
Suara alarm yang menggema ke seluruh ruangan membuat kekacauan yang luar bisa, malam yang mulanya tenang dan sunyi seketika menjadi kacau balau.
Rakes yang awalnya tertidur nyenyak dengan tangan kiri yang menjadi bantal untuk si kembar dan tangan kanan yang di peluk erat oleh Zea, kini ia terperanjat seketika. Rakes lekas memindahkan kepala si kembar ke atas bantal lalu segera meraih pistol yang berada di laci dekat tempat tidur dan lekas meloncat dari tempat tidur.
"Ada apa?" Tanya Zea yang dengan sigap langsung melindungi si kembar.
"Abang juga belum tau pasti, kalian bertiga tetap disini, biar abang yang cari tau!" Jelas Rakes dan lekas keluar dari kamar.
"Mommy..." Ujar Azan yang juga ikut terbangun karena suara alarm yang menggema belum juga berhenti.
"Apa ada perang?" Tanya Uzun yang berusaha turun dari tempat tidur.
"Mau kemana?" Tanya Zea.
"Ke kamar mama Nia!" Tegas Uzun yang hendak pergi.
"Tunggu! sepertinya alarm bukan dari kamar mama Nia deh, kayaknya dari arah kamar mama Ana, ayo kita pergi sama-sama, ayo Azan!" Ajak Zea lalu beranjak keluar dari kamar dengan di dampingi oleh Azan dan Uzun.
Pelan-pelan mereka terus melangkah menelusuri tangga satu persatu hingga mereka sampai di lantai pertama. Suara teriakan yang mendadak terdengar mengalahkan suara alarm.
"Mama Ana...." Seru Azan yang memang langsung mengenal pemilik suara tersebut.
"Apa yang terjadi?" Tanya Marvel yang datang dengan pistol di kedua tangannya dan sang istri yang terus saja berjalan di belakangnya.
"Aku juga belum tau!" Jawab Zea.
"Tapi, bukankah barusan itu suara kak Ana?" Tanya Kania yang terlihat jelas begitu khawatir.
"Ayo kita ke kamar Rafeal!" Ajak Marvel dan lekas diikuti oleh yang lainnya.
Mereka terus bergerak dengan di pandu oleh Marvel lalu diikuti oleh Kania dan Uzun yang berjalan pelan dengan berdampingan, selanjutnya ada Azan dan Zea yang menjaga dari arah belakang.
Tangan Marvel sedikit mendorong pintu kamar Rafeal yang memang sudah sedikit terbuka.
"Buruan masuk!" Gumam Rakes dari dalam kamar sana.
seketika semuanya bergegas masuk, dan sontak kaget dengan pemandangan yang ada.
Mariana yang duduk dengan bersandar di kepala ranjang dengan keringat yang bercucuran, serta wajah yang terlihat jelas sedang menahan rasa sakit sedangkan Rafeal dan Rakes malah berdiri dengan tangan yang saling menggenggam erat dengan mata yang hanya fokus pada Mariana.
"Huuuuuf! apa yang sedang kalian lakukan? kak Ana yang mau melahirkan kenapa kalian yang saling menguatkan?" Gumam Zea kesal dengan tingkah Rakes dan Rafeal.
Zea segera berlari menghampiri Mariana begitu pula dengan Azan yang tak tinggal diam.
Azan langsung mengambil alih tangan Mariana ke dalam genggamannya.
"Tenang kak, fokus, tarik nafas!" Ujar Zea pelan yang dengan spontan langsung di ikuti oleh Rafeal dan Rakes yang masih bergandengan.
"Hufffff! huuuuuf!" Ujar Rafeal dan Rakes serentak.
"Kalian!" Gumam Kania kesal.
"Cepat siapkan mobil!" Perintah Marvel dengan langsung membawa Mariana ke dalam gendongannya.
"Mobil, yah mobil!" Ujar Rafeal yang segera berlari keluar.
"Daddy!" Ujar Uzun kesal karena Rakes masih saja mematung.
"Ah iya, ayo ke rumah sakit!" Ujar Rakes yang langsung berlari keluar.
"Apa dulu pas kak Zea melahirkan tingkah abang Rakes gini juga?" Tanya Kania.
"Lebih parah, ayo!" Jelas Zea yang segera menyusul Marvel yang telah lebih dulu membawa Mariana ke mobil.
"Kania, abang kayaknya harus ikut ke rumah sakit, abang nggak bisa meninggalkan Ana dengan kedua lelaki bodoh itu!" Jelas Marvel sambil menatap Rafeal dan Rakes yang berada di dalam mobil.
"Papa Marvel tenang aja, biar mama Nia aku yang jagain!" Jelas Uzun.
"Terima kasih sayang!" Ucap Marvel sambil mengusap pelan rambut Uzun.
"Zea, kamu dan Azan temani Ana, biar abang yang bawa mobil!" Lanjut Marvel dan langsung masuk ke dalam mobil.
Zea masuk ke mobil dengan di susul oleh Azan dan mereka pun segera berangkat menuju rumah sakit terdekat.
"Mama Nia, dan juga my permaisuri, ayo kita kembali ke dalam rumah!" Ajak Uzun.
"Ayo!" Ujar Kania lalu keduanya segera kembali masuk.
___________________
"Bagaimana dengan Ana?" Tanya Aryani yang baru saja datang bersama sang suami.
"Harus cecar mi!" Jawab Marvel yang masih berdiri di depan ruang operasi.
"Rafael mana?" Tanya Revtankhar.
"Di dalam, nemanin Ana!" Jawab Rakes yang berada di kursi paling ujung dengan memangku Azan yang sejak tadi terus melawan ngantuk.
"Terus yang nemanin Kania di rumah siapa?" Tanya Aryani.
"Kalian, udah Marvel kamu pulang sekarang biar kami yang nungguin Ana!" Jelas Aryani.
"Tapi mi, aku masih belum tenang kalau operasinya belum selesai!" Keluh Marvel.
"Mami benar loh bang, gimana kalau nanti Kania kenapa-kenapa, lagi pula kami pasti akan langsung ngabarin abang kalau operasi selesai." Jelas Zea.
"Sebaiknya kamu cepat pulang!" Ujar Revtankhar sambil menepuk bahu Marvel.
"Kalau gitu, aku pamit!" Ujar Marvel.
"Hati-hati dan titip salam mami buat Kania dan Uzun!" Ujar Aryani.
"Iya mi." Jawab Marvel dan lekas pergi.
Sesaat suasana terasa begitu hening semua orang larut dalam doanya masing-masing hingga suara tangisan bayi dari dalam sana membuat senyum bahagia dari wajah semuanya tak terkecuali Azan yang langsung meloncat turun dari pangkuan Rakes dan lekas mendekati pintu ruang operasi.
"Selamat datang Putri cantik abang!" Ujar Azan pelan dengan menempelkan wajahnya di pintu.
Pintu yang di buka dari dalam membuat Azan hilang kendali dan tubuhnya langsung menabrak tubuh sang dokter yang baru saja keluar.
"Giman dok?" Tanya Aryani.
"Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar." Jawab sang dokter.
"Alhamdulillah!" Ujar semuanya hampir bersamaan.
"Pak dokter, apa dedek bayinya udah boleh di jumpai?" Tanya Azan.
"Boleh kok sayang, nggak sabar ya mau jumpa sama adeknya?" Tanya dokter sambil mengusap kepala Azan pelan.
"Bukan adek loh pak dokter, tapi calon istri!" Jelas Azan yang langsung menerobos masuk.
Jawaban Azan sontak membuat semua orang tertawa termasuk beberapa perawat yang baru saja keluar dari ruangan operasi tersebut.
"Persis seperti Daddy-nya, langsung ngelamar dari dalam kandungan!" Ujar Revtankhar dan juga ikut masuk.
"Keluarga yang lucu! sekali lagi selamat atas kedatangan anggota keluarga barunya!" Ujar dokter.
"Terima kasih dok!" Balas Aryani.
"Hasil didikan Daddy nya tuh!" Ujar Zea.
"Bukankah yang hasil didikan mommy nya juga sama, malah lebih parah!" Cetus Rakes.
"Maksudnya?" Gumam Zea.
"Nyosornya!" Ujar Rakes dan menjauh dari jangkauan Zea.
"Huffff, tahan Zea, kita masih di rumah sakit, tahan...ntar pas di rumah baru main hantam." Ujar Zea yang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Selow aja kali! aku udah terbiasa kok sama model yang begini, kan sejak dulu jagain Daddy sama mommy nya!" Ujar Rafeal yang baru saja keluar dari ruang operasi dengan disusul oleh semua orang. Mariana langsung di pindahkan ke ruang rawat.
___________________
"Gimana?" Tanya Kania setelah Marvel selesai berbicara dengan Rakes melalui ponselnya.
"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, anggota keluarga baru kita sudah sampai!" Jelas Marvel.
"Huffff tinggal aku yang harus ekstra sabar, huffff!" Ujar Uzun mencoba untuk tenang.
"Cuma dua bulan lagi kok sayang!" Ujar Kania.
"Jangankan dua bulan, dua tahun pun nggak masalah kok mama Nia, demi permaisuri terchantiiik ku!" Jelas Uzun yang langsung menyentuh perut buncit Kania.
"Ciiih, mulai deh! terabaikan lagi! huffff!" Ujar Marvel menarik nafas kasar lalu kembali rebahan.
"Abang...." Ujar Kania lalu mengusap lembut rambut Marvel.
"Abang sayang kalian semua!" Ujar Marvel dengan senyuman bahagia.
"Aku juga, tapi tetap aja permaisuri number one!" Seru Uzun yang sontak membuat Kania dan Marvel tertawa.
____________________
Jangan lupa LIKE Comen voteπ
Stay terus sama My Princess ππππ
Khamsahamida πππππ
Oh ya manteman jangan lupa main ke novel baru aku ya,,,
πXue_Lianπ
Ditunggu kunjungannyaπππππ