My Princess

My Princess
#060



"Gimana jadi?" Tanya Taufan penuh semangat ketika semua anggota club berkumpul di parkiran.


"Jadi nggak jadi harus jadikan? mau gimana lagi, ini resiko kita punya teman asal nyosor, nggak ada kabar langsung main iya aja." Cetus Zea.


"Iya maaf, habis aku kebawa emosi." Jelas Bian.


"Oke, kita gerak sekarang." Tegas Rayyan.


"Apa aku boleh ikutan?" Tanya Namira.


"Pastinya." Jawab Taufan dengan senyuman manisnya.


"Dasar selalu cari kesempatan dalam kesempitan. Ya udah ayo berangkat!" Jelas Rafeal.


"Zea, apa kamu udah ngabarin uma, kalau kamu pulang telat?" Tanya Rayyan.


"Baru aja, ya udah ayo buruan!" Ajak Zea yang langsung masuk ke dalam mobil milik Taufan.


"Bentar lagi zhuhur, kita berhenti di mesjid terdekat habis itu baru meluncur ke lokasi, oke!" Jelas Rafeal.


"Siap, go!" Seru Bian yang ikut masuk ke mobil.


"Udah kamu bareng Rayyan sana gih!" Pinta Rafeal yang segera masuk lalu duduk disebelahnya Zea.


"Kamu aja yg bareng Rayyan, aku harus jagain Zea." Tegas Bian.


"Jagain? kenapa?" Tanya Zea.


"Ah itu, hmmmm ya kan supaya kamu nggak kabur, ntar kalau tiba-tiba kamu melarikan diri terus siapa yang bakal balapan?" Jelas Bian yang terlihat kebingungan.


"Biar aku yg jagain, udah kamu sama Rayyan aja!" Jelas Rafeal yang langsung memasang sabuk pengaman.


"Nggak bisa gitu dong!" Protes Bian.


"Terus aja kalian berdebat bila perlu sampai sore!" Cetus Taufan yang kesal dengan tingkah kedua sahabatnya itu.


"Ya habis..." Bian kembali protes.


"Biar aku aja yang sama Rayyan." Jelas Namira.


"Nggak bisa dong, kan bukan muhrim." Tegas Taufan.


"Bukannya kelar malah nambah masalah!" Cetus Rayyan.


"Oke fine, aku aja yang sama Rayyan, Bian dan Namira naik mobil aja." Jelas Taufan yang langsung menaiki motor Rayyan.


"Aku suka gaya mu!" Ucap Bian sembari menepuk bahunya Taufan.


Bian dan Namira pun segera memasuki mobil, lalu sang sopir pribadi Taufan segera meluncur sesuai instruksi dari Zea.


Sedangkan Rayyan dan Taufan menyusul dari belakang dengan menggunakan motor milik Rayyan yang nantinya akan di pakai oleh Zea untuk mengikuti pertandingan balapan.


Mobil milik Taufan perlahan memasuki area sebuah mesjid yang terletak didepan jalan Raya, semua anggota bergegas untuk menunaikan sholat zhuhur di mesjid nan megah dan indah tersebut.


Namira dan Zea segara menuju tempat wudhu wanita. Zea segera membuka jilbabnya dan mulai mengambil wudhu, namun tiba-tiba Zea menyadari kalau sedari tadi Namira terus memperhatikan dirinya bahkan dengan tatapan yang sama sekali tidak berkedip.


"Ada apa? apa ada yang aneh? kenapa menatap aku seperti itu?" Tanya Zea khawatir.


"Apa kamu sudah selesai wudhu?" Namira bukannya menjawab pertanyaan Zea, dia malah mengajukan pertanyaan lainnya.


"Udah." Jawab Zea.


"Ayo sini!" Ajak Namira yang langsung menarik tangan Zea.


Namira membawa Zea ke depan cermin lalu perlahan menunjukkan bagian leher Zea.


"Zea, apa ini?" Tanya Namira dengan tangan yang menyentuh bagian leher Zea yang memiliki bekas yang terlihat seperti lebam.


"Apaan? apa ini? kok tiba-tiba ada bercak dimana-mana? apa aku alergi? atau mungkin ini campak? atau penyakit kulit yang bakal menular?" Zea begitu panik ketika melihat lehernya yang terdapat beberapa lebam ia bahkan semakin melebarkan leher bajunya agar bisa melihat dengan seksama.


"Serius kamu tidak tau?"


"Kalau aku tau ya pasti aku obati lah! bagaimana ini? jauh-jauh dari aku, bagaimana kalau nanti kamu malah tertular." Gundah Zea yang langsung melangkah mundur menjauhi Namira


"Hussss! bukan penyakit menular kok, kamu terlalu berlebihan deh, bisa jadi ini cuma alergi, salah makan kali, nanti belilah obat di apotik, sekarang ayo sholat!" Jelas Namira.


"Ya udah ayo!" Ajak Zea yang kembali memakai jilbabnya.


(Pikiran aku pasti salah kan? dasar otak mesum langsung aja treveling kemana-mana. Zea pasti cuma alergi makanan, pasti. Zea itu cewek baik-baik, di sentuh tangan aja dia marah bagaimana kalau sampai ada yang nekat nyium pasti akan langsung dipatahkan tangan dan kakinya.) Namira terus saja meyakinkan dirinya dengan pikiran positif.


Setelah semuanya menunaikan ibadah Sholat zhuhur, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju lokasi pertandingan balap hari ini. Setelah menempuh perjalan selama sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di sebuah arena balap yang terlihat sudah sangat ramai.


"Aku kira kamu bakal kabur!" Jelas Alwin yang tak lain adalah antek-anteknya Dion.


"Kabur? itu bukan sifat kami. Kami akan tetap bertanding, apapun yang terjadi, karena kami bukanlah club yang bakal menyerah bahkan sebelum pertandingan dimulai." Jelas Bian.


"Mari kita lihat, siapa pemenang yang sesungguhnya. Hari ini ada sepuluh pembalap yang bakal ikut bertanding, so selamat berjuang." Jelas Alwin dan bergegas pergi.


"Dasar sinting!" Cela Bian.


"Biarkan aja dia menggonggong, toh nggak bakal ngaruh apa-apa buat kita!" Jelas Rayyan.


"Oke, aku akan langsung bersiap di garis start!" Jelas Zea.


"Terus siapa lagi? cuma dia satu-satunya pembalap terbaik dan tercepat di club kita." Jelas Bian.


"Aku dan Taufan tidak sekeren Zea." Jelas Rafeal.


"Benar-benar penuh kejutan kalian ini." Ujar Namira.


"Oke, aku akan masuk, doakan aku supaya menang." Ujar Zea dengan senyuman dan bergegas ke garis start.


"Zea kalahkan mereka semua, buktikan kalau kamu adalah ratu balap yang sesungguhnya." Jelas Rafeal penuh bangga.


"Zea....kamu pasti bisa, go Zea go!" Teriak Namira yang sukses membuat semua orang beralih menatapnya


Zea yang sudah bersiap hanya membalasnya dengan mengangkat jempolnya.


"Zea, semangat!" Teriak Taufan dengan penuh semangat.


Kelimanya segera bersiap dipinggir jalan bersama para penonton lainnya.


Semua peserta sudah bersiap diatas motor mereka masing-masing. Semenit kemudian peluit ditiup pertanda pertandingan telah di mulai, semua peserta langsung meninggalkan garis start.


Suara penonton yang meneriaki jagoan mereka masing masing mulai terdengar begitu memekikkan telinga.


"Ya Allah semoga Zea tidak akan kenapa-napa." Pinta Namira yang terus saja memanjat doa untuk keselamatan Zea.


"Mira, Zea lagi balapan bukan berperang, udah santai aja." Ujar Taufan.


"Kamu pasti cemas, iya kan? sama kayak kami pertama dulu, tapi kamu tenang aja ini itu udah untuk kesekian kalinya Zea balapan, santai aja." Jelas Rafeal.


"Meski cewek tapi Zea beda dari cewek-cewek pada umumnya, dia jago bela diri, jago pelajaran, jago balap dan pastinya juga tangguh tak terkalahkan." Jelas Rayyan.


"Sepertinya memang rasa khawatir ku sia-sia belaka." Ujar Namira dengan senyuman lega.


"Hmmm, dari pada terus khawatir mending teriakin aja nama Zea, biar dia tambah semangat!" Usul Bian yang langsung di laksanakan oleh Namira.


"Go Zea, my hero! Semangat!" Teriak Namira dengan suara lantang dan semangat menggebu-gebu.


Pertandingan telah berjalan selama tiga belas menit, dan akhirnya para peserta mulai terlihat satu persatu.


Yang pertama terlihat bukanlah sosok Zea, karena saat ini Zea berada di urutan ketiga. Suara motor mulai terdengar semakin mendekat, keadaan semakin memanas, nama 'Farel' Terus saja terdengar seakan memenuhi seluruh area.


Yah, Farel lah yang berada di urutan pertama, namun hal itu tidak berlangsung lama kini motor Alif mulai mengejar bahkan Alif kini merebut posisi Farel sehingga teriakan penonton mulai berubah, bukan lagi Farel yang mereka elukan, tapi nama Alif lah yang mulai terdengar. Garis finish semakin dekat, di menit terakhir Zea beraksi, dalam sekejam mata ia merebut posisi Alif, Karena pada akhirnya Zea lah yang mencapai garis finish pertama kali.


"Yeeeees!" Teriak Zea yang langsung melepaskan helmnya.


"Yeeeeeee! ratu balap di lawan!" Seru Bian dengan begitu sombongnya.


"Sudah jelaskan siapa pemenang nya?" Tanya Taufan.


"Nuri Zea Zahiya Saka." Teriak Rafeal dan Rayyan hampir serentak lalu di akhiri dengan gelak tawa.


"Kalian urus sisanya, aku harus pulang. bey!" Jelas Zea yang kembali mengendarai motor Rayyan bahkan tanpa persetujuan dari sang empunya.


"Hei, Zea....!" Teriak Rayyan.


"Dasar tuh anak seenak jidat aja." Cetus Taufan.


"Udah biarin aja, yang penting dia menang!" Jelas Namira.


"Huuuuf! oke, Bian selesaikan semuanya ayo pulang!" Ajak Rafeal.


"Yoook!"


Semuanya bergegas ke mobil sedangkan Bian langsung mengurus sisanya.


________________


"Ternyata begini cara kalian berkomunikasi!" Jelas Rakes yang masih saja duduk manis di ayunan yang berada di depan sebuah taman kanak-kanak yang tidak terlalu jarak dari SMA tempat ia mengajar sekarang.


Rakes yang mengenakan kaca mata besar, kemeja yang terpasang rapi hingga menutupi bagian lehernya, celana kain longgar serta ransel yang menempel di punggungnya, membuat dirinya terlihat bak seorang kutu buku. Kakinya terus saja mengayunkan ayunan namun matanya terus saja fokus pada Fadhil yang sedang duduk di perosotan dengan tangan yang terus saja membuka lipatan kertas yang tadi ia pungut dari tong sampah yang ada di dekat perosotan tersebut.


"Untung aja aku bawa kostum mengerikan ini." Ujar Rakes pada dirinya setelah memerhatikan penampilannya.


Fadhil yang awalnya terlihat serius membaca tulisan dari kertas tersebut kini mulai menulis sesuatu di balik kertas tersebut.


"Apa dia sedang mempermainkan aku? atau memang benar dia sedang menyampaikan pesan untuk tante Lestari!" Gundah Rakes yang terus menerka dengan apa yang sedang Fadhil lakukan.


Fadhil kembali membuang kertas tersebut ke dalam tong sampah lalu lekas meninggalkan lokasi tersebut. Setelah memastikan bahwa Fadhil telah benar-benar pergi, Rakes mulai beraksi. Namun langkah Rakes seketika terhenti ketika seorang lelaki mulai mendekati perosotan tersebut.


"Roger, ada apa ini? kenapa Roger bisa muncul disini? bagaimana Roger dan Fadhil...? ada apa ini sebenarnya?" Tanya Rakes yang segera beralih menuju pohon lalu bersembunyi di sana.


Rakes terus mengamati Roger yang terlihat mengambil kertas tersebut lalu membawanya. Roger kembali menghilang dengan mobilnya. Setelah mobil Roger tak terlihat lagi Rakes langsung berlari lalu berusaha mencari kertas tersebut, namun hasilnya nol, meski ia telah menuangkan semua sampah namun kertas yang ia cari sama sekali tidak ia temukan.


"Roger, Fadhil, Reva, apa kalian bertiga punya hubungan? kenapa aku serasa sedang kalian permainkan? apa kalian menyalah gunakan kesempatan dan kasih sayang yang tulus aku berikan? apa kalian sedang berusaha untuk melihat sisi Srigala yang bersemayam dalam diri ku? oke, akan aku ikut alurnya, akan aku pastikan kalau kalian sama sekali tidak memiliki hubungan satu sama lain." Tegas Rakes yang mulai emosi dan segera beranjak pergi meninggalkan taman kanak-kanak tersebut.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️