
"Kenapa berhenti?" Tanya Reva.
Tiba-tiba saja mobil Dion berhenti tepatnya di bawah sebuah terowongan tua yang memang tidak lagi di lalui banyak orang.
Bukannya menjawab pertanyaan Reva, Dion malah tersenyum puas kearah Reva.
"Akhirnya aku punya cara untuk mengalahkan Zea, setelah bertahun-tahun menunggu akhirnya kesempatan ini datang juga." Jelas Dion dengan tatapan yang mulai menilik setiap inci dari wajah Reva.
"Apa yang abang bicarakan? abang tidak berencana mengkhianati aku kan?" Tanya Reva yang mulai panik, pasalnya saat ini ia hanya berdua dengan Dion.
"Berkhianat? kenapa aku harus ragu untuk melakukannya?"
"Apa maksud abang, bukankah kita sudah buat perjanjian kerja?"
"Perjanjian? konyol! kamu tidak se-polos itu untuk percaya pada perjanjian diantara kita kan?"
"Kenapa jadi begini? kenapa berkhianat?"
"Haruskah aku percaya pada kamu? aku mengiyakan permainan ini karena ini semua sangat menguntungkan bagi aku, tapi tidak untuk ikut pada semua trik kamu."
"Apa maksud abang?"
"Reva, bagaimana bisa aku mempercayai orang yang bahkan mengkhianati kakaknya sendiri, Zea begitu menyayangimu tapi kamu sanggup mengkhianatinya, apa lagi aku? jauh lebih mungkin kamu akan mengkhianati aku yang jelas-jelas bukan siapa-siapa bagi kamu." Jelas Dion yang mulai bergerak lalu menyentuh wajah Reva.
"Berhenti! kamu akan menyesal karena main-main dengan aku!" Tegas Reva yang terus berusaha membuka pintu mobil.
"Aku suka perang saudara antara kalian, Reva, Zea, Roger, kalian membuat aku ingin tertawa menyaksikan drama yang kalian mainkan!" Jelas Dion yang mulai menciumi wajah Reva.
"Lepas! jangan sentuh aku!" Teriak Reva histeris yang terus berusaha menghindari sentuhan Dion.
"Teriak lah sekuat tenaga mu! teriak!" Seru Dion yang mulai emosi lalu dengan sigap mencengkeram kedua tangan Reva, membuat Reva begitu kesakitan.
"Aku mohon lepaskan aku!" Tangis Reva pecah, tenaganya habislah sudah untuk melawan Dion yang begitu tangguh dan kuat.
"Aku akan membuat Zea menyesal karena pernah mempermalukan aku, kali ini aku akan membuatnya menangis darah karena harus melihat adik kesayangannya ternodai dengan cara yang keji!" Jelas Dion yang semakin brutal menyerang Reva.
"Aku mohon biarkan aku pergi, aku janji, aku akan melakukan apapun yang abang inginkan, jadi aku mohon lepaskan aku!" Pinta Reva dengan isak tangis yang begitu mengharukan.
"Kamu tenang aja, aku bakal lepasin kamu kok, tapi setelah aku mencoba mu lebih dulu!" Jelas Dion yang terus mencium seluruh wajah Reva.
"Aku mohon!" Pinta Reva.
'Kriiiing' Kaca mobil di bagian sisi pengemudi pecah bersamaan dengan sebuah batu yang mendarat tepat di kepalanya Dion.
"Keluar!" Seru Rakes setelah membuka pintu mobil.
Mata tajam Rakes terus menatap Dion, disaat Dion masih saja mencoba menyakiti Reva disaat itu pula tangan Rakes langsung menarik kerah baju Dion lalu menyeretnya turun dari mobil.
"Apa kamu datang sebagai pahlawannya?" Cetus Dion yang langsung melayangkan tinjunya kearah Rakes.
Dengan gesit Rakes menghindari tinju tersebut, Rakes tersenyum sinis membuat Dion semakin emosi.
"Baiklah! aku tidak akan berlama-lama, akan ku habisi kamu sekarang juga!" Gumam Dion yang kembali menyerang Rakes.
Entah sudah berapa kali, serangan Dion hanya mengenai udara kosong, ia bahkan sama sekali tidak bisa menyentuh tubuh Rakes. Hal tersebut cukup membuat Dion semakin kesal dan emosi.
"Apa sekarang kamu meremehkan aku?" Tanya Dion yang masih sigap dengan tinjunya meski ia terlihat begitu lelah.
"Apa aku sudah boleh menyerang?" Tanya Rakes yang masih stay cool.
"Haiiiishh! kamu meremehkan aku? lihat saja aku akan membunuhmu!" Tegas Dion yang kembali menyerang, namun kali ini tangan Rakes langsung menghadangnya, membuat tubuh Dion terpental beberapa langkah ke belakang.
"Tunggu saja pembalasan ku! aku akan datang kembali untuk menghancurkan mu!" Tegas Dion yang segera kabur dari lokasi tersebut.
"Abang Rakes!" Seru Reva yang langsung keluar dari mobil.
Reva langsung berlari kearah Rakes lalu memeluk erat tubuh Rakes, dan kembali menangis dalam pelukan kekar tersebut.
"Reva, tenanglah!" Pinta Rakes yang berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Reva.
"Aku takut! aku benar-benar takut." Jelas Reva yang semakin larut dalam tangisnya.
"Sekarang kamu aman, tenanglah!" Pinta Rakes yang akhirnya berhasil melepaskan tubuhnya dari Reva.
Rakes melepas kemejanya lalu menutupi tubuh Reva, karena memang bagian atas baju Reva sedikit robek.
"Roger!" Panggil Rakes.
"Iya." Jawab Roger yang perlahan keluar dari mobilnya yang terparkir di depan terowongan sana.
"Antar Reva pulang!" Pinta Rakes setelah membimbing Reva mengikuti langkah yang keluar dari terowongan.
"Aku maunya sama abang Rakes!" Tegas Reva.
"Reva, masih ada hal yang harus abang urus, Roger akan menjagamu dengan baik, dialah yang mengabari abang tentang kejadian ini, jadi abang yakin dia pasti bisa mengantarkan kamu ke rumah dengan selamat." Jelas Rakes.
"Ayo!" Ajak Roger yang langsung mengambil alih Reva dari Rakes.
"Hati-hati! kalau sudah sampai rumah jangan lupa kabari abang." Jelas Rakes yang segera pergi dengan motornya.
Reva dan Roger pun segera memasuki mobil lalu bergegas meninggalkan lokasi tersebut.
"Apa ini semua?" Tanya Reva.
"Plan C!" Jawab Roger santai.
"Abang sadar nggak dengan apa yang abang lakukan? abang membuat aku ketakutan setengah mati!" Gumam Reva.
"Tapi nyatanya kamu oke kan?"
"Jika aku cerita mungkin tidak akan terlihat sealami ini kejadiannya." Jelas Roger.
"Tetap saja!" Ujar Reva yang langsung terhenti karena kini matanya melotot sempurna pada layar ponsel milik Roger.
"Bagaimana? kamu puas?" Tanya Roger.
"Wowwww, oke, aku akui abang memang hebat dalam bidang ini!" Ujar Reva yang langsung mengambil alih ponsel dari tangan Roger.
Mata Reva terlihat sangat berbinar ketika melihat semua foto mesranya dengan Rakes yang di abadikan dari sudut yang terlihat begitu romantis dan yang lebih membuat Reva tersenyum puas adalah semua foto-foto tersebut berada di chat dari Roger untuk Zea.
"Good job!" Seru Reva sembari menepuk bahu Roger dengan sangat bangga.
"Sekarang kita hanya harus menunggu, lalu menyaksikan pertengkaran antara pasangan kekasih tersebut dan selanjutnya baru kita beraksi, Zea bagian abang dan abang Rakes sepenuhnya bagian kamu, deal!"
"Deal!" Seru Reva dengan semangat yang menggebu.
___________________
Rakes yang baru saja memasuki kamar langsung di sambut oleh Zea dengan tatapan yang sukses membuat Rakes menghentikan langkahnya. Rakes yang masih diambang pintu dan Zea yang berdiri tepat di depan kasur, keduanya terpisah dengan jarak yang lumayan jauh, namun mata keduanya seakan saling menusuk dalam tatapan yang begitu dalam.
"Sudah jam dua belas malam, kenapa belum tidur?" Tanya Rakes yang mencoba memecah keheningan diantara keduanya.
"Kenapa pulang begitu larut?"
"Banyak hal yang harus abang urus." Jelas Rakes.
"Benarkah?"
"Apa abang buat salah?" Tanya Rakes yang mulai mengerti dengan sikap Zea saat ini.
"Mendekat-lah!" Pinta Zea.
Rakes segera melangkah mendekati Zea lalu seketika Zea langsung memeluk tubuh Rakes dengan begitu erat, tidak cukup sampai disitu, kini Zea mulai berusaha membuka kaos yang Rakes kenakan, sedangkan Rakes hanya diam membiarkan Zea melakukan apa yang ia inginkan, kemudian di menit selanjutnya Zea mulai menciumi seluruh tubuh Rakes tanpa terlewatkan seincipun.
"Ada apa?" Tanya Rakes yang kini mulai menyentuh rambut Zea hingga membuat Zea menghentikan aktifitasnya.
"Apa ada yang salah yang apa yang aku lakukan?" Tanya Zea yang kini mulai menatap mata Rakes.
"Pasti kamu punya alasan kenapa melakukan semua ini? apa boleh abang tau apa alasannya?" Tanya Rakes yang kini perlahan menyentuh lembut wajah Zea.
"Aku hanya ingin menghapus jejak Reva dari tubuh Chim chim!" Jelas Zea dengan wajah yang langsung tertunduk.
Jawaban Zea sontak membuat Rakes kaget, ia kembali mengingat kejadian tadi sore saat Reva memeluknya.
"Maafkan abang!" Pinta Rakes.
"Aku tau semua yang aku lihat bukanlah apa yang sebenarnya terjadi, aku tau Chim chim tidak akan melakukan semua hal yang ada di foto itu, tapi sekuat apapun keyakinan ku, aku tetap cemburu melihat milikku disentuh oleh orang lain, meskipun adik aku yang melakukannya." Jelas Zea.
"Terima kasih karena sudah begitu percaya sama abang, tapi untuk sekedar informasi, tadi bukan cuma kotak-kotak yang disentuh oleh Reva, tapi dinding beton juga ikut disentuh, apa kamu tidak berencana menghapus jejak tangan Reva yang menempel di dinding beton sana?"
Zea langsung beralih memutar tubuh Rakes agar membelakanginya lalu segera mendekap tubuh Rakes dari belakang.
"Dimana lagi?" Tanya Zea yang masih begitu nyaman menyandarkan wajahnya di punggung kokoh Rakes.
"Nggak ada lagi, hmmmm, sekarang apa kamu mau tabrakan?" Tanya Rakes.
"Banget!" Jawab Zea yang segera kembali menghadap Rakes.
"Apa mau mencoba hal yang lebih seru dari tabrakan?" Tanya Rakes dengan mata yang terus menatap seluruh tubuh Zea, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Emang ada hal yang lebih seru dari tabrakan?" Tanya Zea yang begitu bersemangat.
"Hmmmmm!" Ujar Rakes yang langsung menyerang bagian leher jenjang Zea, serta tangannya yang mulai menyentuh perut rata Zea.
"Ini namanya Razia Zebra! semuanya harus abang cek, dari ujung kaki hingga ujung kepala, nggak boleh ada yang terlewatkan." Jelas Rakes yang terus melanjutkan aksinya.
Penjelasan Rakes sontak membuat Zea tertawa, hal tersebut membuat Rakes langsung menghentikan aksinya.
"Kenapa tertawa?"
"Razia Zebra? nggak ada istilah yang lain apa? bikin aku tidak bisa berhenti tertawa saja! Chim chim, nggak usah aneh-aneh deh, Chim chim sama sekali nggak punya bakat untuk melakukan hal konyol yang seperti aku lakukan! dari pada Razia Zebra bukanlah berlayar lebih cocok?"
"Berlayar?"
"Hmmmm, aku lautnya, Chim chim perahunya, so Chim chim boleh berlayar ke sisi laut manapun, karena aku lautnya Chim chim!" Jelas Zea yang semakin tidak bisa menghentikan tawanya.
"Dasar bocah bar-bar!" Seru Rakes yang langsung menjitak kepalanya Zea.
"Tidurlah, abang mau mandi, udah sehari dua malam abang tidak mandi." Jelas Rakes dengan wajah cengengesan.
"Pantesan bau banget, udah buruan mandi sana!" Ujar Zea yang langsung mendorong tubuh Rakes ke kamar mandi.
"Mau ikutan?"
"Nggak mau!" Tegas Zea yang langsung menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.
(Aku akan selalu percaya sama Chim chim, apapun yang Chim chim katakan adalah yang sebenarnya, tidak peduli berapa banyak bukti yang orang lain miliki, aku akan tetap memihak pada Chim chim selamanya) Tegas. Hati Zea yang kini menghapus semua foto yang Roger kirimkan untuknya tadi.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE yaππ
Stay terus sama My Princessππππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ