My Princess

My Princess
#106



Zea terus saja menggeliat sambil terus berbalik ke sisi kanan lalu kembali ke sisi kiri dengan mata yang masih terpejam sempurna. Dia terlihat begitu damai dalam tidur nyenyaknya, bahkan bibirnya merekah memamerkan senyuman. Angin yang sepoi-sepoi menyusup lewat jendela yang sedikit terbuka membuat rambut Zea bernari nakal di wajahnya. Pelan-pelan Zea mulai membuka matanya sejenak menatap kearah jendela lalu pandangan Zea langsung menuju ke seluruh sisi kamar tersebut.


Secepat kilat Zea bangkit dari tidurnya, ia bahkan langsung berdiri tegak di atas tempat tidur masih dengan mata yang masih menatap heran seluruh sudut ruangan.


"Ini....!" Ucapan Zea langsung tergantung dengan sendiri.


Kini mata Zea sibuk menatap dirinya yang terpampang jelas di cermin besar yang menempel di dinding sana.


Mata Zea makin melotot sempurna saat mendapati keadaannya yang begitu berantakan. Rambut yang acak-acakan, kemeja yang bahkan dengan setengah kancing yang terbuka serta celana kulotnya yang benar-benar begitu kusut, semua keadaan itu sukses membuat Zea ketakutan.


"Apa yang sebenarnya terjadi? bagaimana bisa aku tidur di kamar Chim chim lalu terbangun di tempat aneh ini?" Gumam Zea yang semakin panik.


Zea segera meloncat dari tempat tidur lalu segera meraih jilbabnya yang tergeletak di atas meja dan buru-buru mengenakannya.


"Akan aku patahkan tangan siapapun yang berani menyentuh ku!" Gumam Zea dengan menggepalkan kedua tinjunya.


Ketika suara langkah kaki kian terdengar mendekat, Zea segera berlari menuju pintu, saat pintu dibuka dari luar secepat kilat Zea melayangkan tinjunya.


Tangan Zea bukannya mendarat pada sasaran eh malah dengan sigap sebuah tangan menangkap serangannya.


"Zea....!" Seru Rakes menyambut tinju Zea ke dalam genggamannya.


"Chim chim!" Ujar Zea setelah menyadari siapa yang ia serang.


"Kenapa main tinju?" Tanya Rakes yang langsung melepaskan tangan Zea.


"Habis aku kira siapa? siapa yang nggak syok coba! pas tidur masih di rumah sama suami tau-tau pas bangun udah di tempat asing dan yang paling bikin kesal aku terbangun dalam keadaan berantakan tanpa tau siapa pelakunya." Jelas Zea.


"Kalau tau pelakunya?" Tanya Rakes sambil memainkan kedua alisnya.


"Ohoooooo mulai nih ceritanya, Chim chim jangan mancing deh soalnya aku sama sekali nggak bisa mengendalikan diri aku setiap kali berada di dekat Chim chim, atau Chim chim emang sengaja, hmmmm? zuzuzuzu zuzuzu zuzuzu!" Goda Zea yang perlahan membuka jilbabnya.


"Zea, kamu pasti lapar kan? ayo sarapan!" Ajak Rakes mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya aku lapar, tapi bukan lapar ingin sarapan, tapi....."


Zea semakin mendekat, perlahan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rakes, lalu membenamkan wajahnya di dada Rakes.


"Ini liburan kita kan? bukankah kita harus menggunakannya untuk melakukan berbagai adegan romantis? Tabrakan maut, Raze join, bermanja-manja, mandi bareng, pokoknya semuanya! aku ingin melakukan semuanya." Jelas Zea.


Tangan Zea terus meremas kaos Rakes pada bagian belakang membuat Rakes perlahan mencoba mengangkat wajah Zea untuk memandanginya.


'Cup' sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Zea membuat sang empunya tersenyum bahagia.


"Hmmmm kita akan melakukan semuanya, tapi sekarang mandilah, kita sarapan lalu mulai mengikuti jadwal sebagaimana yang kamu inginkan." Jelas Rakes.


"Benarkah?"


"Iya!" Ujar Rakes dengan mengusap lembut rambut Zea.


"Bagaimana kalau kita mulai dari sekarang?"


"Maksudnya?"


"Ayo mandi bersama!"


Ajakan Zea sukses membuat wajah Rakes merona, meski ini bukan kali pertama Zea mengajaknya, namun tetap saja setiap kali Zea menyentuhnya jantungnya akan berdetak tak karuan, bahkan ia tidak bisa mengatur nafasnya dengan normal.


"Kenapa hanya diam? ayo buruan!" Desak Zea yang langsung menyeret Rakes ke kamar mandi.


Setelah mandi lalu siap-siap, Rakes kembali duduk di atas kasur sambil bermain dengan ponselnya karena harus menunggu Zea yang masih sibuk berdandan.


"Ayo!" Ajak Zea yang datang menghampiri Rakes.


Zea terlihat cantik dengan stelan kemeja coklat yang berpadu dengan rok plisket panjang dengan warna yang senada dengan kemejanya, serta jilbab dengan warna pink soft. Zea langsung berdiri di hadapan Rakes, mendapati kedatangan sang istri membuat Rakes segera bangun dari duduknya.


Sejenak menatap penampilan Zea, perlahan tangan Rakes beranjak untuk membuka ikatan jilbab Zea yang ada di belakang kepalannya, membuat kedua ujung jilbab terulur sempurna menutupi dadanya, lalu Rakes kembali memasangkan peniti pada ujung jilbab yang terjulur tersebut.


"Aurat itu harus di tutup dengan sempurna, biar cantiknya juga sempurna. Jangan di tutup tapi masih berbentuk, itu sama aja bohong, jika tidak bukan menutup aurat namanya tapi membungkusnya. Nah begini kan lebih nyaman, dan jauh lebih cantik!" Jelas Rakes dengan senyuman.


'Cup' "Terima kasih!" Ucap Zea setelah mengecup kening Rakes.


"Ayo!" Ajak Rakes dan langsung menggandeng tangan Zea.


"Ayyyo imam ku!" Ujar Zea.


Setelah menikmati sarapan pagi, keduanya segera meluncur ke laut. Hanya butuh beberapa menit berjalan kaki keduanya telah sampai di tepi pantai nan indah.


Hamparan pasir putih yang begitu memanjakan mata di tambah dengan deburan ombak yang perlahan menyapu bibir pantai membuat keindahan semakin memikat mata.


"Kenapa memilih pantai?" Tanya Zea sambil terus melangkah bahkan sesekali air laut menjilat roknya.


"Karena ini tempat favorit kamu! bukannya kamu suka ombak?" Jelas Rakes yang masih tetap berdiri jauh di sana, ia terlihat enggan membiarkan kakinya menyentuh air laut.


"Kemari lah!" Pinta Zea.


"Abang di sini aja."


"Buruan!" Desak Zea.


"Nggak ah!"


"Seru kan?" Tanya Zea setelah berhasil membuat celana jeans Rakes basah.


"Dasar...." Cetus Rakes.


Tanpa permisi Rakes membawa Zea kedalam gendongannya, lalu kian berjalan hingga membuat seluruh kakinya terbenam dalam laut.


"Chim chim turunin! turunkan aku!"


"Gimana? lebih serukan?"


"Turunin!"


"Nggak!" Tegas Rakes yang kembali berjalan hingga membuat air laut sejajar dengan dadanya.


Aksi Rakes membuat sebagian tubuh Zea juga ikut terendam air, Zea segera mengalungkan kedua tangannya di leher Rakes, berusaha untuk terus menaikkan tubuhnya agar tidak membuatnya tenggelam.


"Mau lanjut?" Tanya Rakes.


"Tunggu aja pembalasan aku!" Gumam Zea yang semakin erat memeluk leher Rakes.


'Cup' Bibir Rakes mendarat di pipi Zea.


"Bukannya tadi abang sudah bilang kalau abang nggak mau main air, kamu kan yang maksa?"


"Nggak gini juga!"


"Oke! damai?"


"Nggak!"


"Oke abang akan lanjut lagi!"


"Oke oke, damai!"


"Good wife!"


Rakes perlahan berjalan ke darat.


"Masih mau main? atau balik ke kamar?"


"Terserah!"


"Ngambek? ah baru kali ini abang lihat kamu ngambek gini!"


"Turunkan aku!"


"Zea....."


"Aku bilang turunkan aku!" Bentak Zea.


Rakes tidak lagi bisa berkomentar ia segera menurunkan tubuh Zea dari gendongannya.


"Sorry jika becandaan abang kelewatan!"


Zea hanya diam sambil terus melangkah menjauhi Rakes, dengan cepat Rakes segera mengikuti Zea.


"Zea...."


"Jangan bicara apapun!" Gumam Zea.


"Zea tolong maafkan abang!" Pinta Rakes dengan wajah tertunduk dengan penuh penyelasan.


Zea terus melirik ekspresi wajah Rakes.


"Kenak kan!" Seru Zea dengan tawa pecah karena berhasil mengerjai Rakes.


"Kamu..." Ujar Rakes.


"Emang Chim chim aja yang bisa, aku juga bisa kali, gimana rasanya kenak prank?" Tanya Zea.


"Kamu..."


Zea segera berlari menjauh dari Rakes.


"Lihat aja abang bakal membalasnya!" Seru Rakes yang terus mengejar Zea.


"Satu sama!" Ujar Zea yang terus menghindari Rakes.


Dengan usaha keras akhirnya Rakes berhasil menarik tubuh Zea kedalam dekapannya.


"Ayo kembali ke kamar!" Ajak Rakes yang langsung mengendong Zea lalu segera kembali ke kamar hotel mereka.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️