My Princess

My Princess
#220



πŸ’œBeberapa hari setelah Mariana dan baby Arina keluar dari rumah sakitπŸ’œ


Tepatnya jam delapan malam, semuanya sedang asyik berkumpul di ruang keluarga, di atas ambal sana ada Zea, Uzun dan Rafeal yang lesehan di depan televisi tak lain adalah mantangin acara kesukaan mereka apalagi kalau buka acara sepakbola. Di sofa sisi kiri ada Azan yang begitu setia menemani Arina yang sejak tadi tertidur pulas di dalam pangkuan Marvel. Sedangkan di sofa sebelah kanan ada Kania yang dihimpit oleh Rakes dan Mariana.


Mereka semua terlihat begitu bahagia, kebersamaan yang belakangan jarang mereka rasakan karena selain beberapa hari yang lalu Mariana masih di rumah sakit, Marvel dan Rakes pun tidak berada di rumah karena sedang tugas, nah baru malam ini semua anggota keluarga bisa berkumpul dengan lengkap.


"Gimana? kata dokter bulan depan kan?" Tanya Mariana sambil menyentuh perut besar Kania.


"Hmmm, awal bulan katanya!" Jelas Mariana.


"Udah nggak usah gugup, kan tinggal belajar sama mereka berdua!" Jelas Rakes sekenanya.


"Abang kira melahirkan itu bisa di ajarin? beda-beda dong!" Protes Mariana.


"Ya paling nggak bisa kasih motivasi dong!" Jelas Rakes.


"Iya, cuman...." Ujar Mariana kesal.


"Udah nggak usah di ladenin, laki-laki mana paham!" Cetus Zea.


"Kamu jangan ngasal kalau ngomong, meski kami tidak mengalaminya, tapi kami paham kok!" Tegas Rafeal.


"Paham dari mananya? buktinya, pas aku ngelahiran kamu bengong aja kerjaannya!" Jelas Mariana.


"Tuh kan kebukti, abang Rakes dulu juga gitu!" Tuduh Zea.


"Juga gitu gimana? abang malah yang hampir mati!" Bela Rakes.


"Kayaknya aku nih yang bakal mati karena perdebatan kalian yang nggak jelas sama sekali!" Ujar Kania.


"Sorry! habis mereka buat aku emosi!" Ujar Mariana lalu kembali mengusap lembut perut Kania.


"Gollll!" Teriak Uzun spontan sambil bangun lalu menari riang karena tim jagoannya menang.


"Waaaah, nggak iya nih!" Cetus Zea.


"Masak iya sih Zea tim kita kalah, pasti ada yang nggak beres nih!" Ujar Rafeal yang terlihat lebih kesal lagi dari tadi.


"Kalian semua bisa diam nggak sih, tuh kan Arina kebangun gara-gara suara kalian semua!" Jelas Marvel.


"Sorry!" Ujar Uzun.


"Sayang udah bangun?" Tanya Azan sambil menyentuh wajah Arina yang sedang berusaha membuka mata bulatnya.


"Sayang? waaaah, belum apa-apa udah manggil sayang aja nih!" Ujar Marvel.


"Lah mama Ana yang ajarin!" Jawab Azan.


"Ana....!" Seru Rafeal, Rakes dan Marvel hampir serentak dan langsung mengarahkan pandangan mereka pada Mariana.


"Ya....biar romantis!" Ujar Mariana.


"So sweet!" Ujar Kania.


"Lah kenapa kamu juga ikutan?" Tanya Rakes.


"Ya emang sweet kan, sayang..." Ujar kania.


"Nanti aku juga mau ikutan, enaknya manggil apa ya? hmmmmm...." Ujar Uzun sambil terus mencoba berfikir.


"Honey, sweety, lovely... mau yang mana?" Tanya Zea yang mulai bersemangat.


"Chim Chim..." Goda Rafeal.


"Apaan sih!" Gumam Zea yang sontak memukul bahunya Rafeal.


"Biar lebih Sweet kayak......" Jelas Rafeal menggantung karena mendapat tatapan horor dari Rakes dan Zea.


"Ah iya gimana kalau....!" Usul Kania yang langsung terhenti.


"Apa mama Nia? lanjutin dong!" Pinta Uzun.


"Aku juga tiba-tiba jadi penasaran nih! apa?" Tanya Marvel.


"Nggak ada!" Tegas Marvel.


"Jangan-jangan panggilan yang sering kamu sebut saat ngigau? jangan bilang itu panggilan buat abang?" Jelas Marvel panjang lebar.


"Emang Kania manggil apa?" Tanya Mariana.


"Abang stop! jangan ngaco!" Ujar Kania yang mulai salah tingkah.


"Dolcezza!" Ujar Marvel.


"Dolcezza?" Ulang yang lainnya hampir berbarengan.


"Bohong, mana ada, aku sama sekali tidak menyebutkan nama itu!" Tegas Kania membela diri.


"Tunggu, sepertinya aku ingat sesuatu..." Ujar Zea tiba-tiba.


"Ah... iya, itukan nama panggilan sayang dari pasangan di film yang kita nonton bersama-sama di rumahnya Bian waktu itu..." Jelas Rafeal.


"Iya aku ingat, film Italia kan?" Ujar Zea.


"Iya!" Jawab Rafeal lantang.


"Apaan sih? aku ngantuk, aku tidur duluan!" Jelas Kania dengan wajah yang telah merah sempurna.


"Sayang tungguin Dolcezza mu dong!" Goda Marvel yang hendak menyusul Kania.


Marvel hendak memberikan Arina pada Rafeal, namun seketika langkahnya terhenti, tiba-tiba saja suara hantaman keras dari arah depan rumah membuat semuanya diam membisu.


"Kalian tetap di sini, biar aku yang cek!" Jelas Rakes yang segera bergegas menuju pintu depan sana.


"Kania ayo kembali ke sofa!" Pinta Rafeal yang bahkan segera menghampiri Kania lalu memandunya kembali ke sofa.


"Kalian tetap tenang, nggak ada yang boleh beranjak sedikit pun!" Perintah Marvel.


"Sebenarnya ada apa? semuanya baik-baik saja kan?" Tanya Azan yang mulai khawatir, tangannya segera menggenggam tangan mungil Arina yang masih berada dalam gendongan Marvel.


"Siapa?" Tanya Zea saat Rakes kembali pada mereka semua.


"Hai Zea, ini aku..." Ujar Dion yang ternyata datang bersama Rakes ke ruangan tersebut.


Rakes tampak berjalan sesuai perintah Dion, karena Dion tidaklah datang seorang diri, dia membawa rombongannya. Yah, dia datang dengan sepuluh lelaki kekar yang sejak tadi mengawalnya.


"Hah... lagi-lagi main keroyokan!" Ujar Rafeal yang malah melangkah mendekati Rakes.


"Terserah mau keroyokan atau tidak yang penting aku bisa membuat kalian bertekuk lutut!" Jelas Dion.


"Masih dendam karena kejadian waktu itu?" Tanya Zea.


"Ciiih, dendam? sekarang aku justru lebih tertarik dengan anak-anak mu!" Jelas Dion lalu melangkah mendekati Uzun dan Azan.


"Stop!" Seru Marvel yang langsung menjadi tameng untuk Azan dan Uzun.


"Ahhhh atau lebih menyenangkan jika bermain dengan bayi cantik ini!" Ujar Dion yang hendak menyentuh Arina.


Melihat gerakan Dion membuat Azan langsung beraksi dia langsung menggigit tangan Dion membuat Dion meringis kesakitan lalu terakhir membuat para pasukannya mengeluarkan senjata mereka lalu menghadang yang lainnya.


"Jangan sentuh milik ku!" Gumam Azan penuh amarah.


"Dasar bocah gila!" Gumam Dion yang langsung mendorong Azan ke lantai.


Perlakuan Dion membuat Marvel bertindak namun sayang langkahnya langsung terhenti ketika sebuah senjata mengarah tepat kearah Arina.


'Kriiiing' suara vas yang di pecahkan oleh Uzun menggema di udara, seketika Uzun mengarahkan beling dari vas tersebut tepat di perut Dion.


"Uzun!" Ujar Kania khawatir.


"Jangan sakiti abang aku!" Gumam Uzun.


"Uzun!" Ujar Zea yang mulai khawatir.


"Sedikit saja kamu bergerak maka peluru ini akan menembus kepala mu!" Tegas salah satu anak buah Dion yang menyekap Zea.


"Aku akan menusuk om!" Tegas Uzun.


"Coba saja sakiti milik ku, akan aku bunuh om sekarang juga!" Tegas Azan yang juga ikut menyodorkan beling kearah Dion.


"Oke, oke, stop! kita berhenti sekarang, aku udah nggak bisa lagi berakting, kedua bocah ini membuat aku merinding!" Jelas Dion dan langsung duduk ke sofa.


"Baru juga seru-seruan!" Jelas Zea.


"Kalau bukan karena ingin balas budi aku nggak bakal mau main dalam permainan kalian ini!" Jelas Dion.


"Selamat kalian lulus tes!" Jelas Marvel dengan senyuman.


"Maksudnya?" Tanya Azan kebingungan.


"Apa sekarang kalian semua sedang bercanda?" Tanya Uzun.


"Kami hanya ingin ngetes sejauh mana kalian akan menjaga milik kalian!" Jelas Rafeal.


"Dan gimana hasilnya?" Tanya Azan.


"Kalian membuat kami bangga!" Ujar Mariana dan langsung memeluk Azan dan Uzun secara bersamaan.


"Seratus!" Ujar Kania dengan penuh kebahagiaan.


"Daddy bangga sama kalian!" Ujar Rakes lalu memeluk kedua anak lelakinya.


"Mommy juga bangga banget sama kalian berdua, kelak tolong jaga Ratu dan Permaisuri kalian dengan baik!" Ujar Zea dan ikut memeluk si kembar.


"Pasti mommy!" Jawab Azan dan Uzun serentak.


"Jadi aku dan pasukan ku di anggurin nih! tamu loh ini!" Ujar Dion.


"Ya udah sini biar aku apelin!" Canda Rafeal.


"Masih aja begitu!" Ujar Dion dengan tawa lepasnya.


"Duduklah biar aku ambilkan minum!" Ujar Rakes yang bergegas mengambil minum untuk para tamu.


"Terima kasih!" Ujar Dion.


"Maaf ya om!" Pinta Uzun.


"Nggak masalah kok, ayo baikan!" Ujar Dion sambil mengarahkan tinjunya.


Uzun dan Azan pun langsung melakukan tos tinju secara bergantian dengan Dion.


"Dulu mommy kalian dan juga papa Rafeal kalian pernah nyelamatin nyawa om, dan sekarang kalian malah mau membunuh om!" Ujar Dion.


"Habis om sih yang duluan main ngancam-ngancam!" Jelas Uzun.


"Udah nggak usah dibahas lagi, ayo minum!" Ajak Rakes yang datang dengan nampan yang dipenuhi dengan gelas-gelas yang berisi minuman segar.


"Makasih!" Ujar Dion.


Mereka kembali ngobrol bersama sambil mengenang cerita lama saat mereka masih sekolah dulu, yah mereka dulu memang musuhan namun setelah Rafeal dan Zea menyelamatkan Dion dari para preman yang mencoba membunuhnya, akhirnya Dion menjadi teman mereka.


_______________


Jangan lupa LIKE Comen vote😘


Stay terus sama My Princess 😘😘😘😘


Khamsahamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Oh ya manteman jangan lupa main ke novel baru aku ya,,,


🍁Xue_Lian🍁


Ditunggu kunjungannyaπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ™πŸ™