My Princess

My Princess
#119



"Roger, apa kamu sudah gila? arahkan senjata mu pada Marvel, maka kita akan langsung menang! dan sebagaimana yang aku janjikan, aku akan mengabulkan permintaanmu." Jelas Temi.


"Apa kamu percaya dengan semua ucapan aku selama ini? konyol, bahkan kamu bisa aku tipu dengan begitu mudah!" Jelas Roger yang semakin sigap dengan kedua senjatanya yang masih menjadikan Temi sebagai sasaran.


"Kamu pikir aku akan termakan dengan semua omong kosong mu? oke, lakukan apa yang kamu mau dan aku juga akan melakukan apa yang aku mau!" Tegas Temi yang langsung menyerang kedua tangan Roger secara bersamaan.


Kaki Temi langsung menyerang kedua tangan Roger secara bersamaan hingga membuat kedua senjata Roger terjatuh di lantai. Roger berusaha untuk memungut kembali namun sebelum itu terjadi Temi kembali melayangkan kakinya tepat di dada Roger, membuat sang empunya tubuh langsung ambruk tak berdaya.


Para anak buah Temi bergegas mengambil kedua senjata milik Roger dan salah satu di antara mereka langsung menghadang Roger yang hendak bangun kembali.


"******** kamu Temi!" Teriak Roger kesal bercampur frustasi.


"Kamu kira aku tidak mengenal mu dengan baik, jika abang mu sendiri bisa kamu khianati apa lagi aku yang hanya orang asing. Aku sudah memprediksi semua kemungkinan yang akan terjadi, dan yah sesuai dengan insting tajam ku, kalian berdua benar-benar bermain dengan ku!" Jelas Temi.


"Kita habisi saja mereka semua!" Jelas Lestari yang tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk membunuh Rakes.


"Mau memulainya dari siapa? aku atau mungkin sekali hentak? mulailah!" Jelas Rakes yang kini malah terlihat lebih santai.


"Rakes, kamu manusia kan? tapi saat ini kamu justru terlihat seperti iblis. Kamu bahkan tersenyum dalam situasi seperti ini! Rakes, kalian berada di bawah serangan kami!" Jelas Fadhil.


"Lalu? apa aku harus menangis lalu memohon agar kalian melepaskan kami?" Rakes kembali mengajukan pertanyaan konyol.


"Aku akan mengembalikan kamu ke neraka Rakes, bunuh mereka semua!" Tegas Temi.


Pasukan Temi langsung menyerang, mereka bahkan beberapa kali menarik pelatuk senjata, namun tidak ada reaksi sama sekali, bahkan pisau tajam sama sekali tidak berfungsi, Temi semakin tegang saat sayatan pisaunya sama sekali tidak melukai Rafeal. Mereka saling melempar pandangan satu sama lain, berharap mendapat jawaban dari semua keanehan yang sedang terjadi.


"Geli tau, tikam aja, jangan bercanda!" Jelas Rafeal dengan senyuman menggoda.


"Senjata ini sama sekali tidak berfungsi!" Lapor Fadhil setelah berulang kali mengecek pistol miliknya.


"Woooow, apa kalian sedang bercanda?" Tanya Marvel lalu perlahan duduk di kursi dengan begitu santainya.


"Kurang ajar!" Teriak Temi penuh amarah.


"Kamu kira kami tidak tau rencana asli mu? Temi, tidak hanya otak aku yang bekerja tapi wajah tampan menawanku juga ikut berinvestasi dalam misi ini, buktinya putri semata wayang mu sampai klepek-klepek dengan pesona ku, hingga dia mau menjadi mata-mata untuk aku. Kamu tau? Kesya lah yang menunjukkan ruangan penyimpanan senjata kalian secara suka cita pada aku. Bagaimana? kerja kami memuaskan bukan?" Jelas Rakes panjang lebar.


"Dasar ********!" Gumam Lestari.


"Serang mereka!" Perintah Temi.


Semua pasukan mulai memilih lawan, hal mengejutkan lainnya terjadi, Vika dan Ervan yang tadinya berpihak pada Temi kini malah balik menyerang pasukan Temi. Dengan sigap Vika langsung menghadang Lestari yang hendak kabur sedangkan Ervan ikut membantu Andika dan Lexel yang sedang melawan para anak buah Temi.


"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Lestari saat Vika berhasil menghentikan Lestari.


"Perkenalkan nama aku Vika Anita, aku adalah anggota tim penyidik devisi kriminal unit satu." Jelas Vika dengan senyuman lebar dan langsung memborgol kedua tangan Lestari.


Di lain sisi terlihat Marvel yang sedang bergulat dengan Fadhil, meski beberapa kali mendapat pukulan akibat campur tangan dari anak buah Temi namun pada akhirnya Marvel berhasil membuat Fadhil bertekuk lutut di kakinya. Rafeal masih saja melawan Temi dengan di bantu oleh Rakes. Keduanya terus mengeluarkan jurus-jurus terbaik mereka untuk melawan Temi sang ahli ilmu bela diri, bahkan beberapa kali Temi dengan mudahnya membuat tubuh Rakes dan Rafeal ambruk ke lantai.


Roger yang tadinya hanya jadi penonton akhirnya ikut membantu, saat Rakes masih terpuruk di sudut ruangan dan Rafeal yang masih mengerang kesakitan karena hingga detik ini sudah lima kali punggungnya membentur dinding di saat itu pula Roger maju dan lagi-lagi Temi hanya mengayunkan sedikit tinjunya saja tubuh Roger telah terpental beberapa langkah ke belakang.


Temi terus menatap jendela yang ada di belakangnya, ia terlihat jelas sedang bersiap-siap untuk melarikan diri. Rakes yang membaca situasi yang ada langsung bangkit dan secepat kilat menghentikan tubuh Temi yang hendak menabrak kaca jendela.


Rafeal yang melihat aksi Rakes, seketika bangun meski harus menahan rasa sakit, Rafeal tetap bergegas membantu Rakes.


Rafeal menyerang bagian kaki Temi disaat Rakes menyerang bagian kepala Temi, pukulan yang bersamaan membuat tubuh Temi goyah dan hampir jatuh, namun Temi memanfaatkan keadaan yang ada dengan sebaik mungkin, ia segera berlari ke arah jendela dan......


'Kriiing' Tubuh Temi menghantam kaca di ikuti oleh Rakes. Aksi keduanya membuat semua mata beralih menatap ke arah jendela.


Rafeal segera mendekat kearah jendela lalu cepat-cepat memantau keadaan di bawah sana.


Saat tangan Rakes melambai dengan memamerkan jempol ke atas membuat Rafeal bisa bernafas lega.


"Keadaan aman, Rakes berhasil meringkuk Temi." Lapor Rafeal yang sukses membuat semua anggota tim bisa kembali bernafas lega.


"Seret mereka semua ke mobil!" Perintah Marvel.


"Siap!" Jawab semuanya serentak.


Vika menyeret Lestari bersamanya, Lexel juga segera membawa Fadhil keluar dari ruangan tersebut di ikuti oleh Andika dan Rafeal yang ikut menyeret semua pasukan Temi yang berhasil mereka lumpuhkan.


"Ayo pulang!" Ajak Marvel lalu mengulurkan tangannya ke arah Roger yang masih duduk bersandar pada dinding.


"Apa semuanya sudah berakhir?" Tanya Roger.


"Iya, berkat bantuan kamu. Nanti, akan abang tagih cerita versi lengkapnya!" Jelas Marvel.


"Hmmmm!" Ujar Roger dengan senyuman dan langsung meraih uluran tangan Marvel.


Keduanya keluar dari ruangan tersebut.


Suara sirene mobil polisi seakan menggema di udara, polisi datang dan segera mengamankan semua tawanan.


"Terima kasih, Ketua." Ujar Vika bahagia karena mendapat pujian dari sang atasan.


"Rakes mana?" Tanya Angel.


"Di sini tante!" Jawab Rakes lalu perlahan berjalan mendekati yang lainnya yang sedang berkumpul di depan mobil.


Bawahan Angel langsung mengambil alih semuanya. Semua pelaku kini sudah berada di dalam mobil.


"Apa kamu terluka?" Tanya Angel.


"Cuma luka ringan kok tante!" Jelas Rakes.


"Hmmmmmm, apa Kapten Iqbal tidak ikut?" Tanya Andika.


"Tim Iqbal sedang di istana Temi, mereka akan memeriksa semua senjata ilegal yang sudah kalian amankan." Jelas Angel.


"Apa ini artinya cerita Temi sudah tamat?" Tanya Lexel.


"Pastinya dong!" Seru Marvel bangga.


"Ya udah kalau gitu tante permisi, ayo Vika!" Jelas Angel.


"Siap!" Ujar Vika yang segera ikut Angel ke mobil.


Pasukan Angel langsung meninggalkan lokasi dengan membawa serta para tahanan. Di tempat itu hanya tinggal para tim Rakes dan juga Roger.


"Lexel, antarkan Roger ke rumah sakit!" Pinta Rakes.


"Siap! Ayo Roger." Jelas Lexel yang langsung mengajak Roger untuk ikut ke mobilnya.


Roger tidak melakukan protes sama sekali, ia segera ikut bersama Lexel.


"Ayo, kita juga harus pulang!" Ajak Marvel.


"Ayo pulang, aku sudah sangat merindukan rumah ku dan juga semua pakaian aku!" Jelas Rafeal yang sukses membuat yang lainnya tertawa.


"Rafeal....." Panggil Marvel.


"Kenapa? apa kamu terluka? dimana yang sakit?" Tanya Rafeal panik.


"Di sini!" Lapor Marvel sambil memegang bagian jantungnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Andika yang ikut panik.


"Sakit banget, jantung aku sakit saat memikirkan semuanya, aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan Risty." Jelas Marvel yang di akhirnya dengan gelak tawa.


"Kurang ajar!" Gumam Rafeal yang langsung menjitak kepala Marvel.


"Ayo pulang!" Ajak Marvel yang langsung berlari ke mobil.


"Ayo Rakes!" Ajak Rafeal.


"Hmmmm!" Jawab Rakes.


Rafeal, Marvel dan Andika hendak masuk ke dalam mobil namun langkah ketiganya terhenti saat mendengar suara 'Bruuuuuk' lalu secepatnya beralih menatap ke asal suara tersebut.


"Rakes!" Teriak Marvel saat mendapati tubuh Rakes yang terbaring di aspal.


Mereka langsung berlari menghampiri tubuh Rakes yang tak lagi sadarkan diri.


"Rakes, jangan bercanda!" Seru Rafeal sambil terus menepuk wajah Rakes.


"Darah..." Ujar Andika saat tangannya menyentuh bagian perut kanan Rakes.


Marvel langsung memeriksanya, Tangan Marvel langsung merobek baju Rakes hingga terlihatlah bagian luka yang darahnya telah mengering hingga menutupi kedalaman luka itu sendiri.


"Bukankah harusnya darah ini terus mengalir? apa yang salah? kenapa malah mengeras begini?" Tanya Rafeal kebingungan.


"Andika cepat ambil mobil!" Perintah Marvel dan langsung mengangkat tubuh Rakes dengan dibantu oleh Rafeal.


Mereka langsung meluncur menuju rumah sakit.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️