
Kruuuuuuuuum.........
Sebuah truk yang entah dari mana munculnya secara tiba-tiba menghantam motor membuat sang pengemudi terhempas melayang lalu di menit berikutnya tubuh tersebut menghantam aspal, dari kejauhan Rakes dan Zea langsung berlari mendekati tubuh yang terkapar di atas jalanan tersebut.
"Marvel....." Teriak Rakes yang langsung mendekap erat tubuh Marvel ke dalam dekapannya.
"Abang...." Ujar Zea dengan kaki yang melemah yang langsung ambruk di sisi tubuh Marvel.
Wajah Marvel dipenuhi dengan darah segar, matanya masih saja menatap sendu wajah Rakes.
"Abang...." Tangis Zea pecah dengan tangan yang langsung menyentuh wajah Marvel.
"Bagaimana ini?" Tanya Taufan yang terlihat jelas begitu khawatir.
"Pasti mereka main curang! ini semua pasti ulah mereka!" Gumam Bian penuh amarah.
"Sejak awal ini semua memang terlihat tidak normal, mereka pasti sengaja ingin mencelakakan kita!" Jelas Rayyan.
"Ini semua salah ku!" Ujar Zea penuh penyesalan.
"Zea, Ini bukan salah siapapun, jangan menangis!" Ujar Marvel dengan suara terbata-bata dan begitu lemah dan akhirnya hilang kesadaran.
"Marvel, Marvel..." Teriak Rakes dengan air mata yang semakin tak terkendali.
"Panggil ambulan, cepat!" Perintah Rakes yang langsung dilaksanakan oleh Namira.
Dari kejauhan sana Roger begitu syok saat mengetahui ternyata yang ikut balapan bukanlah Rakes melainkan Marvel.
_________________
Di saat semuanya semakin kacau, Suara ponsel Mariana membuat semua mata seketika langsung mengarah pada Mariana, perlahan Mariana merogoh saku celananya lalu segera mengambil ponsel dan membuka chat yang baru saja masuk.
...~Ke rumah sakit 'Kasih Sayang' Sekarang!~...
Baca Mariana.
"Cepat!" Desak Rafeal yang langsung berlari keluar dengan membawa Uzun bersamanya.
"Kania cepat susul Rafeal, biar aku yang ambil Azan, kalian langsung berangkat aku dan Azan akan segera menyusul!" Jelas Mariana lalu berlari ke kamarnya untuk mengambil Azan yang sedang tertidur lelap.
Tanpa Jawaban Kania segera berlari mengikuti Rafeal dan lekas pergi, beberapa menit berlalu Mariana juga ikut berlari keluar rumah dengan Azan di dalam gendongannya dan keduanya pun lekas berangkat.
_________________
Setelah tubuh Marvel masuk ke dalam ruang operasi, tubuh Rakes langsung ambruk di lantai, Zea segera mendekap tubuh Rakes.
"Seharusnya abang yang ada di dalam sana, harusnya abang yang menjalani operasi!" Tangis Rakes dengan penuh penyesalan.
"Abang tenanglah!" Pinta Zea dengan tangan yang terus mengusap lembut kepala Rakes.
"Apa yang terjadi? dimana Marvel?" Tanya Rafeal saat ia tepat berada di hadapan Zea dan Rakes.
"Ada apa ini?" Tanya Kania dengan suara melemah.
"Kania..." Ujar Zea yang segera beralih mendekap tubuh Kania yang kian melemah.
"Rakes, katakan sesuatu? ada apa? dimana Marvel?" Tanya Rafeal.
"Apa abang Marvel yang berada di dalam ruangan operasi sana?" Tanya Mariana dengan langkah tertatih.
"Ana.....!" Ujar Rakes.
"Jawab? apa abang aku yang saat ini terbaring di dalam ruangan sana?" Tanya Mariana dengan suara lantangnya.
"Ana....." Ujar Rafeal yang berjalan mendekati Mariana lalu mengambil alih Azan ke dalan gendongannya.
"Bagaimana keadaannya? apa dia terluka parah?" Tanya Mariana yang terus melangkah mendekati pintu ruang operasi.
"Kak Ana, maafkan aku!" Ujar Zea yang langsung bersimpuh di kaki Mariana.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Mariana terbata-bata bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk ke dalam pelukan Zea.
"Maafkan aku!" Hanya itu yang dapat Zea ucapakan dengan tangan yang terus memeluk erat tubuh Mariana.
Kania akhirnya tumbang, kesadarannya menghilang sudah, Rakes yang berada di dekat Kania langsung membawa Kania kedalam dekapannya.
"Kania...!" Ujar Rakes lalu mengangkat tubuh Kania dan membawanya ke kursi tunggu.
"Dia tidak terluka parah kan?" Tanya Rafeal dengan tatapan sendu.
Tidak ada jawaban sama sekali, hingga Rafeal beralih semakin mendekati pintu ruang operasi.
"Pa...pa...!" Ujar Uzun yang berada di dalam gendongan sebelah kanannya.
Lalu tangan mungil Azan yang berada di gendongan sebelah kiri, perlahan bergerak mengusap air mata Rafeal yang sejak tadi tak berhenti.
"pa vel kuat!" Ujar Uzun sambil mengacungkan jempolnya.
"Hmmmmm!" Ujar Rafeal yang berusaha untuk tenang.
"Dimana abang Marvel?" Tanya Kania yang perlahan kembali sadar.
"Masih di ruangan operasi!" Jawab Rakes.
"Apa yang terjadi? kenapa dia harus berada di dalam sana?" Tanya Kania.
"Dia kecelakaan!" Jawab Rakes.
"Kecelakaan? apa abang sudah memeriksa lokasinya? apa abang tidak menemukan sesuatu di sana? kenapa membiarkan dia balapan?" Tanya Mariana bertubi tubi dengan suara yang begitu lantang.
"Kak Ana tenanglah, abang Rakes sudah menyuruh pasukannya untuk menyelidiki semuanya!" Jelas Zea.
"Tante Angel juga ada di sana!" Jelas Rakes.
"Aku yakin pasti seseorang merencanakan semua ini!" Ujar Mariana.
"Aku akan membunuh mereka semua!" Gumam Rafeal.
"Sejak awal aku sudah menaruh curiga!" Ujar Kania pelan.
"Curiga?" Tanya Rakes yang mulai penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Sebelum kita tiba di danau, abang Roger chat aku, dia menanyakan keberadaan kita." Jelas Kania pelan.
"Dan tidak lama setelah itu, Bian dan yang lainnya datang!" Jelas Rafeal.
"Dan mereka mengatakan kalau mereka tau aku di danau itu dari abang Roger!" Jelas Zea.
"Roger!" Gumam Rakes dengan tinju yang ia genggam erat mencoba menahan amukan di dalam dirinya.
"Roger! aku akan membunuhmu, aku bersumpah kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Marvel maka tangan aku sendiri yang akan membunuhmu!" Gumam Rafeal.
"Pa..pa..." Ujar Uzun lalu mengeratkan tangan mungil di tubuh Rafeal.
"Sebenarnya apa yang dia inginkan? kenapa bisa ada monster seperti dia di dunia ini!" Gumam Mariana.
"Aku yakin, sebenarnya target abang Roger adalah aku bukan abang Marvel karena sejak awal memang aku lah yang di undang untuk balapan!" Jelas Zea.
"Bagaimana bisa dia punya rencana buruk untuk iparnya sendiri?" Cetus Mariana.
"Tidak Zea, karena abang tau target dia adalah abang, abang lah orang yang seharusnya terbaring di ruangan operasi sana!" Jelas Rakes dengan kepala tertunduk.
Sesaat suasana membisu mencekam, mereka hanya terdiam dengan air mata yang sejak tadi tidak bisa mereka kendalikan. Hingga suara pintu ruangan operasi yang terbuka dari dalam membuat semua mata langsung menyerbu ke arah sana. Seorang dokter keluar dan langsung di hadang oleh mereka semua.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rafeal penuh harap.
"Apa operasinya berjalan lancar?" Tanya Mariana.
"Apa suami saya baik-baik saja?" Tanya Kania.
"Kenapa hanya diam? katakan sesuatu?" Tanya Zea yang mulai marah karena sejak tadi dokter hanya diam tanpa jawaban sama sekali.
"Katakan! katakan kalau dia baik-baik saja!" Pinta Rakes.
"Pa Vel.....pa Vel....!" Teriak Azan.
"Pa.....pa....!" Panggil Uzun sambil terus memberontak dari Rafeal, ia terlihat jelas berusaha untuk lepas dari gendongan Rafeal.
"Katakan sesuatu, aku mohon!" Pinta Kania.
"Pak Marvel...." Ujar sang dokter lalu sejenak diam, menarik nafas dalam-dalam.
πππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ