My Princess

My Princess
#069



Rakes terus mempercepat langkahnya meski bahunya terasa begitu sakit. Tangannya terus berusaha merogoh saku baju dan celana pasien yang melekat di tubuhnya berharap ia bisa mendapatkan ponsel miliknya.


"Haissssh, kenapa aku bisa melupakan hal yang paling penting, sial!" Maki Rakes yang menendang trotoar dengan kesal.


"Mau ayah ambilkan palu untuk merusaknya?" Tanya Iqbal yang terus melangkah mendekati Rakes.


"Ayah, maaf karena aku gagal menjaga keluarga kita. Jika saja aku lebih gesit dalam mengawasi Fadhil, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Jelas Rakes dengan tubuh yang langsung terduduk di atas trotoar.


"Apa sekarang hobi mu adalah menyesali hal yang telah terjadi?" Tanya Iqbal.


"Lebih tepatnya aku membenci diriku yang tidak mampu berkerja dengan baik."


"Jika begitu, maka mulai sekarang bekerjalah dengan baik."


"Aku akan membunuh Temi dengan tanganku sendiri."


"Membunuh? kamu yakin hanya ingin membunuhnya?"


"Yakin!"


"Ayah tidak mengizinkannya!"


"Kenapa? dia telah mengacaukan ketenangan keluarga kita, aku tidak bisa berdiam diri menyaksikan semua ini."


"Apa ayah memintamu untuk berdiam diri?"


"Lantas?"


"Temi, membunuhnya belum cukup untuk membayar semua perbuatannya terhadap keluarga kita. Ayah akan menyiksa raga, hati dan juga pikirannya, akan ayah buat dia mati perlahan, akan ayah buat dia menderita sebelum ajalnya datang." Jelas Iqbal.


"Apa ayah sudah membuat rencana?"


"Pasti, kita akan melakukannya sebagai keluarga. Tanpa sangkut paut dengan negara, tanpa nama sebagai kapten dan Mayor. Kita akan bantai mereka sebagai seorang ayah dan seorang abang." Jelas Iqbal.


"Baik! kita akan buat mereka membayar semua perbuatannya." Tegas Rakes.


"Ayo!" Ajak Iqbal sembari mengulurkan tangannya kearah Rakes.


"Kemana? apa kita akan langsung beraksi?" Tanya Rakes sembari menyambut tangan Iqbal lalu lekas bangun.


"Langkah pertama, obati dulu luka mu, ayo!" Ajak Iqbal sembari menunjuk kearah bahu Rakes yang kembali meneteskan darah.


"Huuuuuf! aku sudah kehulu kehilir mencarimu, dasar tak punya perasaan!" Cetus Rafeal ketika melihat Rakes dan Iqbal.


"Masih aja kayak anak SD, bisanya kabur dari rumah sakit. Zea dan tante Erina begitu khawatir kerena kegilaan mu itu." Tegas Marvel.


"Ya udah, ayo kembali ke rumah sakit!" Ajak Iqbal.


"Siap!" Jawab Rafeal, Marvel dan Rakes dengan suara lantang dan segera mengikuti langkah Iqbal.


____________________


"Mas....!" Panggil Elsaliani.


Iqbal terus mendekat lalu berdiri disisi kiri Elsaliani.


"Zea ke ruang rawat abang dulu, ayah temani uma ya!"


"Iya sayang, jaga Rakes dengan baik, rawat dia dengan benar." Pesan Elsaliani.


"Siap uma." Jawab Zea.


Zea bergegas keluar meninggalkan kedua orang tuannya.


"Bunda dan umi mana?" Tanya Iqbal memulai pembicaraan setelah beberapa menit keduanya diam dengan mata yang saling menatap.


"Bunda dan umi pulang sebentar, katanya mau ambil beberapa barang buat El dan Rakes, bapak sama abi juga pulang, El meminta mereka untuk istirahat, mereka terlihat begitu lelah." Jelas Elsaliani.


"Baguslah, lagi pula mas mau berduaan saja dengan sayang, mas rindu." Jelas Iqbal yang langsung mengecup lembut kening Elsaliani.


"El juga rindu. Mas, gimana keadaan Ziyad, bayi kita sehatkan?"


Pertanyaan Elsaliani sontak membuat Iqbal kembali membisu, raut wajahnya berubah seketika, matanya terlihat sendu, dan bibirnya seakan gemetar.


(Jadi semua orang tidak memberi tau El dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana ini, aku sungguh tidak tau bagaimana cara mengatakannya, aku takut membuatnya menangis, aku tidak ingin melihatnya terluka) Bisik hati Iqbal.


"Mas, kenapa diam aja?" Tanya Elsaliani dengan lembut menyentuh tangan Iqbal.


"Sayang, soal Ziyad, Rakes atau mungkin Zea, bisa bahas nanti saja?"


"Kenapa? El hanya bertanya tentang bayi El, kenapa dari tadi tidak ada yang menjawab, kenapa kalian terus meminta El untuk tidak membahasnya?"


"Sayang...."


"Katakan yang sebenarnya? apa yang terjadi pada bayi kita? bicaralah! jangan buat El berpikir yang tidak-tidak." Gumam Elsaliani dengan menggenggam erat tangan Iqbal.


"Maafkan mas, tolong maafkan mas!" Tangis Iqbal pecah seketika, Ia langsung menundukkan wajahnya.


"Apa Ziyad meninggalkan kita?" Tanya Elsaliani dengan terbata-bata dan mata yang berkaca-kaca.


"Semua ini salah mas! mas tidak bisa menjaga kalian semua dengan baik. Mas, bahkan tidak datang saat sayang dan Ziyad dalam bahaya, mas tidak bisa datang menolong Zea, mas minta maaf, karena mas keluarga kita harus mengalami semua ini" Jelas Iqbal dengan penuh penyesalan.


"Mas!"


"Tolong maafkan mas! karena mas, sayang bahkan tidak sempat melihat Ziyad yang kedatangannya begitu sayang tunggu-tunggu sejak belasan tahun lalu, sayang bahkan tidak sempat melihatnya menangis, sayang tidak sempat menyentuhnya, sayang...."


"Mas, El tau, mas pasti mengantarkan bayi kita dengan sangat baik kan? El ikhlas mas, El ridha dengan semua ini. Tolong bantu El untuk terus sabar, kuatkan El agar tidak tumbang." Lanjut Elsaliani.


Iqbal langsung mendekat lalu memeluk tubuh Elsaliani yang masih terbaring di ranjang.


"Mas sayang kalian bertiga!" Ungkap Iqbal disela isak tangisnya.


"El juga sayang kalian bertiga." Ujar Elsaliani.


"Sayang, tetaplah disamping mas."


"Hmmmmm! Mas, setelah El keluar dari rumah sakit nanti, bawa El ke makam Ziyad."


"Pasti sayang, kita ke sana sama-sama." Ujar Iqbal.


"Rakes gimana?"


"Sayang kenal Rakes dengan sangat baik kan? dia bahkan buat ulah sampai kak Erina panik, dengan bahu yang masih terluka dia bahkan meloncat dari lantai tiga, dasar bocah kebal!" Jelas Iqbal setelah melepaskan tangannya dari tubuh Elsaliani.


"Syukurlah kalau dia masih berlaku up normal, itu artinya dia baik-baik saja. Sama seperti mas, jika kalian tiba-tiba berkelakuan normal, justru itu yang membuat kami khawatir." Jelas Elsaliani.


"Sayang, mas dan dia beda! dia memang gila sedangkan mas hanya tidak waras!" Ujar Iqbal yang sontak membuat Elsaliani tertawa.


(Setidaknya mas lega karena kamu baik-baik saja sayang.) Ungkap hati Iqbal lalu kembali memeluk istri tercinta.


____________________


"Apa yang kamu lihat di sana? kemarilah!" Pinta Rakes.


Sejak pertama masuk Zea terus saja berdiri di jendela dengan tatapan fokus ke bawah sana, bahkan setelah dokter yang tadinya mengecek luka Rakes kini keluar, Zea masih tetap betah di tempat semula.


"Aku sedang menghitung ketinggian rumah sakit ini." Jelas Zea.


"Zea jangan konyol! kemarilah."


"Aku juga ingin mencobanya." Jelas Zea yang masih terus menatap ke bawah gedung.


"Mencoba? mencoba apa?"


"Terjun ke bawah!" Jelas Zea yang mulai mengangkat kaki kirinya.


"Zea!" Tegas Rakes yang langsung bangun, lalu dengan menarik tiang infus bersamanya ia bergegas mendekati Zea.


"Jangan gila!" Tegas Rakes yang menggenggam tangan Zea dengan erat.


"Apa Chim chim takut kalau aku terjun bebas sekarang?"


"Apa kamu pikir aku baik-baik saja? bagaimana kalau kamu terluka? atau mungkin tangan dan kaki kamu patah, bagaimana aku tidak takut?" Jelas Rakes yang langsung membawa tubuh Zea kedalam pelukannya.


"Begitulah perasaan aku tadi. Aku begitu ketakutan ketika Chim chim lompat tadi, aku takut jika Chim chim kenapa-napa, bagaimana kalau luka ini tambah parah? aku tidak ingin Chim chim kenapa-napa." Jelas Zea dengan tetesan air mata.


"Maafkan abang! abang benar-benar sedang emosi sampai abang melupakan perasaan mu. Abang oke, lukanya juga udah baikan." Jelas Rakes yang menyentuh lembut wajah Zea yang bersandar di dadanya.


'Cup' Zea mengecup lembut bibir Rakes meski harus dengan bersusah payah untuk mencapainya.


"Nih!" Ujar Rakes dengan membuka lebar kedua kakinya agar tubuhnya bisa sejajar dengan tubuh Zea.


"Apaan sih?" Seru Zea.


"Tabrakan lagi!" Pinta Rakes.


"Nggak mau!" Tegas Zea lalu memalingkan wajahnya.


dengan sigap tangan Rakes membawa wajah Zea untuk kembali menatapnya, lalu segera menunaikan keinginannya.


Disaat yang bersamaan pintu ruang tersebut dibuka dari luar.


"Haissssh, sorry! ku tutup kembali pintunya dan silahkan di lanjutkan lagi!" Jelas Rafeal yang kembali menutup pintu.


"Dasar gulma, Kancil licik, bocah ingusan, bisanya cuma ganggu orang!" Cela Rakes yang kembali berdiri tegap.


"Gulma, Kancil licik, bocah ingusan? aku butuh penjelasan tentang siapa Rafeal sebenarnya." Jelas Zea.


"Dia orang nggak penting, nggak usah di bahas! mending kita lanjut tabrakan lagi!" Ujar Rakes menggoda.


Zea mulai melangkah meniggalkan Rakes, ia segera duduk di ranjang dengan disusul oleh Rakes.


"Oke, nanti akan abang ceritakan!"


"Janji?"


"Iya! udah sini."


Rakes langsung merentangkan tangannya, Zea mendekat lalu Rakes merangkulnya dengan erat.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE 😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️