My Princess

My Princess
#112



"Kenapa berhenti di sini? bukannya tadi heboh mau melabrak abang Rakes? terus ngapain jongkok di sini?" Tanya Ivent.


Ivent yang awalnya berlarian mengejar Zea kini malah berjalan santai karena melihat Zea yang sedang berjongkok di dinding luar toko. Ivent terus melangkah mendekati sosok Zea yang kini terlihat membenamkan wajahnya di kedua lututnya.


"Zea, apa sekarang kamu sedang menangis?" Tanya Ivent kembali setelah ikut jongkok di hadapan Zea.


"Menangis katamu? apa yang harus aku tangisi? yang ada sekarang aku lagi kesal!" Jelas Zea.


"Sama abang Rakes?"


"Aku justru kesal pada diri aku sendiri!"


"Maksudnya?"


"Aku rasa aku meninggalkan otak ku di rumah, aku lupa membawanya. Sekarang perasaan aku benar-benar sedang kacau, makanya untuk sesaat aku terkecoh, aku tidak bisa berpikir dengan benar. Ayo pulang!" Jelas Zea dan langsung berdiri.


"Apa kamu tidak marah dengan adegan barusan?" Tanya Ivent setelah ikut berdiri.


"Aku percaya pada suami aku, apapun yang dia lakukan pasti ada alasan yang kuat di belakangnya. Bahkan jika orang lain membawa bukti yang akurat sekalipun, aku akan tetap percaya pada suami aku meski ia hanya menggunakan ucapannya sebagai bukti."


"Ternyata benar, isu tentang kamu benar adanya, kamu tidak hanya tangguh tapi kamu begitu bijak dan satu hal yang begitu aku kagumi dari kamu, kepercayaan mu itu lebih dari segalanya, kamu bahkan tidak tumbang di amuk badai. Ayo pulang!" Jelas Ivent dengan senyuman.


"Terima kasih atas pujiannya! kuping aku sampai naik nih!" Canda Zea dengan tawa khasnya lalu segera meninggalkan lokasi tersebut.


Ivent kembali mengikuti langkah Zea yang sudah lebih dulu menelusuri trotoar. Di lain sisi, di dalam toko sana perdebatan terus saja terjadi, kedua belah pihak bahkan tidak peduli dengan para satpam yang sejak tadi berusaha melerai mereka. Rakes yang baru datang segera mengambil alih, dengan kasar tangan Rakes menarik Risty untuk kembali ke pihaknya.


"Apa yang kamu lakukan? kembalikan kekasih ku!" Gumam Marvel dengan penuh penekanan.


"Aku rasa kamu tidak tuli kan? jelas-jelas Risty tidak mau ikut dengan mu." Jelas Rakes.


"Ini bukan urusan mu!" Cetus Marvel.


"Perkenalkan aku kuasa hukumnya Temi! dan apa aku harus membuat mu melepaskan gadis ini secara sukarela? atau, ayo kita lewati jalan hukum!" Jelas Rakes.


"Apa sekarang kamu sedang mengancam aku?" Tanya Marvel yang tidak terima dengan tawaran Rakes.


"Nih!!!" Seru Rakes sembari melempar beberapa lembar foto ke wajah Marvel.


"Lepaskan Risty atau aku akan mengajukan gugatan atas kekerasan yang kamu lakukan pada Risty!" Jelas Rakes.


"********!" Gumam Marvel yang meremas foto-foto tersebut, foto-foto kekerasan fisik yang ia lakukan terhadap Risty.


"Risty, kamu ikut Temi pulang. Aku akan mengurus semua sisanya!" Jelas Rakes.


"Ayo sayang kita pulang, kamu juga Kesya, ayo!" Ajak Temi.


"Aku akan pulang bersama Raditya. Papa dan Risty pulanglah duluan!" Jelas Kesya.


"Kesya!" Ujar Rakes.


"Oke, aku percayakan putri kesayangan ku pada mu, ayo Risty!" Jelas Temi.


"Baik om!" Jawab Risty yang segera mengikuti Temi.


Temi dan Risty keluar dengan di dampingi oleh kelima pengawalnya, kini yang tersisa hanyalah Rakes, Marvel, Andika, Kesya dan para pegawai toko.


"Ini ganti rugi atas kerusakan dan ketidak nyamanan yang kami sebabkan! Aku harap kesalah pahaman ini cukup sampai di sini!" Jelas Rakes setelah menyerahkan Selembar cek pada sang CEO Barnded Colections' yang baru saja tiba di lokasi.


"Baik pak!" Jawab sang CEO patuh setelah melihat nominal yang tertera pada cek tersebut.


"Aku akan membalas mu! camkan itu!" Gumam Marvel dan lekas pergi.


Andika hanya mengikuti langkah Marvel. tanpa berani protes sama sekali.


"Kalau begitu kami juga permisi!" Ujar Rakes.


"Terima kasih pak, jangan lupa untuk kembali berkunjung, kami akan memberikan pelayan terbaik untuk bapak dan juga kekasih bapak!" Jelas CEO tersebut.


"Dengan senang hati kami akan datang kembali!" Seru Kesya dengan senyuman bahagia.


Rakes lekas pergi tanpa lagi peduli pada Kesya yang mulai bertingkah bak kekasih dirinya. Melihat Rakes yang melangkah keluar membuat Kesya segera menyusulnya.


"Tungguin!" Perintah Kesya yang bahkan sama sekali tidak di gubris oleh Rakes.


"Eh aku bilang tunggu!" Ulang Kesya kali ini dengan suara lantangnya.


Rakes menghentikan langkahnya, lalu melemparkan kunci mobil ke arah Kesya, yang membuat gadis tersebut dengan spontan menangkapnya.


"Aku bekerja sebagai kuasa hukum Naga Merah bukan sebagai kekasih sewaan mu, aku akan pulang ke rumah aku, kamu pulanglah!" Jelas Rakes yang segera pergi tanpa lagi peduli pada Kesya yang terus bergumam kasar tentang dirinya.


______________________


"Zea, kamu yang makan semua ini?" Tanya Elsaliani yang baru saja datang ke ruang TV.


Langkah Elsaliani bahkan terhenti saat mendapati Zea yang tiduran di ambal bulu-bulu dengan di temani oleh bermacam-macam jenis bungkusan snack yang berceceran di lantai.


"Sayang!" Panggil Elsaliani setelah kembali mendekati sang putri yang berbaring di dalam kerumunan sampah.


"Ya ampun! kamu tidur? Zea, bahkan kamu tertidur begitu pulas dalam tumpukan sampah." Ujar Elsaliani setelah duduk di sisi Zea.


Sejenak tersenyum sambil memerhatikan wajah polos Zea yang sedang terlelap damai dalam tidurnya. Tangan Elsaliani mulai mengumpulkan sampah-sampah tersebut.


"Apa terjadi sesuatu? apa yang membuat mu begitu kesal sayang? uma tau kamu akan seperti ini setiap kali kamu sedang kesal, sebenarnya apa yang sedang membuat kamu jadi seperti ini?" Tanya Elsaliani setelah selesai mengumpulkan semua sampah.


Mata Elsaliani masih saja memandangi wajah Zea.


"Kenapa kalian di sini?" Tanya Iqbal yang baru saja datang.


"Tuuh lihat!" Ujar Elsaliani dengan menunjuk kearah di mana Zea tidur.


"Apa dia lagi kesal?"


"Apa lagi yang membuatnya menghabiskan makanan sebanyak ini, jika bukan lagi kesal."


"Pasti karena Rakes." Tebak Iqbal.


"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, jika kita ikut campur, El takut kita malah akan menyakiti salah satu dari mereka." Jelas Elsaliani.


"Tapi sayang, mereka tanggung jawab kita, setidaknya kita harus mengingatkan mereka."


"Iya, El paham maksud mas, tapi beri mereka kesempatan dan waktu, mereka hanya belum terbiasa dengan keadaan mereka." Jelas Elsaliani.


"Baiklah sayang, mas ikut pendapat sayang." Ujar Iqbal yang langsung memeluk erat tubuh Elsaliani.


"Mas...."


"Rindu..."


"Apaan sih!"


"Serius! sayang mas rindu charge tenaga dan juga excellent servis dari sayang!" Jelas Iqbal yang langsung membuat Elsaliani salah tingkah.


"Dasar nakal!"


"Loh sama istri sendiri nggak masalah dong...!" Protes Iqbal yang perlahan mulai mencium leher jenjang Elsaliani.


"Khmmmmmm" Suara Rakes sukses membuat Iqbal menghentikan aksinya mesranya.


"Ciiiih! selalu aja ada iklan yang lewat!" Gumam Iqbal kesal.


"Kamu baru pulang sayang? udah makan?" Tanya Elsaliani yang langsung membuat jarak dari Iqbal.


"Iya uma, dan aku udah makan tadi." Jawab Rakes.


"Tuh bagian kamu, urus gih sana!" Seru Iqbal sambil menunjuk dengan dagunya kearah dimana Zea terbaring lelap.


"Mas..." Ujar Elsaliani.


"Sayang, emang iya kan? apa ada yang salah dengan ucapan mas?" Tanya Iqbal.


"Iya, tapi...." Protes Elsaliani.


"Kalau begitu kami permisi, selamat malam!" Jelas Rakes yang entah sejak kapan ia sudah membawa Zea ke dalam gendongannya.


Rakes lekas menaiki tangga meninggalkan pasangan yang sedang kasmaran tersebut.


"Ayo sayang!" Ajak Iqbal yang juga ikut menggendong Elsaliani dan segera menuju kamar mereka.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida❤️❤️❤️❤️❤️