
"Manis banget, love you Jannati!" Ungkap Rakes dengan mata yang terus mencari setiap Exspesi yang terpancar dari wajah pucat Zea.
"Apa yang terjadi? kenapa Chim chim mencium ku?" Tanya Zea masih dengan mata yang melotot.
"Apa abang tidak boleh melakukannya?"
Jawaban Rakes sontak membuat Zea bergedik ngeri lalu segera bangun menjauh dari Rakes. Rakes tersenyum lalu ikut bangun dan perlahan melangkah mendekati Zea.
"Apa Chim chim mengalami geger otak? kenapa menyerang aku? padahal biasanya selalu marah setiap kali aku serang!" Jelas Zea.
"Abang rindu!" Jelas Rakes yang kian mendekat lalu meraih tangan Zea.
"Chim chim jangan pancing aku? aku sekarang lagi berbaik hati, jadi sebelum aku balik menyerang lebih baik Chim chim berhenti, atau semuanya akan terjadi dan Chim chim pasti akan menyesalinya!" Jelas Zea dengan terus menatap intens bola mata Rakes.
Rakes hanya tersenyum, lalu mendorong tubuh Zea hingga terjatuh ke atas tempat tidur diikuti dengan tubuh Rakes yang mencoba menindih tubuh Zea. Rakes terus berusaha mencari posisi ternyaman, ia terus menghirup aroma rambut Zea yang tergerai begitu saja, semakin lama hembusan nafas Rakes yang memburu semakin terasa di bagian leher jenjang Zea yang terekspos sempurna karena memang Zea sedang tidak mengenakan jilbab.
"Chim chim!" Panggil Zea yang mencoba menghentikan aksi Rakes yang semakin brutal.
Tangan Zea terus berusaha mendorong kedua bahu Rakes namun semuanya percuma, hingga pada menit selanjutnya tubuh kekar Rakes terkulai tak sadarkan diri dengan posisi menindih tubuh Rakes, hal tersebut cukup membuat Zea sesak nafas dan kewalahan karena harus menahan tubuh kokoh nan kekar milik Rakes.
"Chim chim, apa sekarang Chim chim ketiduran? setelah membuat aku kewalahan dan salah tingkah eh ujung-ujungnya malah tidur, dasar pria tak bertanggung jawab!" Maki Zea kesal.
Dengan bersusah payah akhirnya Zea berhasil mendorong tubuh Rakes hingga terjatuh ke sebelahnya. Rakes masih saja tertidur pulas, membuat Zea bergumam kesal.
"Oke, aku bakal balas dendam!" Seru Zea yang segera bangun dan duduk dengan menghadap pada tubuh Rakes yang sedang tertidur pulas.
"Jadi gini rasanya tabrakan bibir? manisnya, pengennya nabrak lagi, tau gini kejadiannya, mending abang geger otak benaran aja sekalian, biar aku untung besar." Jelas Zea dengan mata yang yang tidak bisa beranjak dari wajah Rakes.
"Zea! dosa loh, berhenti!" Tegas Zea mencoba memperingati darah mudanya yang terus menggebu keluar, meneriakkan sisi mesumnya agar lekas beroperasi dengan target yang ada di depan mata saat ini.
"Hmmmmm,,, tapi kalau di biarkan aja mubazir dong, colek sedikit sepertinya nggak masalah deh, sedikit, sedikit, sedikit aja boleh kan?" Jelas Zea yang kembali berdebat dengan dirinya sendiri.
Perlahan Zea kembali mengarahkan tangannya, kali ini bukan wajah tapi dada Rakes yang jadi sasaran, meski sesekali terhenti akhirnya Zea sukses menyentuh dada kotak-kotak milik Rakes hingga membuat sang empunya menggeliat beberapa kali meski pada alhirnya kembali tertidur nyenyak.
"Apa ini mimpi? kenapa terasa begitu nyata? Chim chim tolong jangan penjarakan aku karena tuduhan Pelecehan terhadap tubuh polos mu, bagaimana bisa aku menyia-nyiakan keindahan yang sudah ada di depan mata. Kamu juga nggak pernah lihat kucing yang berlalu begitu saja pada hal jelas ada ikan yang begitu menggiurkan di depan mata, begitu pula dengan aku, aku tidak mungkin melewatkan hal langka seperti ini!" Jelas Zea yang kembali menyentuh kancing kemeja Rakes lalu perlahan kembali membukanya.
"Zea...." Ujar Rakes pelan dengan tangan yang menahan penggerakan tangan Zea.
"Chim chim!" Seru Zea panik.
"Boleh abang mencium mu lagi?" Tanya Rakes dengan raut wajah yang begitu polos seolah tanpa dosa.
"Abang Rakes!" Ujar Zea pelan yang langsung memejamkan matanya.
"Syitssssss!" Ujar Rakes meminta agar Zea segera diam.
"Ada yang datang, pakek kerudung mu!" Lanjut Rakes.
Hanya selisih beberapa detik setelah Zea mengenakan kerudung birunya, setelah itu pintu kamar terbuka dari luar, sosok Fadhil terlihat jelas dari balik pintu sana.
Mendapati Rakes yang sedang bersama Zea membuat Fadhil panik seketika, langkahnya pun segera terhenti dengan mata yang seakan terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lihat benar adanya, dia tidak sedang berhalu, tapi memang Rakes tepat berada di samping Zea.
"Fadhil berhenti, sebelum aku mematahkan tanganmu itu!" Ancam Zea dengan kaki yang hendak turun dari tempat tidur.
Sebelum Zea gerak, Rakes telah lebih dulu menarik Zea kembali ke sisinya.
"Apa kamu butuh adegan yang lebih romantis?" Tanya Rakes bersamaan dengan tangan yang langsung mendekap erat pinggang ramping Zea.
"Abang!" Ujar Zea.
"Konyol!" Seru Fadhil yang kembali memotret.
"Aku bisa lebih romantis, jadi bersiaplah untuk menjadi fotografer yang handal!" Jelas Rakes yang kian mendekat dan hendak mencium Zea.
"Abang cukup! ayah bisa menggantung aku dan Abang hidup hidup jika melihat semua ini!" Tegas Zea yang begitu terlihat panik.
"Dasar cowok brutal!" Gumam Fadhil dengan raut wajah yang begitu di penuhi emosi.
Tanpa bisa menahan diri lebih lama lagi, Zea langsung melepaskan tubuhnya dari dekapan Rakes, dengan cepat melangkah mendekati Fadhil lalu segera melayangkan tinjunya dan mendarat sempurna di pipi kanan Fadhil, membuat Fadhil meringis kesakitan.
"Jangan pernah menghina abang Rakes!" Gumam Zea yang terlihat begitu marah, bahkan wajah Zea terlihat sangat mengerikan, tatapan tajamnya seakan menembus kedua mata Fadhil.
"Lalu apa namanya? ahaa oke, aku ralat, bukan brutal? tapi mesum, ********? sampah atau mungkin physcopat?" Ujar Fadhil dengan tatapan sinis.
"Apa menyentuh hak mu sendiri juga di sebut ********?" Tanya Rakes yang masih begitu santai di posisi semula.
"Abang berhentilah! kembali ke kamar abang, aku akan mengurus dia." Jelas Zea yang kini beralih menatap Rakes dengan penuh harap.
Dengan senyuman Rakes beranjak bangun lalu melangkah mendekati Zea dan Fadhil.
'Cup' "Aku yakin kamu pasti butuh adegan ini untuk bisa lebih meyakinkan!" Ujar Rakes setelah mengecup kilas bibir Zea.
"Abang!" Seru Zea yang semakin kesal.
"Ada yang salah? apa abang melakukan hal yang salah?" Tanya Rakes.
"Sejak kapan abang jadi seperti ini? kenapa terus menyentuh aku? pada hal biasanya terus menghindari sentuhan aku." Jelas Zea.
"Karena dulu sentuhan kamu menjadi maksiat untuk kita, tapi sekarang sentuhan abang adalah hal yang wajar, apa menyentuh istri sendiri itu dilarang dalam agama kita?" Tanya Rakes yang sukses membuat syok Fadhil dan Zea.
"Istri?" ulang Fadhil dan Zea hampir bersamaan dengan mata yang tidak bisa berhenti menatap wajah Rakes, mencoba mencari kebenaran yang sebenarnya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ