My Princess

My Princess
#168



"Chim chim!" Panggil Zea dengan suara melemah dan tangan yang berusaha menjangkau tubuh Rakes yang terlelap disampingnya.


"Abang....." Ulang Zea saat tangannya menyentuh bahu Rakes yang terekspos jelas tanpa baju.


"Hmmmmmm!" Jawab Rakes pelan sambil membuka kedua matanya lalu menggeserkan badannya untuk menghadap kearah Zea.


"Zea, kamu kenapa? dimana yang sakit?" Tanya Rakes panik saat menatap wajah Zea yang terlihat jelas sedang berusaha menahan rasa sakit bahkan tangannya yang tadi menyentuh bahu Rakes kini mulai menggenggamnya dengan erat.


Secepat kilat Rakes bangun dan langsung membawa kepala Zea kedalam pangkuannya.


"Chim chim!" Panggil Zea dengan suara kian melemah dan tangan yang kini beralih menggenggam erat lengan Rakes.


"Ayo ke rumah sakit!" Ajak Rakes yang hendak mengangkat tubuh Zea namun langsung mendapat penolakan dari Zea.


"Ini masih tengah malam, aku nggak mau membuat uma dan ayah khawatir, lagi pula cuma sedikit keram, sebentar lagi juga bakal baikan." Jelas Zea.


"Tapi...." Protes Rakes.


"Hmmmmmm!" Ujar Zea yang kini beranjak melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rakes.


"Anak daddy jangan nakal dong sayang! kasian mommy harus kesakitan gini, sayang taukan kalau mommy masih sangat muda, jadi daddy minta tolong jagain mommy ya sayang, jangan buat daddy khawatir, jadilah anak yang baik, hmmmmm!" Jelas Rakes dengan tangan yang mengusap pelan perut buncit Zea.


"Aku nggak nakal kok daddy, cuman sedikit bergerak aja, daddy nggak perlu khawatir aku dan mommy baik-baik saja!" Jelas Zea lalu menyentuh tangan Rakes yang masih setia menyentuh perutnya.


"Apa udah agak mendingan? masih keram?"


"Sudah sedikit membaik!"


"Apa kamu haus? atau lapar? biar abang ambilkan!"


"Ayo ke dapur sama-sama, aku pengen makan masakan Chim chim!"


"Beneran nih mau ikut ke dapur?"


"Hmmmmm! ayo, kami lapar!" Jelas Zea yang tiba-tiba manjanya on seketika.


Zea langsung melingkarkan tangannya di leher Rakes lalu menatap sang suami dengan penuh kasih sayang.


"Baiklah!" Ujar Rakes menurut, ia langsung menggendong sang istri tercinta lalu keduanya segera menuju dapur.


Zea terus saja menonton sang suami yang terlihat sedang sibuk memasak untuk dirinya, setelah bergulat selama lebih kurang sepuluh menit, kini Rakes datang menghampiri sang istri dengan membawakan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi sesuai pesanan.


"Suapin!" Pinta Zea yang langsung membuka mulutnya lebar-lebar.


"Kenapa tiba-tiba manja gini?" Tanya Rakes sembari menuruti permintaan sang istri tercinta.


"Kenapa? apa Chim chim nggak suka kalau aku jadi manja?"


"Siapa bilang nggak suka? parahnya abang justru semakin terbuai dengan wujud kamu yang seperti ini." Jelas Rakes lalu mengecup kening Zea.


"Benarkah?" Tanya Zea dengan semangat yang begitu menggebu.


"Bahkan jiwa menerkam abang tak bisa abang kendalikan sama sekali." Jelas Rakes yang seketika menundukkan pandangannya.


"Chim chim!"


"Maafkan abang! harusnya abang nggak begini!" Ungkap Rakes dengan rasa bersalah.


"Kenapa minta maaf? harusnya aku kan yang minta maaf!" Jelas Zea lalu menyentuh wajah Rakes dan mengangkatnya agar bisa ia tatap dengan seksama.


"Abang terus saja berusaha agar abang bisa menahan diri abang, tapi pada akhirnya abang tetap kalah Zea, maafkan abang!"


"Sssssssttttt! aku suka bagaimana pun wujud abang, aku suka apapun yang menempel pada diri abang, aku suka semuanya!" Tegas Zea yang perlahan mengecup lama kening Rakes.


"Terima kasih karena memilih abang!" Ucap Rakes lalu mendekap wajah Zea ke dada bidangnya.


"Love my Chim chim forever" Ujar Zea pelan lalu memejamkan matanya menghirup aroma wangi tubuh sang suami.


___________________


"Kania....!" Panggil Rafeal yang baru saja di taman di mana keduanya memang sudah janjian untuk bertemu.


Kania yang masih menggenakan seragam putih abu-abunya terlihat duduk manis di atas salah satu kursi taman yang terletak di bawah pohon yang agak rindang.


"Abang Rafeal, ayo duduk!" Ajak Kania.


Rafeal langsung duduk di sebelahnya Kania.


"Maaf abang telat, kamu pasti lama nunggunya kan? sekali lagi maafkan abang!" Pinta Rafeal.


"Apa mau abang belikan minum? atau cemilan?" Tawar Rafeal.


"Nggak usah, aku baru aja siap minum, nih!" Jelas Kania yang langsung memamerkan botol minumannya yang memang sudah kosong.


"Curang, masa nggak ada sisa untuk abang!" Protes Rafeal.


"Sorry, eh masih ada kok, nih!" Jelas Kania yang kembali merogoh tasnya dan ternyata masih ada sisa air putih yang ada di botol minumnya.


"Yah,,,, terima kasih!" Ucap Rafeal yang langsung meneguknya sampai habis.


"Hmmmmmm, abang Rafeal! sebenarnya apa yang ingin abang bicarakan?"


"Kania, apa abang terlihat kejam jika abang paksakan diri abang untuk bersama Ana? jujur abang sama sekali tidak bisa mencintainya, abang tidak ingin semua ini justru akan menyakitinya di kemudian hari, dia sudah seperti adik abang sendiri, abang tidak ingin membuatnya membenci abang."


"Apa aku masih ada di sana?" Tanya Kania yang langsung menunjukkan telunjuk kanannya kearah hati Rafeal.


"Hmmmmmm, maafkan abang!" Jelas Rafeal dengan menundukkan kepalanya.


"Apa sebaiknya aku yang pergi?"


"Maksudnya?" Tanya Rafeal yang dengan spontan langsung menatap intens mata Kania.


"Jangan salah paham! aku hanya tidak ingin terus membuat luka untuk kalian bertiga, sejak awal aku memang mencintai abang Marvel dan aku tidak ingin cinta aku membuat abang terluka dan juga turut menyakiti kak Ana, aku nggak mau jadi orang yang egois."


"Berhenti mencemaskan orang lain, yang penting itu hidup kamu, kebahagiaan kamu."


"Lalu bagaimana dengan abang? justru abang mengorbankan segalanya untuk aku dan abang Marvel."


"Itu beda!"


"Dimananya yang beda? memangnya hidup abang sendiri nggak penting?"


"Kania..."


"Berhenti jahat pada diri abang sendiri! jika abang tidak membuang aku dari hati abang maka aku yang akan membuang abang Marvel dari hati aku!"


"Kania!" Gumam Rafeal lantang.


"Apa? abang meneriaki aku?"


"Maaf!"


"Segera buang aku dari sana dan isi dengan kak Ana, ini bukan permohonan tapi ancaman! jika abang tidak melakukannya maka aku yang akan melakukannya!" Tegas Kania.


"Kania..."


"Maafkan aku!" Pinta Kania yang langsung menangis di dalam pelukan Rafeal.


Aksi Kania yang tiba-tiba memeluk Rafeal, membuat Rafeal mematung tanpa bisa protes sama sekali.


"Kania...."


"Lakukan dengan cepat! aku tau abang bisa, kak Ana, dia jauh lebih baik dari aku! dan juga jadikan aku sebagai adik yang paling abang sayangi, hmmmmm."


"Hmmmmmmmm!" Ucap Rafeal lalu perlahan mengusap bahu Kania.


"Aku duluan, sampai jumpa besok, abang Rafeal tersayang." Ujar Kania yang seketika melepaskan pelukannya dan lekas pergi meninggalkan Rafeal.


"Kania, akan abang lakukan semua keinginan mu, bahkan jika kamu ingin abang mati sekalipun abang akan tetap melakukannya, karena tidak ada kata 'Tidak' buat kamu!" Ungkap Rafeal yang masih saja menatap punggung Kania yang kian menghilang dari pandangannya.


___________________


Kania terus berjalan kaki keluar dari area taman yang menjadi tempat pertemuannya dengan Rafeal, sebenarnya ini bukan kali pertama mereka janjian di taman, tapi sudah berulang kali.


Kania yang terus menelusuri trotoar seketika langsung menghentikan langkahnya saat sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya.


"Kania!" Panggil Marvel yang terus menatap sosok Kania yang juga menatapnya intens.


"Abang Marvel......" Ujar Kania.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ