang, untuk menghukum semua orang yang mencoba menyentuh keluarga kita.." Jelas Arina dengan menundukkan wajahnya.


"Setidaknya....."


"Boleh aku yang bicara lebih dulu?" Sanggah Arina.


"Bicaralah!" Ujar Azan mengalah.


"Aku ingin selalu ada di dekat abang. Bukan karena aku cemburu, ataupun ingin mengawasi abang 24 jam, aku percaya sama abang. Tapi, aku, aku, hanya..."


"Abang paham perasaan kamu."


"Tidak, abang sama sekali nggak paham."


"Arin..."


"Abang nggak paham kalau setiap hari aku ketakutan saat abang harus ke lokasi kejadian untuk menyelidiki sebuah kasus belum lagi abang harus menemui orang-orang yang justru akan melakukan apapun pada abang agar mereka bebas dari dakwaan abang. Memikirkan semua itu setiap malam membuat dada aku sesak, aku bagaikan orang gila." Tangis Arina kini pecah sudah tanpa bisa terkendali lagi.


"Itulah jawaban abang atas pilihan yang sedang kamu buat saat ini!" Jawab Azan tegas.


"Apa maksud abang?"


"Abang tidak ingin kamu berada dalam situasi berbahaya yang seperti kamu katakan barusan."


"Bukankah semuanya akan baik-baik saja jika kita bersama-sama?"


"Arin..."


"Keputusan aku sudah bulat, aku akan masuk universitas hukum." Tegas Arina.


"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu itu?"


"Sangat!"


"Terima kasih!"


"Maksudnya??"


"Terima kasih karena tetap melangkah bersama abang, meski kamu tau kalau jalan yang abang pilih bagaikan labirin."


"Abang tidak akan menentang keputusan aku?"


"Menentang? Arin, abang hanya ingin memastikan saja."


"Jadi?"


"Ya, jadi daftar aja!"


"Serius? abang nggak lagi bohong kan?"


"Iya serius."


"Terima kasih, terima kasih banyak." Ucap Arina yang terlihat begitu girang.


"Terus?"


"Apanya?"


"Sekarang?"


"Maksudnya? abang jangan aneh-aneh deh!"


"Aneh gimana? jangan bilang pikiran kamu malahan yang aneh, kamu nggak ketularan otak mesumnya Shia kan?"


"Abang apaan sih?"


"Soalnya abang nggak sekuat Uzun loh, abang akan goyah, patah dan melebur seketika!"


"Apaan sih!" Cetus Arina yang langsung salah tingkah karena mendapati tatapan intens dari Azan.


"Aku lapar, ayo makan!" Seru Arina yang memang sudah begitu canggung dengan keadaan mereka.


"Balik lagi ke tempat barusan atau gimana?"


"Iya!"


"Apanya yang iya? balik atau nggak nih?"


"Balik!" Tegas Arina.


"Oke!" Seru Azan yang langsung memutar arah untuk kembali ke restoran dimana Uzun dan Urshia berada.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁