
"Mau kalian bawa kemana aku?" Tanya Rakes setelah membuka matanya dan mendapati dirinya sedang dalam mobil.
"Mau aku buang ke laut biar di makan para hiu!" Gumam Rafeal dengan wajah kesal.
"Tetap berbaring!" Tegas Marvel saat mendapati Rakes yang perlahan mengangkat kepalanya dari paha Marvel.
"Aku belum mati, aku baik-baik saja!" Jelas Rakes yang kekeh ingin bangun.
Secepat kilat tangan Marvel menghadangnya, lalu kembali mendorong kepala Rakes agar kembali rebahan.
"Antarkan aku pulang!" Jelas Rakes.
"Tetap ke tujuan utama!" Tegas Marvel.
"Putar balik!" Gumam Rakes.
"Tidak mau!" Tegas Andika yang masih tetap fokus menyetir.
"Apa sekarang kalian sedang membangkang perintah aku?" Tanya Rakes yang hendak bangun namun lagi-lagi di cegah oleh Marvel.
"Iya!" Jawab Andika, Rafeal dan Marvel hampir bersamaan.
"Aku bisa mengatasi luka ini sendiri. Justru jika kalian membawa aku ke rumah sakit itu akan menimbulkan masalah lainnya. Putar balik sekarang!" Jelas Rakes.
"Diam!" Cetus Rafeal kesal.
"Aku bilang...." Protes Rakes terhenti karena tangan Marvel langsung menutup rapat mulutnya.
"Berhenti bicara sebelum aku membuatmu pingsan kembali!" Gumam Marvel.
Rakes menghentikan protes yang ia ajukan, karena percuma berdebat panjang lebar kedua sahabatnya itu pasti tidak akan mendengarkan dirinya sama sekali.
Suana hening, tidak ada lagi yang bicara hingga akhirnya mobil mereka berhenti di parkiran rumah sakit.
Rafeal yang duduk di depan segera turun lalu membuka pintu untuk Rakes, perlahan dengan bantuan Marvel Rakes keluar dari mobil. Ketiganya segera menuju UGD dengan diikuti oleh Andika dibelakangnya.
Para perawat langsung menyambut kedatangan mereka, Rakes langsung di bawa ke ruang pemeriksaan.
"Bagaimana?" Tanya Andika saat mendapati Rafeal dan Marvel sedang duduk di kursi tunggu.
"Sedang di tangani dokter, kalian tunggulah di sini, aku akan mengurus administrasinya lebih dulu!" Jelas Marvel.
"Apa aku harus menjemput Zea?" Tanya Rafeal.
"Kita tunggu perintah selanjutnya dari Rakes." Jelas Marvel.
"Siap laksanakan!" Jawab Rafeal dan Andika lantang.
Setelah menunggu selama beberapa menit lamanya, kini Rakes telah berada di ruang inap di temani oleh ketiga timnya.
"Rakes....!" Ujar Rafeal.
"Jangan bicara apapun lagi, aku mau istirahat sebentar lalu pulang!" Jelas Rakes yang langsung memejamkan matanya.
"Pulang? pecahan kaca menancap pada bagian perut kamu dan itu hampir saja mengenai bagian yang vital, ini bukan luka ringan!" Jelas Rafeal.
"Cuma beberapa jahitan saja, jangan heboh!" Jelas Rakes.
"Tidurlah, sebelum aku membuat mu tidur untuk selamanya!" Jelas Rafeal yang langsung berbaring di sofa.
"Andika pulanglah, biar kami yang menjaga Rakes." Jelas Marvel.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang." Jelas Andika.
"Jangan lupa besok ikut menghadap kepala!" Jelas Marvel.
"Siap!" Jawab Andika dan segera pergi.
Marvel ikut merebahkan tubuhnya di sofa yang satunya lagi.
_____________________
Suara alarm yang begitu keras membuat Zea sedikit menggeliat, tubuhnya perlahan bangun namun di menit selanjutnya kembali menjatuhkan tubuhnya ke sisi kasur sebelah kiri.
"Zea, Zea...."
"Uma, sebentar lagi aja, Zea masih ngantuk banget! lima menit lagi, baiklah tiga menit lagi Zea akan menyusul ke musalla." Jelas Zea masih dengan mata terpejam, ia bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada bantal guling.
"Sayang..."
"Uma, Zea mohon!" Pinta Zea saat sebuah tangan menyentuh wajahnya.
'Cup' Sebuah kecupan hangat mendarat di kepala Zea, membuat Zea segera membuka mata lalu menatap sosok yang sejak tadi duduk di sampingnya.
"Apa ini mimpi lagi? hufffff, sabar Zea, tahan emosi, tahan rindu, tahan nafsu!" Jelas Zea pada dirinya sendiri lalu kembali memejamkan matanya.
Pelan-pelan sebuah tangan kembali menyentuh wajahnya beralih ke hidung, dagu, leher lalu terhenti di bahu, membuat Zea segera membukakan kembali kedua matanya.
"Ini beneran? bukan bayangan manis di tengah malam kan?" Tanya Zea dengan mata yang melotot sempurna.
"Chim chim!" Seru Zea girang dan langsung memeluk erat tubuh Rakes.
"Auwwww!" Teriak Rakes spontan saat tubuh Zea mengenai bekas jahitan yang bahkan belum kering sama sekali.
"Kenapa?" Tanya Zea panik.
Zea segera melepaskan pelukannya lalu memeriksa bagian perut Rakes.
"Hanya sembilan jahitan kok!" Lapor Rakes dengan wajah cengengesan.
Tanpa komentar apapun Zea terus memperhatikan tubuh telanjang Rakes, kemeja yang tadinya Rakes kenakan sekarang entah dimana keberadaannya karena ulah Zea yang melepasnya paksa lalu membuangnya begitu saja.
"Zea....!" Ujar Rakes lembut kerena melihat Zea yang terdiam membisu.
Bukannya menjawab, Zea malah beranjak dari tempatnya, kini posisi Zea tepat di belakang tubuh kekar Rakes. Dengan sangat hati-hati, Zea memeluk tubuh Rakes dari belakang lalu menenggelamkan wajahnya di punggung lebar Rakes.
"Zea....!" Ujar Rakes dengan tangan yang mengusap pelan kedua tangan Zea yang saling bertautan di bagian dadanya.
"Aku mencintai Chim chim!" Ujar Zea.
"Abang lebih mencintai Jannati!" Ujar Rakes lalu mengecup tangan Zea.
"Apa Chim chim kabur dari rumah sakit?"
"Abang nggak kabur, ya memang luka abang baik-baik saja, jadi tidak ada yang harus di rawat."
"Apa karena sangat merindukan kami?"
"Hmmmmm!" Ujar Rakes yang kembali mengecup lembut tangan Zea.
"Bagaimana kalau nanti lukanya tambah parah?"
"Kamu tau kan bagaimana kondisi tubuh abang. Tidak ada yang harus di khawatirkan, hanya perlu beberapa hari maka luka ini akan membaik dengan sendirinya."
"Aku ingin memeriksanya!" Jelas Zea yang kembali mengambil posisi duduk di depan Rakes.
Rakes sedikit merebahkan tubuhnya ke belakang agar Zea bisa melihat lukanya dengan jelas.
"Ayo solat subuh!" Ajak Rakes.
"Kira-kira berapa hari luka ini akan kering?"
"Empat atau lima hari mungkin!"
"Puasa lagi deh!" Gumam Zea penuh kecewa lalu beranjak dari tempat tidur.
Rakes ikut bangun lalu mengikuti Zea.
"Apa Chim chim mau wudhu duluan?" Tanya Zea.
Tanpa jawaban Rakes malah menghadang langkah Zea, tubuh Zea langsung bersandar pada bagian dinding tepatnya di depan kamar mandi.
Tangan kanan Rakes terulur menempel pada bagian dinding sejajar dengan wajah Zea.
"Kenapa?" Tanya Zea.
'Cup' Rakes langsung meluncurkan aksi tabrakannya.
"Jangan pancing, aku sudah berusaha menahannya sejak tadi, jika Chim chim terus begini aku takut aku tidak bisa menahannya lagi, aku akan langsung menyerang!" Jelas Zea.
"Tunggu apa lagi!" Tantang Rakes.
"Jangan salahkan aku!" Zea mengajukan peringatan lalu di menit berikutnya langsung meluncurkan serangan mautnya.
"Zea, mau ikut jamaah sama ayah dan uma atau nggak nih?" Tanya Elsaliani dari balik pintu kamar sana.
"Iya uma, ini Zea dan abang lagi siap-siap!" Jawab Zea dengan suara lantang.
"Ayo!" Ajak Rakes yang hendak masuk ke kamar mandi.
"dua menit lagi, please!" Pinta Zea yang kembali melanjutkan tabrakan maut.
"Aku duluan!" Jelas Zea dua menit setelahnya lalu segera berlari ke kamar mandi.
"Dasar curang!" Cetus Rakes.
"Biarin!" Teriak Zea dari dalam kamar mandi.
"Bagaimana aku tidak kabur dari rumah sakit, jika bayangan Zea terus menghantui akal sehat ku! maaf Rafeal Marvel, karena aku benar-benar tidak ingin berada di rumah sakit lebih lama lagi." Jelas Rakes, saat mengingat kembali aksinya yang kabur meninggalkan kedua sahabatnya yang masih tertidur pulas di rumah sakit sana.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️