
Part# πRafeal&Marianaπ
"Mau di bawa kemana bi?" Tanya Mariana saat melihat bi Maya membawa nampan yang berisi mangkuk bubur dan segelas air putih.
"Mau mengantar sarapan untuk tuan Rafeal, non." Jelas Maya.
"Biar aku yang bawakan." Pinta Mariana yang langsung mengambil alih nampan dari tangan Maya.
"Tapi non, tuan besar dan nyonya menunggu non di meja makan." Jelas Maya.
"Bilang sama mami dan papi aku sarapan di atas sama Rafeal." Jelas Mariana dengan senyuman lebar.
"Tapi non...." Sanggah Maya.
"Udah biarin aja bi, ayo bi kita ke meja makan!" Ajak Marvel yang langsung merangkul Bi Maya untuk ikut bersamanya.
"Ooooo bibi paham sekarang, ya udah semoga kencan non Ana sukses, semangat!" Ujar Maya dengan begitu semangat.
"Bibi emang the bets!" Seru Mariana dan lekas menaiki tangga.
"Wah jadi nggak sabar!" Ujar Maya sambil terus mengikuti langkah Marvel menuju dapur.
"Nggak sabar apa nih bi?" Tanya Marvel.
"Nggak sabar ingin melihat rumah ini rame, pasti bakal sangat menyenangkan jika non Kania juga tinggal di sini, terus semakin rame dengan adanya tuan muda Marvel Junior dan juga non Ana Junior." Jelas Maya.
"Bi maya..." Ujar Marvel.
"Pasti akan sangat menyenangkan, iya kan Tuan muda? semoga Tuan muda dan non Kania segera menikah dan disusul oleh non Ana dan Tuan Rafeal." Jelas Maya sambil mengusap lembut lengan Marvel lalu tersenyum bahagia.
"Semoga saja harapan bi Maya segera jadi kenyataan." Ujar Marvel pelan bahkan Maya sama sekali tidak bisa mendengarkannya.
"Ayo bi kita sarapan!" Ajak Marvel yang kini ikut bergabung dengan papi dan maminya di meja makan.
"Ana mana bi Maya?" Tanya Aryani.
"Lagi PDKT mi!" Jelas Marvel dan langsung meneguk kopinya.
"Berita hot, biarkan saja mi." Ujar Revtankhar.
"Baguslah kalau memang begitu, biar Rafeal nggak ada lagi alasan untuk menolak tinggal bersama kita." Jelas Aryani.
"Iya mi..." Ujar Revtankhar dan semuanya kembali sarapan.
__________________
"Sarapan datang!" Seru Mariana dan langsung menerobos masuk ke kamar dimana Rafeal berada.
"Ana..." Ujar Rafeal kaget dan segera menutup laptopnya.
"Kenapa sekaget itu? memangnya apa yang sedang kamu lihat?" Tanya Mariana yang langsung bergerak mendekati Rafeal.
"Stop!" Tegas Rafeal.
"Apaan sih? emang kamu tukang parkir main stop stop segala!" Cetus Mariana yang langsung meletakkan nampan ke atas meja lalu beralih hendak menyentuh laptop Rafeal.
"No!" Tegas Rafeal yang secepat kilat menarik laptopnya hingga membuat sudut laptop mengenai bagian lukanya.
"Awwww!" Ujar Rafeal kesakitan.
"Sorry! apa lukanya baik-baik saja?" Tanya Mariana yang kini beralih menyentuh kemeja Rafeal, ia berusaha untuk mengecek jahitan di perut Rafeal.
"Ana...." Seru Rafeal yang berusaha menghindari sentuhan Mariana.
"Diam, atau kamu ingin jahitannya lepas?" Gumam Mariana marah dan seketika langsung mengangkat kemeja Rafeal hingga ia bisa dengan jelas melihat jahitan di perut Rafeal.
"Syukurlah nggak kenapa-napa!" Ujar Mariana lega dengan tubuh yang langsung duduk dilantai.
"Ana..." Ujar Rafeal pelan saat melihat Mariana yang duduk terdiam dengan wajah yang begitu lemah dan juga lega.
"Maafkan aku! aku hampir saja membuat mu terluka, maafkan aku!" Pinta Mariana dengan begitu dipenuhi rasa bersalah.
"Ana, aku baik-baik saja!" Tegas Rafeal.
"Tapi tangan aku hampir saja memperburuk luka di perut mu." Jelas Mariana.
"Hmmmm, ayo sarapan!" Ujar Mariana lalu segera bangun.
"Ayo!" Ujar Rafeal lalu duduk di tepi tempat tidur dengan meletakkan laptop tepat disebelahnya.
"Biar aku suapin." Ujar Mariana yang langsung duduk di samping Rafeal.
"Ana, yang sakit perut aku bukan tangan, aku bisa makan sendiri dengan baik, sini biar aku saja!" Jelas Rafeal.
"Bisa nggak sih sekali-kali kamu nurut, hobi banget ngabantah, heran aku!" Cetus Mariana kesal.
"Aku hanya tidak ingin menjadi beban dalam hidup orang lain." Jelas Rafeal dengan menundukkan pandangan.
"Beban? jangan ngasal kalau ngomong, beban kata mu? kamu bukan beban tapi anugerah dalam hidup aku, bukan cuma bagi aku tapi bagi semua keluarga aku. Mami, papi mereka berdua bahkan lebih menyayangi kamu dari pada aku, dan juga abang Marvel, dia begitu takut jika kamu kenapa-napa, dan aku, aku mencintai mu. Rafeal, aku sangat mencintai mu!" Tegas Mariana lalu menyerahkan mangkuk yang berisi bubur pada Rafeal.
Rafeal hanya terdiam bahkan saat Mariana melangkah keluar dari kamarnya.
"Oh ya, mami pesan agar kamu tidak naik turun tangga selama satu minggu ini, kalau perlu apa-apa telpon saja aku, selamat pagi calon imam ku!" Ujar Mariana saat ia berada di ambang pintu.
Mariana memamerkan senyuman manisnya lalu segera keluar meninggalkan Rafeal seorang diri. Setelah pintu kamar kembali tertutup rapat, barulah Rafeal kembali mengangkat pandangannya, perlahan air matanya mulai menetes.
"Terima kasih karena kalian semua sudah begitu menyayangi aku, terima kasih karena menjadikan aku bagian dari keluarga kalian." Ujar Rafeal yang semakin larut dalam isak tangisnya.
_________________
"Gimana?" Tanya Marvel yang langsung menghadang Mariana di depan tangga.
"Apanya?" Mariana balik bertanya.
"Sukses nggak non?" Tanya Maya yang ikut penasaran.
"Apaan sih? lapar, aku mau sarapan!" Ujar Mariana dan segera menuju ruang makan.
"Gimana menurut bibi?" Tanya Marvel.
"Sukses pastinya dong!" Ujar Maya penuh semangat.
"Good job!" Ujar Marvel yang lekas menaiki tangga.
Sedangkan Maya segera kembali ke dapur.
"Ana, kamu nggak ke kantor?" Tanya Revtankhar yang sudah siap untuk berangkat.
"Aku ambil cuti pi." Ujar Mariana.
"Cuti?" Tanya Revtankhar.
"Sebulan, aku ambil cuti selama sebulan! aku mau merawat Rafeal." Jelas Revtankhar.
"Keputusan yang tepat, jangankan sebulan setahun pun nggak masalah, pepet terus, pastikan dia jadi menantu papi!" Jelas Revtankhar dan lekas berlalu meninggalkan meja makan.
"Pastikan Rafeal jadi menantu keluarga kita, semangat sayang!" Ujar Aryani lalu menyusul sang suami.
"Waaaaah, emang semua orang di rumah ini pada mabuk cinta sama tuh anak! merinding aku jadinya!" Ujar Mariana.
"Siapa sih non yang nggak kecantol sama tuan Rafeal, gantengnya pakek banget terus baiknya keterlaluan, udah gitu gagah, kerennya Subhanallah, paket komplit dah!" Jelas Maya yang masih sibuk membereskan meja makan.
"Sebegitunya ya bi?" Tanya Mariana.
"Jangan kasih kendor non, hantam terus, bibi selalu dukung!" Tegas Maya yang kembali berkobar api semangatnya.
"Bi Maya, bi Maya, udah ah aku mau ke kamar." Ujar Mariana dan lekas pergi.
"Semangat non!" Teriak Maya.
Mariana hanya tersenyum bahagia dan segera berlarian menuju kamarnya, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena mendapat dukungan dari semua orang.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ