My Princess

My Princess
ES_4 Kemarahan Rakes



"Senang? apa yang membuat kalian berdua begitu senang?" Tanya Rakes yang baru saja datang.


"Abang..." Ujar Zea


"Rakes..." Ujar Rafeal hampir bersamaan dengan Zea.


"Apa yang sedang kalian rencanakan?" Tanya Rakes yang kian mendekati Rafeal dan Zea.


"Kami hanya sedang membahas masalah kami berdua." Jelas Zea mengelak.


"Kami sedang berencana mengatur masa depan Arin dan Shia." Tegas Rafeal.


"Rencana bodoh apa yang kalian siapkan?" Tanya Rakes.


"Abang tenang dulu, kami hanya ingin mereka berdua jadi..." Penjelasan Zea langsung di selip oleh Rafeal.


"Penerus aku!" Tegas Rafeal.


"Jangan gila, mereka berdua perempuan!" Tegas Rakes.


"Apa sekarang abang sedang meremehkan perempuan?" Tanya Zea yang jelas merasa tersinggung dengan ucapan Rakes.


"Itu keinginan aku, dan aku hanya butuh persetujuan mereka berdua!" Jelas Rafeal.


"Nggak lucu, jangan buat ulah!" Ujar Rakes yang hendak kembali ke dalam rumah.


"Aku serius!" Tegas Rafeal yang langsung membuat langkah Rakes kembali mendekatinya.


"Jangan pancing amarah ku!" Gumam Rakes dengan terus menatap Rafeal membuat Zea takut dengan sikap keduanya.


"Jangan pernah melakukan hal gila pada Shia dan Arin, aku tidak akan membiarkan mereka terluka, sedikit pun!" Tegas Rakes.


"Akan aku pastikan kalau mereka tidak akan pernah terluka!" Tegas Rafeal.


"Kamu menyeret mereka dalam amukan perang lalu kamu mengatakan kalau kamu tidak akan membiarkan mereka terluka, apa kamu tidak berpikir dengan logis? pakai otak mu!" Jelas Rakes.


"Abang udah, Rafeal nanti kita bicara lagi!" Ujar Zea mencoba menenangkan dan berusaha memisahkan keduanya.


"Belum cukup Uzun yang harus menyerah pada impiannya? lalu bagaimana dengan Azan yang justru memilih pekerjaan yang paling dia benci, apa mereka berdua belum bisa membuat kamu sadar? ini masa depan mereka biarkan mereka sendiri yang memutuskan!" Jelas Rafeal.


'Plaaaak' Tangan Rakes mendarat di pipi kanannya Rafeal.


"Abang cukup!" Pinta Zea yang langsung menarik tubuh Rakes agar menjauh dari Rafeal.


"Jika membunuh aku bisa membuat mu berubah pikiran, maka bunuh saja aku!" Gumam Rafeal.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Marvel yang baru datang lengkap dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya.


"Abang Marvel tolong pisahkan mereka berdua, bawa Rafeal bersama abang!" Jelas Zea.


"Apa yang terjadi? apa mereka berdua berkelahi?" Tanya Marvel.


"Hmmmm!" Jawab Zea dengan terus memeluk tubuh Rakes agar tidak kembali menyerang Rafeal yang memang sama sekali tidak melakukan perlawanan.


"Zea, lepaskan Rakes, biarkan mereka berdua berkelahi!" Jelas Marvel.


"Tapi..." Ujar Zea.


"Abang yang tanggung jawab, lepaskan saja!" Jelas Marvel.


Perlahan Zea melepaskan Rakes dari genggamannya dan Zea pun sedikit melangkah menjauh dari Rakes.


"Lanjutkan!" Perintah Marvel sambil duduk di bangku, Marvel bahkan melemparkan sebilah pisau pada Rakes lalu menyerahkan pistol pada Rafeal.


"Aku nggak setuju kalau Arin dan Shia jadi seperti kita!" Tegas Rakes.


"Aku ingin mereka berdua jadi penerus kita!" Tegas Rafeal dengan mengangkat pistol kearah Rakes.


"Jangan ngaco, apapun yang terjadi aku akan menentang keputusan mu itu!" Tegas Rakes yang bersiap dengan pisaunya.


"Aku juga akan melakukan hal yang sama!" Tegas Rafeal.


"Mereka anak-anak aku, lalu kenapa kalian yang memutuskan masa depan mereka?" Tanya Marvel yang masih duduk santai.


"Lalu? apa keputusan mu?" Tanya Rakes dan Rafeal hampir serentak.


"Jangan coba-coba merayu aku, keputusan aku udah final." Tegas Rafeal.


"Mereka anak-anak aku, terserah dong aku mau mereka mejadi apa!" Cetus Marvel simpel dan langsung menyusul Rakes.


"Waaaah! tambah ngelunjak tuh anak, mentang-mentang aku yang sekarang adik iparnya, seenak jidat aja bicaranya!" Gumam Rafeal kesal.


"Kalau abang Marvel mah gampang! enteng!" Ujar Zea yang sudah kembali lega.


"Justru dia yang paling parah!" Jelas Rafeal.


"Iya parah jika kita berdua yang bicara, tapi kalau udah Kania yang angkat suara, kelar deh! langsung lemah kayak es batu tersiram air panas! sekalian kak Ana juga kita komporin bila perlu!" Jelas Zea.


"Hah! ide bagus! sekarang target kita Kania dan Ana, let's go!" Seru Rafeal penuh semangat yang langsung di jawab dengan menggelegar oleh Zea dan keduanya segera menuju mangsa berikutnya.


________________


"Daddy!" Ujar Azan saat mendapati Rakes sedang duduk termenung seorang diri di ruang keluarga.


"Gimana sidangnya? Sukses?" Tanya Rakes.


"Pastinya, jika aku yang jadi jaksanya maka selalu saja bakal menang." Jelas Azan yang langsung duduk di sebelahnya Rakes.


"Baguslah, setidaknya kamu bahagia dengan pekerjaanmu!" Ujar Rakes.


"Bukankah daddy orang yang lebih bahagia tepatnya."


"Azan,,,"


"Aku tak pernah marah bahkan kecewa sedikitpun dengan keputusan daddy tentang hidup aku, tapi aku menyesal karena aku tidak bisa mewujudkan keinginan Uzun."


"Apa adik mu masih marah?"


"Kapan daddy pernah melihatnya marah karena daddy? dia akan diam dan menuruti semu keinginan daddy. Kali ini apa lagi yang akan daddy lakukan untuk masa depan Shia dan Arin?"


"Azan!" Gumam Rakes.


"Cukup aku dan adek yang mengalami semua ini jangan lanjutkan lagi pada masa depan Arin dan Shia. Biarkan mereka menentukannya sendiri, apapun pilihan mereka tolong restui!" Jelas Azan yang bahkan kali ini bangun lalu berdiri di hadapan Rakes, tatapannya begitu penuh harap.


"Daddy pun akan diam selama pilihan mereka tidak akan berubah menjadi bencana untuk hidup mereka sendiri. Azan, daddy hanya tidak ingin kamu menjadi seperti daddy, tolong jangan salah paham, mengertilah!"


"Daddy tidak ingin aku berada dalam keadaan seperti yang daddy rasakan, aku paham! daddy tidak ingin musuh daddy malah memburu kami, aku paham. Tapi dengan menjadi jaksa pun aku masih mendapat teror dari semua musuh daddy!"


"Apa maksud mu? siapa yang mengganggu mu?" Tanya Rakes yang seketika langsung marah.


"Apa daddy tau kalau Uzun harus menyelamatkan orang yang justru ingin membunuhnya?"


"Azan!"


"Aku bahkan mendakwa orang yang sama sekali tidak bersalah untuk melindungi Uzun." Tegas Azan yang kali ini langsung menitikkan air mata.


"Maafkan aku daddy, karena aku hanya paham hukum, aku sama sekali tidak mengerti cara mengarahkan senjata pada lawan!" Jelas Uzun dan lekas pergi.


"Azan, Azan...." Panggil Rakes.


Namun Azan terus saja berjalan tanpa peduli dengan suara Rakes yang terus memanggilnya.


"Apa yang aku tidak tau?" Tanya Rakes pada dirinya sendiri.


"Aku harus menyelesaikan semua ini!" Tegas Rakes dan lekas pergi dengan begitu terburu-buru.


"Mau kemana?" Tanya Mariana saat ia berpapasan dengan Rakes di gerbang sana.


"Ada hal yang harus abang urus!" Jawab Rakes dan langsung pergi dengan motornya.


"Akhirnya....!" Ujar Mariana lega.


"Apa abang Rakes udah pergi?" Tanya Kania yang sampai di gerbang dengan napas ngos-ngosan, karena sejak tadi ia memang berlarian menuju gerbang.


"Iyap! gol!" Seru Mariana yang begitu kegirangan lalu merangkul bahu Kania dan keduanya lekas kembali ke dalam rumah.


💜💜💜💜💜