My Princess

My Princess
#222



Suara ketukan pintu dari luar pelan-pelan semakin jelas terdengar, membuat Arina yang sejak tadi sedang mengerjakan PRnya langsung beranjak untuk membukakan pintu.


"Ada apa? abang nggak lupa sama peraturan yang papa mama buat kan?" Tanya Arina saat mendapati Azan yang berdiri tepat di hadapannya.


"Kamu tenang aja, abang nggak amnesia kok!" Jelas Azan.


"Terus ngapain malam-malam ke kamar aku? mau di tebas tuh kepala sama daddy?"


"Ayo kita bicara di balkon atas!" Ajak Azan.


"Peraturan pertama nggak boleh masuk ke kamar setelah jam tujuh malam dan peraturan kedua nggak boleh berduaan di atas jam sembilan malam, dan abang tau kan jam berapa sekarang?" Jelas Arina yang mencoba mengingatkan Azan tentang peraturan yang dibuat oleh orang tua mereka.


"Abang tau, tapi abang benar-benar nggak bisa tidur sebelum menjelaskan kejadian tadi siang sama kamu!"


"Tidak ada yang harus di jelaskan, bukannya yang aku lihat tadi udah sangat jelas!"


"Ikut abang sekarang!" Desak Azan yang langsung menarik tangan Arina untuk ikut bersamanya.


"Bila ketahuan berduaan maka rambut abang akan di cukur sama mommy! dan aku nggak suka kalau abang jadi botak!" Jelas Arina yang sontak membuat Azan terdiam dengan tatapan kosong.


"Arin..." Ujar Azan.


"Semuanya udah jelas, dia yang ngajar abang, bukan abang yang dempet-dempet sama dia. Meski pun aku masih kecil tapi aku punya keahlian khusus kok, abang tau? aku bahkan bisa tau kalau abang sedang berbohong bahkan ketika abang hanya diam saja."


"Arin..."


"Udah sana balik ke kamar abang, aku juga harus menyelesaikan PR ku, selamat malam Pangeran ku!" Ujar Arina dengan senyuman manisnya.


"Selamat malam Permaisuri abang!" Ujar Azan lalu membiarkan Arina kembali ke kamarnya.


"Bocah itu, susah sekali aku menebak pemikirannya, aku hampir setengah gila memikirkan kejadian tadi, sedangkan dia.... wah, Arin ku benar-benar keren!" Ujar Azan lalu perlahan kembali ke kamarnya.


_______________


"Khmmmmmmmm!" Suara dehem keras Rakes membuat sang istri yang sedang merapikan toples-toples kue di atas meja tepatnya di ruang keluarga segera menoleh pada sang suami.


"Gimana? udah beres kerjaannya?" Tanya Zea yang langsung duduk di sebelah Rakes yang telah lebih dulu duduk di sofa.


"Hmmm,,," Jawab Rakes.


"Terus Rafeal sama abang Marvel mana?"


"Ya nemuin istri mereka dong, masak iya nemuin istri abang..."


"Chim chim...."


"Hmmmmmm, pasti ada maunya nih? kenapa?"


"Apa harus si duo tuyul ngikut jejak abang?"


"Ayah yang minta..."


"Tapi dia kan anak kita!"


"Mereka cucu ayah Iqbal, dan abang nggak bisa membantah apapun perintah ayah."


"Apa papa Hadi setuju?"


"Dia sportert terdepan!"


"Lagi pula kan mereka baru aja kelas satu SMA, apa nggak sebaiknya kita membiarkan mereka menentukan pilihan mereka sendiri?"


"Kamu tau apa jawaban Azan ketika Ayah memintanya untuk mejadi tentara?"


"Emang apa?"


"Terserah ayah mau menjadikannya apa yang penting jangan pernah pisahkan dia dengan Arina, bahkan dia juga tidak masalah kalau harus jadi gelandangan asal kita tidak menjauhkan Arina darinya."


"Dasar kang bucin, nggak kebayang kalau sampai Arina jatuh cinta sama orang lain, kayaknya bakal kiamat dunianya Azan. Terus gimana reaksi di otak batu?" Tanya Zea yang tiba-tiba penasaran dengan keputusan Uzun.


"Jika bisa menghasilkan banyak uang pekerjaan apa aja nggak masalah!" Jelas Rakes.


"Dasar mata duitan!"


"Ya nurun dari mommy nya kan?"


"Abang...apaan sih?"


"Nggak usah bela diri, kalian berdua emang sama..." Jelas Rakes lalu tertawa lepas.


"Apaan sih!" Cetus Zea lalu segera memeluk erat tubuh sang suami tercinta.


"Zea, jujur abang tidak pernah menuntut apapun dari mereka berdua, ini tentang hidup mereka maka merekalah yang punya hak paten dalam membuat keputusan, ayah Iqbal dan papa Hadi juga memberi pilihan, biar waktu yang menjawab bagaimana mereka akan tumbuh dan memilih jalan mereka." Jelas Rakes lalu mengecup lembut kening sang istri.


________________


"Kenapa masih menatap foto itu?" Tanya Rafeal yang perlahan mendekati Mariana.


Mariana yang masih duduk di sofa dekat jendela dengan terus menatap foto yang ada di tangannya. Di foto tersebut terlihat jelas sosok Marvel yang tertawa lebar lalu disisi kanannya ada Rakes yang sibuk dengan senjatanya lalu di sebelah kiri ada Rafeal yang masih slow mengancingkan seragamnya.


"Jika saja abang Marvel nggak pernah bertemu dengan kalian berdua, aku nggak tau apa yang akan terjadi dengan hidupnya, dan pastinya juga dengan hidup ku!" Jelas Mariana.


"Semoga saja kita akan selamanya bersama, aku bahagia punya teman sebaik Zea dan Kania dan juga punya abang seperti abang Marvel dan juga abang Rakes dan pastinya aku beruntung karena punya suami seperti kamu."


"Hmmm, semoga kita akan terus seperti ini, kita semuanya!" Ujar Rafeal yang langsung membawa Mariana kedalam pelukan hangatnya.


___________________


"Bagaimana dengan persiapan ulang tahunnya Shia?" Tanya Marvel yang langsung duduk di sebelahnya Kania yang terlihat asyik membungkus kado.


"Hampir sembilan puluh persen!" Jawab Kania.


"Apa masih seperti dulu?" Tanya Marvel lalu ikut membantu Kania.


"Abang tau sendiri kan gimana setianya anak gadis abang, kalau udah suka apapun yang terjadi dia akan tetap suka, kalau udah nyaman mau kita bilang apapun dia tetap tidak akan beralih."


"Abang nih yang bosan sama ungu, sampai abang jadi parno sendiri saat melihat warna ungu."


"Ya mau gimana lagi, Shia yang maunya gitu!"


"Kuenya juga?"


"Hmmmmm!"


"Huffff gara-gara tuyul bungsu itu, sampai-sampai anak gadis ku jadi penggila ungu!"


"Syyyyyyyyit! awas jangan sampai Shia dengar, bakal panjang urusannya!"


"Huffff! kayaknya emang abang yang harus ekstra sabar. Baiklah demi tuan putri tercinta papa, apapun akan papa lakukan!"


"So sweet!" Ujar Kania yang langsung mengecup pipi kanan Marvel.


"Lagi!"


"Apaan sih?"


"Nagih jatah!" Ujar Marvel manja dan segera bergeser semakin menempel pada Kania.


"Apaan sih?"


"Kangen..."


"Aku masih sibuk nih!"


"Udah ntar aja, kan suami harus di utamakan!"


Akhirnya Kania pun termakan dengan rayuan sang suami yang memang terus saja menempel padanya.


________________


"Mau latihan? sepagi ini?" Tanya Urshia yang menghampiri Uzun yang terlihat sibuk memasang tali sepatu bolanya.


"Iya, tiba-tiba aja jadwal latihannya di majuin!" Jelas Uzun yang masih saja sibuk.


"Latihan bola atau...." Ujar Urshia menggantung dia bahkan langsung duduk lesehan di dekat kaki Uzun.


"Kuyang mau ikut?" Tanya Uzun yang langsung mengarahkan pandangannya pada Urshia.


"Dasar Vampir!" Cetus Urshia.


"Kuyang..." Goda Uzun.


"Iiiih nggak lucu! berhenti memanggil Shia dengan sebutan hantu tanpa badan itu..." Gumam Urshia kesal.


"Loh kan biar romantis, Kuyang! Vampir!" Ujar Uzun sambil menunjuk kearah dirinya dan Urshia secara bergantian.


"Romantis dari mananya! yang satu nggak punya badan tinggal di Indonesia terus yang satunya lagi penghisap darah dan tinggalnya di China, Korea, lah kapan ketemunya? dimana romantis nya?"


"Ya justru karena itu lah yang membuat panggilan itu semakin romantis. Selamat pagi Kuyang abang tersayang!" Ujar Uzun dengan memamerkan gigi putihnya.


"Dasar Vampir gila, udah ah mending Shia sarapan."


"Kang Vampir berangkat ya Kuyang sayang, love Kuyang!" Seru Uzun.


"Bodo amat!" Cetus Urshia segera berlari masuk ke dalam rumah.


"Jadi makin gemes deh!" Ujar Uzun dan segera memasukkan sepatu bola ke dalam tas lalu segera berangkat.


__________________


Jangan lupa LIKE Comen vote😘


Stay terus sama My Princess 😘😘😘😘


Khamsahamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Oh ya manteman jangan lupa main ke novel baru aku ya,,,


🍁Xue_Lian🍁


Ditunggu kunjungannyaπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ™πŸ™