
Uzun terus berlarian masuk ke dalam rumah, tubuhnya dipenuhi dengan keringat bahkan bajunya terlihat basah pada bagian punggungnya.
Dengan buru-buru dia melempar tas ke atas sofa yang ada di ruang tamu lalu kembali berlari menuju dua kamar yang saling berhadapan di bagian timur rumah. Sejenak menarik nafas pelan lalu tangannya langsung membuka pintu kamar yang berada di sisi kirinya.
Tepatnya di kursi sana Urshia duduk dengan kepala yang tertekuk di atas meja belajar yang ada di hadapannya, dengan keadaan meja yang di penuhi oleh undangan yang berwarna ungu, yah persis seperti warna seisi kamar tersebut, karena ungu adalah warna favoritnya Urshia.
Perlahan Uzun terus mendekati meja belajar tersebut lalu mencoba mengumpulkan kembali semua undangan yang berserakan di atas lantai dan juga menyusun rapi semua undangan yang berantakan di atas meja setelah semuanya selesai lalu ia mencoba mengambil bolpen yang masih di genggam erat ditangan kanan Urshia.
"Udah pulang?" Tanya Urshia yang baru saja membuka matanya dan mendapati Uzun tepat berada di hadapannya.
"Sorry!" Pinta Uzun lalu sedikit menyeka keringatnya yang hampir saja jatuh mengenai susunan undangan yang baru saja ia susun rapi.
"Katanya jam dua ini udah jam empat baru pulang, dasar penipu!" Gumam Urshia yang terlihat jelas begitu kecewa.
"Sorry!" Lagi-lagi hanya itu yang bisa Uzun katakan.
"Sudahlah! sana gih ganti baju!" Jelas Urshia.
"Nggak apa-apa, ntar aja ganti bajunya, sini biar sisanya abang yang tulis!" Jelas Uzun lalu mengambil alih undangan yang masih belum tertulis nama para tamu.
"List nama teman-teman Shianmana?" Tanya Uzun yang sudah siap dengan bolpen dan undangan di tangannya.
"Itu..." Jelas Urshia sambil menunjuk ke arah tempat tidur.
"Shia lanjut lagi tidurnya biar abang yang selesaikan semua ini, besok pagi kita antar undangannya." Jelas Uzun.
"Shia udah minta mama Ana dan kak Arin buat nemanin ngantar undangan." Jelas Urshia.
"Loh, kan abang udah bilang akan nemanin Shia ngantar undangan!"
"Besok kan minggu!"
"Iya justru itu, kan libur sekolah!"
"Tapi kan abang latihan bola!"
"Ah iya abang lupa lagi!"
"Lagian cuma beberapa undangan lagi kok...!"
"Sorry!"
"Mau minum apa biar Shia ambilkan."
"Abang bisa ambil sendiri, Shia pasti capek kan, sana gih tidur!"
"Udah mau magrib loh, tanggung banget kalau tidur, sini Shia bantuin! biar cepat kelar!" Jelas Urshia yang langsung kembali menulis undangannya.
"Shia...!" Panggil Azan sambil membuka pintu kamar Urshia.
"Iya, kenapa?" Tanya Urshia sambil menoleh kearah pintu dimana Azan berada.
"Waaaah, tukang ingkar janji pulang juga tuh!" Ujar Azan.
"Udah mending abang keluar, jangan ngajak ribut, adek lagi nggak mood!" Tegas Uzun.
"Kenapa telat? ohhh pasti sibuk....!" Ujar Azan gantung.
"Sibuk apa abang Azan?" Tanya Urshia.
"Ya, hmmmm tanya aja sama orangnya, oh ya Shia, mommy tanya kue ulang tahunnya apa mau warna ungu juga?" Tanya Azan.
"Iya, harus ungu!" Jawab Urshia.
"Oke, kalau gitu abang permisi." Ujar Azan yang kembali menutup pintu kamar Urshia.
"Kenapa menatap abang seperti itu?" Tanya Uzun saat mendapati Urshia yang menatap dalam kearahnya.
"Abang..."
"Gombal..." Cetus Urshia yang beranjak hendak keluar kamar.
"Eh beneran!" Seru Uzun.
"Udah siapin tuh semuanya, Shia mau ke kamar kak Arin!" Jelas Urshia yang langsung meninggalkan Uzun begitu saja.
_______________
"Gimana kue nya udah di pesan?" Tanya Kania yang baru saja bergabung dengan Zea, Mariana, Arina dan Azan yang sedang duduk santai di teras rumah.
"Udah, baru aja di pesanin." Jawab Zea.
"Apa Shia masih di kamarnya?" Tanya Kania lagi.
"Iya, lagi berantem sama Uzun!" Jelas Azan.
"Selalu aja, setiap hari pasti ada aja kelakuan mereka, berantem mulu kerjaannya." Jelas Mariana.
"Kadang aku juga bingung dengan mereka berdua!" Ujar Zea.
"Abang Uzun aja yang selalu cari gara-gara sama Shia, selalu aja Shia dibuat kesal dengan sikapnya itu!" Jelas Arina.
"Ya karena begitulah cari Uzun mengekspresikan kasih sayangnya!" Jelas Azan yang memang paham betul dengan karakter sang adik.
"Tapi jatuhnya malah buat Shia kesal!" Jelas Arina.
"Arin, cara orang mengatakan sayang itu beda-beda, karena setiap orang punya caranya masing-masing. Meski Azan dan Uzun kembar tapi karakter mereka jelas beda." Jelas Zea.
"Tapi mommy..."
"Udah Arin nggak usah khawatir ntar juga Shia paham kok dengan maksudnya Uzun!" Jelas Kania.
"Oh ya, kira-kira Shia mau kado apa ya?" Tanya Mariana mencoba mengalihkan keadaan.
"Shia mah semua barang dia suka, apa lagi kalau yang gratisan!" Ujar Azan.
"Kayak papanya!" Cetus Kania yang sontak membuat semuanya tertawa.
______________
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Uzun menyelesaikan semuanya, setelah undangan ia susun dengan rapi ia pun mulai beranjak dari kursi sana namun tanpa sengaja tangannya malah menyenggol sebuah buku hingga membuat buku tersebut jatuh ke lantai.
"Aduh, jatuh pula!" Ujar Uzun yang segera mengambil buku tersebut.
Ketika Uzun hendak mengembalikan buku ke deretan buku lainnya yang ada di rak dekat meja, selembar foto malah terjatuh dari dalam buku sana.
Yah, Seorang bayi mungil yang tersenyum manis yang masih di bedong dengan kain berwarna ungu lalu di sebelahnya ada sosok Uzun kecil dari sepuluh tahun yang lalu.
"Shia, ini foto hari pertama kamu datang ke dunia ini! aneh, hanya karena dulu abang begitu ngotot minta mama Nia agar membeli bedong warna ungu dan meminta agar untuk menjadikan bedong ini sebagai bedong pertama kamu dan sekarang kamu malah menjadi penggila warna ungu, sampai semua barang kamu mayoritas berwarna ungu. Apa ini arti sayang kamu buat abang? atau mungkin hanya kebetulan belaka, ntah lah!" Ujar Uzun masih saja setia memandangi foto yang ada di tangannya.
"Shia tau, hari itu abang malah membohongi semua orang. Saking girangnya abang malah berlarian ke sana sini saat tau Shianlahir dan hasilnya abang malah menabrak keras dinding yang ada di depan. Lutut abang yang terbentur keras membuatnya lebam namun sama sekali tidak terasa sakit, saat yang lainnya khawatir abang dengan lantang mengatakan kalau abang baik-baik saja, dan Shia tau apa yang terjadi setelahnya? dua hari kemudian barulah berasa sakitnya, sampai untuk berdiri aja abang begitu kesakitan, mommy sama daddy sampai panik, apa lagi abang Azan, dia takut banget kalau abang sampai kenapa-kenapa." Lanjut Uzun yang kembali teringat dengan masa lalunya.
"Waktu begitu cepat berlalu, sekarang kamh sudah berumur sepuluh tahun, dan semoga saja hanya umur kita yang bertambah namun perasaan kita tidak akan pernah berubah." Ujar Uzun lalu meletakkan kembali foto tersebut ke dalam buku dan ia pun lekas keluar dari kamar Urshia.
_________________
Jangan lupa LIKE Comen voteπ
Stay terus sama My Princess ππππ
Khamsahamida πππππ
Oh ya manteman jangan lupa main ke novel baru aku ya,,,
πXue_Lianπ
Ditunggu kunjungannyaπππππ