
"Selamat datang sayang, anak gadis papa!" Ujar Rafeal dengan mata yang berkaca-kaca dengan menatap dalam bayi kecil yang sedang tertidur pulas di dalam boxs bayi.
"Persis foto copy sama kamu! cantik!" Ujar Zea sambil berdiri di samping Rafeal.
"Aku? cantik? jangan ngajak berantem deh!" Cetus Rafeal kesal.
"Upsss lebih tepatnya mirip kamu yang versinya Resty!" Jelas Zea dengan gelak tawa yang cukup membuat semua mata langsung tertuju pada mereka berdua.
"Resty itu siapa mommy?" Tanya Azan.
"Kembarannya papa Rafeal!" Jelas Rakes.
"Waaaaah pasti cantik banget!" Ujar Azan penuh rasa kagum.
"Nih anak juga ikutan! emangnya dari mana kamu tau kalau Resty itu cantik?" Tanya Rafeal.
"Kan tadi mommy bilang dedek bayi mirip sama Tante Resty, ya cantik dong secara dedek bayi cantiknya pakai banget!" Cetus Azan dengan mata yang terus menatap wajah cantik sang pujaan hati bahkan dengan mata yang sama sekali tidak berkedip.
"Hah, Hhhhahhhhhha!" Seru Rafeal yang kehabisan kata-kata dan lekas berjalan menuju ranjang di mana sang istri masih terbaring lemah dengan di temani sang mami yang terus berada di sampingnya.
"Kenapa tuh muka? Ana yang melahirkan kenapa muka kamu yang kusut gitu?" Tanya Aryani.
"Kenapa? ribut lagi sama Zea?" Tanya Mariana.
"Atau malah sama Azan?" Tanya Aryani.
"Malas aku debat sama ibu anak itu..." Ujar Rafeal lalu beranjak ke sofa di dekat ranjang sana dan langsung rebahan.
"Arina, selamat datang Tuan Putrinya Abang Azan." Ujar Azan dengan tangan yang berusaha menyentuh lembut pipi indahnya Arina Jinan, sang bayi yang baru saja bergabung dalam keluarga besar mereka.
"Selamat datang anak gadis mommy!" Ujar Zea dengan senyuman bahagia.
Rakes yang baru bergabung langsung membawa Arina ke dalam gendongannya.
"Calon menantu Daddy!" Ujar Rakes lalu mengecup kedua pipi tembemnya Arina.
"Abang juga mau nyium dad!" Rengek Azan.
"Nih!" Ujar Rakes sambil menyodorkan wajahnya pada Azan.
"Ihhhhhh! bukan daddy loh, tapi Arina!" Tegas Azan.
"Stop! bukan muhrim..." Goda Zea.
"Mommy...." Protes Azan yang terlihat begitu kesal.
"Ya emang nggak boleh!" Tegas Rakes.
"Beneran nih nggak boleh?" Tanya Azan memastikan, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Boleh kok sayang!" Jelas Mariana dengan senyuman.
"Beneran mama Ana?" Tanya Azan memastikan.
"Boleh sih, tapi ada batas juga, jangan sampai anak gadis papa risih loh!" Jelas Rafeal.
"Yesss!" Gumam Azan senang dan langsung menarik tangan Rakes agar sedikit mendekatkan Arina padanya.
"Assalamualaikum sayang...." Ujar Azan dengan tangan yang menyentuh wajah Arina.
"Romantis banget sih!" Ujar Mariana.
"Azan..." Panggil Aryani.
"Iya oma, kenapa?" Tanya Azan.
"Jaga cucu oma dengan baik ya, pastikan tidak ada yang menyakitinya!" Pesan Aryani.
"Pasti oma!" Jawab Azan lantang.
"Kode biru tuh!" Ujar Zea.
"Azan, jadilah pelindung untuk Arina dalam keadaan apapun itu, pastikan Arina adalah prioritas mu!" Bisik Rakes pada Azan.
"Iya daddy, abang janji!" Ujar Azan dengan tangan kembali mengusap lembut wajah Arina yang kini terlihat sedang memamerkan gusinya pada Azan dan Rakes.
_________________
"Uzun, Uzun..." Panggil Kania sambil mengetuk pintu kamar Uzun.
Bahkan setelah Kania melakukannya hingga berulang kali namun masih saja tidak ada jawaban dari dalam kamar sana.
"Uzun..." Panggil Kania yang kini terlihat begitu cemas dan khawatir.
"Mama Nia...!" Ujar Uzun yang malah muncul dari tangga sana.
"Kamu dari mana aja? mama khawatir tau!" Jelas Kania yang segera mendekati Uzun lalu memeluknya erat.
"Dari dapur, nemanin papa Marvel masak!" Jawab Uzun.
"Masak? masak apa?" Tanya Kania.
"Kita kan mau jenguk baby Arina, jadi papa Marvel masak banyak buat di bawa ke rumah sakit." Jelas Uzun.
"Wahhh kalian memang selalu bisa diandalkan." Ujar Kania sambil mengusap lembut rambut Uzun.
"Pastinya dong, ya udah ayo mama Nia kita siap-siap!" Ajak Uzun.
"Ayo sayang..." Ujar Kania lalu keduanya kembali ke kamar masing-masing untuk siap-siap.
________________
"Kalian juga baru datang?" Tanya Elsaliani yang baru keluar dari mobil yang baru saja terparkir di sebelah mobilnya Marvel.
"Uma, iya nih kami juga baru datang!" Jelas Kania yang langsung menyalami Elsaliani dan Iqbal secara bergantian.
"Hai jagoan ayah!!" Sapa Iqbal yang langsung melakukan tos tinju dengan sang cucu tersayang.
"Kania, kamu sehat kan sayang?" Tanya Iqbal.
"Alhamdulillah sehat ayah." Ujar Kania.
"Ya udah ayo kita masuk!" Ajak Iqbal yang langsung merangkul Kania lalu ketiganya langsung bergegas menuju pintu utama rumah sakit.
"Ayo uma!" Ajak Marvel.
"Ayo sayang!" Ujar Elsaliani dan kemudian keduanya segera menyusul.
"Ayah..." Panggil Rakes yang baru saja keluar dari ruang inapnya Mariana.
"Mau kemana?" Tanya Iqbal.
"Beli makan!" Jawab Rakes.
"Udah balik lagi noh ke dalam, aku udah bawakan banyak makanan nih!" Jelas Marvel.
"Kamu emang sahabat super baik, tau aja kalau kami sedang kelaparan!" Ujar Rakes yang langsung mengambil bawaan yang ada di tangan Marvel.
"Gimana dede bayinya?" Tanya Kania.
"Semua aman, ayo masuk!" Ajak Rakes.
Semuanya ikut masuk memenuhi ruang rawat Mariana.
"Waaah anak papa Marvel cantik banget! sama sekali nggak mirip sama mama dan papanya!" Ujar Marvel setelah menggendong bayi Arina.
"Maksud abang apaan? ngatain aku jelek?" Gumam Mariana.
"Ya emang kan?" Goda Marvel.
"Ciiih!" Cetus Mariana kesel.
"Kalian ini, udah pada punya anak masih aja berantem asal ngumpul!" Ujar Aryani.
"Habis abang yang mulai duluan!" Lapor Mariana.
"Justru itu, mereka membuat aku iri!" Ujar Zea.
"Karena iri mu itu aku lah yang jadi korbanya!" Jelas Rafeal.
"Ayah tau, makanya ayah memilih Rafeal. Karena kalian berdua hampir sama ya satu server lah!" Jelas Iqbal.
"Nggak! jelas kami beda!" Tegas Rafeal dan Zea hampir bersamaan.
"Kebuktikan kalian persis!" Ujar Rakes.
"Kalau udah keasyikan berdua kalian bisa lupa segalanya, termasuk istri dan suami kalian, iya kan abang Rakes?" Jelas Mariana.
"Iyap!" Jawab Rakes.
"Uma malah udah kebal dengan sikap mereka berdua." Ujar Elsaliani.
"Uma..." Ujar Rafeal dan Zea yang segera memeluk erat tubuh Elsaliani.
"Mulai kan??" Ujar Elsaliani.
"Aku juga mau gendong?" Pinta Kania.
"Beneran kamu bisa?" Tanya Marvel.
"Hati-hati mama Nia!" Pesan Azan.
"Udah Azan tenang aja, mama bisa kok!" Ujar Kania yang langsung menerima Arina dari Marvel.
"Lucu banget, gemes!" Ujar Kania yang langsung mencium kedua pipi Arina.
"Kamu lebih ngemesin!" Bisik Marvel yang spontan membuat Kania salah tingkah.
"Abang apaan sih!" Ujar Kania pelan.
"Selamat atas kedatangan calon istri abang!" Ujar Uzun.
"Ngedrama lagi!" Ujar Azan
"Adek serius loh bang, kan sebagai adek yang baik harus dong memberi ucapan selamat, karena akhirnya pujaan hati abang telah tiba, tinggal aku nih yang harus bersabar!" Ujar Uzun.
"Masih bocah tapi ngomongnya udah kemana-mana!" Ujar Iqbal lalu merangkul kedua cucunya.
"Persis kayak daddy kalian, nyater anak orang sejak jabang bayi!" Lanjut Iqbal.
"Ayah ...!" Ujar Rakes yang benar-benar dibuat malu dengan pernyataan Iqbal.
"Ya emang kenyataannya kan?" Goda Iqbal lagi.
"Makanya kami ikut, harus di lestarikan! karena jarang ada manusia yang memiliki spesies seperti kami ini!" Jelas Uzun dengan tawa khasnya.
Penjelasan Uzun sontak membuat semua orang yang ada di ruangan ikut tertawa, termasuk si mungil Arina yang entah sejak kapan sudah tersenyum lebar memamerkan gusinya.
______________
Jangan lupa LIKE Comen voteπ
Stay terus sama My Princess ππππ
Khamsahamida πππππ
Oh ya manteman jangan lupa main ke novel baru aku ya,,,
πXue_Lianπ
Ditunggu kunjungannyaπππππ