My Princess

My Princess
#123



"Zea, ini Zea kan? adik kesayangan kamu, aku ingat banget senyuman dia. Jadi ingat waktu kecil dulu, kamu ingatkan pas keluarga besar kamu liburan kesini, udah lama banget! waktu itu kamu masih di gendong Rakes dan sekarang pun masih sama. Padahal tahun telah banyak berganti, tapi kalian masih saja terlihat seperti dulu." Jelas Naina panjang lebar membuat Zea dan Rakes terdiam membisu mendengar semua cerita yang masih begitu melekat dalam ingatan Naina meski waktu telah lama berlalu.


Entah apa yang terjadi, semua penjelasan Naina sukses membuat Zea kesal ia bahkan terus menguatkan kedua tinjunya yang berada di kedua bahu Rakes. Menyadari keadaan Zea yang seakan siap mengamuk membuat Rakes mencoba untuk segera mengambil inisiatif agar perang dunia tidak terjadi.


"Naina, udah mau magrib nih, kami pamit pulang dulu ya!" Jelas Rakes.


"Kebetulan aku juga mau pulang, kalian nginap di villa yang dulu kan? ayo kita pulang bareng!" Ajak Naina.


"Hmmmmm!" Ujar Rakes kebingungan.


"Apa kakak menyukai abang Rakes?" Tanya Zea yang sukses membuat langkah Rakes terhenti.


"Apa kakak harus menjawabnya dengan jujur?" Tanya Naina dengan nada yang begitu serius.


"Jangan bercanda, ayo pulang!" Ajak Rakes yang kembali melangkah.


"Aku ingin mendengar jawaban kak Naina!" Tegas Zea.


"Hmmmmmm! aku sangat mencintainya. Bolehkah aku menjadi kakak ipar mu?" Jelas Naina.


"Tidak!" Tegas Zea.


"Kenapa?" Tanya Naina tak mengerti.


"Berhentilah membahas hal konyol, ayo kita pulang!" Ajak Rakes.


"Aku ingin memperjelas semuanya, abang. Biar dia tidak salah paham, biar dia tidak terus-menerus menunggu abang, biar dia berhenti berharap hal yang mustahil terjadi." Jelas Zea.


"Kenapa ucapanmu begitu kasar? Apa salah jika aku mencintai Rakes?" Tanya Naina.


"Iya salah! Naina, jangan lagi mencintai aku, karena aku sudah memiliki seorang istri!" Jelas Rakes.


"Benarkah? kamu tidak sedang membohongi aku kan?" Tanya Naina yang terlihat jelas begitu kecewa.


"Istrinya bahkan sedang hamil, jadi berhenti mengganggu abang Rakes atau aku tidak akan tinggal diam." Tegas Zea.


"Kamu pasti sangat menyukai kakak ipar mu, Zea." Ujar Naina.


"Hmmmmmm!" Jawab Zea dengan muka judesnya, hatinya ingin sekali berteriak jika sebenarnya ialah istrinya Rakes.


"Naina, kenalkan ini Nuri Zea Zahiya Saka istri tercinta ku!" Jelas Rakes dengan senyuman.


"Abang!" Ujar Zea yang begitu kaget dengan pengakuan yang baru saja Rakes lakukan.


"Jadi...?" Tanya Naina menggantung.


"Iya, Zea istriku, dia wanita yang begitu aku cintai, aku bahkan tidak bisa memiliki cinta yang lainnya selain dia, aku bahkan lebih mencintainya dari diri aku sendiri. Terima kasih sudah mencintai aku, tapi aku minta hapuslah rasa itu, jangan menyiksa diri sendiri lebih lama lagi, kamu juga berhak bahagia. Permisi!" Jelas Rakes yang bergegas meninggalkan Naina yang masih berdiri mematung dengan penuh rasa kecewa dan sesak di dada.


"Chim chim!" Ujar Zea setelah mempererat kembali kedua tangannya di bahu Rakes.


"Hmmmmm!" Ujar Rakes pelan dan semakin mempercepat langkahnya.


"Terima kasih! untuk yang pertama kalinya Chim chim mempublikasikan status kita pada orang lain. Aku bahkan tidak tau harus bagaimana mengekspresikan perasaan aku saat ini, aku benar benar diluar batas bahagia, aku sangat sangat bahagia!" Jelas Zea yang bahkan menitikkan air mata bahagianya.


"Apa sebaiknya kita percepat saja pesta pernikahan kita?" Tanya Rakes.


"Bagaimana kalau besok?" Tanya Zea dengan tawa khasnya.


"Baiklah!"


"Jangan becanda!"


"Abang serius!" Tegas Rakes saat keduanya telah sampai di depan pintu villa.


Setelah membukakan pintu lalu masuk, Rakes langsung meletakkan tubuh Zea di atas sofa, Rakes bukannya beranjak untuk duduk di sebelah Zea, ia malah duduk di lantai dengan menghadap pada Zea. Kedua tangan Rakes menyentuh lembut kedua tangan Zea, mata keduanya saling menatap dalam satu sama lain.


"Bulan depan?" Tanya Rakes.


"Bulan depan? apanya?"


"Pesta pernikahan kita."


"Apa nanti tidak akan berefek pada pekerjaan Chim chim? lalu bagaimana dengan yang lainnya? aku takut, jika semua itu akan mempersulit keadaan Chim chim." Jelas Zea.


"Zea.....!" Ujar Rakes yang perlahan menyentuh wajah Zea.


"Tidak masalah jika aku dan Raze Junior ada namun tidak terlihat, asalkan Chim chim mengakui keberadaan kami dalam hidup Chim chim itu sudah lebih dari cukup, hubungan ini tidak harus di ketahui oleh dunia yang penting sudah sah di mata agama." Jelas Zea yang langsung menyandarkan keningnya di dada bidang Rakes.


"Akan abang katakan pada semua penghuni bumi bahwa kalian adalah milik abang, agar tidak ada satu manusia pun berani menyentuh kalian berdua." Jelas Rakes yang langsung mendekap erat tubuh Zea.


"Indahnya bisa menua bersama Chim chim dengan putra putri yang banyak pastinya." Jelas Zea.


"Haruskah kita mencetaknya setiap tahun?"


"Ide bagus! gimana kalau lima belas? bakal seru tuh!"


"Siap laksanakan!" Ujar Rakes yang langsung mengecup lembut kening Zea.


"Raze Junior pasti suka kan? dady aja semangat banget nih mau kasih banyak adik buat kamu!" Jelas Rakes yang ikut mengusap lembut bagian perut Zea.


"Ternyata Chim chim bisa mesum juga rupanya, nggak sia-sia kan aku ngajarinnya selama ini!" Goda Zea dengan memainkan kedua alisnya.


"Zea, jangan mulai! udah azan tuh, ayo sholat!" Ajak Rakes yang langsung berdiri.


"Zuzuzuzu zuzuzu zuzuzu!" Goda Zea yang semakin gencar menggoda Rakes, Zea bahkan segera bangun lalu berdiri di hadapan Rakes.


"Zea....."


"Zuzuzuzu zuzuzu zuzuzu!" Zea kembali bersenandung dengan irama khas menggoda, kali ini bahkan diiringi dengan aksinya yang perlahan membuka jilbab.


"Benar-benar!" Seru Rakes yang hendak kembali menyentuh wajah Zea.


Secepat kilat Zea menghindari sentuhan Rakes, lalu berlari kecil menuju kamar.


"Ayo sholat!" Seru Zea dengan tawa puas karena berhasil meruntuhkan pertahanan sang suami.


"Lihat aja, bakal abang balas nanti siap insya!" Gumam Rakes kesal dan terus saja berusaha menenangkan dirinya.


Rakes segera menyusul Zea ke kamar lalu keduanya segera bersiap untuk sholat magrib berjamaah.


____________________


Kania yang baru tiba di depan rumah Marvel untuk yang pertama kalinya langsung di buat terkagum dengan pemandangan yang ada di dipan matanya.


Rumah nan megah bak istana, halaman yang begitu luas di tambah kolam renang besar yang hampir memenuhi bagian sisi kiri rumah serta bermacam-macam jenis bunga yang bermekaran indah memenuhi sepanjang jalan gerbang menuju pintu utama rumah.


"Ayo masuk!" Ajak Marvel setelah menghampiri Kania yang masih berdiri mematung didepan pintu mobil.


"Kania!" Ujar Marvel lalu menyentuh pundak Kania.


"Hmmmm, iya!" Ujar Kania yang segera bersikap normal.


"Ayo masuk!" Ajak Marvel lagi.


"Ini beneran rumah abang?" Tanya Kania.


"Bukan, ini rumah papi bukan rumah abang!" Jelas Marvel.


"Kalau rumahnya gini, mending aku pulang aja deh!" Jelas Kania yang hendak kembali masuk ke dalam mobil namun langsung di cegah oleh Marvel.


"Jangan bertingkah konyol, nggak ada yang beda, siapapun orang tua abang, abang tetaplah abang." Jelas Marvel.


"Kania!" Seru Mariana yang baru saja keluar dari mobil Rafeal.


"Kak Ana!" Seru Kania girang.


Mariana segera berlari menghampiri Kania lalu memeluknya erat.


"Ayo masuk!" Ajak Mariana.


"Ayo!" Ujar Kania yang langsung mengikuti Mariana.


Keduanya berjalan dengan tangan yang masih bergandengan. Rafeal yang baru keluar dari mobil langsung menghampiri Marvel yang masih berdiri menatap kepergian kedua gadis yang begitu ia sayangi.


"Waaah gila! ini sih bukan rumah, ini tuh istana raja!" Seru Rafeal.


"Berisik!" Cetus Marvel.


"Pasti bakal ada banyak makanan kan di dalam sana? ayo buruan masuk, aku lapar!" Jelas Rafeal yang hendak berlalu namun tangan Marvel langsung menarik lengan kanan Rafeal.


"Awwww!" Ujar Rafeal pelan dengan menahan rasa sakit.


"Apa ini?" Tanya Marvel setelah memeriksa goresan yang sedikit memanjang di bagian lengan Rakes.


"Tadi aku terjatuh! cuma sedikit tergores aspal kok!" Bohong Rafeal lalu mencoba menurunkan kembali lengan bajunya yang tadi sempat di sibak oleh Marvel.


"Jangan bohong!" Gumam Marvel.


"Siapa yang bohong!" Cetus Rafeal yang langsung menarik paksa tangannya dari genggaman Marvel.


"Rafeal..." Seru Marvel.


"Jangan pelit, aku lapar, beri aku makanan yang banyak!" Seru Rafeal yang segera berlari memasuki rumah megah keluarga Revtankhar.


"Pasti ada yang sedang kamu coba sembunyikan dari aku, iya kan? jika kamu memutuskan untuk berbohong maka aku akan melakukan dengan cara ku untuk mencari kebenarannya. Tidak akan aku biarkan sesiapapun menyakiti sahabat baik ku!" Tegas Marvel yang segera menyusul Rafeal.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️