
(Muke gileee! gimana kalau sampai aku pas-pasan sama orang yang aku kenal, bakal mati aku! Gimana kalau ketemu sama Kania? dia bakal ngenalin aku nggak ya? haaah dia nggak akan mungkin main ke toko pakaian ternama seperti ini kan? gimana kalau malah ketemu Qalesya, atau justru malah ketemu sama mak lampir Reva, secara diakan hobi berburu baju branded,,, bisa gila aku kalau gini ceritanya. Zea udah pasti nggak bakal ke tempat seperti ini diakan tomboy dan alim, jadi mana pernah pakai baju-baju durjana yang seperti ini. Huffff semoga saja nggak ketemu sama satu makhluk pun yang mengenali wajah blasteran surga ku ini, huufff oke Risty slow! Risty? haissssss sejak kapan aku jadi senyaman ini dengan nama itu, iiiih! amit-amit deh, Rafeal jangan sampai kamu melupakan jati diri mu yang sesungguhnya. Oke, semuanya akan berjalan sesuai rencana, baiklah!) Refeal terus saja bergulat dengan hatinya.
Meski sejak tadi ia terus berjalan beriringan dengan Temi, namun pikiran dan hatinya sama sekali tak berada di sana, buktinya meski Temi sedari tadi mengajaknya bicara ia sama sekali tidak menanggapinya.
"Risty...." Panggil Temi entah untuk yang ke berapa kalinya ia memanggil.
Rafeal masih saja sibuk dengan pemikirannya sendiri, hingga akhirnya dengan lembut Temi menyentuh bahu Rafeal yang terekspos sempurna.
"Om...." Ujar Risty lalu sedikit menjauh dari jangkauan Temi.
"Ayo duduk!" Ajak Temi yang telah lebih dulu duduk di kursi tunggu, Rafeal hanya ikut duduk di sebelahnya Temi.
"Keluarkan semua baju terbaik kalian!" Perintah Temi pada kelima pegawai 'Branded's Colections' yang sedari tadi menyambut kedatangannya bersama Rafeal.
'Branded's Colections' merupakan toko pakaian ternama dan terbesar, yang mana pelanggan mereka berasal dari para orang-orang kaya.
"Baik tuan!" Jawab mereka serentak dan lekas melaksanakan perintah Temi.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, kelima pegawai tersebut telah kembali dengan beberapa helai pakaian di tangan mereka.
"Silahkan di coba nona!" Ujar salah satu pegawai sembari menyerahkan beberapa pakaian pada Rafeal.
"Apa aku harus mencobanya?" Tanya Risty.
"Iya sayang, cobalah, dan pilih yang mana saja yang kamu suka, kamu bahkan bisa mengambil seluruh isi toko ini kalau kamu mau." Jelas Temi dengan senyuman.
(Buset, gila nih orang! oke, mumpung lagi gratis ayo Rafeal! kan mending bisa dijual lagi nantinya.) Bisik hati Rafeal.
"Baiklah om, kalau begitu aku akan mencobanya dengan senang hati!" Ujar Risty dan segera masuk ke ruang ganti.
"Mbak, aku mau coba baju yang itu!" Seru seorang gadis cantik yang mengulurkan tangannya meminta baju yang ada di tangan sang pegawai yang tadinya melayani Risty. Gadis yang juga sudah menjadi pelanggan toko tersebut yang tak lain adalah Mariana Revtankhar.
"Maaf mbak, tapi baju ini sudah ada pemiliknya!" Jelas pegawai tersebut.
"Pemilik? mbak, jelas jelas baju itu masih di mbak. Atau mbak takut aku nggak bisa bayar, mbak nggak kenal sama aku? aku pelanggan tetap kalian loh! atau mau aku laporkan sama bos kalian?" Tanya Gadis itu yang mulai emosi.
"Udahlah kak, mending kita cari di tempat lain aja!" Pinta Kania yang mencoba menenangkan Mariana yang mulai terbawa emosi.
"Tapi Kania....." Keluh Mariana.
"Udah ayo kita cari di tempat lain aja!" Ajak Qalesya setelah melirik pada Temi yang berada di kursi sana.
"Nggak bisa gitu dong, lagi pula kita ke sini juga buat beli bukan minta. Mbak, siniin bajunya!" Jelas Mariana.
"Maaf mbak, tapi baju-baju ini memang sudah ada pemiliknya! mari saja tunjukkan baju-baju lainnya yang tak kalah menarik juga" Jelas pegawai lainnya.
"Kamu tau siapa aku? aku Mariana Revtankhar, aku bahkan sanggup membeli seluruh isi toko ini bahkan dengan toko dan pengawainya sekaligus!" Cetus Mariana kasar.
"Waaah ternyata putri konglomerat yang lagi belanja...!" Seru Temi yang terus saja menatap kearah Mariana, Qalesya dan Kania.
Temi beranjak dari tempat duduknya namun langkahnya langsung di hentikan oleh Zea yang baru saja masuk.
"Upsss sorry!" Seru Zea setelah melemparkan es krim yang ada di tangannya tepat mengenai jas Temi pada bagian dada kanannya.
Ulah Zea membuat keempat orang pengawal Temi bergerak hendak menyerang Zea namun tangan Temi memberi kode agar mereka tetap pada posisi semula.
"Seperti menang lotre saja, kalian semua berkumpul disini, wowwww!" Jelas Temi sembari melepaskan jasnya lalu membuangnya kearah sang pengawal.
"Kenapa? mau menjadikan kami sebagai sandraan mu? atau sebagai barang untuk di jadikan barter?" Tanya Zea yang segera bergabung dengan Mariana, Kania dan Qalesya.
"Sepertinya Iqbal mewarisi semua sifatnya pada mu! aku suka cara berpikir mu!" Jelas Temi.
"Dan aku benci otak bejat mu!" Cela Zea yang sukses membuat Temi jengkel.
Temi terus mendekat, tangan Temi hampir saja mendarat di wajah Zea, namun Risty sukses menghentikan ulah Temi.
"Om!" Panggil Risty yang baru saja keluar dari ruang ganti.
Suara Risty mengalihkan pandangan semua orang yang ada di sana termasuk Ivent yang masih berdiri di kejauhan sana.
"Apa dia simpanan mu? dasar hidung belang!" Cela Mariana setelah memperhatikan Risty dalam balutan drees putih selutut, ia bahkan terlihat bak bidadari.
(Waaaah jika saja waktu itu aku tidak melihatnya, pasti sekarang aku juga akan tertipu seperti yang lainnya. Refeal kamu membuat jiwa cewek ku meronta, aku aja yang cewek iri dengan wujud Risty mu ini.) Gumam hati Zea, ia bahkan tidak bergeming saat melihat sosok Risty.
"Cantik!" Ujar Kania polos.
Ucapan Kania sukses membuat wajah Rafeal merah merona ia bahkan segera memalingkan wajahnya dari Kania.
"Om, ayo kita pergi dari sini!" Desak Risty yang langsung mengandeng tangan Temi.
"Lalu gimana dengan baju-bajunya?" Tanya Temi.
"Beli aja semuanya!" Cetus Risty.
(Semoga mereka tidak mengenaliku, tolong jangan ada yang kenal dengan aku) Bisik hati Rafeal penuh harap.
"Waaah, benar-benar mata duitan. Pasangan yang serasi, tua hidung belang dan cewek mata duitan!" Cetus Mariana.
"Jaga ucapan mu!" Gumam Temi kesal yang langsung melayangkan tinjunya kearah Mariana namun dengan sigap di hadang oleh Zea.
Temi benar-benar hilang kendali, tangan yang satunya lagi langsung bergerak cepat lalu mendarat kasar di wajah Zea.
"Om hentikan! aku nggak suka om main kasar!" Tegas Risty yang langsung menarik Temi menjauh dari semuanya.
"Zea, kamu baik-baik aja?" Tanya Ivent yang langsung menghampiri Zea.
"Kak Zea...!" Seru Kania dan Qalesya bergantian dengan wajah yang begitu khawatir.
"Aku baik-baik aja!" Ujar Zea yang masih saja menatap tajam pada Temi.
"Aku akan melaporkan kamu atas kasus penyerangan!" Ancam Mariana.
"Kamu kira kamu akan menang? konyol" Cetus Temi sinis.
Zea menguatkan tinjunya, lalu segera menyerang Temi.
Zea mengayunkan tinjunya, namun segera terhenti saat para pengawal Temi mendekat. Tinju Zea memang terhenti namun diambil alih oleh kakinya.
"Praaaak" Kaki kiri Zea mendarat di lutut Temi hingga membuat tubuh Temi oleng, namun dengan sigap Risty membantunya.
"Zea awas!" Teriak Ivent yang dengan sigap menghadang setiap pukulan yang terarah pada Zea.
Hingga perkelahian pun terjadi. Dua lawan empat, Ivent dan Zea beraksi, keduanya terus membalas setiap pukulan dari keempat pengawal Temi yang terus saja menyerang.
Suasana benar-benar kacau, para pegawai toko segera mengambil sikap, mereka langsung menghubungi pihak berwajib ketika perkelahian benar-benar tak bisa dihentikan lagi.
Di saat kekacauan terjadi, Temi langsung pergi dengan membawa Risty bersamanya. Tak ingin hanya menjadi penonton, akhirnya Mariana, Qalesya dan Kania pun ikut andil, meski mereka hanya menyerang lawan yang telah Zea dan Ivent lumpuhkan.
Saat Temi beranjak meninggalkan lokasi kejadian, Marvel datang menghadang.
"Bukankah sejak awal sudah aku ingatkan? dua hari, aku memberi mu waktu dua hari untuk mengembalikan kekasih ku!" Jelas Marvel sambil menarik lengan Risty hingga terlepas dari genggaman Temi.
Suara lantang Marvel cukup membuat perkelahian terhenti. Pengawal Temi yang awalnya menyerang Zea dan Ivent kini beralih melawan Andika yang tak lain adalah sang pengawal pribadi Marvel.
Mata Zea terus saja menatap sosok Marvel yang berpenampilan begitu menipu mata, kostum ala bad boy, rambut gondrong, serta tato yang terlihat jelas di lehernya. Saat tatapan mereka saling beradu, secepat kilat Marvel mengirim sinyal yang langsung di laksanakan oleh Zea.
Zea langsung mengajak yang lainnya kabur dari tempat tersebut, mereka berlarian keluar tanpa peduli dengan tatapan heran dari orang-orang yang lalu lalang di depan toko tersebut.
"Maaf!" Pinta Kania ketika tubuhnya menabrak seseorang yang baru saja keluar dari mobil.
"Dasar bocah liar!" Cela gadis tersebut sambil menepuk bagian tubuhnya yang tertabrak dengan tubuh Kania.
"Bocah liar? lalu siapa kamu? Kenapa parkir mobil di pinggir jalan, gadis bar-bar?" Gumam Mariana emosi karena tak terima Kania di perlakukan seperti itu.
"Kamu, kamu Mariana Revtankhar? iya kan?" Tebak Kesya yang memang begitu mengenali wajah Mariana yang kerap lalu lalang di berbagai media.
"Sorry aku anak sultan mana kenal dengan orang biasa seperti mu!" Cela Mariana.
"Ayo Kesya!" Ajak sebuah suara yang langsung mengalihkan fokus Zea.
Mata Zea terus saja memandang sosok Lelaki yang baru saja keluar dari mobil yang sama dengan Kesya, lelaki yang terlihat begitu rapi dengan stelan jasnya, bahkan caranya berjalan saja terlihat begitu elegan dan menawan.
"Mariana, it's oke kamu anak sultan, tapi lihatlah orang biasa sepertiku justru bisa menggandeng sang pangeran, ayo sayang!" Jelas Kesya yang segera menggenggam tangan Rakes.
"Zea....!" Panggil Mariana.
Setelah Kesya dan Rakes memasuki toko 'Branded's Colections', Zea masih saja menatap mereka dengan mata yang berkaca-kaca. Bahkan panggilan Mariana sama sekali tidak mengusik fokusnya.
"Kak Zea..." Panggil Qalesya bersamaan dengan menggenggam tangan Zea.
"Iya, kenapa?" Tanya Zea dengan terbata-bata.
"Kakak baik-baik aja? apa ada yang salah dengan mereka? atau kakak kenal sama mereka berdua?" Tanya Kania.
"Ayo masuk!" Pinta Ivent yang datang dengan mobilnya.
"Ayo, kita harus menghilang sebelum polisi datang!" Jelas Qalesya.
"Iya, aku kapok berurusan dengan hukum, yang ada ntar abang Marvel bakal marah-marah terus papi bakal potong uang jajan aku. Buruan gih, membayangkannya saja ngeri!" Cetus Mariana yang langsung masuk ke dalam mobil.
"Aku juga ngeri ngebayangin mama ceramah dari malam sampai pagi!" Cetus Kania dan lekas menyusul ke dalam mobil.
"Qalesya masuklah!" Pinta Zea.
"Kakak juga, ayo!" Ajak Qalesya yang lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Kalian pulanglah, ada hal yang harus aku pastikan!" Jelas Zea yang segera berlari kembali kedalam toko.
"Mariana, kamu yang nyetir aku harus susul Zea, kalian pulanglah!" Jelas Ivent yang bergegas keluar dari mobil dan segera menyusul Zea.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️