My Princess

My Princess
#118



Dengan perasaan tegang, Zea tetap berjalan, meski sempat terhenti untuk beberapa kali namun ia tetap melanjutkan kembali langkah kakinya yang terasa semakin berat untuk ia angkat.


Detak jantung semakin tak beraturan, bendungan air mata yang sejak tadi terus ia tahan dengan menggigit bibir bawahnya dan kedua tinju yang ia gepalkan dengan kuat seakan menjadi kekuatan tambahan agar dirinya tidak tumbang dengan apa yang akan ia lihat.


Sebisa mungkin ia memaksa diri untuk tidak roboh apapun yang akan ia hadapi, hingga langkah kakinya terhenti di depan sebuah ruangan, perlahan tangannya membuka pintu tersebut hingga terlihatlah tiga brankar yang sejajar dan tertutup dengan kain putih bersih. Melihat pemandangan yang begitu mengerikan di depan mata sontak membuat tubuh Zea ambruk ke lantai.


Mata Zea silih berganti menatap ketiga brankar tersebut, tangannya kembali meraih bagian daun pintu lalu mencoba untuk kembali berdiri, lalu perlahan melangkah mendekati ketika brankar yang kini tepat di hadapannya.


"Apa kalian mempermainkan aku? jika kalian berani melakukan ini pada aku, maka akan aku bunuh kalian!" Teriak Zea bersamaan dengan air mata yang tak bisa lagi ia bendung.


Tangan Zea yang gemetaran mencoba untuk menyentuh kain putih penutup brankar yang paling kiri, namun sebelum tangannya sempat melakukannya, angin yang berhembus entah dari mana asalnya membuat ketiga kain putih penutup terbuka secara bersamaan hingga memperlihatkan wajah serta dada telanjang dari ketiga tubuh yang terbaring kaku disana.


Tubuh Zea kali ini melemah sempurna, ia kembali ambruk ke lantai setelah melihat ketiga wajah lelaki yang terbaring kaku di atas sana.


"Pasti ada yang salah! entah ini mimpi, atau kalian yang sedang bermain drama. Hentikan! hentikan sebelum aku benar-benar membunuh kalian bertiga!" Gumam Zea dengan suara kasar dan gemetar.


Zea kembali berdiri dengan tangan yang bertumpu pada brankar paling kiri, mata tajam Zea kembali memperhatikan mereka satu persatu.


Tepat di samping ia berdiri ada Marvel dengan dua luka tembakan pada bagian bahunya, lalu di tengah ada Rafeal dengan sayatan pisau yang begitu panjang pada bagian leher hingga dadanya, kini mata Zea terhenti pada sosok mayat yang paling ujung.


Dada Zea semakin sesak, tangis pun semakin menjadi saat matanya mendapati tubuh Rakes yang di penuhi dengan luka tembak pada bagian dada kirinya lalu luka tikam pada bagian bahu kanannya tak sampai di situ, leher Rakes juga memiliki bekas lebam keunguan.


"Kalian sedang bercanda kan? nggak lucu! Aku mohon bangun lah! bangun!" Pinta Zea dengan suara melemah lalu mencoba menyentuh tangan Marvel.


"Abang Marvel, bangun aku mohon tolong suruh abang Rakes dan Rafeal menghentikan acting mereka, suruh kedua ******** itu untuk bangun sekarang juga! aku mohon!" Tangis Zea yang kembali terduduk di lantai.


Zea mencoba mendekati brankar dimana Rakes terbaring, meski harus dengan merangkak, Zea terus mendekat hingga tangannya meraih tangan kanan Rakes yang menggantung di udara.


"Chim chim, jangan buat aku memaki mu! jangan buat aku marah! hentikan semua kekonyolan ini atau aku akan merobohkan seluruh gedung ini. Aku bilang hentikan!" Gumam Zea dengan terus menggenggam tangan dingin Rakes.


Teriakan Zea membuat Elsaliani yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang segera menutup buku yang sedang ia baca lalu segera menyentuh wajah Zea yang dipenuhi dengan keringat dingin.


"Sayang, Zea...." Panggil Elsaliani dengan rasa khawatir dan kedua tangan yang terus membelai lembut wajah Zea.


"Uma...." Seru Zea setelah membuka mata dan mendapati Elsaliani tepat di sampingnya.


Zea langsung memeluk erat tubuh Elsaliani lalu menangis tersedu-sedu.


"Apa kamu mimpi buruk? Coba tenangkan diri kamu, istighfar sayang!"


"Astaghfirullah, Astaghfirullah ya Allah!"


"Nggak ada yang harus di takutkan, uma di sini bersama mu, tenanglah!" Ujar Elsaliani yang mencoba menenangkan Zea dengan terus mengusap lembut punggung Zea.


"Uma, apa abang Rakes tidak pulang lagi malam ini?"


"Sayang, Rakes kan kerja. Jika pekerjaannya sudah selesai dia pasti akan langsung pulang!"


"Tapi uma, tadi Zea mimpiin hal buruk tentang abang Rakes, abang Marvel dan juga Rafeal, Zea takut uma."


"Kita doakan semoga itu hanyalah mimpi belaka, semoga Allah senantiasa melindungi mereka bertiga, aamiin!"


"Aamiin! apa ayah juga ikut?"


"Hmmmmm!"


"Pasti pekerjaan yang besar, jika ayah juga ikut serta itu artinya lawan mereka lebih kuat. Bagaimana kalau mimpi Zea beneran terjadi?"


"Sayang, ingat! ucapan adalah doa, maka bicaralah yang baik-baik. Uma percaya kalau mereka akan pulang pada kita tanpa kurang apapun! Sudah jangan berlebihan, kasian kan cucu uma jadi ikut lelah karena harus memikirkan hal yang tak harus di pikiran. Ayo kembali tidur, cucu uma butuh banyak istirahat." Jelas Elsaliani lalu membantu Zea untuk kembali berbaring.


Zea menurut tanpa protes sama sekali karena ia juga tau betul, kalau saat ini ia harus menjaga kandungannya dengan baik, ia tidak ingin keegoisannya berimbas buruk pada sang buah hati. Zea kembali memejamkan matanya, dengan setia dan penuh kasih sayang tangan Elsaliani terus mengelus kepala Zea.


(Ya Allah jagalah mereka semua, karena Engkaulah sebaik-baik penjaga dan penolong, lindungilah mereka dari marabahaya ya Allah, aamiin ya Rabb, Aamiin ya Rabbal 'alamin) Doa Elsaliani dengan penuh kekusyukan dan harapan.


___________________


Di sebuah ruang VIP hotel XVX, sebuah acara pertemuan antara dua organisasi besar sedang berlanjut.


Di sisi kanan ada Naga Merah lengkap dengan petinggi-petingginya dan di sisi kiri ada Ular Putih serta para orang-orang kepercayaannya.


Ular putih yang di pimpin oleh seorang lelaki muda tampan dan kharismatik, ia di dampingi oleh pengacara cantiknya, dua lelaki gagah tangan kanannya dan beberapa pengawal yang berdiri sigap di belakang kursi mereka.


Temi yang duduk dengan begitu tenang dengan di dampingi oleh Risty disampingnya lalu di susul oleh Rakes dan Lexel di sebelahnya, sedangkan di sisi sebelahnya ada Roger, Fadhil dan Lestari serta di lengkapi oleh dua orang pengawal setianya yang berdiri di belakang kursi mereka.


Diskusi antara kedua belah pihak masih saja berlangsung sejak dari satu jam yang lalu. Mereka begitu fokus pada setiap detail pembahasan mereka hingga pada akhirnya Temi mulai menunjukkan keinginannya yang sebenarnya.


"Bagaimana kalau aku menjadikan Ular Putih sebagai cabang dari Naga Merah!" Tawar Temi di akhir diskusi mereka.


"Apa itu artinya kamu menolak tawaran aku?" Tanya Temi.


"Iya, bukankah tujuan pertama dari pertemuan ini adalah kerja sama? jika tidak bisa kerja sama maka diskusi berakhir!" Jelas sang pengacara yang bernama Vika.


"Berakhir? bukankah sejak awal tujuan utama kita adalah akuisisi?" Jelas Rakes.


"Omong kosong!" Gumam Ervan yang langsung bangun dari kursinya.


"Berhenti atau kalian akan kehilangan Ular Putih seutuhnya!" Ancam Rakes dengan tatapan mengerikan.


"Lakukan jika kamu bisa! aku akan lebih dulu membuat Naga Merah hancur berkeping-keping!" Gumam Vika.


"Haaaaaah! harusnya kalian menurut." Cetus Temi yang masih duduk santai.


"Aku tidak akan pernah bisa kamu taklukkan dengan kelicikan mu ini!" Tegas Ervan.


"Wuiiiiih! rupanya ada peperangan di sini! but it's oke, aku hanya datang untuk menjemput kekasih ku. Kalian silahkan lanjutkan kembali peperangan kalian!" Jelas Marvel yang baru saja masuk bersama dengan Andika.


Marvel mendekat lalu menyentuh tangan Risty yang langsung mendapat penolakan dari Risty.


"Lexel bereskan kedua lalat itu?" Perintah Temi yang langsung menarik Risty kedalam pelukannya.


"Om!" Ujar Risty dengan tatapan manja.


Lexel langsung bergerak namun segera di hentikan oleh salah satu pasukan Ervan.


"Haissssss! oke, kalau kalian juga ikut campur, bunuh mereka semua!" Perintah Temi yang langsung membuat pasukannya menyerang Pasukan Ervan.


Namun kekacauan yang terjadi tidak yang sebagaimana harus terjadi. Pasukan Temi yang harusnya menyerang Pasukan Ervan tapi yang terjadi kedua pasukan tersebut justru sama-sama menyerang Marvel membuat Rakes dan Lexel kebingungan.


"Kenapa? apa kalian kaget? Wowwwww! bukankah ini drama yang sesungguhnya. Rakes, kamu kira aku tertipu dengan trik murahan kalian! haaaaah, sebaliknya kalianlah yang masuk dalam perangkap kami." Jelas Temi dengan senyuman kemenangan.


"Kamu..." Seru Rakes.


"********!" Teriak Marvel kesal dan terus saja membalas setiap serangan yang membabi buta kearahnya dan Andika.


"Bunuh mereka semua!" Perintah Temi yang langsung membuat Ervan menyerang Rakes dan Vika dengan gesit menyerang Lexel.


Disaat perkelahian semakin memanas, diam-diam Risty menjauh dari jangkauan Temi namun dengan kasar tangan Temi menarik gaun yang Risty kenakan.


"Rafeal, kamu kira aku bisa kamu tipu dengan mudah, kamu salah besar!" Seru Temi yang dengan cekatan mengeluarkan pisau dari saku jasnya lalu meletakkannya tepat di bagian leher Rafeal.


"Berhenti!"Seru Fadhil yang juga berhasil mengarahkan pistolnya tepat di dahi Andika.


Tatapan Rakes, Marvel dan Lexel saling beradu lalu beralih menatap pada kedua anggota mereka yang kini berada di bawah kuasa lawan. Ketiganya menghentikan aksi mereka secara bersamaan.


"Akhirnya hari yang aku nantikan bertahun-tahun lamanya tiba juga! saatnya aku membalas semua dendam yang telah aku tahan bertahun lamanya!" Ujar Lestari sambil terus berjalan mendekati Rakes.


"Bukankah delapan tahun yang lalu sudah aku ingatkan, kalau aku pasti akan membunuh mu!" Gumam Lestari dengan penuh ambisi lalu mengarahkan pistol tepat di bagian dada Rakes.


Ervan memanfaatkan keadaan yang ada, secepat kilat ia menodongkan senjatanya kearah Lexel. Perlahan Roger mulai beranjak dari tempat ia berdiri, ia terus mendekat pada Marvel yang masih berdiri mematung di dekat Temi dan Rafeal.


Kedua tangan Roger bergerak, di genggaman kanannya ada sebilah pisau dan di tangan kirinya ada sepucuk senjata yang perlahan terangkat lalu keduanya terarah pada Marvel.


"Bagus Roger! kita akan langsung melenyapkan mereka semua dalam sekali hentakan." Ujar Temi dengan tawa puas.


"Roger...." Ujar Marvel.


"Diam!" Tegas Roger bersamaan dengan kedua senjatanya yang langsung berpindah arah.


"Roger apa yang kamu lakukan?" Tanya Temi saat kedua senjata Roger mengarah padanya.


"Roger, apa kamu sudah gila!" Gumam Lestari.


"Roger, sadarlah!" Seru Fadhil.


"Satu saja diantara mereka terluka, aku akan langsung membunuh mu, Temi!" Gumam Roger dengan tatapan bak monster yang siap menerkam mangsa.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️