
Setelah sholat ashar Rakes dan Zea memutuskan untuk menghabiskan waktu sore mereka dengan berjalan santai sambil menunggu matahari terbenam. Keduanya masih asyik berjalan-jalan layaknya beberapa pasangan lainnya yang juga sedang menikmati suasana pantai di sore hari.
Tangan Zea tak sedikitpun melepaskan genggamannya pada tangan kanan Rakes, ia bahkan sesekali malah menarik tangan sang suami untuk merangkul bahunya, bukan tanpa sebab, Zea melakukan semua itu karena sedari tadi ada segerombolan cewek-cewek yang terus saja melirik kearah Rakes. Kawanan cewek-cewek itu dapat di pastikan adalah para siswa yang sedang menikmati weekend mereka bersama para sahabat.
"Bisa nggak kecepatannya kita tambah?" Tanya Zea yang terlihat begitu kesal.
"Maksudnya?" Tanya Rakes yang memang tidak paham dengan pertanyaan yang Zea ajukan.
"Jalannya!"
"Kenapa? bukankah kita mau menikmati pantai, so kenapa buru-buru?"
"Aku nggak saka sama mereka!"
"Mereka siapa?"
Zea tidak menjawab, ia hanya menunjukkan para cewek-cewek tadi dengan dagunya, karena memang mereka berjalan tepat beberapa langkah di belakang Zea dan Rakes.
Rakes yang paham dengan maksud sang istri hanya menanggapinya dengan senyuman. Rakes bukannya mempercepat langkahnya ia malah dengan spontan berhenti membuat Zea semakin kesal.
"Hai...." Sapa Rakes dengan memamerkan seluruh deretan gigi putihnya.
"Haiiii!" Balas mereka semua dengan begitu semangat, bahkan ada antara mereka yang langsung merah merona dan salah tingkah karena di sapa oleh Rakes.
"Abang liburan juga di sini?" Tanya salah satu dari mereka.
"Bukan, mau perang! udah tau nanya pula! kurang kerjaan banget, emang ada ya, yang kesini buat perang atau nagih utang!" Gumam Zea kesal.
"Ishhhhhh! jai cewek kok bar-bar! lagian dia tanyanya bukan sama elo kali!" Cetus salah satu dari mereka, tepatnya gadis yang mengenakan dress biru tua.
"Khmmmmmm! mau kenalan?" Tanya Rakes.
"Mau bangettt!" Jawab mereka yang begitu antusias.
"Nama abang Rakes, dan ini istri abang namanya Zea." Tegas Rakes dengan merangkul pinggang Zea.
Sikap Rakes membuat Zea melayang bukan kepalang, ia bahkan memeluk Rakes. Mengetahui kenyataan yang sebenarnya membuat mereka kecewa bahkan ada yang mengumpat dan mencela Zea, mereka mempercepat langkahnya meninggalkan pasangan yang sukses membuat mereka semua kesal.
"Gimana? apa nyonya sudah puas?" Tanya Rakes.
"Banget!" Jawab Zea.
"Ayo duduk di sana!" Ajak Rakes yang membawa Zea ikut bersamanya.
Rakes melepaskan kemejanya lalu menggelarnya di atas pasir.
"Ayo sini!" Ajak Rakes yang telah lebih dulu duduk.
Zea mendekat lalu segera duduk dihadapan Rakes, keduanya terus memanjakan mata dengan deburan ombak yang menyapu bibir pantai.
Angin yang bertiup sepoi-sepoi dengan nakalnya mempermainkan jilbab Zea. Perlahan Rakes mengulurkan tangannya di bahu Zea, lalu menekan kedua bagian sisi jilbab agar tidak terus berlenggak-lenggok dipermainkan oleh angin.
Kedua tangan Rakes saling bertautan di bagian perut sang istri. Zea sedikit mengangkat kedua lututnya lalu mendekapnya dengan kedua tangannya.
"Jika bisa aku ingin menghentikan waktu! aku ingin lebih lama lagi disini." Ungkap Zea lalu menyandarkan wajahnya di lengan kekar Rakes.
"Abang janji, setelah ini kita pasti akan liburan lagi, meski abang tidak bisa memastikannya kapan, tapi yang jelas kita pasti akan kesini lagi!" Jelas Rakes lalu sedikit menunduk agar dagunya bisa menyentuh kepala Zea.
"Zea akan menanti waktu itu datang!" Ujar Zea lalu mengecup lembut lengan Rakes.
"Zea...."
"Hmmmmmm!"
"Mau mendengar cerita konyol?"
"Ceritakanlah!"
"Dulu, saat keluarga kita liburan bersama, waktu itu adalah liburan kenaikan kelas, kita sama-sama ke kebun binatang!" Rakes mulai mengingat sepihal kisah masa lalu mereka bersama.
"Ingat banget! itu waktu aku mau naik kelas enam. Apa ada hal yang tidak aku tau?"
"Kamu ingat sore itu abang nangis bahkan hingga malam tidak mau keluar dari kamar hotel dan besoknya langsung minta pulang!"
"Ya jelas aku ingatlah! abang ngambek karena papa nggak izinin abang berlama-lamaan di dekat kandang harimau kan? abang sih sok berani!" Jelas Zea.
"Itu hanya alasan yang abang buat, karena sebenarnya saat itu abang menangis karena hati abang terluka, rasanya sakit banget, sampai untuk bernafas aja abang kesulitan." Jelas Rakes.
"Lalu? apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Zea pelan.
"Kamu alasannya!"
"Aku? emangnya apa yang aku lakukan? apa aku menerkam Chim chim?" Tanya Zea.
"Pas saat kita berdua sedang memberi makan kelinci, kamu ingat abang mengejak mu untuk ikut bersama abang, tapi kamu menolaknya dengan kasar namun selang beberapa menit Roger datang lalu mengajak untuk melihat rusa lalu dengan penuh semangat kamu ikut dengannya, kamu bahkan menggenggam erat tangan Roger lalu pergi meninggalkan abang begitu saja." Jelas Rakes.
"Jadi itu alasannya Chim chim ngurung diri di kamar?"
"Hmmmmmm!"
"Maaf, saat itu....."
"Abang paham, abang ngerti!"
"Maaf karena membuat abang terluka dan kecewa." Pinta Zea.
"Kenapa minta maaf, abang kecewa bukan karena Zea, tapi abang kecewa pada diri abang sendiri, karena abang tidak bisa membuat kamu nyaman saat bersama abang. Abang benci dengan diri abang yang tidak bisa mendekati mu dengan leluasa yang seperti Roger lakukan." Jelas Rakes yang langsung membenamkan wajahnya di leher Zea.
Zea yang sedari tadi mencoba untuk menahan air matanya, pada akhirnya meleleh juga. Zea segera memutar posisinya menghadap pada Rakes lalu segera memeluk erat sang suami.
"Loh kenapa menangis? it's oke, lagi pula halnya cerita kan? berhentilah menangis!" Ujar Rakes mencoba menenangkan Zea yang mulai terisak.
"Maafkan aku!" Pinta Zea di sela tangisnya.
"Kamu nggak salah lalu kenapa meminta maaf! udah, abang tidak suka dengan air matamu!" Jelas Rakes sambil terus mengusap lembut wajah Zea dengan kedua telapak tangannya.
"Waaah matahari mulai terbenam!" Seru Rakes.
"Indahnya....!" Ujar Zea namun masih saja menatap wajah Rakes.
" Zea, mataharinya di sana loh, di ufuk barat, bukan di wajah abang!"
"Wajah abang jauh lebih indah." Ujar Zea yang langsung mengecup kedua pipi Rakes.
"Ayo kembali ke kamar, kita sholat magrib dulu setelah itu baru cara makan malam." Jelas Rakes.
"Gendong!" Pinta Zea manja.
"Tumben minta di gendong!" Ujar Rakes heran.
"Raze junior yang minta, kayaknya!" Jelas Zea.
"Ayo sini!" Ujar Rakes yang hendak mengangkat tubuh Zea.
"Di punggung! aku maunya di gendong di punggung!" Jelas Zea.
"Siap my princess, perintah di laksanakan!" Ujar Rakes yang langsung berjongkok di depan Zea.
Zea segera naik ke punggung Rakes dengan kedua tangan yang mendekap erat leher Rakes.
"Sepertinya abang agak ragu deh!" Ujar Rakes sambil terus berjalan.
"Ragu apa?" Tanya Zea setelah menghentikan aksinya yang sedari tadi mengecup leher Rakes.
"Sebenarnya ngidam karena Raze junior atau emang....." Rakes sengaja menggantungkan kalimatnya hingga membuat tangan Zea mencubit lengan Rakes.
"Auwwwwww! sakit." Jerit Rakes yang memang kesakitan
"Biarin!" Cetus Zea.
"Mau Jannati yang pengen atau pun Raze junior, abang akan melakukan semuanya, apapun itu!" Jelas Rakes.
Zea yang tersipu malu mempererat dekapannya lalu menyembunyikan wajahnya di leher kiri Rakes.
Rakes tak berkomentar, wajahnya bahkan lebih merona dari wajah Zea. Rakes mempercepat langkahnya hingga akhirnya mereka sampai kamar, buru-buru sholat magrib, sejenak zikir bersama lalu hanyut dalam lantunan doa. Setelah aktivitas ibadah selesai baru keduanya keluar untuk makan malam lalu menghabiskan sisa waktu liburan mereka sambil menikmati keindahan laut malam yang lengkapi dengan hamparan langit hitam yang di hiasi dengan jutaan kerlipan bintang serta sang sabit yang tergantung di sana, membuat langit malam enggan untuk dilewatkan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida❤️❤️❤️❤️❤️