
"Kak, kak Ana di mana?" Panggil Kania sambil terus menelusuri ruang keluarga.
"Di dapur, kenapa?" Jawab Mariana yang terlihat sibuk mencuci piring.
"Kak, ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kakak!" Jelas Kania yang langsung mendekati Mariana.
"Ada apa? kenapa? apa abang Marvel mulai berulah?" Tanya Mariana yang seketika langsung serius.
"Bukan bapaknya tapi anaknya!" Jelas Kania.
"Kenapa? apa Shia buat masalah?" Tanya Mariana.
"Justru itu, belakangan dia adem banget, aku jadi takut, kan kakak tau sendiri dia sering buat masalah kok tiba-tiba jadi nurut, Arin juga ikutan." Jelas Kania
"Ya bagus dong kalau mereka berdua nggak buat masalah!" Jelas Mariana.
"Dan yang paling aku bingung, sekarang tuh Arin ikut kursus menjahit dan Shia ikut kursus memasak, dan itu bukan gaya mereka!" Jelas Kania.
"Iya ya, kalau di perhatikan mereka emang jarang di rumah sekarang, sibuk kursus katanya belum lagi mereka ngambil les matematika kan." Jelas Mariana yang juga mulai menaruh curiga.
"Kayaknya ada yang aneh deh sama perubahan mereka semenjak naik kelas tiga SMA!" Ujar Kania.
"Takutnya malah Zea dan Rafeal yang ada di balik perubahan mereka, kamu tau sendiri kan?" Ujar Mariana
"Iya sih kak!" Ujar Kania.
"Apa sebaiknya kita selidiki aja mereka berdua?" Usul Mariana.
"Kita minta bantuan Azan sama Uzun aja!" Ujar Kania.
"Tapi kan mereka lagi sibuk kerja apa nggak bakal terganggu?"
"Iya juga sih, ya udah mendingan kita selidiki aja berdua!"
"Kamu benar Nia, nggak bisa dibiarin, kita harus cari tau sebenarnya apa yang mereka lakukan diluar sana!"
"Siapa nih yang jadi target mama Ana dan mama Nia?" Tanya Azan yang baru saja pulang.
"Ayo sini gabung!" Ajak Kania yang langsung merangkul Azan.
Mariana langsung menjelaskan dengan detail semua kecurigaan mereka kepada Azan.
"Biar aku dan Uzun aja yang urus, mama Nia dan mama Ana tenang aja!" Jelas Azan.
"Apa kamu punya waktu? kerjaan kamu gimana?" Tanya Kania.
"Mama Nia tenang aja, semua bisa diatur." Jelas Azan.
"Beneran?" Tanya Mariana.
"Ntar kalau Uzun pulang kami akan langsung beraksi, bye mama Nia dan mama Ana sayang!" Ujar Azan yang bergegas ke kamarnya.
"Selama tiga hari ini kita tunggu aja dulu gimana hasilnya, kalau semakin mencurigakan para tuyul itu juga pasti ikut serta membantu mereka berdua, kita harus lebih hati-hati sama mereka!" Jelas Mariana.
"Iya kakak benar!" Ujar Kania.
_________________
"Ingat jangan lupa, dua jam lagi kita ketemuan di sini, ingat itu!" Tegas Arina saat ia keluar dari taxi online yang baru saja mengantarkan keduanya ke tujuan mereka.
"Siap kak!" Tegas Urshia yang bergegas keluar dari mobil.
"Jangan terlambat, jika tidak papa Rafeal akan marah!" Jelas Arina.
"Iya kakak ku tersayang, setelah latihan aku akan langsung stay di sini, aku duluan semoga kursus menjahit kakak hari ini menyenangkan!" Ujar Urshia.
"Kursus memasak mu juga!" Ujar Arina dengan senyuman lebar.
Lalu mobil kembali berangkat meninggalkan lokasi tersebut. Sepuluh menit berlalu, Arina pun sampai di tempat tujuannya, Arina keluar dari mobil dan segera berlari memasuki gedung yang kini menjadi tempat dia mengikuti kursusnya.
"Hai baru datang?" Sapa sahabatnya siapa lagi kalau bukan Mea.
"Hmmm, aku ganti baju dulu ya!" Ujar Arina dan lekas menuju ruang ganti.
Setelah beberapa menit berlalu, Arina keluar dengan seragam yang membuatnya terlihat semakin cantik, semua mengambil posisi masing-masing saat sang pelatih mulai berdiri dihadapan mereka.
Yah, meski Arina meminta izin untuk mengikuti kursus menjahit pada kenyataannya dia malah mendaftar pada salah satu club Teakwondo yang paling populer di kalangan remaja saat ini. Sejak dua bulan yang lalu dia dan Mea memutuskan untuk belajar bela diri selain memang untuk menjaga diri keduanya memang telah jatuh cinta dengan dunia teakwondo.
Berbeda dengan Arina, Urshia justru lebih tertarik pada bidang panah memanah dan juga boxing. Dia justru mendaftar di kedua bidang tersebut.
Hari ini Urshia berlatih memanah dengan sahabatnya siapa lagi kalau bukan Alayna.
"Semakin bagus!" Ujar sang pelatih yang bernama Dimas.
"Harus dong! hmmm ...." Ujar Urshia yang langsung memasang wajah manjanya.
"Pasti ada maunya, kali ini apa lagi? Shia mau apa? hmmmm?" Tanya Dimas dengan tangan yang langsung mengacak jilbab Urshia.
"Gimana kalau besok kita latihannya ke lapangan?" Usul Urshia.
"Lalu ini bukannya lapangan?" Dimas balik bertanya.
"Ih abang Dimas gitu sih! maksudnya kita ke hutan berburu gitu!" Jelas Urshia.
"Kalau sampai pak Marvel tau maka kepala abang akan cerai dari badan!" Jelas Dimas.
"Papa Marvel nggak bakal tau kok selana kita main cantik, boleh ya..." Rayu Urshia.
"Boleh lah pak! please..." Pinta Alayna dan Urshia serentak bahkan dengan wajah penuh harap.
"Nggak, abang nggak mau!" Tegas Dimas.
"Ayo Alayna kita cari guru baru aja!" Cetus Urshia yang berlalu begitu saja.
"Abang Dimas sih, udah ah...!" Cetus Alayna dan segera menyusul Urshia.
"Besok jam 3 siang kita berangkat!" Seru Dimas dan langsung meninggalkan lokasi latihan.
"Yes!" Teriak Urshia girang.
"Apa sih yang nggak bakal dia iyain buat calon adik iparnya." Jelas Alayna.
"Jangan ngaco, kalau sampai kak Arin tau bisa habis kita berdua!" Ujar Urshia.
"Aku malah takut kalau abang Azan yang tau, hufff bakal di botakin kita berdua!" Ujar Alayna.
"Ishhh ngeri!" Cetus keduanya lalu segera bergegas ke ruang ganti.
__________________
Bunyi klakson dari tempat parkir disisi kanan membuat Uzun yang baru keluar dari rumah sakit langsung menoleh kearah suara klakson tersebut. Sebuah tangan melambai ke arahnya.
"Padahal aku cuma ingin tidur sebentar! kali ini apa lagi masalahnya? kenapa dia menjemput aku..." Uzun terus bergumam sambil berjalan kearah mobil Azan.
Karena Uzun hafal betul setiap kali Azan datang itu pasti ada hubungannya dengan Urshia dan Arina yang selalu buat ulah.
"Ada apa? apa Shia mulai bertingkah lagi? udah biarkan aja, namanya juga masih SMA ya pantas dong kalau mereka bertingkah, kalau diam aja bukan didikan papa Rafeal dan mommy namanya!" Cetus Uzun sambil memasang sabuk pengaman pada dirinya.
"Udah ikut aja, abang juga penasaran sebenarnya drama apa yang sedang mereka mainkan!" Jelas Azan yang mulai menjalankan mobilnya.
"Apa haru ini abang nggak ada sidang?" Tanya Uzun yang malai mengunyah makanan.
"Nggak ada!" Jawab Azan.
"Aku bahkan belum sempat istirahat sebentar pun, jadwal operasi ku minggu ini benar-benar luar biasa, rasanya aku mau jadi robot aja!" Keluh Uzun kesal.
"Kamu sendiri kan yang ingin jadi dokter, maka mainkan karakter mu dengan baik. Lagi pula menjadi dokter adalah pekerjaan yang sangat mulia!"
"Jaksa juga pekerjaan yang luar biasa!"
"Tetap saja dokter lebih wow!"
"Terserah abang ajalah! sekarang kita kemana?"
"Ke tempat kursus Arin dan Shia!"
"Dapat alamat dari siapa?"
"Mama Nia!"
"Emang mereka ikut kursus apa?"
"Arin masuk kelas Menjahit dan Shia memasak!"
"What!!!" Gumam Uzun terkejut dengan mata yang melotot sempurna.
"Kenapa?"
"Abang nggak ketipu dengan muka polos mereka berdua kan? Sejak kapan gadis kesayangan mommy dan papa Rafeal jadi senurut itu? haaaah, mau mati sekalipun mereka nggak akan ikut kursus yang seperti itu!" Jelas Uzun.
"Justru karena itu, abang ingin memastikan sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan." Jelas Azan yang langsung menghentikan mobilnya.
"Yakin di sini? Be a good wife?" Ujar Uzun sambil membaca pamplet di gedung tersebut.
"Kita tunggu aja, untuk sementara kita ikuti drama mereka!"
"Udah bang putar balik, kita tunggu mereka di persimpangan sana!"
"Sepertinya itu Mea..." Seru Azan saat melihat Mea yang baru saja keluar dari gedung dari arah yang berlawanan dengan gedung yang mereka datangi barusan.
"Judo& Teakwondo!" Baca Azan pada bagian atas gedung dimana Mea baru saja keluar.
"Mea tunggu!" Pinta Arina yang berlari keluar dari dalam gedung tersebut.
"Menjahit? waaaaaaaah? sepertinya dia bakal menjadi penjahit yang sangat lihai, aku jamin dia bisa membuat semua pelanggannya patas tangan dan babak belur!" Seru Uzun yang masih saja tertawa melihat Azan yang masih menatap horor pada Arina yang masih berdiri di samping Mea.
💜💜💜💜💜💜💜💜