
"Shit! sial." Teriak Roger kesal dan penuh emosi.
Roger langsung membanting ponsel dan juga kunci mobil ke atas tempat tidur, di susul dengan jas dan juga dasi yang ia lapas paksa dari tubuhnya.
"Benar-benar keterlaluan, kenapa mereka malah terlihat lebih dekat, bukannya kemaren aku sudah mengirimkan foto abang Rakes yang berpelukan dengan Reva tapi kenapa Zea terlihat baik-baik saja, dia sama sekali tidak terlihat sedang marah, ada apa sebenarnya." Gumam Roger yang kini menjatuhkan tubuhnya keatas kasur.
Perlahan tangannya kembali merogoh saku celananya lalu mengeluarkan selembar struk belanjaan yang begitu panjang, seketika emosi Roger kembali memuncak hingga dengan kasar ia meremas dan melemparkan struk tersebut kelantai.
"Niatnya mau kencan berduaan dengan Zea, lalu makan siang romantis ala pasangan yang di mabuk asmara dan juga jalan-jalan sambil bercanda ria, semuanya gagal, yang ada uangku terkuras habis gara-gara abang Rakes dan Fadhil yang ngeborong semua pakaian di mol. Haiiissssh! mereka berdua benar-benar menguji kesabaran ku" Jelas Roger yang terus saja mengutuk kelakuan Rakes dan juga Fadhil.
"Abang, jas ini bagus loh! yang ini juga, ini juga, dan ini juga!" Jelas Zea dengan tangan yang terus saja menyentuh semua jas yang di gantung di sana.
"Oke abang ikut pilihan mu aja." Jelas Rakes yang langsung mengambil semua jas yang barusan Zea sentuh.
"Apa kalian berniat untuk mengosongkan mol ini?" Tanya Roger.
"Abang Roger kan kaya, beli beberapa jas nggak bakal ngaruh nol di ATM abang. Iya kan?" Jelas Zea.
"Kamu juga pilih gih!" Pinta Roger.
"Aku masih punya banyak baju yang masih bisa di pakai kok, hmmm mending abang belikan buat abang Rakes aja." Jelas Zea yang kembali memilih baju untuk Rakes.
Senyuman Zea yang begitu girang ketika memilih baju untuk Rakes semakin membuat Roger di penuhi amarah. Ingatan tentang kejadian tadi siang kembali membuat dada Roger berdegup kencang, tangannya kembali mencengkram kasar sprei.
"Haissss!" Teriak Roger kesal dengan tangan yang terus menarik sprei.
Roger segera bangun lalu sejenak berdiri di depan cermin memandang dirinya yang yang terlihat begitu berantakan.
"Lihat saja, aku akan mengambil kembali My Queen, jika aku tidak bisa memilikinya maka siapapun tidak akan ku izinkan untuk memilikinya, termasuk kamu, abang Rakes." Tegas Roger bersamaan dengan tinjunya yang mendarat pada cermin yang ada di hadapannya.
Roger terus mengumpat dengan penuh amarah, bahkan darah yang menetes dari tangannya tidak membuat amarah Roger mereda hingga suara ponsel membuatnya segera beralih mengambil ponselnya yang tergeletak diatas kasur, setelah melihat nama kontak yang tertera di layar ponsel, Roger segera menenangkan dirinya, mengatur kembali nafasnya lalu segera menjawab panggilan tersebut.
"Apa-apaan ini?" Tanya Jordan dengan suara khasnya yang cukup membuat nyali ciut seketika.
"Apa yang sedang kakek bicarakan? apa aku buat kesalahan?" Tanya Roger yang terus mencoba untuk tenang.
"Kamu masih berani bertanya apa kesalahan mu? Roger, sekarang kamu itu seorang CEO, harusnya kamu menyadari kesalahanmu tanpa harus kakek jelaskan lagi!" Tegas Jordan.
"Apa kakek sedang mempertanyakan pengeluaran aku hari ini?" Tanya Roger.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan? kamu menghabiskan uang empat puluh juta dalam satu hari? kemana kamu gunakan uang sebanyak itu? bukankah kakek memberimu batas limit, hanya sepuluh juta perhari, apa kamu mau kakek menyita kartu mu itu!"
"Apa kakek tau siapa yang menggunakan semua uang itu?"
"Siapa lagi kalau bukan kamu!"
"Coba tanyakan sama abang Rakes, dia punya jawaban yang bisa membuat kakek berhenti menyalahkan aku!" Tegas Roger yang langsung memutuskan panggilan sepihak lalu melemparkan ponselnya ke sofa.
"Haissssh, semua orang terlihat begitu menyebalkan!" Teriak Roger bersamaan dengan menjatuhkan tubuhnya keatas kasur.
_____________________
"Huuuuuf! lelah banget." Jelas Zea.
Zea meletakkan belanjaannya begitu saja di lantai, ia segera menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Rakes yang juga sedari tadi membawa belanjaan di kedua tangannya, segera meletakkan semuanya diatas sofa diikuti dengan tubuhnya yang juga ikut duduk di sofa.
"Hari ini kamu benar-benar membuat Roger bangkrut!" Jelas Rakes.
"Biarin! lagi pula itu juga duit Chim chim kan, secara semuanya itu aset yang kakek berikan." Jelas Zea yang masih betah berbaring diatas kasur.
"Itu semua milik Roger, bukan milik abang. Meski itu aset milik kakek, tetap saja Roger pewarisnya." Jelas Rakes lalu sejenak memejamkan matanya.
"Terserahlah yang penting aku paus belanja hari ini."
"Puas belanja? Zea yang kamu beli semuanya keperluan abang, nggak ada satupun barang buat kamu sendiri."
"Aku tidak ingin menerima apapun lagi dari abang Roger." Jelas Zea yang bangkit dari tidur.
"Chim chim!" Panggil Zea yang terus melangkah mendekati Rakes yang masih berada di sofa.
"Abang paham!" Ujar Rakes.
"Terima kasih!" Ucap Zea.
Tangan Zea langsung meraih wajah Rakes lalu menyentuhnya lembut, jemari Zea yang awalnya menyentuh pipi Rakes kini beranjak menyentuh hidung lalu berhenti di bibir Rakes.
"Zea hanya milik Chim chim! begitu juga sebaliknya." Tegas Zea yang mulai mendekat lalu segera mencium Rakes.
Setelah melepaskan ciumannya Zea hendak melangkah menjauh dari Rakes namun dengan cepat Rakes menarik tangan Zea, hingga membuat tubuh Zea terduduk di sofa.
"Apa harus abang ajarkan cara tabrakan yang benar?" Tanya Rakes dengan mata yang terus menatap intens wajah Zea.
"Itu baru level satu, baiklah akan abang ajarkan tabrakan maut yang sesungguhnya, so bersiaplah!" Jelas Rakes.
Perlahan Rakes mulai mendekatkan wajahnya, hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa antara wajah keduanya. Disaat Rakes telah benar-benar siap disaat itu pula ponsel Rakes berdering keras membuat fokus keduanya langsung kacau seketika.
(Selalu saja! setengah mati menyusun kata-kata biar bisa romantis, ujung-ujungnya gagal lagi, udah malu nggak ketulungan hasrat pun tak kesampaian, emang sial banget.) Bisik hati Rakes yang sangat ingin membunuh siapapun yang mengganggu aksinya.
"Siapa?" Tanya Zea yang mencoba membenarkan posisi duduknya.
"Kakek!" Jawab Rakes sembari memperlihatkan layar ponselnya yang memang sedang menampilkan kontak atas nama 'Tuan Jordan'.
"Cepatlah jawab!"
"Oke!"
Rakes langsung menekan tombol hijau lalu menekan speaker, hingga suara Jordan terdengar jelas oleh dirinya dan juga Zea.
"Kenapa? ini masih belum tanggal satu, lalu kenapa menelpon aku?" Tanya Rakes yang memang sudah begitu hafal dengan kebiasaan sang kakek yang selalu menghubunginya di setiap tanggal satu dengan tujuan menanyakan apa Rakes sudah merubah keputusannya untuk menerima tawaran Jordan.
"Kenapa? apa selain tanggal satu kamu sibuk? nggak bisa di ganggu?" Tanya Jordan dari seberang dengan nada yang begitu tegas.
"Aneh aja, oke apa yang ingin kakek tanyakan?"
"Apa benar tadi siang kamu yang menggunakan kartu kreditnya Roger?"
"Dia sendiri yang menawarkan, yah aku ambil."
"Baguslah, ternyata kamu mulai lelah hidup miskin. Jika butuh lebih banyak uang segera hubungi kakek, ingat! kakek bisa memberikan kamu uang setiap hari bahkan lebih dari yang kamu habis kan hari ini. Jika berubah pikiran, segera hubungi kakek." Jelas Jordan yang langsung memutuskan panggilannya.
"Wowwww! sempurrrrrrna, aku suka cara kerja kakek! benar-benar memukau!" Ujar Zea dengan mata yang begitu berbinar-binar.
"Kenapa tiba-tiba mata kamu jadi bercahaya gitu?"
"Kalau duit pembahasannya, mata siapa saja bakal berbinar dengan sendirinya."
"Abang nggak!" Tegas Rakes.
"Abang mah mati rasa, beda sama aku, yang langsung ngeh dengan banyak nol!" Jelas Zea.
"Jadi selain bar-bar istri abang matre juga rupanya? wow kayaknya abang harus menjinakkan mu lebih dulu."
"Dari pada menjinakkan, bukankah lebih baik melanjutkan pelajaran yang tertunda?"
"Pelajaran yang tertunda?" Ulang Rakes yang tidak paham dengan apa yang Zea bicarakan.
"Jangan pura-pura lupa!"
"Serius! bukannya lupa tapi abang memang benar-benar tidak ingat."
"Sama aja dong!"
"Oke, apa?" Tanya Rakes yang mulai serius.
"Bukannya tadi abang mau mengajarkan aku bagaimana tabrakan maut yang sesungguhnya?"
"Ah, soal itu, hmmmmm abang gerah, keringatan pula, abang mau mandi dulu!" Ujar Rakes yang berusaha kabur dari Zea.
"Ayo mandi bersama! aku juga gerah banget!" Jelas Zea yang langsung mencopot jilbabnya.
"Nggak! jangan aneh-aneh, ya udah kamu mandi duluan." Jelas Rakes yang kembali duduk.
"Aneh? Chim chim lupa kalau aku ini istri Chim chim? mandi bareng it's oke, nggak ada yang salah!" Jelas Zea.
"Zea...!"
"Bilang aja kalau Chim chim nggak minat melakukannya, aku memang tidak menggoda sama sekali kan? aku tau, aku jauh dari kriteria istri idaman buat Chim chim kan? buktinya, bahkan sampai saat ini Chim chim masih belum melakukannya." Jelas Zea yang perlahan kembali mengenakan jilbabnya.
"Jangan salah mengartikan sikap abang! bukan kamu yang tidak menggoda, hanya saja abang tidak berani menyentuhmu, abang selalu saja salah tingkah saat bersama kamu, abang gugup, abang nggak tau harus memulainya dari mana. Kamu tau, setiap malam bahkan abang terus saja berperang dengan hasrat abang yang berulang kali ingin menerkam mu, abang mati-matian menahan diri agar tidak mengedepankan nafsu, abang tidak ingin memaksakan keinginan abang, abang akan menunggu sampai kamu benar-benar siap melakukannya. Zea abang mencintai, bukan hanya kerena nafsu belaka, tapi abang benar-benar ingin menjagamu dunia akhirat, abang ingin ke surga bersamamu, my Princess. Abang mencintaimu karena Allah, ya Jannati."
"Selalu saja mementingkan aku! selalu saja menyiksa diri karena ingin membuat aku nyaman, tolong jangan terlalu mencintai ku, hingga Chim chim lupa bagaimana caranya mencintai diri sendiri." Jelas Zea yang langsung memeluk erat tubuh Rakes.
"Terima kasih karena memilih abang sebagai suami mu!" Ucap Rakes lalu mengecup lembut kening sang istri tercinta.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE 😉😉😉
Stay terus sama My Princess 😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️