
"Aku nggak telat kan?" Tanya Rafeal dengan nafas ngos-ngosan.
Kedatangan Rafeal yang tanpa kabar membuat semua mata langsung menatap sosoknya yang masih terus berjalan mendekati meja tempat yang lainnya berkumpul. Melihat kedatangan Rafeal membuat Ivent langsung bangun dari kursinya, ia langsung berdiri tegap menghadap Rafeal, melihat gerak Ivent membuat Rafeal terus mendekat lalu memeluknya.
"Jadi ini nih bocah yang mengisi tempat aku di club kita?" Tanya Rafeal. Tangan Rafeal langsung memberi kode dengan menepuk pundak Ivent membuat Ivent lekas menyadari situasi dimana mereka berada.
"Iya, hmmmm!" Ujar ivent.
"Siapa yang ngundang tuh mantan teman?" Tanya Rayyan yang masih menatap tajam pada Rafeal.
"Aku! nggak masalah kan?" Jelas Zea.
"Udah aku tau kalian semua begitu merindukan aku, terutama dompet Taufan, iya kan? ayo makan!" Jelas Rafeal yang langsung duduk dan menyantap makanan yang ada di meja.
"Dasar tukang makan!" Cetus Bian.
"Kenapa pindah tanpa pamit?" Pertanyaan Namira sontak membuat Rafeal menghentikan aksi makannya.
"Maaf, ada masalah keluarga, jadi aku harus ikut keputusan keluarga." Bohong Rafeal.
"Setidaknya beri kami kabar, setelah ini aku mau kita tetap berhubungan meski hanya lewat sosial media, paham?" Jelas Taufan.
"Siap boss!" Seru semuanya serentak.
"Ayo makan!" Ajak Bian.
Semuanya langsung menyantap makan siang mereka, mereka menghabiskan semua hidangan sambil bercanda ria.
"Ada hal yang ingin aku katakan!" Jelas Zea yang tiba-tiba jadi serius.
"Ada apa?" Tanya Rayyan khawatir.
"Apa ini tentang balapan?" Tanya Bian bersemangat.
"Apa ada cerita yang aku lewatkan?" Tanya Rafeal.
"Apa kamu juga mau pindah?" Tanya Namira.
"Aku nggak pindah kemana-mana kok!" Jelas Zea.
"Lalu?" Tanya Taufan yang kini begitu fokus pada Zea.
"Zea...!" Ujar Ivent mencoba menyadarkan Zea yang mulai termenung.
"Mulai semester depan, aku akan homeschooling." Jelas Zea.
"Apa???" Tanya Namira dan Bian serentak.
"Udah santai, aku cuma homeschooling doang kok, kita masih bisa jalan bareng main bareng, dan kalian masih tetap teman aku." Jelas Zea.
"Kenapa?" Tanya Rayyan.
"Ini keputusan ayah!" Jelas Zea.
"Kalau udah di sebut nama kapten Iqbal mah udah kelar, nggak ada lagi yang harus di bahas, harus oke, yah meski mau nggak mau." Jelas Rafeal.
"Tapi pasti om Iqbal punya alasan kan?" Tanya Taufan.
"Pasti! tapi ayah tidak mau memberi tau aku apa alasannya, lagi pula kita akan tetap sama-sama kok." Jelas Zea.
"Kalau begitu hari ini kita akan puas-puasin main ke semua tempat, kita rayain hari libur kita!" Jelas Bian.
"Oke!" Seru Rafeal penuh semangat.
"Oke, tujuan pertama, mau kemana?" Tanya Taufan.
"Pertama? berarti akan ada ke selanjutnya dong?" Tanya Namira.
"Pasti, ayo kita gunakan waktu bersama kita dengan hal yang menyenangkan!" Ajak Taufan.
"Ayo ke laut!" Ajak Zea.
"Zea....!" Seru Ivent dan Rafeal hampir bersamaan.
"Kenapa?" Tanya Rayyan yang memerhatikan tingkah Rafeal dan Ivent yang terlihat mencemaskan Zea.
"Kenapa apanya?" Tanya Rafeal.
"Kalian? apa ada....." Penjelasan Rayyan langsung di selip oleh Zea.
"Buruan!" Desak Zea kini bahkan sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Siap big bos! let's go!" Seru Bian yang segera menyusul Zea.
"Ayo berangkat, setelah ke laut kita akan melanjutkannya ke gunung!" Seru Taufan.
"Bakal seru banget, jadi nggak sabaran." Ujar Namira yang begitu girang mendengar kata gunung.
"Berangkat!" Seru Taufan.
Ketujuhnya segera meluncur ke tempat tujuan.
______________________
Tepat pukul Sembilan malam Zea baru tiba di rumah dengan diantar oleh Rafeal. Di teras keduanya langsung di sambut oleh Rakes dan Iqbal.
"Dari mana aja kalian?" Tanya Iqbal yang langsung membuat Rafeal berdiri tegap.
"Mereka liburan bersama tadi." Jelas Rakes.
"Tapi kalian berdua tau kan ini udah jam sembilan?" Tanya Iqbal lagi.
"Ayah, mereka udah izin sama aku kok, lagi pula hari ini terakhir Zea sekolah sama teman-temannya." Jelas Rakes.
"Aku menjaga princess dengan baik!" Lapor Rafeal.
"Ayah, aku oke. Ayo kita masuk!" Ajak Zea yang langsung memeluk Tubuh Iqbal.
"Jangan ulangi lagi, ayah tidak suka. Dan kamu Rafeal, jangan bawa Zea keluar di atas jam enam sore." Jelas Iqbal.
"Siap kapten!" Tegas Rafeal.
Iqbal langsung masuk bersama Zea meninggalkan Rafeal dan Rakes yang masih betah berada di teras.
"Cuma ke laut aja?" Tanya Rakes.
"Iya, beneran. Rencananya mau lanjut ke gunung tapi nggak keburu!" Jelas Rafeal.
"Apa kamu menjaga Zea dengan baik?"
"Pastinya dong, kan aku juga nggak mau kalau sampai calon istri aku kenapa-kenapa!" Jelas Rafeal.
"Iya Daddy mertua." Jelas Rafeal dengan senyuman lebar.
"Mertua, ihhhh nggak banget deh! aku nggak sudi jadi mertua buat orang konslet seperti kamu." Jelas Rakes.
"Eyyyy jangan gitu dong daddy mertua." Goda Rafeal.
"Jika pun Raze Junior adalah cewek aku nggak akan menjadikannya pasangan mu, orang tua mana yang mau anaknya menikah dengan lelaki yang seumuran dengan ayahnya lebih-lebih laki-laki nggak jelas!" Jelas Rakes.
"Waaaaah, mulai sadis tuh mulut." Cetus Rafeal kesal.
"Makanya buruan tuh lo ikat Mariana diselip orang baru nangis darah nantinya." Jelas Rakes.
"Mariana? ogah!"
"Dari benci jadi cinta tuh judulnya!" Jelas Rakes.
"Jangan ngaco!" Cetus Rafeal.
"Ingat jangan sampai nyesel, aku masuk, selamat malam!" Jelas Rakes yang langsung masuk ke dalam rumah.
"apa iya aku bisa menggantikan Kania dengan Mariana? aku rasa aku tidak bisa melakukannya. Nggak ada yang bisa memalingkan hati ini dari Kania, nggak akan ada." Tegas Rafeal pada dirinya sendiri dan lekas pulang.
____________________
"Kamu habis mandi? keramas?" Tanya Rakes yang mendapati Zea keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuh dan kepalanya. Dalam sekejap Rakes sudah berada tepat di hadapan Zea.
"Iya." Jawab Zea yang masih sibuk membenarkan handuk di kepalanya.
"Jangan ulangi lagi!" Tegas Rakes dan segera menuntun Zea untuk duduk dipinggir kasur.
"Chim chim, tadi kan aku udah minta izin, lagi pula tadi itu aku liburan sama pasukan aku, dan ada Rafeal juga Ivent yang mengawal aku di setiap detik." Jelas Zea.
"Bukan liburannya." Jelas Rakes yang perlahan membantu Zea mengeringkan rambut dengan handuk kecil yang sedari tadi membungkus rambutnya.
"Lalu?" Tanya Zea yang segera menatap Rakes.
"Jangan mandi malam, lebih-lebih kamu keramas, nggak baik buat kamu dan Raze Junior."
"Siap komandan!" Seru Zea.
"Mau kemana?" Tanya Rakes saat Zea beranjak dari sisinya.
"Ya mau pakai baju!" Jawab Zea.
"Ayyo!" Ajak Rakes.
"Kemana?"
"Ya pakai baju."
"Chim chim sengaja ya mau menggoda aku?"
"Maksudnya?"
"Atau sekalian aja, biar nggak buang buang waktu buat pakai buka baju." Goda Zea.
"Sekalian apa?"
"Tuh kan pura pura polos! masak iya itu aja harus di jelasin."
"Buruan pakai baju!" Perintah Rakes yang langsung bergegas ke ruang ganti.
"Chim chim, kayaknya aku mulai ngidam deh!" Lapor Zea setelah memakai baju yang ada di tangan Rakes.
"Kamu ngidam apa? biar abang belikan sekarang."
"Nggak bisa di beli!"
"Kalau gitu biar abang masakin!"
"Aku nggak ngidam makanan!"
"Terus apaan?"
"Malam ini aku pengennya tidur di paha Chim chim!"
"Beneran cuma itu aja? kamu yakin nggak ngidam pengen makan sesuatu yang aneh-aneh gitu?"
"Seperti?"
"Ya makanan langka gitu, atau buah yang asam, mangga muda misalnya!"
"Kayaknya keinginan Raze Junior berkelas deh, ayo buruan! Chim chim nggak mau kan kalau nanti Raze Junior ileran gara gara keinginannya nggak terpenuhi." Jelas Zea.
Rakes langsung mengangkat tubuh mungil Zea lalu membawanya ke tempat tidur.
Rakes duduk dengan bersandar pada kepala ranjang lalu Zea berbaring dengan kepala yang beralaskan paha Rakes.
"Good night daddy!" Ujar Zea dengan senyuman menawan.
"Good night my princess!" Ujar Rakes sambil mengusap lembut bagian poni Zea.
Zea memejamkan matanya, ia yang begitu lelah karena seharian asyik menghabiskan waktu bersama para sahabatnya seketika langsung tertidur pulas.
Rakes yang masih terjaga dengan mata yang tak bisa berhenti menatap wajah Zea, ia bahkan masih di posisi semula saat jarum jam tepat terhenti di angka dua yang artinya saat ini sudah jam dua pagi.
Zea sedikit menggeliat hingga membuat kepalanya terjatuh keatas kasur. Perlahan tangan Rakes kembali membawa kepala Zea keatas pahanya.
"Apa sejak tadi Chim chim nggak tidur?" Tanya Zea yang terjaga karena sentuhan Rakes.
"Abang tidak bisa tidur, mata abang hanya ingin menatap kamu terus menerus."
Zea segera bangun, kedua tangannya segera memeluk tubuh Rakes.
"Ayo tidur!" Ajak Zea yang menempelkan wajahnya di dada bidang Rakes.
"Perintah di laksanakan!" Ujar Rakes yang langsung memejamkan matanya setelah menempelkan dagunya di kepala Zea.
"Tidurlah, sebelum aku menyerang!" Jelas Zea yang semakin mengeratkan pelukannya.
Tangan Rakes dengan lembut mengusap punggung Zea, keduanya begitu menikmati kebersamaan mereka yang terasa begitu manis.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️