
"Aku yang terlalu cepat datang atau memang jam yang salah? sudah sepuluh menit berlalu tapi abang Marvel belum juga muncul, atau aku yang salah tempat?" Tanya Kania pada dirinya sendiri dengan mata yang terus saja menatap ke sekeliling taman.
Kania masih lengkap dengan seragam putih abu-abunya, ia bahkan sejak pagi berniat untuk terus mengenakan seragamnya hingga malam, karena hari ini adalah hari terakhir dia mengikuti ujian yang artinya ini adalah hari terakhir ia mengenakan seragam kesayangannya.
Kania masih aja duduk dengan mata yang terus saja menatap setiap orang yang melintasi taman berharap orang yang ia tunggu secepatnya datang.
"Hufffffff! Sudah sepuluh menit, pasti aku yang salah tempat, atau bahkan mata aku yang salah baca chat. Hmmmmm, sabar Kania, tenang, baru juga sepuluh menit, tunggulah sebentar lagi, abang pasti lagi di jalan." Jelas Kania pada dirinya sendiri.
Kania masih saja betah menunggu bahkan setelah sepuluh menit kembali berlalu. Dari kejauhan seseorang terus saja berlarian menelusuri taman, keringat yang bercucuran tidak membuat kakinya berhenti, ia terus saja berlari dengan mata yang terus menelusuri seisi taman, hingga kakinya terhenti tepat di depan sebuah bangku yang sejak tadi di huni oleh Kania.
"Maaf, karena membuatmu menunggu begitu lama." Pinta Rafeal dengan nafas ngos-ngosan dan langsung duduk di sebelah Kania.
"Abang Rafeal!" Ujar Kania dengan terus menatap wajah Rafeal di bercucuran keringat.
Perlahan Kania menyodorkan botol minuman miliknya untuk Rafeal.
"Terima kasih!" Ucap Rafeal dan langsung mengambil botol tersebut lalu meneguk semua isinya.
"Abang...." Jelas Rafeal masih dengan nafas yang memburu.
"Tenanglah dulu, tarik nafas, rilexs! aku nggak akan kabur kok! abang istirahat sebentar setelah itu kita bicara!" Jelas Kania dengan tatapan yang begitu teduh.
"Oke!" Ujar Rafeal yang langsung menyandarkan punggungnya di sandaran bangku lalu menjulurkan kaki panjangnya ke depan.
"Gimana?" Tanya Kania setelah beberapa menit berlalu dengan keheningan.
"Hmmm, kamu pasti kaget kan? karena abang yang muncul di sini!" Jelas Rafeal.
"Sebenarnya iya, karena tadi yang minta aku datang ke sini adalah abang Marvel dan yang datang malah abang."
"Abang yang minta sama Marvel, dan kamu tenang aja abang udah izin kok sama Marvel."
"Santai aja kali, hmmmm so? apa yang ingin abang bicarakan?"
"Nikah..." Ujar Rafeal.
"Maksud abang apa?"
"Ayo kita nikah!"
"Apa yang abang bicarakan? abang masih waras kan? jangan buat semua orang membenci kita!"
"Kania, kamu jangan salah paham!"
"Apanya yang salah paham? abang ngajak aku nikah kan? lalu bagaimana dengan abang Marvel dan kak Ana?"
"Kania, bukan itu maksud abang!"
"Lalu???"
"Ayo kita nikah sama-sama, nikah bareng! aku dan Ana, kamu dan Marvel!" Jelas Rafeal.
"Serius? emang boleh?" Tanya Kania girang.
"Waaaaah seketika wajah panik dan khawatir mu langsung berubah menjadi begitu girang saat abang menyebutkan nama Marvel. Marvel benar-benar beruntung memiliki kamu." Jelas Rafeal.
"Dan kak Ana juga sangat beruntung karena memiliki abang!" Jelas Kania dengan senyuman manisnya.
"Jadi gimana? kamu mau kan?" Tanya Rafeal.
"Ayo! ayo kita nikah!" Jelas Kania.
"Abang akan bicara dengan om Hendra dan juga om Revtankhar, abang ingin kita sama-sama!" Jelas Rafeal.
"Hmmmm, aku juga akan bicara sama mama!" Jelas Kania penuh semangat.
"Apa kamu begitu senang?"
"Hmmm, akhirnya aku bisa nikah dengan abang Marvel, aku bahkan tidak bisa percaya dengan semua ini, pada akhirnya aku bisa memiliki abang Marvel seutuhnya!" Jelas Kania penuh bahagia.
"Semoga kalian bahagia selamanya!" Ujar Rafeal lalu mengusap lembut kepala Kania.
"Abang juga, semoga abang dan kak Ana selalu bahagia selama-lamanya." Ujar Kania.
_____________________
"Cieeeeeee yang mau jadi pengantin baru!!!!" Goda Marvel.
Perlahan Marvel terus melangkah mendekati Mariana yang sedang duduk di ayunan di halaman depan rumah.
"Ciiiih, bilang aja iri!" Cetus Mariana.
"Iri? nggak banget!" Cetus Marvel lalu duduk di ayunan yang satunya lagi.
"Abang...." Panggil Mariana dengan nada yang begitu serius.
"Hmmmmm!"
"Kenapa? kamu nggak percaya dengan abang mu ini?"
"Bukannya nggak percaya, tapi...."
"Ana, Rafeal sudah cukup dewasa dan kamu juga sudah pantas untuk berumah tangga, lalu kenapa abang harus ngalangin ibadah kalian?"
"Lalu bagaimana dengan abang?"
"Kania masih butuh waktu, dan abang harus menunggu, tidak masalah jika pun harus bertahun lamanya, toh abang juga sudah menunggunya sejak lima tahun yang lalu."
"Tapi masalahnya abang akan semakin tua!" Cetus Mariana.
"Tua? jangan bicara omong kosong, orang orang bahkan mengira kalau usia abang masih belasan tahun!"
"Jangan ngaco! sebentar lagi genap 30 loh!"
"Jangan manasin abang, atau abang akan berubah pikiran nih!" Ancam Marvel.
"Jangan konyol!" Tegas Mariana.
"Makanya jangan mulai duluan!" Jelas Marvel.
"Tapi sekarang Kania sudah lulus SMA kan, dia nggak lagi bocah loh, lagian Zea aja nikah pas masih sekolah, seenggaknya sekarang Kania seusia Zea dulu pas nikah kan? udah mending kita nikahnya barengan!" Jelas Mariana.
"Barengan, jangan ngaco! abang nggak mau membuat Kania tertekan, abang akan tunggu sampai dia benar-benar siap. Udah ah abang mau masuk!" Jelas Marvel dan langsung bergegas meninggalkan Mariana sendirian.
"Sebenarnya Ana ada benarnya, hmmmm tapi ya sudahlah, lagi pula menunggu sebentar lagi nggak masalahkan. Sabar Marvel, sabarlah, Kania akan segera menjadi istri mu!" Tegas Marvel pada dirinya sendiri dan lekas masuk kedalam.
_______________
"Chim chim...!" Panggil Zea dengan terus melangkah mendekati Rakes yang sedang menidurkan Azan dan Uzun di tempat tidur sikembar yang letaknya hanya beberapa langkah dari tempat tidur mereka.
"Hmmm, kenapa?" Tanya Rakes yang masih fokus menatap Azan dan Uzun secara bergantian.
Tanpa jawaban Zea langsung mendekap tubuh Rakes dari belakang lalu membenamkan wajahnya di punggung kekar sang suami.
"Kenapa?" Tanya Rakes yang kini menyentuh tangan Zea yang melingkar di pinggangnya.
"Apa abang sudah melupakan keberadaan ku? kenapa hanya mengurus mereka? aku juga mau diurus sama abang!" Jelas Zea.
"Sejak kapan kamu cemburu sama anak-anak kita sendiri? Lucu!" Ujar Rakes dengan gelak tawanya.
"Habis abang sih nggak adil, lagi pula mereka kan sudah tidur, kenapa masih saja disini?"
"Maaf,,," Ujar Rakes lalu menyentuh lembut rambut Zea.
"Sebenarnya..."
"Kenapa? bicaralah!"
"Bukankah seharusnya aku yang menjaga mereka? menidurkan mereka berdua, aku malah tidak bisa menjadi ibu untuk anak kita sedangkan abang bisa menjadi siapa saja untuk mereka, menjadi seperti seorang ibu yang mengurusi segala keperluan dan bahkan menidurkan mereka, menjadi ayah yang terus melindungi mereka, menjadi teman yang selalu bisa membuat mereka tertawa riang, sedangkan aku? aku tidak bisa melakukan semua itu, aku...!" Jelas Zea dengan tetesan air mata.
"Sayang...!" Ujar Rakes pelan lalu membawa Zea ke hadapannya, perlahan ia mengusap lembut air mata sang istri.
"Kamu itu mommy terhebat untuk anak-anak kita, kamu bahkan bisa menjaga mereka dengan sangat baik di saat kamu sendiri masih butuh penjagaan, kamu bahkan bisa mengurus mereka sambil sekolah, kamu hebat sayang, kamu istri terhebat untuk abang dan mommy terbaik untuk Azan dan Uzun." Jelas Rakes lalu mengecup lembut kening Zea.
"Tapi..." Keluh Zea.
"Abang minta maaf, mungkin selama beberapa bulan kebelakang abang lalai dengan tugas abang sebagai seorang suami, tapi benar, abang sama sekali tidak berniat...."
'Cup' Sebuah kecupan dadakan dari Zea membuat Rakes menghentikan ucapannya.
"I love you my Chim chim!" Ujar Zea dan kembali mencium sang suami.
"Ayo!" Ajak Rakes.
"Kemana?"
"Cetak Alifya dan Aliya!" Jelas Rakes.
"Beneran???"
"Kamu kira abang becanda? ayo buruan sebelum para bocah itu menggagalkannya!" Jelas Rakes yang langsung menggendong tubuh Zea.
"Ayyo!" Seru Zea yang bahkan lebih bersemangat dari Rakes.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ