
Zea yang sejak tadi sibuk berdandan di depan cermin, ia bahkan sudah tujuh kali menukar baju yang ia kenakan. Untuk yang ke tujuh kali, Zea memilih baju gamis berwarna merah maron lalu mengenakan kerudung dengan warna senada. Zea kembali berlenggak-lenggok di depan cermin dengan mata yang terus memperhatikan setiap inci penampilannya.
"Hmmmmmm kurang pas deh kayaknya, ganti lagi aja ah!" Cetus Zea pada dirinya sendiri.
Zea kembali membuka kerudungnya lalu melepaskan kancing bajunya, suara pintu kamar yang dibuka dari luar membuat Zea seketika menghentikan aksinya, dengan cepat Zea kembali meng-kancingi bajunya dan buru-buru mengenakan kembali kerudung yang bahkan sudah ia buang ke lantai.
"Mau kemana?" Tanya Rakes yang terus melangkah mendekati Zea yang masih berdiri dengan wajah yang terlihat kaget.
"Aku, aku, hmmmmm Chim chim habis dari mana?" Zea malah mengalihkan pembicaraan Rakes.
"Kantor, banyak hal yang harus abang selesaikan. Maaf karena abang tidak bisa menemani kamu tadi siang." Jelas Rakes lalu merapikan kerudung yang Zea kenakan secara buru-buru.
"Nggak masalah, aku paham." Jelas Zea dengan senyuman.
"Kenapa berpakaian seperti ini? mau kemana?"
"Hmmmm sebenarnya, mending Chim chim mandi aja dulu, aku tunggu, buruan!" Jelas Zea yang langsung mendorong tubuh Rakes ke arah kamar mandi.
"Tapi jawab dulu pertanyaan abang, mau kemana sih?" Rakes kembali bertanya.
"Udah cepetan! jangan lama-lama mandinya." Tegas Zea yang langsung menutup pintu kamar mandi.
Setelah Rakes masuk ke kamar mandi, Zea secepat kilat berlari ke ruang ganti, ia terus saja mencari-cari pakaian lainnya.
"Yang mana sih, jadi tambah bingung mau pakek apa! au aaaahhhh!" Gumam Zea yang semakin kesal pada dirinya sendiri.
Tangan Zea kembali meraih gamis yang berbahan jeans lalu segera mengenakannya.
"Ini aja deh, pusing!" Cetus Zea.
setelah merasa nyaman dengan gamis pilihannya Zea segera mengenakan kerudung berwarna toska dan lekas keluar dari ruang ganti.
"Kamu ganti baju lagi?" Tanya Rakes yang sedari tadi asyik mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Hmmmm, Chim chim....." Ujar Zea pelan dan perlahan terus mendekat pada Rakes yang duduk di tepi tempat tidur.
"Hmmmm, oh ya apa kata dokter tadi? kamu baik- baik aja kan?" Tanya Rakes setelah Zea duduk di sampingnya.
"Baik, sehat, oke!" Jawab Zea gugup.
"Syukurlah" Ujar Rakes dengan senyuman lega.
"Apa ayah dan uma ngajak kamu keluar?" Lanjut Rakes setelah sejenak memperhatikan penampilan Zea.
"Nggak!" Tegas Zea spontan.
"Terus mau kemana?" Tanya Rakes yang mulai serius.
"Mau nyambut kepulangan Chim chim!"
"Tumben? biasanya juga pakai kaos."
"Kerena malam ini beda dengan malam-malam sebelumnya." Jelas Zea yang mulai menatap wajah Rakes.
"Apa kamu ulang tahun?"
"Bukan!"
"Terus? apa ada hal yang abang lewatkan?" Tanya Rakes semakin kebingungan.
Zea bukannya menjawab pertanyaan Rakes, ia malah dengan lembut menyentuh tangan Rakes, lalu menggenggamnya pelan selanjutnya Zea memandu tangan tersebut untuk menyentuh perut ratanya.
"Kenapa? apa kamu sakit?" Tanya Rakes yang langsung reflek mengusap perut Zea yang tertutup dengan gamisnya.
"Aku hamil...." Jelas Zea pelan dan langsung mendekap erat tubuh Rakes yang masih telanjang dada.
"Kamu serius?"
"Hmmmm, dokter bilang aku hamil." Jelas Zea.
Rakes segera melepaskan tubuhnya dari dekapan Zea, mata Rakes menatap dalam bola mata Zea.
"Bagaimana ini? harusnya abang menahannya diri abang sejak awal, seharusnya abang tidak melakukannya." Gundah Rakes yang seketika jadi cemas.
"Apa cuma aku yang senang dengan berita ini?" Tanya Zea yang langsung berdiri.
"Zea..."
"Aku hamil, wajarkan? aku punya suami, lalu di mana salahnya?" Tanya Zea.
"Zea tenanglah! bukan itu maksud abang!" Tegas Rakes.
"Jangan berfikir terlalu buruk tentang abang, kamu salah paham!" Ujar Rakes.
Rakes mencoba menenangkan Zea yang bahkan sudah meneteskan air mata. Perlahan Rakes kembali memeluk tubuh Zea lalu mengusap panggungnya dengan lembut.
"Kamu masih sekolah, baru kelas satu SMA, dan pernikahan kita masih jadi rahasia hanya keluarga dekat yang tau. Jika kamu hamil maka banyak orang yang akan menghina kamu, mereka akan mengatakan yang tidak-tidak tentang kamu, belum lagi seluruh sekolah akan heboh. Abang mengkhawatirkan masa depan mu, sebenarnya sejak awal abang sangat ingin punya anak dari kamu, tapi abang tidak ingin membebankan mu dengan keinginan abang, kamu masih sangat muda." Jelas Rakes.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang lain, dia anak Chim chim, dia anak kita, aku menginginkannya." Jelas Zea.
"Abang pun sangat menginginkannya." Jelas Rakes.
"Apa Rafeal tau?" Tanya Rakes setelah membawa Zea duduk di sofa.
"Hmmmm, bahkan dokter tadi mengira kalau Rafeal lah pelakunya?"
"Pelaku?" Tanya Rakes bingung.
"Hmmmm, pelaku yang membuat aku hamil." Jelas Zea.
"Gila, ayo kita temui dokter tadi, abang ingin memperkenalkan siapa pelaku sebenarnya." Canda Rakes.
"Apaan sih!!" Cetus Zea lalu kembali memeluk sang suami.
"Apa uma dan ayah tau?" Tanya Rakes.
"Belom, aku ingin memberi tau Chim chim lebih dulu."
"Jadi ini alasan kamu dandan?"
"Hmmmm, gimana aku cantik kan?"
"Bangeeeeet!" Tegas Rakes lalu mengecup lama kening Zea.
"Selanjutnya apa yang akan Chim chim lakukan?"
"Kita beri tau mama, uma, ayah sama papa dulu, mereka pasti punya jalan terbaik buat kamu dan juga calon buah hati kita." Jelas Rakes.
"Aku ingin berhenti sekolah, aku ingin jadi ibu dan istri yang baik untuk kalian berdua." Jelas Zea.
"Pendidikan kamu juga penting, kamu harus tetap sekolah."
"Kalau nanti perut aku mulai membuncit gimana?"
"Masih banyak cara yang bisa kita ambil, home schooling misalnya."
"Apa emang nggak boleh kalau berhenti saja?"
"Nggak!"
"Chim chim!" Regek Zea begitu manja.
"No Jannati, abang bilang nggak itu artinya nggak!" Tegas Rakes.
"Baiklah!" Ujar Zea mengalah.
"Apa abang boleh menyentuhnya lagi?" Tanya Rakes.
"Tentu!" ujar Zea yang langsung memberi akses.
Rakes kembali mengusap lembut perut rata Zea.
"Ternyata nggak sia-sia Raze join yang kita lakukan selama ini, kita berhasil mencetak Raze junior, kita hebat princess!" Jelas Rakes dengan senyuman penuh kemenangan.
Penjelasan Rakes membuat wajah Zea merah merona, Zea segera menyembunyikan wajahnya di kotak-kotaknya Rakes.
"I love Chim chim!" Seru Zea.
"Chim chim juga sangat sangat dan sangat mencintai Jannati!" Ujar Rakes yang kembali mengeratkan kedua tangannya di tubuh Zea.
Keduanya terus saja berpelukan dengan hati yang begitu bahagia, Bahkan Rakes tak henti-hentinya mengecup kening istri hingga berulang kali. Malam ini benar-benar malam yang membuat keduanya serasa telah memiliki segala hal dalam hidup mereka.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ