
"Abang...!" Ujar Kania dengan terus melangkah mendekati Marvel yang masih terbaring lengkap dengan beberapa peralatan rumah sakit yang menempel pada bagian leher, hidung dan kepalanya.
Kania terhenti saat ia bahkan masih agak jauh dari ranjang sang suami, matanya terus menatap dalam sosok Marvel yang hanya menatap Kania dengan tatapan yang melemah.
Kania terus saja menangis mendapati keadaan Marvel yang begitu membuat dirinya serba salah, tangannya hendak meraih jemari Marvel namun kembali ia tarik karena ia takut kalau sentuhannya malah akan membuat Marvel semakin kesakitan.
Marvel sejenak memejamkan matanya, seolah memberi kode agar Kania mendekat pada dirinya, namun Kania justru sama sekali tidak paham dengan bahasa isyarat Marvel.
"Mendekat lah!" Pinta Marvel dengan suara melemah.
Kania menurut, ia perlahan kembali mendekati Marvel.
"Maaf!" Ucap Marvel pelan.
"Jangan pernah pergi lebih dulu dari aku, janji!" Ujar Kania dengan isak tangisnya.
"Hmmmmm, maafkan abang!" Ujar Marvel lalu berusaha untuk bisa tersenyum dan akhirnya ia berhasil memberikan senyuman indah untuk sang istri.
"Istirahatlah, abang harus cepat sembuh kalau tidak abang Rakes dan abang Rafeal akan mengamuk di luar sana, atau mungkin rumah sakit ini akan mereka hancurkan!" Jelas Kania yang seketika membuat Marvel tersenyum.
"Apa mereka semua nungguin abang?"
"Hmmm, semuanya termasuk dua jagoan abang, mereka justru yang paling rewel saat abang kecelakaan."
"Sejenis kode?"
"Hmmmm!"
"Mereka memang anak-anak abang!" Ujar Marvel bangga.
"Anak kita semua!" Ujar Kania.
"Kayaknya kita harus segera menyiapkan permaisuri untuk mereka berdua!" Usul Marvel.
"Biar nanti aku yang carikan!" Tegas Kania.
"Carikan?" Tanya Marvel.
"Iya!" Jawab Kania.
"No! bukan cari sayang, tapi nyetak!" Jelas Marvel.
"Abang...." Ujar Kania dengan muka yang memerah sempurna.
Dari luar kaca pembatas ruangan sana, Rafeal dan Rakes tampak terus memerhatikan Marvel dan Kania yang berada di ruang rawat tersebut.
"Sepertinya besok aja deh kita masuk, nggak enak ganggu mereka!" Jelas Rakes.
"Iya, aku juga nggak sampai hati jadi obat nyamuk mereka!" Jelas Rafeal.
"Setidaknya dia baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup, ayo pulang!" Ajak Rakes.
"Ayyok!" Ujar Rafeal lalu keduanya segera menemui yang lainnya yang sedang berada di lobi rumah sakit sana.
"Bagaimana keadaan Marvel?" Tanya Aryani.
"Dia udah jauh lebih baik, apa lagi setelah bertemu dengan jantung hatinya!" Jelas Rafeal.
"Sebaiknya kita balik besok aja!" Jelas Mariana.
"Kalian pulanglah biar papi dan mami yang disini!" Jelas Revtankhar.
"Iya, papi benar, kalian istirahatlah, tuh lihat si kembar, kasian mereka tidur di gendongan kayak gitu!" Jelas Aryani sambil menatap Azan dan Uzun yang berada dalam gendongan Zea dan Mariana.
"Tapi...." Ujar Zea.
"Udah, kalau ada apa-apa papi akan langsung hubungi kalian, pulanglah!" Jelas Revtankhar.
"Baiklah, kami pamit pulang, pi mi!" Ujar Mariana.
"Assalamualaikum!" Ucap Rakes.
"Waalaikum salam!" Balas Revtankhar dan Aryani.
______________________
Setelah mengantarkan Zea, Mariana dan si kembar pulang Rafeal dan Rakes langsung meluncur menuju kantor polisi. Sesampai di sana keduanya malah langsung menerobos masuk tapa peduli pada suara yang berusaha mencegah aksi keduanya.
"Rakes, Rafeal..." Ujar Angel saat keduanya berdiri tepat di depan meja Angel.
"Dimana Roger?" Tanya Rakes.
"Tante nggak ngebebasin dia kan?" Tanya Rafeal.
"Marvel baru aja siuman, dan sekarang Kania sedang menemani Marvel." Jawab Rafeal.
"Tante, Roger dan Dion di mana?" Tanya Rakes.
"Dion dan tiga kawannya di tahanan sedangkan Roger masih di ruang interogasi!" Jelas Angel.
"Aku ingin menemuinya!" Tegas Rakes dan lekas pergi.
Rafeal pun segera menyusul dan Angel pun segera mengikuti keduanya.
Dengan kasar tangan Rakes langsung membuka pintu ruangan tersebut dan dengan cepat Rafeal langsung masuk lalu tanpa ucapan sepatah kata pun ia langsung menyeret Roger bangun dari kursi lalu menonjok wajah Roger hingga tubuh Roger terjatuh ke pojok ruangan.
"Jika sampai Marvel kenapa-kenapa, maka aku akan membunuh mu!" Gumam Rafeal.
"Ciiiih! aku sama sekali tidak menyentuh Marvel!" Jelas Roger pelan dengan suara yang hanya ia dan Rafeal yang bisa mendengarnya.
"Jadi maksud kamu, Rakes lah target mu? aku ingatkan kamu sekali lagi! jangan sentuh Marvel atau pun Rakes, jika sampai keduanya kenapa-napa, maka tangan aku sendiri yang akan menarik jantung mu keluar! ngerti." Ancam Rafeal dengan penuh penekanan.
"Rafeal!" Seru Iqbal yang ternyata berada di ruangan tersebut.
Tidak hanya Iqbal, Hadi dan Lexel pun ada di ruangan interogasi sejak tadi sebelum keduanya menerobos masuk.
"Cukup Rafeal!" Ujar Lexel yang langsung menarik Rafeal menjauh dari Roger.
Sambil mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya, Roger malah tersenyum sinis pada Rakes hingga membuat Rakes langsung melayangkan tinjunya pada Roger.
"Rakes!" Gumam Hadi yang langsung menghentikan aksi Rakes.
"Pa, kali ini aku sama sekali tidak bisa memaafkan kesalahannya! gara-gara dia Marvel celaka!" Jelas Rakes.
"Tenanglah dulu!" Pinta Hadi.
"Solusi terakhir, penjarakan dia pa!" Pinta Rakes.
"Rakes!" Ujar Iqbal.
"Kali ini aku benar-benar tidak bisa memaafkan dia!" Tegas Rakes.
"Abang...." Ujar Roger tersentak dengan apa yang baru saja ia dengar dari Rakes.
"Rakes, bagaimana pun dia adalah adik kamu!" Jelas Angel.
"Justru karena itu tante, aku tidak ingin maaf aku justru membuat dia menjadi semakin brutal. Mungkin semua ini terjadi karena aku yang kerap kali membiarkan dia melakukan semaunya." Jelas Rakes.
"Penjarakan dia, tuntut sesuai dengan hukum yang berlaku!" Jelas Hadi dan lekas keluar dari ruangan tersebut.
Rakes merogoh ponsel dari saku jeansnya, lalu segera menghubungi seseorang.
"Tuan Jordan tolong kembalikan semua aset aku, kembalikan jabatan CEO atas nama aku dan juga cabut semua saham atas nama Roger. Tolong segera dialihkan kembali atas nama Rakes al-Maliki." Jelas Rakes dan langsung memutuskan panggilannya.
"Abang, kamu jangan gila!" Gumam Roger.
"Abang sudah memberikan semuanya untuk kamu tapi kamu masih saja mengusik istri dan sahabat abang, maka ini adalah langkah akhir yang harus abang lakukan. Renungilah semua kesalahan mu selama ini!" Jelas Rakes dan langsung keluar.
"Tuan muda.....!" Panggil Lexel dan segera mengikuti Rakes.
"Akhirnya Rakes mulai waras, selamat menjalani hukuman mu!" Cetus Rafeal dan ikut keluar meninggalkan Iqbal, Angel dan juga Roger.
"Nggak! abang nggak boleh melakukannya, semua ini milik aku, semuanya milik aku!" Seru Roger yang kian memanas.
"Roger!" Gumam Iqbal sambil memaksa Roger untuk kembali ke kursinya.
"Nggak ini semua nggak boleh terjadi!" Gumam Roger.
"Ini semua adalah akibat dari kesalahan mu. Kamu sendiri yang harus membayar semua perbuatan mu itu. Tante akan membawa mu ke meja hukum dan kamu akan menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatan mu!" Jelas Angel.
"Apa tante mau di pecat! Aku akan mengadukan semua ini pada kakek!" Jelas Roger.
"Om Jordan? dia justru yang meminta tante untuk memenjarakan kamu!" Tegas Angel dan lekas pergi.
"Om Iqbal....." Tangis Roger pecah di dalam dekapan Iqbal.
"Roger ini adalah tanggung jawab kamu. Sebagai laki-laki, kamu harus bisa menerima semua konsekuensi atas apa yang telah kamu lakukan, om janji, om akan selalu ada buat kamu tapi hukum adalah hal yang tidak bisa om jadikan pilihan. Dan sekarang kamu yang harus berubah, jadikan semua ini pengajaran agar di masa depan kamu tidak lagi terjatuh dalam kesalahan yang sama!" Ujar Iqbal menenangkan.
💜💜💜💜💜💜💜
Jangan lupa LIKE Comen n vote@ ya😉
stay terus sama My Princess 😘😘
Khamsahamida💜💜💜