
"Tunggu!" Pinta Zea ketika Rakes hendak keluar dari mobil.
"Ada apa lagi? kita udah sampai, udah di depan rumah nih!"
"Ada yang harus aku pastikan!"
"Apa?"
"Sebenarnya.....?" Zea menggantung ucapannya, kini mata Zea terlihat begitu fokus mencari jawaban lewat tatapan mata Rakes, membuat Rakes seketika khawatir dengan apa yang ingin Zea tanyakan.
(Kenapa dia begitu serius? tidak seperti biasanya, apa dia akan menanyakan kejadian semalam? atau mungkin dia mulai curiga tentang identitas aku yang sebenarnya? bagaimana jika dia menanyakannya? aku tidak mungkin menjelaskan semuanya.) Tanya hati Rakes yang mulai di dera rasa gundah.
"Sebenarnya?" Ulang Rakes dengan mata yang tidak bisa berhenti memperhatikan Zea.
"Sebenarnya apa hubungan Chim chim dengan cewek yang bernama Una itu?" Tanya Zea dengan kecepatan 000,1 detik/kata membuat Rakes mengernyitkan alisnya dengan Zea yang terlihat begitu menggemaskan ketika sedang cemburu.
"Apa kamu sedang cemburu?" Goda Rakes dengan memamerkan senyuman mautnya.
"Iya! siapa coba yang nggak cemburu, aku itu takut kalau Chim chim akan tergoda dengan cewek itu, secara dia lebih cantik dan juga lebih feminim dari aku. Jujur, kalian terlihat begitu serasi, yang satu bak putri satunya lagi laksana pangeran." Jelas Zea yang langsung menundukkan kepalanya, kedua tangannya memainkan ujung jilbab dengan kasar.
"Jannati, kamu itu My Prins......." Ucapan Rakes langsung terhenti ketika sebuah tangan mengetuk kaca mobil disisi Zea.
Rakes langsung menurunkan kaca mobil hingga terlihatlah sosok Roger yang menyapa keduanya dengan senyuman bahagia.
"Roger!" Seru Rakes.
"Abang Roger!" Ujar Zea yang juga ikut menatap kearah Roger.
"Abang, boleh aku pinjam Zea sebentar? ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Zea." Jelas Roger.
"Kenapa harus minta izin, Zea kan adik kamu juga. Kalian ngobrol lah, abang mau mandi dulu." Jelas Rakes yang langsung keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Zea juga ikut keluar dari mobil, lalu mengajak Roger untuk duduk di bangku yang ada di halaman depan tepatnya di bawah pohon mangga yang begitu rindang.
Keduanya langsung duduk, sejenak saling diam akhirnya Roger mulai meleburkan suasana yang sedari tadi begitu canggung diantara keduanya.
"Kalau abang bilang bahwa abang sudah belajar menerima semua ini dengan baik, apa kamu akan percaya?" Tanya Roger dengan tatapan yang masih menatap lurus ke depan.
"Pastinya dong, lagi pula abang itu tampan, kaya, keren, dengan mudah abang bisa mendapatkan gadis yang seratus kali lebih baik dari aku. Maaf dan juga terima kasih."
"Kamu benar Zea, abang pasti akan mendapatkan gadis terbaik untuk hidup abang. Hubungan kita tetap seperti dulu kan?"
"Ya iyalah, abang itu tetap abang terbaik untuk aku untuk selamanya." Ucap Zea dengan senyuman lebar.
"Syukurlah. Oh ya, malam ini abang ingin mengajakmu ke suatu tempat? kamu bisa kan?"
"Hmmmmmm!" Zea tidak tau harus menerima atau menolak ajakan Roger.
"Abang udah izin sama om Iqbal dan tante El kok, atau apa abang harus izin juga sama abang Rakes?" Tanya Roger karena melihat Zea yang kebingungan menjawab ajakannya.
"Nggak usah, hmmmmmm mau berangkat jam berapa?"
"Selepas magrib, gimana?"
"Oke, kalau begitu aku masuk duluan."
"Oke, terima kasih."
"Sama-sama!" Jawab Zea dengan senyuman lebar dan langsung masuk ke dalam rumah.
____________________
"Aku mau keluar sama abang Roger nanti malam!" Jelas Zea.
Zea yang langsung membuka pintu kamar Rakes tanpa mengetuknya terlebih dahulu membuat Rakes yang sedang mengenakan kaos seketika mempercepat gerakannya.
"Oke." Jawab Rakes simpel setelah kaosnya terpakai sempurna, sejenak menoleh kearah Zea yang masih berdiri diambang pintu lalu membuang pandangannya kearah lain.
"Oke? sebenarnya....!"
"Abang cemburu! bahkan tadi itu abang tidak rela kamu berduaan dengan Roger, tapi mau gimana lagi, abang nggak boleh egois kan? lagi pul om Iqbal dan tante El udah memberi izin lalu kenapa abang harus melarang? Pergilah, abang percaya sama Roger dan abang percaya sama cinta kamu untuk abang." Jelas Rakes dengan wajah frustasi dan segera duduk diatas kasurnya.
"Zea janji, Zea nggak akan macam-macam. Zea akan jaga mata, jaga tangan dan jaga semuanya, karena semua ini hanya milik Chim chim." Jelas Zea.
"Udah sana mandi, kamu bau banget!" Cetus Rakes.
"Assalamualaikum Chim chim, calon imam ku, love you!" Seru Zea lantang lalu kembali menutup pintu kamar Rakes.
__________________
Setelah sholat magrib berjamaah, semuanya berkumpul di ruang keluarga.
"Tante, om kami pamit keluar sebentar!" Jelas Roger yang telah rapi dengan stelannya.
Roger mengenakan kemeja biru dipadu dengan jeans hitam, membuatnya terlihat begitu tampan dan menawan.
"Zea, kamu belum siap-siap?" Tanya Elsaliani yang melihat Zea masih saja duduk sambil memeluk lengan kokoh Iqbal.
"Udah kok uma!" Jawab Zea yang mencoba merapikan kerudungnya.
"Kamu mau keluar dengan pakaian itu?" Tanya Elsaliani.
"Hmmmmm, abang Roger aja nggak protes tuh." Jelas Zea.
"Ya udah, kalian pergilah! Roger ingat jangan lewat dari jam sepuluh malam." Tegas Iqbal.
"Siap om, kalau gitu kami berangkat sekarang, ayo Zea!" Jelas Roger.
Zea yang hanya mengenakan kaos hitam dipadu dengan rok hitam dan kerudung kuning lekas keluar mengikuti langkah Roger yang telah lebih dulu keluar dari dirinya.
"Yakin nggak cemburu?" Goda Iqbal setelah Zea dan Roger benar-benar keluar.
"Ya enggaklah! Zea kan keluar sama adek aku, aku percaya sama mereka berdua." Jelas Rakes yang masih duduk di samping Elsaliani.
"Tapi selain adek dia juga rival kamu loh!" Goda Elsaliani.
"Aku ngantuk, aku ke kamar duluan, assalamualaikum." Jelas Rakes yang bergegas menuju kamarnya.
"Kenapa mas mengizinkan mereka keluar?" Tanya Elsaliani.
"Mas nggak mungkin menolak permintaan Roger, lagi pula mereka cuma mau makan malam."
"Iya sih, cuman kan...."
"Rakes aja oke, kenapa sayang yang protes?"
"Mas, El hanya nggak senang aja melepaskan Zea keluar berdua sama lelaki yang bukan mahramnya."
"Lalu kenapa tadi begitu tenang saat Zea keluar sama Rakes?"
"Mas Rakes dan Roger beda!"
"Dimana bedanya? mereka sama-sama bukan mahramnya Zea, mereka sama-sama anak abang Hadi dan kak Erina, lalu dimananya yang beda?"
"Mas...."
"Udah sayang tenang aja, Roger akan menjaga Zea dengan baik, sama halnya seperti yang Rakes lakukan. Mas tau, kalau sayang lebih suka sama Rakes dari pada Roger tapi tetap saja itu tidak bisa jadi satu alasan buat sayang meragukan kebaikan Roger. Mas kenal mereka berdua sejak bayi, mereka sama, sama-sama baik." Jelas Iqbal.
"El cuma nggak paham dengan perasaan El, mas. El khawatir, El....!"
"Sayang, udah! berhenti berfikir yang tidak-tidak, sekarang mending sayang istirahat, adik bayi butuh istirahat banyak, ayo!"
Iqbal bangun lalu beranjak untuk merangkul sang istri tercinta lalu menuntunnya ke kamar.
__________________
"Loh! katanya abang mau ajak aku makan? tapi kenapa kita malah kesini?" Tanya Zea ketika mobil Roger berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah nan megah dan pastinya itu bukanlah rumah Hadi maupun rumah Jordan yang sering Zea datangi.
"Iya kita makannya di sini!" Jelas Roger sambil melepaskan sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya.
"Tapi ini rumah siapa?"
"Rumah abang?"
"Sejak kapan abang beli rumah? Abang nggak tinggal lagi sama om Hadi dan tante Erina?"
"Ini rumah abang hadiah dari kakek!"
"Jadi sekarang abang tinggal disini?"
"Nggak, abang masih tinggal di rumah mama dan papa, cuma sesekali aja menginap disini. Ayo turun!" Jelas Roger dan langsung turun dari mobil di susul dengan Zea yang juga ikut keluar.
Perlahan Zea mengikuti langkah Roger hingga keduanya masuk kedalam rumah mewah nan megah tersebut. Ruangan demi ruangan mereka lalui hingga keduanya sampai di depan meja makan yang telah dipenuhi dengan berbagai jenis makanan dan minuman.
"Kok sepi?" Tanya Zea yang memang sedari tadi terus mencari penghuni rumah tersebut.
"Ya emang nggak ada orang sama sekali di rumah ini." Jelas Roger yang langsung duduk di kursi meja makan.
"Terus siapa yang menyiapkan semua ini?"
"Duduklah!" Pinta Roger karena sedari tadi Zea masih saja berdiri.
Perlahan Zea mengambil tempat tepat dihadapan Roger.
"Bi Anisa yang menyiapkan semua ini, dia hanya bekerja sampai magrib aja, setelah itu dia akan pulang kerumahnya. Ayo makan!"
"Jadi nggak ada orang yang tinggal di rumah ini selain abang?" Tanya Zea.
"Nggak ada! Ayo buruan makan, setelah ini abang akan langsung mengantarmu pulang, jika telat bisa-bisa kepala abang akan di penggal sama om Iqbal." Jelas Roger.
"Selamat makan!" Ujar Zea dengan senyuman dan langsung menyantap semua hidangan dengan lahap.
_______________
Setelah selesai makan malam, kini Zea duduk di sofa sambil menonton filem kartun yang diputar di layar televisi sana.
"Zea.....!" Ujar Roger sambil duduk di samping Zea.
"Abang, ayo kita pulang!" Ajak Zea yang langsung berdiri.
"Zea...." Panggil Roger yang langsung menggenggam tangan kanan Zea.
"Abang!" Seru Zea yang spontan menarik tangannya dari genggaman Roger.
"Kenapa abang Rakes boleh melakukannya? kamu di bayar berapa sama dia? aku lebih kaya dari dia, aku bisa memberi mu lebih dari yang dia berikan!" Gumam Roger yang langsung menarik tubuh Zea hingga ia kembali terduduk di sofa, lalu dengan cepat tangan Roger menyentuh paksa wajah Zea.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya 😉😉
Stay terus sama My Princess 😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️