
Tubuh Zea kini telah terbaring sempurna diatas sofa sedangkan Roger masih saja berusaha menguasai Zea, tangan Roger yang tadi hanya menggenggam wajah Zea kini mulai beranjak turun kebagian leher Zea lalu mencoba membuka kerudung Zea, seketika membuat Zea tersenyum angkuh.
"Ternyata keputusan aku tidak salah sedikitpun!" Tegas Zea tanpa perlawanan sama sekali.
"Kamu membicarakan makan malam kita?" Tanya Roger yang mulai tersenyum merasa menang.
"Aku bicara tentang keputusan aku memilih Abang Rakes sebagai calon imam ku!" Tegas Zea.
"Zea!" Gumam Roger kesal dan emosi yang mulai menggebu.
"Mau aku ceritakan sesuatu?"
"Apa kamu sedang bercanda? abang bisa langsung memulainya sekarang!" Tegas Roger yang kembali membelai lembut wajah Zea.
"Abang tanya berapa yang abang Rakes bayar sehingga aku memilihnya? oke, aku jawab sekarang."
"Berapa? seratus juta? dua ratus juta? abang bisa memberikan bahkan seratus kali lipat dari yang dia berikan!"
"Dia tidak punya uang sebanyak itu untuk membeli perasaan aku, dia bahkan belum bekerja, dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu."
"Jadi? apa kamu hanya mendapatkan recehan dari dia? konyol. Zea, abang tau kamu memilih dia karena kamu berfikir dia akan menjadi penerus perusahaan kakek, iyakan? kamu salah Zea, abang, cuma abang yang akan mewarisi semua kekayaan kakek. Kamu masih belum terlambat untuk mengubah keputusanmu, tinggalkan dia, datanglah pada abang, abang akan menjadikanmu ratu." Jelas Roger.
"Aku kira aku sudah mengenal abang dengan baik, ternyata aku salah, aku sama sekali tidak mengenal abang. Abang tau apa yang abang Rakes berikan untuk aku?" Tanya Zea dengan tatapan tajamnya.
"Apa? jangan bilang kalau kalian sudah pernah tidur bersama!"
"Tidur? iya aku, aku yang begitu terobsesi ingin terus menyentuh dia, aku yang ingin tidur dengan dia, tapi apa abang tau apa yang dia lakukan? dia bahkan tidak pernah menyentuh aku sama sekali, dia memperlakukan aku dengan begitu baik, dia jaga kehormatan aku sebagai seorang wanita, dia muliakan aku sebagai kaum hawa. Dia mencintaiku karena Allah bukan karena nafsu, berulang kali aku menggodanya, berulang kali dia membentang jarak, dia begitu menghargai aku sebagai seorang wanita. Apa abang bisa membayar aku dengan bayaran seperti yang dia lakukan?" Jelas Zea dengan air mata yang mulai menetes dari ujung kedua mata indahnya.
"Zea.....!" Ujar Roger sambil bangun lalu menjauh dari Zea.
"Aku mencintainya, aku sangat mencintai abang Rakes!" Tegas Zea penuh penekanan pada setiap ucapannya.
Perlahan Zea bangun, lalu mencoba merapikan kerudungnya namun dengan cepat Roger kembali membuat tubuh Zea terbaring di sofa.
"Jika abang tidak bisa mendapatkan kamu dengan cara baik-baik, maka akan abang pakai cara yang paling ampuh!" Tegas Roger.
"Apa abang meminta Zea untuk berlaku kasar sama abang?" Tanya Zea ketika wajah Roger semakin mendekat kearahnya.
"Ayo kita mulai! kita lihat siapa yang bakal menang!" Ujar Roger dan langsung berusaha untuk mencium Zea.
Seketika tinju Zea langsung mendarat tepat di pipi kanan Roger hingga membuat tubuh Roger tergeletak di lantai.
"Jangan ulang lagi!" Tegas Zea yang segera bangun.
"Zea!" Teriak Roger yang kembali menarik lengan Zea.
"Kali ini aku maafkan! kejadian ini tidak akan aku laporkan sama ayah dan uma." Jelas Zea yang langsung menarik kasar tangannya dari genggaman Roger hingga kembali membuat tubuh Roger terpental ke lantai.
Zea langsung berlari keluar dari rumah tersebut, dengan langkah yang tergopoh-gopoh, Zea terus keluar dari gerbang lalu seketika tubuh Zea roboh setelah berjalan beberapa langkah dari gerbang rumah milik Roger, pertahanannya roboh sudah, kakinya mulai melemah, tangannya mulai gemetar diikuti dengan keringat dingin yang mulai bercucuran membasahi wajahnya, tangisnya pun pecah, kini Zea benar-benar tidak berdaya bahkan hanya untuk menggerakkan bibirnya saja ia tidak kuasa.
"Ayah, Zea takut! Zea takut." Keluh Zea dengan punggung yang tersandar pada tembok pagar.
"Uma, Zea benci gelap! Zea nggak bisa melihat sama sekali, apa yang harus Zea lakukan? Ayah, uma, tolongin Zea!" Dengan suara yang semakin melemah.
"Jangan, jangan sakiti anak aku! lepaskan dia! Zea...." Teriak Elsaliani hingga membuatnya terjaga dari mimpi buruknya.
Tangisan Elsaliani seketika membuat Iqbal ikut terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Sayang, kenapa menangis?" Tanya Iqbal sambil membelai lembut rambut Elsaliani yang terurai begitu saja.
"Mas, Zea mana?"
"Zea masih sama Roger, ada apa?"
"Mas ayo kita cari Zea, perasaan El nggak tenang, El khawatir!"
"Sayang, tenanglah dulu!"
"Bagaimana El bisa tenang jika ini tentang Zea, dia anak El, El takut dia kenapa-napa."
_____________________
Setelah menerima perintah dari Iqbal, Rakes yang memang sedang berada di luar segera mencari keberadaan Zea, setelah menemukan lokasi keberadaan Zea, Rakes segera meluncur dengan motor kesayangannya.
Lankah kaki Rakes berhenti tepat dimana Zea berada. Melihat kondisi Zea yang begitu kacau membuat Rakes segera menghampiri sang kekasih tercinta.
"Chim chim!" Ujar Zea dengan suara melemah lalu tak sadarkan diri.
"Zea, Zea!" Panggil Rakes dengan suara lantang namun tetap saja tidak membuat Zea kembali membuka matanya.
Rakes segara mengangkat tubuh lemah Zea lalu menggendongnya, mata Rakes tidak bisa berhenti menatap wajah Zea yang begitu pucat, setelah berdiri selama beberapa menit dipinggir jalan, akhirnya ada taxi yang lewat, Rakes segera menghentikan taxi tersebut lalu membawa Zea bersamanya.
"Kemana pak?" Tanya supir taxi.
"Hmmmm, lurus aja dulu." Jelas Rakes.
"Baik!" Jawab pak supir dan langsung menjalankan mobilnya.
"Zea, Zea bangun!" Pinta Rakes yang terus berusaha mengembalikan kesadaran Zea.
"Chim chim!" Ujar Zea.
"Kamu baik-baik saja kan? dimana yang terluka?"
"I love you!" Seru Zea lalu memeluk erat tubuh Rakes yang ada di sampingnya.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Rakes dengan nada yang begitu menakutkan.
"Jangan pulang ke rumah, aku tidak ingin membuat uma dan ayah khawatir!" Pinta Zea yang masih menangis sesegukan di dada Rakes.
"Zea..."
"Tolong, aku mohon!" Pinta Zea.
"Pak antar kami ke komplek X!" Pinta Rakes yang langsung dituruti oleh pak supir.
Sepanjang perjalanan, Rakes hanya diam membiarkan Zea tenang hingga tertidur pulas dalam pelukannya. Setelah membayar uang tagihan taxi, Rakes langsung membawa Zea keluar dari taxi tanpa mengusik tidurnya.
perlahan Roger mencoba membuka pintu tanpa harus membangunkan Zea yang berada dalan gendongannya, setelah pintu terbuka lebar, Rakes langsung membawa Zea masuk lalu membaringkan tubuh lemah tersebut diatas kasur yang ada di kamar depan.
"Apa abang membangunkan mu?" Tanya Rakes ketika melihat Zea yang mulai membuka matanya.
"Apa Chim chim sudah mengabari ayah dan uma?"
"Hmmmmm, istirahatlah!" Ujar Rakes sambil melangkah meninggalkan Zea.
"Apa ini yang Chim chim inginkan?" Tanya Zea dengan air mata yang kembali menetes.
"Jangan lagi membiarkan aku keluar dengan adik mu!" Tegas Zea yang membalikkan posisi tidurnya agar tidak lagi menghadap kearah dimana Rakes berada.
"Sebaiknya kita putus!" Lanjut Zea dengan suara lantang yang sukses membuat langkah Rakes terhenti.
"Baiklah!" Jawab Rakes.
"Kita putus!" Ulang Zea lalu memejamkan kedua matanya.
"Di bagian mana dia menyentuh mj? abang akan hapus bekas tangan kotor itu dari tubuh mu!" Tegas Rakes yang kini kembali berdiri dihadapan Zea.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya😉😉
Stay terus sama My Princess ya😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️