
"Boleh abang minta waktunya sebentar?" Tanya Rakes.
Zea yang terlihat begitu fokus dengan buku bacaannya, seketika beralih menatap Rakes yang kini berdiri tepat dihadapannya.
Zea melipat lembaran buku, lalu menutupnya rapat, setelah meletakkan buku kembali pada raknya, Zea beranjak dari kursi lalu ikut berdiri di sisi Rakes.
"Dua puluh empat jam pun boleh, semua waktu milik Zea adalah milik Chim chim. So, ada apa?" Tanya Zea dengan nada yang dibuat manja sedemikian rupa lalu perlahan menyentuh ujung kaos yang Rakes kenakan.
Rakes menarik nafas berat lalu membuangnya kasar, tangan kanan Rakes memijit pelan keningnya sendiri, lalu geser dua langkah menjauhi Zea.
"Abang ingin bicara hal serius!"
"Aku jauh lebih serius!" Tegas Zea yang kembali mendekat.
"Zea! tolong dengarkan abang, sebentar saja." Pinta Rakes yang langsung menatap intens mata Zea.
"Seserius itu kah? jangan buat aku merinding!"
"Ayo duduk!" Ajak Rakes yang kini beranjak duduk di kursi yang ada diruang buku tersebut.
"Apa ini tentang pernikahan kita?" Tanya Zea yang mulai khawatir.
"Duduklah!" Pinta ulang Rakes karena Zea masih saja berdiri.
"Seketika kaki aku kaku, aku sama sekali nggak bisa gerak lagi. Jika Chim chim mau aku duduk, so..." Penjelasan Zea menggantung, ia tidak melanjutkan ucapannya lagi, yang ia lakukan adalah merentangkan kedua tangannya lebar sambil mengedipkan mata kirinya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan pernikahan kita, ini tentang Fadhil."
"Fadhil? cowok kurang ajar yang menculik aku waktu itu kan?" Tanya Zea yang langsung emosi saat mendengar nama Fadhil di sebut.
"Iya, abang ingin bicarakan tentang dia sama kamu!"
"Kenapa? apa Chim chim tidak bisa membuat dia mendekam di dalam penjara sampai dia membusuk di sana?"
"Zea! tolong dengarkan abang dulu."
"Apa yang mau Chim chim bicarakan? apa dia tidak bisa di hukum? atau dia melarikan diri? kalau begitu biar aku sendiri yang akan membalas semua perbuatannya terhadap ku!"
"Oke, abang paham! kamu korban dan dia pelakunya, tapi tetap saja semuanya ada sebab musabab, jadi tolong, dengarkan dulu penjelasan abang!"
"Apa yang mau abang jelaskan?"
"Semua kejadian waktu itu tidak sepenuhnya karena Fadhil, sama halnya seperti kamu, dia juga korban."
"Korban? apa Chim chim bercanda? siapa yang Chim chim sebut korban?"
"Jangan menghakimi seseorang tanpa tau cerita apa yang telah ia lalui hingga ia jadi seperti sekarang ini. Terkadang kini juga salah dalam menerka, dia yang berbuat jahat adakalanya ia melakukan perbuatan tersebut dengan penuh pertimbangan dan juga paksaan."
"Aku rasa jalan pikiran kita berbeda, bagi aku Fadhil tetap pelaku kejahatan. Aku tidak mau menggali lebih dalam tentang dia, yang jelas perbuatan dia salah, dan aku tidak akan memaafkannya!"
"Zea, apa kamu pernah melakukan sesuatu yang sama sekali tidak kamu suka, tapi kamu harus melakukannya demi orang yang kamu sayangi?"
"Apa hubungannya dengan aku?"
"Begitulah hidup yang harus Fadhil jalani."
"Cukup! aku tidak ingin membahas tentang dia lagi!" Tegas Zea.
"Abang harus membahasnya, karena setelah ini dia akan tinggal bersama kita."
"Apa? apa aku salah dengar atau Chim chim yang sedang tidak waras?"
"Dia akan tinggal di rumah ini."
"Konyol! aku akan protes sama ayah, lagian ini rumah bukan tempat penampungan."
"Om Iqbal dan tante El sudah menyetujuinya. Zea, demi abang tolong biarkan dia tinggal rumah ini."
"Tapi aku tidak setuju! sampai kapanpun aku tidak akan mengizinkan dia tinggal di sini!" Tegas Zea yang beranjak pergi.
Rakes berusaha untuk mencegah Zea, namun yang ada Zea malah dengan kasar mendorong tubuh Rakes, hingga tanpa disengaja tubuh Rakes malah membentur rak buku hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Awwww!" Gumam Rakes sambil menyentuh bagian perutnya.
Mata Rakes segera menoleh pada perutnya yang terasa begitu perih dan darah yang mulai menetes membasahi tangannya. Rakes mengintip bekas jahitan dengan mengangkat sedikit kaos yang menutupi lukanya.
"Chim chim!" Seru Zea khawatir kerena melihat keadaan Rakes karena tingkah egoisnya barusan.
Zea segera mengikuti Rakes yang lebih dulu kembali ke kamarnya.
Dengan sigap Rakes kembali mengobati lukanya, bahkan ia harus menjahitnya ulang karena dua jahitan terputus hingga membuat darah begitu semakin keluar.
Tubuh Zea mematung dengan pandangan yang terus tertuju pada Rakes, bahkan dengan perlahan air mata Zea mulai membasahi pipi indahnya.
Setelah selesai dengan aksinya terhadap penanggulangan luka, Rakes baru menyadari keberadaan Zea yang berdiri diambang pintu sana.
"Masuklah!" Pinta Rakes setelah menurunkan kembali kaos hingga menutupi bagian lukanya.
Zea seakan tidak terusik dengan ucapan Rakes, ia masih saja berdiri di sana, hingga akhirnya Rakes yang memutuskan untuk mendekati Zea.
"Stop!" Teriak Zea lantang membuat Rakes segera menghentikan langkahnya.
"Kenapa menangis? apa kamu masih marah sama abang?" Tanya Rakes kebingungan.
"Mulai sekarang jagalah jarak dari aku, karena aku tidak ingin kembali melukai Chim chim!" Tegas Zea dengan menundukkan kepalanya.
"Hei! ini bukan karena kamu, ini karena abang sendiri, lagi pula lukanya udah membaik kok!"
"Tapi....!"
"Jangan buat jarak yang malah membuat abang semakin tidak bisa mengendalikan diri abang."
"Soal Fadhil...."
"Abang paham, abang ngerti perasaan kamu, tapi Fadhil butuh bantuan kita, saat ini dia butuh kita."
"Apa dia benar-benar anak ayah?"
"Mustahil, karena hanya kamu satu-satunya darah daging om Iqbal."
"Lalu kenapa ayah membawanya ke rumah ini?"
"Dia butuh om Iqbal, tante El, abang dan juga kamu." Jelas Zea.
"Bagaimana kalau dia justru mengkhianati kita semua?"
"Maka abang sendiri yang akan membunuhnya!"
"Janji, jangan berikan lagi kesempatan kedua jika nanti dia berbuat salah lagi!"
"Abang janji, My Princess, Jannati, zaujati!" Ujar Rakes.
"Love Chim chim forever!" Ucap Zea dengan senyuman lebar penuh kebahagiaan.
_________________
Pagi yang cerah, meja makan telah di penuhi dengan berbagai macam ragam makanan dan minuman yang akan memanjakan perut dan para penghuninya. Elsaliani dan Rakes telah bersiap di depan meja, hingga akhirnya Zea ikut bergabung meski harus dengan berlarian menuruni tangga sambil memasang peniti pada jilbabnya.
"Waaaah, sedap banget!" Seru Zea yang langsung mengambil posisi disebelah kanannya Elsaliani.
"Selalu saja telat, ya udah ayo kita sarapan!" Ajak Elsaliani.
"Ayah mana, uma?" Tanya Zea.
"Semalam nggak pulang, katanya ada hal mendesak yang harus di urus." Jelas Zea
"Kenapa? kangen sama ayah ya? selamat pagi semuanya!" Ujar Iqbal yang baru saja pulang.
"Nggak tuh!" Cetus Zea yang langsung menyantap nasi goreng yang ada di atas piringnya.
"Zea, El, Rakes!" Ujar Iqbal yang membuat ketiganya segera menoleh pada Iqbal.
"Ini Fadhil untuk saat ini dia akan tinggal bersama kita!" Jelas Iqbal.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya 😉😉
Stay terus sama My Princess 😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️