
"Abang pasti juga berpikir sama dengan kak Ana kan?" Tanya Kania saat ia berdiri tepat di depan pintu rumahnya.
"Maksudnya?" Tanya Marvel yang juga ikut mengantar Kania hingga ke depan pintu.
"Tentang aku yang sedang berusaha mencari cara untuk datang pada abang Rafeal!" Jelas Kania dengan menundukkan wajahnya bukan tanpa sebab, ia melakukannya agar ia bisa menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca dari Marvel.
"Kania..."
"Mungkin terdengar aneh, tapi percayalah cuma abang satu-satunya lelaki yang ada di hati ini, aku tau abang Rafeal baik, aku juga tau dia begitu mencintaiku, lalu aku harus bagaimana kalau perasaan ini tidak bisa beranjak membalasnya, aku terlanjur mencintai abang bahkan sebelum aku tau siapa abang sebenarnya." Jelas Kania yang akhirnya tidak lagi bisa menahan air matanya.
"Abang tidak sedang memikirkan apapun!" Tegas Marvel.
"Jika abang berencana untuk meninggalkan aku maka jangan jadikan abang Rafeal sebagai alasan, karena aku tidak punya perasaan apapun padanya. Dan terima kasih untuk makan malamnya, selamat malam!" Jelas Kania.
"Sebenarnya abang takut!" Penjelasan Marvel sontak membuat Kania yang tadinya beranjak menekan bel seketika menghentikan niatnya, ia kembali menatap wajah Marvel yang kini malah menunduk.
"Apa yang abang takutkan?" Tanya Kania dengan tangan yang langung mengangkat wajah Marvel untuk menatapnya.
"Kenapa menangis?" Tanya Kania saat melihat air mata Marvel yang perlahan membasahi pipinya.
"Abang takut kamu akan pergi meninggalkan abang, abang takut kehilanganmu, Kania." Jelas Marvel.
Tanpa sepatah kata pun, Kania langsung mendekap erat tubuh Marvel, ia bahkan ikut menyandarkan wajahnya yang telah di penuhi air mata pada dada bidang Marvel.
"Bukankah seharusnya aku yang takut, aku takut abang akan meninggalkan aku." Jelas Kania.
"Tidak ada alasan untuk abang meninggalkan kamu, karena tanpa kamu abang bahkan akan gila, segalanya akan kacau. Kania, benarkah kamu mencintai abang?"
"sangat, sangat mencintai!" Tegas Kania.
"Masuklah, selamat malam pujaan hati ku!" Ujar Marvel lalu segera melepaskan Kania dari pelukannya.
"Hati-hati di jalan!" Ujar Kania dengan senyuman.
Kania segera masuk setelah suara mobil Marvel perlahan menjauh. Sejak pulang dari makan malam tadi, Marvel memilih pulang bersama Kania dengan menggunakan mobil Mariana, karena Mariana pulang bersama sang papi sedangkan yang lainnya pulang dengan diantar oleh Zafran.
_______________________
Rafeal yang barus saja keluar dari kamar mandi langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur karena sejak tadi berulang kali chat masuk.
Rafeal masih berdiri sambil mulai mengecek chat yang terus saja masuk.
"Ana? tumben dia chat aku, apa otaknya mulai bermasalah?" Tanya Rafeal dan langsung membuka chat tersebut.
~Tidak masalah jika kamu menolak perjodohan yang papi rencanakan, tapi ingat jangan coba-coba untuk datang pada Kania, aku masih sabar saat kamu menolak aku, tapi aku tidak akan tinggal diam kalau kamu membuat abang Marvel terluka, ingat itu~
"Ana, kamu kira aku akan diam jika ada orang yang menyakiti Marvel? meski aku sangat mencintai Kania, aku tidak mungkin merebutnya dari sahabat baikku. dan soal lamaran om Revtankhar, aku tidak bilang kalau aku menolaknya!" Ujar Rafeal lalu menghempaskan tubuhnya keatas kasur.
Tangan Rafeal kembali membuka chat kali ini dari Marvel.
~Apa kalian udah di rumah?~
~Kenapa gk dibalas?~
~Rafeal....~
~Rafeal....~
~Apa kamu marah karena ucapan Ana?~
~Atau karena rencana papi?~
~π€π€~
~Aku akan pulang!~
Sejenak memejamkan mata, mencoba memutar kembali ingatan tentang semua masa yang telah ia habiskan bersama Marvel dan juga Rakes. Lalu tiba-tiba senyuman Kania datang, seakan membuat otak Rafeal terhenti, matanya bahkan tidak bisa berkedip, melihat bayangan Kania yang terus tersenyum manis padanya.
~Abang Rafeal, maaf jika selama ini aku telah membuat berjuta luka di hati abang, maaf karena aku tidak bisa menjaga perasaan abang dan terima kasih karena membiarkan aku mendapatkan cinta dari sahabat terbaik abang, aku janji aku akan menjaga hatinya, aku akan menyayanginya, aku tidak akan membuatnya menangis, aku akan menjaganya seperti yang abang lakukan, dan terima kasih karena sudah mencintai gadis yang begitu banyak kekurangan seperti aku. Hmmmmmm, abang bisa kan aku menjadi adik abang? seperti kak Zea.~
Chat yang baru saja masuk dari kontak yang ia simpan dengan nama 'Impianku' itu sontak membuat dada Rafeal seakan sesak.
"Kania, terima kasih karena sudah hadir dalam hidup abang, dan terima kasih karena sudah begitu mencintai orang yang begitu abang sayangi. Kamu dan Marvel harus bahagia, dengan begitu aku juga akan bahagia." Ungkap Rafeal dengan isak tangis yang terus ia tahan sekuat mungkin.
__________________
"Kenapa belum ganti baju?" Tanya Zea yang sudah siap dengan baju tidurnya.
Zea langsung duduk di samping sang suami yang terlihat duduk termenung di sofa dengan mata yang terus menatap keluar lewat jendela kamar mereka.
"Zea..." Ujar Rakes dan langsung mendekap bahu Zea dari samping.
"Apa yang sedang Chim chim pikirkan?"
"Kakek, terkadang abang bingung dengan semua perlakuannya." Jelas Rakes lalu menenggelamkan wajahnya di leher Zea.
"Kenapa dengan kakek? apa abang penasaran dengan apa yang aku dan kakek bicarakan tadi?"
"Bisa kah kamu menceritakannya pada abang?"
"Kakek bertanya tentang kandungan aku, lalu menawarkan pesta untuk peresmian pernikahan kita, dia juga berpesan agar aku bisa menjaga cicitnya dengan baik dan juga dia titip Chim chim sama aku, kakek bilang aku tidak boleh membuat Chim chim menangis, karena tangisan Chim chim adalah kesedihan bagi kakek. Taukah Chim chim, kalau dari kejauhan kakek terus memantau keadaan Chim chim, dia bahkan sengaja menjadikan abang Lexel sebagai matanya untuk memastikan keselamatan Chim chim. Jadi berhentilah berburuk sangka pada kakek." Jelas Zea dengan perlahan mengusap tangan Rakes yang masih setia mendekap dirinya.
"Justru karena itu abang takut kakek akan semakin membuat Roger membenci abang. Sejak kejadian waktu itu, saat kakek melihat abang berdiam diri ketika Roger memukul sekujur tubuh abang, kakek jadi begitu protektif terhadap abang."
"Waktu itu? apa saat kejadiannya di taman belakang rumah kakek?" Tanya Zea memastikan.
"Kenapa kamu tau? itu cerita lama."
"Karena kejadian itu aku bahkan tidak bicara dengan abang Roger selama dua minggu, saat itu aku ingin sekali berlari kearah Chim chim lalu menghentikan kebodohan Chim chim yang seakan begitu pasrah dengan perlakuan abang Roger, ingin rasanya aku ketok kepala abang, haissssss!" Jelas Zea yang begitu kesal jika mengingat kejadian tersebut.
"Apa kamu tau alasan abang berdiam diri waktu itu?"
"Apapun alasannya, harusnya Chim chim tidak membiarkan abang Roger berbuat sesuka hatinya."
"Roger memergoki abang yang sedang memandang kamu, dan dia mengancam akan melaporkannya pada mu jika abang tidak menuruti keinginannya."
"Apa?"
"Hmmmmm, lagi pula hanya cerita lama kan!"
"Tapi..."
"Pada akhirnya abang tetaplah pemenangnya." Ujar Rakes lalu mengecup lembut pipi Zea.
"Abang khawatir kalau kakek akan terus membedakan abang dengan Roger. Abang tidak mau jika Roger semakin membenci kakek. Dan soal yang kakek bahas dengan mu tadi, jangan terlalu di pikirkan, yang terpenting jaga kesehatan kamu. Abang sayang kamu, Jannati." Ujar Rakes yang semakin mempererat pelukannya.
(Apa abang tau, sebenarnya kakek merencanakan sesuatu yang lebih besar dari semua ini? diam-diam kakek menjadikan Raze Junior sebagai pewaris tunggal dari semua aset kekayaannya. Karena Abang yang terus bersikeras menolaknya, kakek justru membuat surat wasiat yang justru akan semakin membuat abang Roger marah besar. Aku sudah menolaknya tapi kakek bilang tidak ada yang bisa protes termasuk abang sekalipun.) Gundah hati Zea yang kembali takut saat mengingat wajah tegas Jordan saat menjelaskan semuanya pada Zea tadi.
"Love you to, my lovely Chim chim!" Ujar Zea lalu mengecup lengan Rakes yang masih setia menempel di dadanya.
"Ayo tidur!" Ajak Rakes, lalu keduanya beranjak menuju tempat tidur.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ