My Princess

My Princess
#136



"Rafeal....." Ujar Zea yang langsung berdiri saat melihat Rafeal menatap bingung kearah mereka bertiga, tubuh Rafeal mematung dengan jarak yang tak terlalu jauh dari posisi dimana Rakes, Marvel dan Zea berada.


Mendengar nama Rafeal disebut, membuat Marvel dan Rakes ikut menoleh kearah tatapan Zea, keduanya juga sontak ikut berdiri.


"Kenapa kalian di sini?" Tanya Rafeal yang kembali melangkah mendekati mereka bertiga.


"Kebetulan ketemu di sini tadi." Bohong Rakes.


"Ayo ke ruangan Kania!" Ajak Marvel.


"Stop!" Pinta Zea.


"Kenapa?" Tanya Rafeal.


"Aku benci suasana yang seperti ini!" Jelas Zea.


"Zea, apa maksud mu?" Tanya Rakes yang langsung menyentuh tangan Zea.


"Udah berhenti main drama! kalian tau? kalian bertiga butuh waktu untuk menyelesaikan semua cerita diantara kalian, jangan lagi menyembunyikan rasa saya dan kepedulian kalian terhadap satu sama lain." Jelas Zea.


"Tidak ada yang kami sembunyikan!" Tegas Marvel.


"Abang Marvel, memendam sesuatu terlalu lama tidak baik. Kalian bertiga bicaralah, biar aku yang jagain Kania." Jelas Zea yang langsung melepaskan tangannya dari genggaman Rakes dan lekas pergi meninggalkan ketiga sahabat tersebut.


"Aku rasa Zea ada benarnya. Oke, biar aku yang mulai!" Ujar Rafeal yang langsung duduk di kursi yang tadinya di tempati oleh Zea. Marvel dan Rakes pun ikut duduk.


"Sejak pertama datang sebagai teman Zea tiga tahun yang lalu, aku tidak sengaja melihat Kania, dan saat itu pula aku jatuh cinta padanya. Aku yang memiliki segudang kekurangan hanya berani mencintainya dalam diam. Hingga akhirnya Marvel membuktikan bahwa cinta butuh keberanian untuk menyatakannya. Aku memang mencintai Kania tapi sekalipun aku tidak pernah berniat untuk merebut Kania dari kamu, Marvel. Karena aku tau kamu adalah pilihan yang tepat untuk dia." Jelas Rafeal.


"Tapi kamu lebih dulu mencintainya!" Jelas Marvel.


"Apa ada aturan siapa yang lebih dulu mencintai lebih berhak untuk memiliki? lagi pula yang paling penting adalah Kania mencintaimu, bukan aku!" Jelas Rafeal.


"Tapi...."


"Tidak ada lagi yang harus dibahas tentang perasaan aku untuk Kania. Karena Kania hanya milik kamu, Marvel." Jelas Rafeal yang langsung menepuk pundak Marvel.


"Tenang, Ana masih single kok!" Ujar Rakes.


"Gimana? apa mau jadi abang ipar aku?" Tanya Rafeal.


"Nggak! nggak bakal nolak!" Seru Marvel yang langsung memeluk Rafeal.


"Yah, di kacangin deh!" Seru Rakes.


"Dasar!" Ujar Marvel kembali membuka kedua tangannya lalu merangkul Rakes yang duduk di samping Rafeal.


"Aufffff! sesak tau!" Jelas Rafeal yang berada di tengah keduanya.


Protes Rafeal justru membuat Marvel dan Rakes semakin mengeratkan pelukan mereka, hingga membuat beberapa orang yang lewat menatap aneh pada ketiganya.


"Jangan salah faham mbak!" Jelas Rafeal pada dua orang perempuan yang menatap ketiganya dengan tatapan yang begitu sinis.


"Pikirkan apa yang ingin kalian pikirkan!" Tegas Marvel yang masih begitu betah dengan posisi mereka.


"Aku cinta kalian bertiga!" Seru Rakes.


"Gila!" Cetus Rafeal.


"Dan soal....."


"Aku udah tau sejak dulu! semuanya." Jelas Rafeal.


"Tentang biaya siswa?" Tanya Marvel.


"Hmmmmmm! tentang biaya siswa, tentang hutang." Jawab Rafeal.


"Udah slow, aku sudah jelaskan semuanya sejak saat pertama kamu melakukannya." Jelas Rakes.


"Dasar mulut ember!" Cela Marvel.


"Biarin!" Cetus Rakes.


"Terima kasih Marvel, dan juga Rakes, terima kasih karena kalian mau menjadi sahabat aku, karena kalian selalu membantu aku. Jika saja saat tawuran waktu SMA duku kita tidak berjumpa mungkin saat ini hidupku entah jadi apa! jadi gelandangan mungkin!" Jelas Rafeal yang kembali mengingat pertemuan antara dirinya dan Marvel.


"Aku jadi penasaran bagaimana pertemuan kalian berdua." Ujar Rakes.


"Aku pemimpin tawuran dari SMA aku, dan kebetulan hari itu Marvel ikut tawuran, sekolah kami terlibat dalam satu masalah dan berakhir dengan aksi tawuran. Saat itu Marvel benar-benar datang bak pangeran, orang kalau mau tawuran kan gayanya ugal-ugalan, biar kayak preman eh dia datang dengan seragam yang begitu rapi lengkap dengan dasi, sepatu mengkilap, behhhh menggoda, aaaahhhh baru ingat pantas penampilannya kamu gitu pas waktu itu, eh ternyata anak orang kaya nomor satu!" Jelas Rafeal.


"Polos banget sih kamu! coba aja aku ada di situ waktu itu! sayang kita ketemunya sedikit terlambat!" Jelas Rakes.


"Udah nggak usah dibahas!" Ujar Marvel.


"Kenapa? cerita kalian seru kok!" Jelas Rakes.


"Rakes, nih aku kasih tau ya, pas waktu tawuran itu...." Jelas Rafeal terhenti.


"Aku bilang stop!" Perintah Marvel.


"Apaan sih! lanjut, lanjut!" Jelas Rakes.


"Aku bilang hentikan!" Gumam Marvel.


"Waaaah! anak sulthan ngamuk nih!" Goda Rakes dan Rafeal lalu tertawa puas.


"Lanjutkan ceritanya!" Pinta Rakes yang begitu penasaran.


"Aku bilang hentikan!" Gumam Marvel yang segera berlari mengejar kedua sahabatnya.


_____________________


"Hai.....!" Sapa Roger dengan nafas yang masih ngos-ngosan akibat berlarian dari halaman depan hingga ke halaman belakang rumah, semua itu ia lakukan karena ia baru saja tau kalau Zea sedang ada di rumah.


"Abang Roger!" Ujar Zea yang segera bangun dari ayunan tempat dimana ia sedari tadi berbaring menikmati angin sore di halaman belakang rumah sang mertua.


"Kenapa bangun?" Tanya Roger yang duduk di sebelahnya Zea.


"Karena emang mau duduk!" Jelas Zea.


"Nih abang bawakan makanan favorit kamu!" Jelas Roger sambil memamerkan bawaannya.


"Siomay?"


"Iya!"


"Waaaaaaah!" Ujar Zea yang langsung mengambilnya.


"Ayo kita makan!" Ajak Roger.


"Abang Roger...."


"Iya Queen!"


"Aku...."


"Untuk saat ini jadilah Zea sebagai adik abang, ayo kita makan!" Ajak Roger.


"Oke, ayo!" Ajak Zea yang segera masuk kedalam rumah bersama Roger.


"Duduklah! biar abang yang ambilkan mangkok dan sendoknya!" Jelas Roger yang langsung menarikkan kursi untuk Zea.


"Terima kasih!" Ucap Zea yang langsung duduk.


Roger segera mengambil peralatan makan lalu kembali dengan membawa dua mangkok siomay dan dua gelas air putih.


"Ayo makan!" Ajak Roger setelah meletakkan bawaannya di meja dan ikut duduk di samping Zea.


"Selamat makan!" Ujar Zea yang langsung menyantapnya.


"Zea, makannya pelan-pelan dong!" Ujar Roger yang sejak tadi memang terus saja memperhatikan Zea.


Roger langsung mengambil tisu lalu mencoba untuk membersihkan mulut Zea. Apa yang Roger lalukan sontak membuat Zea menghentikan aksi makannya lalu segera mengambil alih tisu dari tangan Roger.


"Aku bisa sendiri!" Tegas Zea.


"Zea...."


"Hmmmmm!"


"Tentang kejadian waktu itu, abang minta maaf! tentang semua kesalahan abang terhadapmu, abang juga minta maaf! bagaimanapun abang benar-benar tidak bisa kehilanganmu, ntahlah Zea, hanya kamu Queen yang ada di hati abang!" Jelas Roger yang perlahan menyentuh tangan Zea.


"Abang lepas!" Tegas Zea yang langsung menarik tangannya dari tangan Roger.


"Zea...!" Ujar Rakes yang hendak kembali menyentuh tangan Zea.


"Aku bilang hentikan!" Tegas Zea yang segera bangun menghindari Roger.


Zea yang tiba-tiba bangun, sampai tidak bisa mengendalikan dirinya, ia yang berusaha menjauh dari jangkauan Roger membuat kakinya tanpa sengaja membentur kaki kursi.


"Awwwwww!" Jerit Zea yang langsung menunduk untuk mengecek jari kakinya yang kesakitan.


Teriakan Zea membuat Erina yang sedang berada di ruangan lain segera berlari ke dapur, sedangkan Rakes yang tadinya tertidur di sofa juga ikut terjaga dan langsung berlari mencari asal suara jeritan Zea.


"Zea....!" Ujar Erina yang segera menghampiri Zea.


Roger mencoba untuk mendekati Zea namun langsung di hadang oleh Rakes.


"Biar abang yang urus istri abang!" Tegas Rakes yang langsung menggendong Zea lalu membawanya ke kamar.


"Roger, katakan sama mama, apa yang terjadi?" Tanya Erina.


"Percuma aku jelaskan toh mama nggak akan percaya sama aku kan?"


"Roger!"


"Ma, aku nggak melakukan apapun pada Zea, tadi itu murni kecelakaan. Dan soal aku dan Zea, aku harap mama bisa memahaminya, She is my Queen, ma!" Jelas Roger dan lekas pergi meninggalkan Erina begitu saja.


"Apa yang harus mama lakukan? Roger, maafkan mama! maafkan mama!" Ungkap Erina yang menatap sendu punggung Roger yang perlahan menghilang dari pandangannya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️