My Princess

My Princess
#124



Setelah sholat subuh Zea kembali tidur sedangkan Rakes memilih untuk lari pagi sambil menikmati udara yang begitu sejuk, Rakes menghabiskan waktunya selama satu jam untuk mengelilingi sepanjang jalan kecil di seputaran vila.


"Nggak ada yang berubah, suasana di sini masih sama persis seperti dulu. Rasanya jika pensiun nanti aku ingin tinggal di sini bersama Zea dan para putra putri tercinta, menghabiskan waktu bersama dengan penuh kasih dan cinta, membayangkannya saja begitu indah." Ungkap Rakes yang sejenak berhenti dengan pandangan yang terus menatap hamparan perkebunan teh nan hijau di seberang sana.


"Rakes!" Sapa Naina yang datang dari arah yang berlawanan dari Rakes, di tangannya terlihat jelas berbagai sayuran segar.


"Naina, hai...." Balas Rakes.


"Sendirian? Zea mana?"


"Dia di vila, kamu dari mana?"


"Biasa metik sayuran di kebun. Hmmmm, kelihatannya Zea manja banget sama kamu, dia sama sekali nggak terlihat seperti seorang istri, orang-orang yang melihat kalian pasti mengira kalau Zea adalah adik yang harus kamu jagain, sifatnya kekanak-kanakan banget."


"Justru karena alasan itu aku cinta sama dia." Jelas Rakes.


"Rakes, aku tau kamu pasti kewalahan dengan sikap dia yang kasar tapi ngasal, iyakan? dia pasti tidak melayani kamu layaknya seorang suami, aku benarkan?"


"Naina, segala yang ada pada Zea, baik kasar, ngasal, bar bar, manja aku suka semuanya. Dan soal masalah rumah tangga aku, aku rasa kamu tidak perlu ikut campur. Aku permisi!" Jelas Rakes yang lekas pergi.


"Rakes!" Panggil Naina.


"Zea adalah satu-satunya alasan aku tetap ingin terus bertahan hidup, aku bahkan menempatkan dia di urutan paling depan di hati aku. Sejak dia masih di dalam kandungan aku sudah jatuh cinta padanya, mungkin ini terdengar gila bagi kamu, tapi inilah aku, sekali mencintai akan tetap mencintai, selamanya." Jelas Rakes dengan senyuman dan kembali melanjutkan lari paginya.


"Apa Zea begitu istimewa? atau mungkin aku yang tidak seberuntung dia? Dulu, saat kamu menolong aku, aku kira kamulah pangeran berkuda yang akan menjadi suami aku, hingga aku tetap di sini menunggu kamu kembali, tapi sayang kamu memang kembali tapi tidak untuk menjemput aku, kamu justru ke sini bersama permaisuri mu." Ungkap Naina dengan penuh rasa kecewa.


_______________


Rakes yang baru pulang langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan, setelah menghabiskan waktu beberapa menit akhirnya Rakes selesai dengan kegiatan memasaknya.


"Zea mana sih? kok nggak keliatan? udah sarapan belum ya?" Tanya Rakes pada dirinya sendiri saat menyadari bahwa Zea sama sekali tidak terlihat.


Rakes segera ke kamar dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Zea yang masih tertidur nyenyak di bawah selimut sana.


Rakes melepaskan jaketnya, hingga terlihat jelas keringat yang membasahi kaos hitam tanpa lengan yang melekat pada tubuh atletisnya. Perlahan Rakes mendekati tempat tidur lalu duduk di samping Zea yang masih begitu lelap.


"Zea, Zea....." Panggil Rakes dengan tangan kanan yang menyentuh pucuk kepala Zea.


"Hmmmmmm!" Seru Zea yang sedikit menggeliat lalu kembali tidur.


"Zea, ini udah jam delapan loh! ayo bangun!" Jelas Rakes.


"Aku masih ngantuk! Please, biarkan aku tidur sebentar lagi!" Jelas Zea dengan suara parau.


"Katanya mau menghabiskan waktu bersama, kalau tidur terus kapan dong kita romantis romantisan?"


"Ntar aja, aku masih belum bisa buka mata nih, ngantuk banget!"


"Zea....!"


"Ini juga salah Chim chim kan?"


"Kok jadi abang yang salah?"


"Jangan pura pura lupa!" Tegas Zea dengan tatapan tajamnya.


"Oke, abang minta maaf! Ayo bangun, kita sarapan terus jalan-jalan!"


"Bangunin!" Pinta Zea sambil mengulurkan kedua tangannya pada Rakes.


Rakes langsung menyambut uluran tangan tersebut, perlahan membantu Zea untuk duduk. Rambut yang begitu berantakan membuat wajah Zea sama sekali tidak terlihat, Rakes mencoba untuk memindahkan rambut Zea namun keduluan oleh Zea yang langsung menyandarkan wajahnya di dada Rakes.


"Dari mana?" Tanya Zea setelah melirik kedua lengan Rakes yang masih berkeringat.


"Habis lari pagi!"


"Sama Naina?"


"Jangan mulai deh, Zea!"


"Aku kan cuman mau mastiin aja!"


"Abang sendirian!" Tegas Rakes.


"Aku percaya sama Chim chim, tapi tetap saja aku harus memastikannya, jadi nggak salah kan jika aku mengajukan pertanyaan seperti itu?"


"Nggak Jannati, kamu nggak salah!" Jelas Rakes yang perlahan mengusap lembut rambut Zea.


"Mau mandi bersama?" Ajak Zea yang perlahan memeluk erat pinggang Rakes.


"Tau aja apa yang abang mau!" Ujar Rakes yang langsung membawa tubuh Zea kedalam gendongannya.


"Habis ini mau jalan-jalan kemana?" Tanya Zea saat Rakes terus membawanya menuju kamar mandi.


"Kemanapun, asal bersama My Princess abang nggak akan nolak!" Ujar Rakes lalu masuk ke kamar mandi.


Rakes yang terlihat tampan dengan kemeja kotak-kotak hitam bergaris biru di padu dengan celana jeans hitam terlihat begitu serasi dengan Zea yang mengenakan kemeja yang sama dengan Rakes lalu melengkapi penampilannya dengan rok plisket hitam dan juga pasmina biru.


Setelah sarapan keduanya memutuskan untuk jalan-jalan ke kebun teh sambil menikmati pemandangan alam yang masih begitu alami. Keduanya memilih untuk berjalan kaki menelusuri setiap jalan sambil bercanda ria menikmati udara segar.


"Apa nggak bisa di perpanjang liburan kita?" Tanya Zea yang memeluk manja lengan kanan Rakes.


"Nanti malam abang ada tugas, tapi abang janji, kita pasti akan ke sini lagi!" Jelas Rakes.


"Apa tugasnya parah?"


"Hmmm, parah? kirain luka? ada ada aja bahasa alien mu itu!"


"Yeee, abang aja yang nggak ikut trend!"


"Aku curiga...!"


"Curiga apa?" Tanya Rakes yang langsung menghentikan langkahnya.


"Apa jangan-jangan Chim chim sebenernya guru sastra!"


"Kamu ini...." Ujar Rakes yang langsung mengacak pasmina yang melekat di kepala Zea.


"Ihhhhhh, kan jadi berantakan! apa Chim chim nggak tau aku butuh waktu lama memakainya!" Protes Zea yang mendapati pasminanya yang sedikit berantakan.


"Oke, abang bayar! sini biar abang rapikan!" Ujar Rakes yang langsung menarik badan Zea agar menghadap padanya.


Tangan Rakes mulai merapikan pasmina Zea, namun sesaat kemudian beralih menyentuh hidung Zea.


"Zea, berjanjilah untuk tidak akan pernah bosan berada di samping abang!"


"Kenapa tiba-tiba jadi serius gini?


"Zea....!" Ujar Rakes pelan dengan tatapan mendalam.


"Aku butuh waktu buat mikir!"


"Maksudnya?"


"Ya harus aku pikirin dulu dong baru ngasih jawaban, ntar kalau salah jawab dapat nilai nol lagi!"


"Zea, abang serius!"


"Ya aku juga serius!"


"Oke, akan abang tunggu selama waktu yang kamu inginkan!" Ujar Rakes yang kembali melangkah.


"Rakes Al-Malik!" Ujar Zea yang sontak membuat Rakes kembali menatap kearah Zea.


"Jangan lagi bahas hal konyol! bagaimana bisa aku bosan sama orang yang begitu wow! Bahu lebar, kotak-kotak bidang, beton kekar, kaki panjang, muka aduhai, Chim chim tau kalau ketampanan Chim chim itu nggak ada akhlaknya sama sekali? bagaimana bisa Chim chim begitu sempurna? dan yang paling penting, hati Chim chim begitu hangat, sayang, perhatian dan cinta yang Chim chim berikan membuat aku buta akan cinta yang lainnya, rasa khawatir Chim chim akan keselamatan aku membuat dunia aku hanya ada Chim chim, lalu bagaimana bisa aku bosan dengan Chim chim? justru aku yang takut jika suatu hari Chim chim akan bosan dengan semua keterbatasan dan kekenyolan aku." Jelas Zea yang langsung memeluk erat tubuh Rakes.


"Kita akan menua bersama, aku ingin Zea menjadi bidadari abang di dunia dan akhirat." Ujar Rakes yang langsung mengecup lembut kening Zea.


"Merunduk!" Perintah Zea setelah melepaskan pelukannya.


"Kenapa?" Tanya Rakes.


"Udah buruan!"


Rakes langsung menurut, Dia sedikit melebarkan kedua kaki panjangnya hingga menghilangkan jarak tinggi antara keduanya.


Secepat kilat Zea langsung meluncurkan aksi tabrakan andalannya.


"Zea!" Seru Rakes yang spontan langsung memeriksa keadaan sekitar


"Udah santai, nggak ada yang lihat kok!" Jelas Zea yang langsung melangkah meninggalkan Rakes begitu saja.


"Huuuuf! hampir aja jantung ini copot. Bisa-bisanya dia yang lagi bicara dengan begitu anggun bijaksana terus tiba tiba bar barnya kambuh, main nyosor aja, dia sama sekali tidak memikirkan kesehatan jantung aku! udah gitu main tinggal aja, bukannya tanggung jawab, seenak jidat pergi setelah membuat bintang bintang berkelap-kelip di otak aku!" Gumam Rakes.


"Buruan!" Teriak Zea yang sudah berada agak jauh dari Rakes.


"Hmmmmm!" Ujar Rakes yang segera berlari menghampiri Zea.


Tanpa ba bi bu, Rakes langsung membawa Zea ke dalam gendongannya.


"Kenapa?" Tanya Zea.


"Kamu harus tanggung jawab, ayo kembali ke vila!" Jelas Rakes yang segera berjalan menuju arah pulang.


"Chim chim jangan bercanda!"


"Abang serius!"


"Abang, ayo kita jalan-jalan!" Regek Zea.


"Nanti aja jalan-jalannya!" Tegas Rakes.


"Tapi Raze Junior maunya sekarang!"


"Jangan cari alasan."


"Dady....!" Ujar Zea manja.


"Nggak!"


"Dady...."


"Oke!" Ujar Rakes yang kembali berbalik arah menuju perkebunan teh.


"Love my lovely Chim chim" Ujar Zea girang lalu berusaha mengecup pipi Rakes.


"love My Princess and My Raze Junior!" Ungkap Rakes.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️