My Princess

My Princess
#178



Kania seakan melompat keluar dari taxi yang baru saja berhenti, setelah membayar tagihan taxi, Kania langsung berlari lalu dengan buru-buru menekan bel yang terpasang di gerbang nan mewah tersebut, ia bahkan berulang kali menekannya hingga gerbang dibuka dari dalam.


"Non Kania!" Ujar pak satpam yang memang sudah begitu mengenali Kania.


"Apa abang ada di rumah?" Tanya Kania dengan nafas ngos-ngosan.


"Maksud non, Tuan muda?" Tanya Pak satpam yang langsung dijawab dengan anggukan kepala berkali-kali oleh Kania.


"Ada non, silahkan masuk!" Jelas Pak satpam.


Tak mau menunggu lebih lama lagi, Kania bahkan langsung menerobos masuk sebelum pak satpam membuka lebar gerbang.


"Assalamualaikum, assalamualaikum!" Kania bahkan memberi salam berulang kali tanpa jeda dengan tangan yang terus menekan bel.


"Siapa sih yang datang bertamu ke rumah orang nggak ada sopan sopannya, terus aja tekan belnya sampai hancur!" Gumam Mariana sambil terus melangkah menuju pintu utama.


"Biar bibi saja yang bukan, non!" Jelas Bi Maya yang terus berlari ke pintu utama.


"Siapa yang datang?" Tanya Marvel.


"Nggak tau!" Cetus Mariana kesal.


"Non Kania!" Ujar Bi Maya setelah membuka pintu dan mendapati Kania yang berdiri di depan pintu dengan jilbab yang berantakan dan keringat yang membasahi wajahnya.


"Kania...!" Ujar Mariana lalu melangkah mendekati Kania yang masih berdiri di posisi semula.


"Apa yang terjadi? apa sesuatu yang buruk terjadi pada Rafeal? ada apa? Rafeal baik-baik saja kan?" Tanya Marvel yang begitu khawatir.


"Abang, nikahi aku!" Pinta Kania dan langsung memeluk erat tubuh Marvel tanpa peduli pada yang lainnya, Kania bahkan semakin mengeratkan pelukannya, ia terlihat sama sekali tidak ingin melepaskan tubuh Marvel dari dekapannya.


"Kania, apa terjadi sesuatu?" Tanya Marvel yang masih berdiri kaku, ia bahkan sama sekali tidak membalas pelukan Kania.


"Jadikan aku istri abang!" Pinta Kania dengan isak tangis yang semakin membuncah.


"Kania, apa ini? apa kamu melakukan semua ini untuk Rafeal?" Tanya Mariana.


"Ana..." Tegur Marvel, dia tidak ingin ucapan Mariana nantinya malah membuat Kania salah paham.


"Pasti terjadi sesuatu kan? Kania, bicaralah yang jujur? apa lagi ini? kenapa kamu bersikap seperti ini pada abang aku?" Jelas Mariana.


"Ana! Ana sebaiknya kamu ke rumah sakit sekarang, abang bicara sebentar dengan Kania, nggak akan lama kok, abang akan segera menyusul." Jelas Marvel.


"Baiklah! abang atasi Kania, aku akan jumpai Rafeal." Jelas Mariana.


"Sebentar non, bibi buatkan minum ya!" Jelas Bi Maya dan lekas ke dapur.


"Ayo duduk!" Ajak Marvel.


Kania sama sekali tidak beranjak, dia terus saja memeluk erat tubuh Marvel.


"Kania...." Ujar Marvel lembut dengan tangan yang mengelus jilbab Kania.


"Berjanjilah untuk menikah dengan ku!" Pinta Kania dengan menatap dalam wajah Marvel.


"Apa terjadi sesuatu antara kamu dan Rafeal?"


"Kenapa mengajukan pertanyaan yang seperti itu?" Tanya Kania dengan tatapan kebingungan.


"Kania, maaf jika abang mencintaimu. Abang tau seharusnya abang tidak berdiri diantara kalian berdua....."


"Apa maksud abang?"


"Jujur sama abang, lelaki yang kami cintai Rafeal kan? bukan abang!"


Bak tersambar petir, detak jantung Kania terhenti seketika, matanya menatap kosong mata Marvel lalu di menit berikutnya tubuh Kania ambruk di lantai.


"Kania,,," Ujar Marvel lalu berusaha menyentuh Kania namun seketika Kania menjauh dari sentuhan Marvel.


"Jadi selama ini abang pikir perasaan aku hanya omong kosong belaka? baiklah, sepertinya aku yang harus pergi, karena sejak awal memang kehadiran aku di sini adalah sebuah kesalahan." Jelas Kania lalu perlahan berusaha bangun.


"Kania, jangan bohongi perasaan mu, abang tau kamu mencintai Rafeal kan?"


"Abang sendiri tau kan jawabannya? aku tidak harus menjawabnya."


"Kania...."


"Abang adalah cinta pertama aku, aku tidak pernah jatuh cinta pada lelaki manapun selain abang, termasuk abang Rafeal, aku sama sekali tidak mencintainya. Hanya abang satu-satunya lelaki yang ingin aku miliki." Jelas Kania dengan kedua tangan yang terus mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.


"Benar kah?"


"Apa yang harus aku lakukan untuk membuktikannya? agar abang percaya, katakan aku harus bagaimana?"


"Ayo kita menikah!" Ujar Marvel yang segera mendekati Kania lalu memeluknya erat.


"Benarkah? abang tidak sedang membohongi aku akan?" Tanya Kania dengan tatapan penuh harap.


"Hmmmm!" Ujar Marvel yang semakin mengeratkan tangannya di tubuh Kania.


"Khmmmm! serasa dunia milik berdua nih! jadi papi ngontrak nih ceritanya!" Ujar Revtankhar yang baru saja muncul di ruangan tersebut.


"Om...." Ujar Kania dengan menundukkan wajahnya karena malu.


"Papi rasa kalian harus segera dinikahkan secepatnya, yah papi nggak mau aja kalau sampai Marvel lepas kendali." Jelas Revtankhar.


"Papi apaan sih, jangan ngaco deh!' Ujar Marvel dengan wajah yang memerah sempurna.


"Kania, kalau sampa cowok ini macam-macam sama kamu, langsung laporin ke papi ya, biar papi kasih pelajaran!" Goda Revtankhar.


"Pi udah dong, Kania jadi malu gitu tuh!" Protes Marvel.


"Kania, kamu bilang aja kapan kamu siap, papi dan mami akan langsung datang meminang mu. Saran papi sih, jangan terlalu lama lagi, kasian noh cowoknya keburu tua!" Jelas Revtankhar.


"Papi...." Seru Marvel yang semakin kesal.


"Gimana kabar om?" Tanya Kania mengalihkan pembicaraan.


"Om? no Kania, panggi papi bukan om. Alhamdulillah kabar papi baik, oh ya gimana keadaan Rafeal?" Tanya Revtankhar.


"Dia sudah sadarkan diri, dokter bilang semuanya akan segera membaik!" Jelas Kania.


"Ya udah ayo kita ke rumah sakit!" Ajak Revtankhar.


"Ayo pi!" Ajak Marvel dan ketiganya segera meluncur menuju rumah sakit.


________________


"Apa yang lainnya sudah pulang?" Tanya Rafeal saat Mariana duduk di kursi di samping kirinya.


"Iya, hanya tinggal aku sendiri, kenapa? kamu risih? atau kamu juga mau aku pulang?" Tanya Mariana.


"Jangan salah paham!" Pinta Rafeal.


"Bagaimana aku tidak salah paham, jika sikap dan ucapan mu selalu saja buat aku kepikiran." Jelas Mariana.


"Maksudnya?" Tanya Rafeal.


"Berhenti bersikap sok polos. Oke fine, kamu memang mencintai Kania, tapi tidak bisah kah kamu berhenti mengharapkannya? dia sudah punya pacar, berhenti menjadi perusak hubungan orang terutama hubungan sahabat kamu sendiri!" Tegas Mariana penuh amarah.


"Ana, apa yang sedang kamu bicarakan?" Tanya Rafeal tak mengerti.


"Jangan berlagak bodoh di hadapan aku, aku tidak sebaik abang Marvel yang bisa menutup mata dengan tenang saat orang lain sedang berusaha merebut miliknya, aku tidak sebaik dia." Jelas Mariana.


"Ana, aku memang mencintai Kania tapi aku sama sekali tidak berniat untuk merebut dia dari marvel."


"Omong kosong!"


"Cukup Ana! cukup, hentikan!"


"Kenapa? kamu takut abang Marvel tau siapa kamu sebenarnya? dasar perebutan milik orang!"


"Keluar lah! aku ingin istirahat."


"Aku akan tetap di sini, akan aku temani kamu sampai kamu sadar lalu membuka mata mu lebar-lebar, supaya kamu bisa melihat keseriusan aku, supaya kamu sadar kalau aku mencintai mu dengan sepenuh hati!" Jelas Mariana lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil menyilangkan kedua tangan di pinggangnya.


"Terserah kamu saja, aku mau istirahat!" Jelas Rafeal lalu memejamkan matanya.


"Terserah aku?" Tanya Mariana memastikan.


"Iya!" Tegas Rafeal masih dengan mata terpejam.


Mendapat jawaban demikian dari Rafeal membuat Mariana bangkit dari duduknya dan tanpa ba bi bu, 'Cup' Mariana langsung mengecup kening Rafeal membuat sang pemilik kembali membukakan matanya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Rafeal yang kaget dengan sikap Mariana.


"kamu yang minta!"


"Aku? kapan?'


"Jangan pura-pura lupa, barusan kamu sendiri yang bilang kalau aku boleh melakukan apapun, terserah kan tadi kata mu?


"Tapi...." Rafeal kembali mengajukan protes namun Mariana malah kembali mengecup kening Rafeal di saat yang bersamaan Zea dan Rakes datang.


Rakes yang baru saja membukakan pintu ruang rawat langsung di suguhkan dengan pemandangan kiss yang sedang Mardiana lakukan terhadap Rafeal.


"Ana...." Ujar Rakes kebingungan.


"Rafeal..." Ujar Zea.


"Rakes, Zea..." Ujar Rafeal dengan perasaan yang begitu canggung sedangkan Mariana langsung menjauh dari Rafeal.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ