My Princess

My Princess
ES_6*Dan inilah aku...



Dan inilah aku...🍁


___________________


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Arina.


Saat itu Arina memang sengaja menunggu Azan di teras, saat mobil Azan mulai memasuki halaman depan dengan cepat Arina langsung menghampirinya.


Azan yang tau kedatangan Arina langsung keluar dari mobil. Namun belum sempat Azan memberikan jawaban atas pertanyaan Arina, tubuh Azan malah di dorong paksa untuk kembali ke dalam mobil.


Azan hanya menurut lalu masuk kembali ke dalam mobil dengan diikuti oleh Arina.


"Ada apa?" Tanya Azan saat keduanya berada di dalam mobil.


"Bawa aku kemana pun itu, asal kan tempatnya tenang dan nyaman!" Jelas Arina.


"Terserah abang?" Tanya Azan memastikan.


"Hmmmmm!"


Azan kembali mengemudi dan keduanya lekas pergi menuju tempat sesuai dengan permintaan Arina.


Lima belas menit berlalu, kini mobil Azan berhenti tepat di depan kantor kejaksaan di mana selama ini ia bekerja.


"Kenapa malah ke kantor abang?"


"Tenang dan nyaman? ya ini tempatnya."


"Waaah! ini kantor otomatis rame orang, terus dimana tenang dan nyamannya?"


"Di ruangan abang, karena nggak akan ada satu orang pun yang berani masuk tanpa izin dari abang. Ayok!" Ajak Azan yang langsung keluar dari mobil.


Arina ikut keluar dan ikut masuk bersama Azan.


"Pak Azan, bukannya tadi bapak sudah pulang? kenapa balik lagi? apa ada yang ketinggalan?" Tanya seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangan yang berhadapan dengan ruangnya Azan.


"Aku hanya mau ambil beberapa berkas, kamu mau pulang?" Tanya Azan.


"Nggak kok pak, saya mau ngantar berkas kasus ini ke ruang pak ketua!" Jelas Wanita itu lagi.


"Oke, kalau begitu selamat bekerja!" Ujar Azan.


"Iya pak, saya permisi!" Ujarnya dan lekas pergi.


Azan langsung membuka pintu ruangannya dan lekas masuk, Arina mengikutinya. Kini keduanya duduk di sofa sana.


"Mau cerita apa?" Tanya Azan yang langsung menatap fokus pada Arina yang duduk tepat di hadapannya.


Bukannya memberi jawaban, Arina justru langsung sedih bahkan ia sampai menitikkan air mata.


"Loh sayang, kenapa malah nangis? apa ini semua ada hubungannya dengan abang?" Tanya Azan yang seketika langsung pindah ke sampingnya Arina.


Saat tau Azan duduk di sampingnya dengan sepat Arina langsung menutup wajahnya pada dada bidangnya Azan, lalu semakin larut dalam tangisnya.


"Arin? hei sayang! abang disini, abang nggak kemana-mana, ada apa ini sebenarnya? cerita sama abang!"


"Aku, aku...."


"Ya udah, kamu nggak harus ngomong sekarang. Menangislah, menangis sampai hati benar-benar tenang, abang akan terus di sini nungguin kamu!"


"Apa sekarang abang mulai lupa sama aku?" Tanya Arina saat ia sudah bisa mengendalikan perasaannya.


Arina bahkan menarik tubuhnya menjauh dari Azan.


"Jadi gara-gara abang? maaf!"


"Apa abang benar-benar lupa?"


"Tentang apa? tolong ingatkan abang!"


"Janji abang!"


"Yang mana? maaf karena belakangan ini banyak kasus yang abang tangani sampai abang lupa sama janji abang sendiri!"


"Katanya tadi abang bakal datang, tapi nyatanya apa, abang sama sekali nggak nongol, padahal aku sangat berharap abang bisa datang dan melihat aku mengalahkan lawan ku!"


"Jadi! Arin, abang benar-benar minta maaf, abang beneran lupa kalau hari ini kamu ada pertandingan. Tolong maafkan abang!"


"Sudahlah, lagi pula ini semua nggak penting kan buat abang."


"Arin, semua tentang kamu sangat penting untuk abang. Tadi itu abang benar-benar ada sidang dan sebenarnya abang juga lupa dengan pertandingan mu. Tapi kamu menang kan?"


"Jangan meremehkan aku!"


"Abang tau kalau kamu adalah yang terbaik. Hmmmm, sebagai gantinya, ayo kita rayakan kemenangan mu! nanti selepas magrib kita kencan!"


"Serius? beneran? abang nggak bohong kan?"


"Hmmmm, udah jangan sedih lagi, abang minta maaf."


"Hmmmm, aku maafkan, tapi lain kali jangan di ulangi lagi!"


"Iya sayang..." Jawab Azan dengan senyuman dan tangan yang mengusap lembut jilbab Arina.


______________________


Yah, sasaran Urshia adalah Anita yang saat ini sedang duduk di samping Uzun bahkan dengan tangan yang menyentuh lembut rambut Uzun.


Adegan mesra itu berlangsung tepat di dalam ruangan Uzun. Tangan Anita terus mencoba memindahkan rambut yang menutupi mata Uzun.


Ulah Urshia cukup membuat Uzun kaget apa lagi Anita yang jelas begitu kesakitan karena tangannya terhantam ponsel milik Urshia.


"Shia...." Teriak Anita kasar lalu menatap kearah di mana Urshia berdiri. Teriakkan Anita bahkan membangunkan Uzun dari tidurnya.


"Shia, apa yang kamu lakukan?" Tanya Anita kesal dan juga ikut mendekat pada Urshia.


"Bukankah aku yang harusnya mengajukan pertanyaan itu?" Cetus Urshia kesal.


"Shia,,," Ujar Uzun yang segera berlari menghampiri lalu mencoba menyentuh tangan Urshia.


"Apa yang barusan terjadi?" Tanya Urshia.


"Aku hanya..." Penjelasan Anita langsung di selip oleh Urshia.


"Aku tidak meminta penjelasan dari mu!" Tegas Urshia.


"Kamu, dasar bocah kasar!" Gumam Anita Emosi.


'Plaakk' Tangan Uzun langsung mendarat di pipi kiri Anita.


"Anita, maaf! Aku tidak masalah saat kamu berbicara kasar pada ku, tapi tidak dengan Shia." Jelas Uzun.


"Tapi Uzun, bukankah dia yang lebih dulu berbuat kasar pada ku? fine! dia adik kamu, tapi bukan berarti dia boleh memukul aku sesuka hatinya kan?" Jelas Anita.


"Bukankah dokter yang lebih dulu berbuat kurang ajar? kenapa menyentuh dia, kenapa menyentuh milik ku?" Gumam Urshia yang semakin kesal.


"Aku hanya memindahkan rambut yang menghalangi pandangannya!" Jelas Anita membela diri.


"Berulang kali aku melarang mu menyentuh ku, tapi kenapa kamu selalu saja mencari kesempatan saat aku lengah? Shia, abang baru saja siap operasi, abang lelah dan tadi itu abang ketiduran. Abang sama sekali nggak berbohong!" Jelas Uzun.


Perlahan Urshia menarik tangannya dari genggaman Uzun, lalu kakinya melangkah mengikis jarak antara dirinya dan Anita, perlahan tangan Urshia menyentuh kedua bahu Anita, perlahan mengusapnya hingga ke ujung jari Anita.


"Dan inilah aku! aku yang akan menjadi kasar dan brutal saat milik ku di usik oleh orang lain, ini peringatan terakhir dari ku, jangan pernah lagi menyentuh abang Uzun walau hanya sehelai rambutnya!" Tegas Urshia dengan tatapan maut yang begitu menusuk mata Anita.


Penjelasan Urshia cukup membuat kaki Anita melangkah mundur dan melepaskan diri dari genggaman Urshia.


"Anita, aku tegaskan sekali lagi, selain urusan pekerjaan, kamu dan aku tidak ada hubungan sama sekali, dan tidak akan pernah ada. Dia Shia, bukan hanya sekedar adik bagi aku, tapi dia adalah calon istri aku. Sekarang tolong keluar dari ruangan ku!" Jelas Uzun yang sontak membuat Anita berlari keluar dari ruangnya Uzun.


"Jangan lagi lengah, tadi itu baru saja ponsel setelah ini jika terulang kembali maka panah yang akan Shia lepaskan!" Tegas Urshia yang juga beranjak keluar.


secepat kilat Uzun langsung menghentikan langkah Urshia.


"Maafkan abang!"


"Shia sudah memaafkannya"


"Lalu kenapa kamu pergi?"


"Shia mau pulang!"


"Terus kenapa kamu ke sini?"


"Sengaja!"


"Sengaja atau kangen?" Goda Uzun dengan senyuman genitnya.


"Dua duanya!"


"Hmmmmm,,, Shia, Sebentar lagi abang ada jadwal operasi, hmmm hanya satu pasien, tunggulah abang di sini, abang akan secepatnya menyelesaikan operasi abang, kita pulang sama-sama!"


"Tapi aku harus pulang sekarang."


"Abang Azan ngajak kita kencan!"


"Serius?"


"Iya..."


"Udah buruan gih sana!" Ujar Urshia yang bahkan langsung mendorong tubuh Uzun keluar dari ruangan tersebut.


Perlahan tangan Uzun menyentuh tangan Urshia lalu menatap dalam bola mata beningnya Urshia.


"Soal yang tadi abang benar-benar minta maaf. Abang sama sekali tidak pernah berniat untuk melukai perasaan mu!"


Bukannya membalas ucapan Uzun, kini tangan Urshia perlahan menyentuh rambut Uzun.


"Meski harus menjadi gadis yang brutal dan kasar, Shia sama sekali nggak masalah, semua akan Shia lakukan untuk menjaga milik Shia dengan baik!" Jelas Urshia dan langsung memeluk erat tubuh Uzun.


"Jika kamu melakukannya di rumah abang yakin daddy akan memenggal kepala abang!" Ujar Uzun lalu mengusap lembut jilbab Urshia.


"Makanya Shia nggak akan pernah melakukannya di rumah."


"Kamu ini! abang pergi sekarang, tunggu abang ya!" Ujar Uzun dengan senyuman dan lekas keluar.


"Calon imam ku, akan aku lakukan apapun itu untuk menjaga mu dari pandangan dan sentuhan para wanita ganjen. Aku bahkan belajar memanah agar tetap bisa menjaga meski dari jarak yang jauh sekalipun. Uzun hanya milik aku, selamanya" Tegas Urshia pada dirinya sendiri lalu kembali rebahan si sofa menunggu sang kekasih yang sedang bekerja.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁