
"Mau langsung pulang?" Tanya Marvel setelah membayar makanan mereka semua.
"Jadi mau kemana lagi?" Tanya Rafeal.
"Ya udah sekalian kita mampir ke sekolah." Jelas Rakes.
"Mau jemput Zea sama Kania? kalian sedang berencana untuk manasin aku?" Tanya Rafeal.
"Ya udah sekalian aja kita mampir ke kantor Ana, bereskan?" Jelas Marvel.
"Kalau gitu aku setuju, ayo buruan!" Jelas Rafeal penuh semangat dan bergegas ke mobil.
"Giliran ketemu sama Ana aja tuh muka langsung cerah seketika!" Ujar Marvel.
"Calon adik ipar mu loh, ayo sayang! kita jumpa mommy!" Jelas Rakes dengan memamerkan senyum pada Uzun yang ada di dalam gendongannya.
"Ciiih! ayo Azan kita jumpa sama mama Kania cantik!" Ujar Marvel lalu mengecup pipi tembem Azan dan bergegas mengikuti langkah Rakes yang telah lebih dulu keluar dari mol tersebut.
Kali ini Rafeal yang menyetir, sedangkan kedua sahabatnya duduk di kursi belakang dengan masing-masing memangku kedua baby twins kesayangan mereka. Mobil terus melaju hingga mereka sampai tepat di depan gerbang sekolah SMA dimana Zea dan juga Kania sekolah selama ini.
"Abang Marvel, kenapa dia nggak bilang kalau mau jemput? apa terjadi sesuatu?" Tanya Hati Kania yang masih berjalan menuju gerbang, namun seseorang menghentikannya.
"Kania..." Panggil Faiz sang ketua kelas yang bahkan langsung menyentuh lengan Kania.
"Iya, ada apa?" Tanya Kania yang langsung menatap pada Faiz.
"Waaaah! kelihatannya, mereka lebih cocok deh, sama-sama masih remaja." Ujar Rafeal yang sengaja membuat Marvel murka.
"Gimana kalau selera Kania mulai berubah? waaaaah!" Tambah Rakes.
Spontan Marvel langsung keluar dari mobil dan bergegas menghampiri Kania.
"Sayang...." Panggil Marvel Lantang.
"Abang!" Ujar Kania yang beralih menatap pada Marvel yang terus menujunya.
"Pak Marvel!" Ujar Faiz.
"Sayang, dari tadi anak kita manggil mamanya terus." Jelas Marvel sambil menyerahkan Azan pada Kania.
Dengan wajah yang masih kebingungan Kania mengambil alih Azan ke dalam gendongannya.
"Anak?" Ulang Faiz sambil terus memandang wajah imut Azan.
"Iya, anak kami!" Jelas Marvel.
"Abang Marvel, waaah Azan..." Ujar Zea yang bergegas menghampiri mereka.
"Kak Zea..." Ujar Kania.
"Sayang, miss you!" Ujar Zea yang langsung mengecup kedua pipi Azan.
"Sebenarnya ini bayi siapa?" Tanya Faiz yang membuat Zea dan Kania saling menatap.
"Dasar penculik, kembalikan bayi ku!" Jelas Rafeal yang baru datang lalu mengambil alih Azan kedalam gendongannya.
"Buruan, atau aku langsung pulang nih!" Seru Rakes dari dalam mobil.
"Ayo pulang!" Ajak Marvel yang langsung menggandeng tangan Kania dan juga Zea.
"Aku duluan ya!" Seru Zea pada teman-temannya yang sejak tadi berdiri di parkiran menunggunya.
"Faiz, aku pamit pulang duluan, sampai jumpa besok?" Jelas Kania.
"Hati hati!" Ujar Faiz pelan.
"Siapa tadi?" Tanya Marvel saat ia mulai mengemudi.
"Ketua kelas!" Jawab Kania.
"Terus?" Tanya Marvel.
"Terus? ya emang cuma ketua kelas, apa lagi coba?" Jelas Kania.
"Ngapain dia dekat dekat sama kamu?" Tanya Marvel.
"Kalau ada yang mau di omongin ya harus dekat-dekat dong, masak ia jauhan ntar harus teriak-teriak dong!" Jelas Zea.
"Cemburu boleh tapi jangan juga sampai buta gituh!" Jelas Rafeal.
"Tuh dengar, orang aku sama Faiz emang teman sekelas, nggak lebih!" Jelas Kania.
"Udah, mending kalian langsung nikah aja!" Usul Rakes.
"Sepertinya emang harus di percepat!" Ujar Marvel.
"Buruan gih, biar aku dan Ana juga bisa langsung ke pelaminan." Jelas Rafeal.
"Ya udah abang Rafeal duluan aja!" Jelas Kania.
"Nggak! abang harus lebih dulu dari Ana!" Tegas Marvel.
"Dasar egois!" Cela Rafeal.
"Biarin!" Cetus Marvel.
Sejenak sunyi tanpa ada yang bicara hingga tawa Uzun membuat semuanya ikut tertawa.
"Tuh lihat, Uzun aja sampai ketawa gitu gara gara sikap egois abang!" Jelas Kania.
"Uzun bukan ngatain papa Marvel kan sayang?" Tanya Marvel lalu sejenak menatap Uzun yang ada di pangkuan Rakes.
Kali ini Azan yang ikut tertawa girang.
"Kalian nggak sedang meremehkan papa Marvel kan?" Ulang Marvel.
"Emang iya kan sayang, dasar papa Marvel egois!" Ujar Zea yang asyik memeluk tubuh Azan yang ada di dalam pangkuannya.
"Dasar kalian, emang paling suka buat aku emosi!" Cetus Marvel kesal.
"Jadi, sekarang kita mau kemana ni?" Tanya Kania.
"Ketemu bidadarinya abang!" Ujar Rafeal dengan senyuman lebar.
"Awwww, sakit tau! Uzun, Azan, kalian jangan sampai nurut kayak mommy dan daddy kalian ya, ihhh serem!" Jelas Rafeal.
"Mulut...." Cetus Zea yang kembali menjadikan bahu Rafeal sebagai sasarannya.
"Selalu aja bisanya ribut! dasar bocah SMA!" Cetus Rakes.
"Bocah?" Ulang Rafeal dan Zea serentak.
"Iya emang kalian bocah kan?" Jelas Rakes.
"Hello pak Rakes yang terhormat, aku itu emaknya bocah-bocah elo!" Penjelasan Zea cukup membuat semua yang ada di mobil tertawa girang tak ketinggalan juga si kembar yang ikut tertawa mesti keduanya sama sekali tak paham dengan situasi yang sedang berlangsung.
"Makan tuh!" Seru Rafeal girang.
"Kalian!" Cetus Rakes.
"Akhirnya sampai!" Ujar Kania saat mobil mereka berhenti tepat di depan pintu utama dari gedung mewah yang tak lain adalah perusahaan milik keluarga Revtankhar.
"Kenapa lama banget sih? lumutan aku nunggunya!" Protes Mariana yang langsung membuka pintu mobil.
"Maklum kak, sopir kita kan......" Jelas Zea menggantung.
"Oooh, bisa di maklumi, kan pak tua! upss!" Ujar Mariana yang langsung duduk di samping Rafeal.
"Ciiih!" Gumam Marvel kesal.
"Kania, ada hal serius yang ingin abang katakan!" Ujar Rafeal yang tiba-tiba begitu serius.
"Apa?" Tanya Kania.
"Ada apa? apa terjadi sesuatu?" Tanya Mariana yang jauh lebih panik dari Kania.
"Apa aku boleh bicara sekarang?" Tanya Rafeal.
"Bicaralah, jangan buat kami penasaran!" Jelas Zea.
"Kania, abang sarankan lebih baik kamu tinggalkan aja deh tuh pak tua!" Jelas Rafeal dengan ekspresi wajah polos tanpa dosa.
"Muke gileee!" Seru Marvel yang langsung menjalankan mobilnya.
"Kalau abang Marvel pak tua, ya abang Rafeal pak tua juga dong, kalian kan seusia!" Jelas Kania.
"Seusia? dia bahkan lebih tua dari abang!" Jelas Marvel.
"Yang benar??" Tanya Kania, Mariana dan Zea serentak bahkan dengan mata yang menatap tajam wajah Rafeal.
"Yaelah cuma hitungan bulan kali!" Cetus Rafeal.
"Terus kalau sama abang Rakes tuaan siapa?" Tanya Zea penuh semangat.
"Rakes lah anak bontot kami!" Jelas Rafeal dan Marvel hampir serentak.
"Waaaah, di tinggal nikah nih ceritanya! si bontot aja udah punya dua jagoan, lah kalian!" Cetus Mariana.
"Nah makan tuh! dasar tak laku!" Cetus Rakes.
"Bukan nggak laku, cuman doyannya sama bocah ya udah harus ekstra sabar tunggu dia tumbuh!" Jelas Marvel.
"Lah aku jadi korban, gara-gara bapak nunggu bocah aku harus ikut nunggu, nggak bisa dilangkahi, dasar tuan muda tak berperasaan!" Kesal Rafeal.
"Ya udah kalau memang nggak bisa nunggu, cari aja yang lain, jangan sama adik aku!" Jelas Marvel.
"Coba aja kalau berani, bakal aku penggal kepala mu!" Ancam Mariana.
"Wuiiiiih parah! perang keluarga nih!" Seru Zea.
"Bakal roboh nih mobil kayaknya!" Ujar Rakes.
"Mending kita makannya di rumah makan yang itu aja deh!" Ajak Kania sambil menunjukkan sebuah rumah makan sederhana di pinggir jalan.
"Ayyok!" Ujar Marvel yang langsung menepikan mobilnya lalu masuk parkiran.
"Yakin nih mau makan disini?" Tanya Mariana saat semuanya keluar dari mobil.
"Calon istri aku harus terbiasa makan di tempat calon suaminya sering makan dong, ayo sayang!" Ajak Rafeal yang langsung menggandeng tangan Mariana.
"Belum halal!" Cetus Marvel yang langsung memisahkan Rafeal dari Mariana, lalu dengan wajah sombongnya Marvel langsung menyeret Mariana bersamanya.
"Ciiiih! bilang aja cemburu karena Kania ogah di gandeng sama bapak-bapak!" Cetus Rafeal.
"Jangan di terusin yang ada ntar acara makannya batal lagi, malah lagi lapar pakek banget pula, ayo Kania!" Jelas Zea yang langsung menggandeng tangan Kania lalu mengikuti langkah Marvel yang telah lebih dulu masuk bersama Mariana.
"Ayo Uzun, kita juga harus makan!" Ujar Rakes pada Uzun yang berada di dalam gendongannya.
"Azan, kamu senang kan dengan semua adegan ini? papa harap semua kebahagian ini tidak akan pernah hilang di antara kita semua dan satu lagi papa janji papa akan memberikan kamu calon istri secepatnya, kamu tenang aja, putri papa pasti akan secantik mama Ana!" Jelas Rafeal dengan terus menatap dalam wajah Azan yang berada di dalam gendongannya.
Azan justru menjawabnya Rafeal dengan respon yang begitu menggemaskan, ia tersenyum lebar dengan tangan yang terus bergerak-gerak menyentuh wajah Rafeal.
"Apa kamu sesenang itu? waaaah, ayah jadi nggak sabar pengen jadi papa mertua mu!" Ujar Rafeal dengan tawa bahagia.
"Mau sampai kapan di sana? buruan!" Teriak Rakes.
"Oke! OTW nih!" Seru Rafeal yang segera berlari memasuki rumah makan dan segera bergabung ke meja di mana yang lainnya sudah berkumpul.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princess πππ
KaMsaHamida πππππ
__________
Sebelumnya, maaf buat semua para pembaca setia My Princess πππ
Maaf karena begitu lama nggak bisa up dan juga terima kasih karena sudah setia membaca perjalanan Zea dan Rakes.
Sekali lagi, Terima kasih buat manteman semuanyaππ Love U allβ€οΈβ€οΈ