
"Chim chim....!" Panggil Zea yang sedang duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan kedua kaki yang ia letakkan di atas guling.
"Hmmmmm!" Jawab Rakes yang terlihat masih sibuk merapikan buku-buku pelajaran Zea yang berantakan di atas meja belajarnya.
"Chim chim tau kan cerita uma?" Tanya Zea yang kini fokus menatap kearah Rakes.
"Cerita uma? maksudnya?" Tanya Rakes yang kini perlahan melangkah mendekati Zea lalu duduk di samping kanannya.
(Apa Zea sudah membaca semuanya? perasaan aku menyimpan file diary uma dengan sangat baik, aku bahkan memakaikan password. kapan Zea membuka laptop ku?) Tanya hati Rakes yang mulai panik, dia tidak ingin Zea tau masa lalu kedua orang tuanya.
"Dulu bunda pernah cerita, kalau saat aku lahir uma begitu kesakitan, uma bahkan harus menjalani operasi dan bertaruh dengan nyawanya sendiri. Sebenarnya, aku takut, aku takut abang!" Tangis Zea seketika pecah.
"Zea.....!" Ujar Rakes lalu segera memeluk sang istri tercinta.
"Aku takut, aku anak uma dan kemungkinan besar aku akan mengalami hal yang sama seperti uma." Jelas Zea.
"Zea, tenanglah! abang janji, abang akan selalu di samping kamu, abang akan temani kamu."
"Jika nanti abang harus memilih antara aku dan Raze Junior....."
"Berhenti bicara omong kosong, abang tidak akan melepaskan satupun diantara kalian berdua." Tegas Rakes yang langsung menyelip pembicaraan Zea.
"Abang.....!" Ujar Zea yang semakin mendekap erat tubuh Rakes, dia memang terlihat begitu ketakutan.
"Tenanglah sayang!" Pinta Rakes yang terus mengelus lembut rambut Zea, dia terus menenangkan Zea yang semakin kacau.
"Jika aku pergi lebih dulu, Chim chim pasti akan mencari pengganti ku di hati Chim chim kan? pasti gadis itu akan lebih cantik dari aku, lebih bening, lebih lembut, lebih....."
"Cukup Zea!" Tegas Rakes dengan suara lantang.
"Tapi.....!"
"Berhenti bicara omong kosong, berapa kali harus abang katakan kalau hanya kamu satu-satunya perempuan yang ada di hati abang nggak ada yang lainnya dan tidak akan pernah ada." Tegas Rakes lalu mengecup kedua pipi Zea.
"Chim chim..." Ujar Zea pelan lalu balik mengecup kedua pipi Rakes.
"Gimana kabar anak daddy? baik-baik selalu yang sayang, jaga mommy ya, dady sayang kalian berdua!" Ujar Rakes lalu mengusap pelan perut buncit Zea.
"Siap daddy sayang!" Ujar Zea penuh manja lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Rakes.
"Zea, abang tau semakin hari kamu pasti semakin kelelahan dengan perut yang kian membesar apalagi dengan usia kamu yang masih sangat muda, maaf karena abang tidak bisa selalu ada buat kamu, abang bahkan sering meninggalkan kamu disaat kamu begitu butuh bantuan. Abang memang bukan lelaki sempurna tapi abang akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik buat kamu dan anak-anak kita nantinya." Jelas Rakes.
"Chim chim, ini semua menyenangkan lagi pula aku sudah terbiasa dengan perut buncit ini dan boleh aku minta sesuatu?"
"Apa yang kamu inginkan? katakan, akan abang penuhi apapun itu!"
"Ayo kita punya anak yang banyak!"
permintaan Zea sukses membuat Rakes kaget bukan kepalang.
"Kamu serius??"
"Hmmmm! jika lahiran kali ini berjalan dengan baik, dan jika aku masih di beri kesempatan untuk hamil lagi serta berumur panjang, ayo buat keluarga besar, aku ingin punya banyak anak agar nanti aku tidak kesepian disaat abang harus pergi tugas, dan yang paling penting uma sama mama nggak harus rebutan untuk membawa cucunya nginap di rumah mereka."
"Ide yang bagus!" Ucap Rakes senang.
"I love you, my lovely Chim chim!" Ujar Zea lalu kembali mengecup kedua pipi Rakes secara bergantian.
"I love you to, my lovely Jannati!" Ujar Rakes yang kembali memeluk Zea.
__________________
Hari ini adalah hari ke empat Rafeal berada di rumah sakit, dan dokter sudah membenarkan Rafeal pulang hari ini, dengan catatan Rafeal harus menjaga lukanya dengan baik, menjaga makanan dan juga melakukan pemeriksaan setiap dua hari sekali.
"Mau balik kemana?" Tanya Marvel yang masih terus merapikan kemeja Rafeal.
"Ya ke rumah, kan nggak lucu kalau kalian titip aku ke panti asuhan!" Ujar Rafeal dengan tawa khasnya.
"Aku serius, ayo pulang ke rumah!" Ajak Marvel yang beralih mengambil tas yang ada di atas ranjang.
"Pasti dong aku pulang ke rumah, kan nggak mungkin aku pulang ke kolong jembatan!" Jelas Rafeal.
"Berhenti bercanda, nggak lucu! ayah meminta ku untuk membawa pulang kamu ke rumah!" Jelas Rakes.
"Papi juga sejak kemaren terus saja meminta aku untuk membawa kamu ke rumah. Terserah kamu mau ikut aku atau Rakes yang jelas tidak ke rumah kita dan juga tidak ke rumah kamu, karena kamu masih harus di rawat dengan baik." Jelas Marvel.
"Jangan berlebihan deh! luka aku udah kering dan aku bisa menjaga diri aku dengan baik, kalian pikir aku anak kecil, udah tenang aja, antar kan aku ke rumah kita, aku ingin di sana!" Jelas Rafeal.
"Ini bukan tawaran tapi perintah! ikut aku atau Rakes kamu yang tentukan!" Tegas Marvel.
"Aku bisa jaga diri dengan baik!" Ujar Rafeal.
"Ke rumah ayah atau ikut Marvel, jawab sebelum kami berdua yang menyeret mu!" Tegas Rakes yang langsung membantu Rafeal berdiri lalu membawanya keluar dari ruang rawat tersebut.
Marvel mengikuti keduanya dengan membawa tas Rafeal, sesampai di parkiran ketiganya langsung masuk ke dalam mobil, Rakes yang mengemudi lalu Marvel yang duduk di sebelahnya dan Rafeal yang duduk di belakang.
"Untuk yang terakhir kalinya sebelum aku mulai mengemudi, ikut aku atau Marvel?" Tanya Rakes.
"Antar aku ke rumah kita, aku janji aku bakal jaga diri aku dengan baik!" Jelas Rafeal.
"Nggak!" Tegas Marvel dan Rakes serentak.
"Kalian....!" Protes Rafeal.
"Kalau gitu, ayo pulang ke rumah kita!" Jelas Marvel.
"Baiklah, ayo kita tinggal di sana!" Jelas Rakes yang langsung menjalankan mobilnya.
"Apa kalian sudah gila? Marvel bukankah mami lagi kurang sehat, dan kamu Rakes, Zea lagi hamil kamu mau ninggalin dia? jangan ngaco kalian!" Jelas Rafeal.
"Bukankah itu keinginan kamu? lagian mami ada Ana yang menemani dan soal Zea, kan ada uma yang jagain." Jelas Marvel.
"Gila!" Cetus Rafeal.
"Kami akan merawat kamu hingga sembuh, lagi pula kita juga lagi di liburkan! ayo Rakes, langsung menuju rumah kita!" Jelas Marvel.
"Baiklah, stop aku ikut kalian!" Jelas Rafeal mengalah.
"Siapa?" Tanya Rakes.
"Terserah kalian!" Cetus Rafeal.
"Putar arah, kita ke rumah aku!" Jelas Marvel.
"Siap!" Ujar Rakes lantang dan langsung berbalik arah menuju rumah Keluarga Revtankhar.
Rafeal hanya menurut ia tidak ingin kembali mengajukan protes yang justru akan membuat kedua sahabatnya semakin menggila tidak jelas.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ