
Suara pintu yang di buka secara kasar dari luar membuat Roger langsung menghentikan obrolannya, ia langsung mematikan ponselnya lalu cepat-cepat memasukkannya ke dalam saku celana.
Roger masih menatap kearah Rakes yang terus melangkah menuju dirinya. Tanpa sepatah katapun tangan Rakes langsung melayang di wajah Roger membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Apa apaan ini?" Tanya Roger.
"Itu balasan karena kamu sudah menyentuh istri abang!" Tegas Rakes.
"Hah! aku cuma memindahkannya saja, apa aku harus membiarkan dia terus tertidur di teras?"
"Kamu yakin hanya memindahkannya saja?"
"Kenapa? apa abang takut aku melakukan hal yang lebih? abang, Zea adalah wanita yang aku cintai...."
"Justru karena itu, karena abang tau kalau kamu begitu menggilai Zea, makanya abang yakin kalau kamu tidak hanya menggendongnya saja!" Tegas Rakes.
"Kenapa? abang cemburu?"
'Buuk' Tinju Rakes kembali mendarat di wajah Roger.
"Apa belum cukup? abang sudah memberikan semuanya untuk kamu, jadi abang mohon jangan lagi meminta istri abang, abang mohon Roger, abang tidak bisa membencimu namun abang juga tidak bisa melepaskan Zea, tolong buka sedikit hati kamu untuk abang, jangan ambil Zea dari abang, tolong tepati janjimu!" Jelas Rakes dengan penuh permohonan, ia bahkan meneteskan air matanya.
"Janji? aku sama sekali tidak menjanjikan apa-apa pada abang!" Tegas Roger masih dengan sikap keras kepalanya.
"Dulu, kamu bilang jika abang melimpahkan semua warisan dari kakek untuk kamu, kamu akan membiarkan abang memiliki Zea, dan juga waktu SMA, kamu bilang jika abang mau tinggal di asrama kamu akan membiarkan abang memiliki Zea, kamu juga pernah berjanji kalau abang menjauh dari mama dan papa, kamu akan membiarkan abang untuk tetap bisa bersama Zea. Apa sekarang kamu lupa dengan semua janji yang kamu buat? Roger, abang yang lebih dulu jatuh cinta pada Zea, abang yang lebih dulu meminta Zea pada om Iqbal, abang juga yang lebih dulu menjadikan dia my Princess." Jelas Rakes.
"Itu semua hanyalah cerita lama, bagaimana bisa kita hidup dalam kesepakan masa lalu. Aku yang sekarang bukanlah Roger yang bodoh, aku tidak akan melepaskan Zea untuk siapapun, termasuk untuk abang!" Tegas Roger.
"Baik, jika itu keputusanmu. Abang pun akan melakukan hal yang sama, abang tidak akan membiarkan satu orang pun menyentuh istri abang, termasuk kamu." Tegas Rakes dan lekas keluar dari kamar Roger.
Setelah Rakes pergi, Roger kembali mengamuk, ia begitu di penuhi oleh amarah, tangannya langsung membanting semua barang yang ada di dekatnya, emosinya benar-benar tak bisa di kendalikan.
"Siaaaal!" Teriak Roger dengan kedua tangan yang menggenggam erat rambutnya.
Tubuh Roger terduduk di sofa dekat tempat tidur, mukanya masih saja memerah.
"Aku akan membunuhmu, akan akan membunuhmu abang Rakes, akan ku pastikan bahwa hanya aku yang berhak atas Zea, hanya aku yang bisa memiliki Zea." Gumam Roger.
__________________
Tepat pukul delapan malam, semuanya sudah berkumpul di meja makan, Elsaliani dan Iqbal juga sudah hadir di meja makan tersebut.
"Udah lama banget nggak ke sini, rasanya ada yang beda." Ujar Elsaliani yang duduk di samping Erina.
"Makanya sering-sering main ke sini!" Jelas Erina.
"Pengennya juga gitu kak, cuman ya mau gimana lagi..." Jelas Elsaliani.
"Kenapa? apa Iqbal melarang mu?" Tanya Hadi.
"Bukan melarang, tapi cuman waspada aja, abang tau sendirikan?" Jelas Iqbal.
"Cieeee suami idaman!" seru Erina menggoda.
"Iya dong, beda kelas lah sama abang Hadi, yang hanya suami pasaran!" Canda Iqbal.
"Dasar makhluk sadis!" Cela Hadi.
"Nah kan mulai lagi!" Ujar Erina.
"Udah udah, anak-anak udah pada datang tuh!" Ujar Elsaliani melerai.
"Uma, ayah..." Ujar Zea sambil menyalami kedua orang tuanya yang baru saja datang.
"Heboh banget, kayak nggak ketemu setahun pada hal tadi pagi baru debat!" Ujar Iqbal sambil merangkul bahu Zea.
"Rakes, Roger, ayo sini gabung..." Ajak Elsaliani.
Rakes mengambil tempat di samping sang istri tercinta.
"Selamat makan, semoga kalian suka!" Ujar Erina.
"Ayo El, Zea..." Ajak Hadi.
"Terima kasih..." Ucap Elsaliani dan Zea hampir bersamaan.
Mereka langsung menikmati makan malam dengan penuh kebersamaan. Setelah makan malam selesai, semua keluarga berkumpul di ruang keluarga, Elsaliani dan Erina menyusul setelah membereskan meja makan. Setelah semuanya berkumpul, Rakes langsung mulai bicara.
"Khmmmmm, sebenarnya ada hal yang ingin kami sampaikan pada kalian semua!" Jelas Rakes dengan tangan yang menggenggam erat tangan Zea.
"Ada apa? apa sesuatu terjadi?" Tanya Hadi.
"Kalian berdua baik-baik saja kan?" Tanya Iqbal yang terus menatap anak dan menantunya lekat-lekat.
"Sebenarnya kami ingin menyampaikan kabar bahagia." Jelas Zea.
"Kabar bahagia? tentang apa?" Tanya Erina yang begitu bersemangat.
"Apa Zea hamil?" Tanya Elsaliani yang sukses membuat semua mata menatap fokus pada pasangan tersebut.
"Benarkah?" Ulang Hadi dan Iqbal yang tak kalah bersemangat.
"Zea, jawab! benaran kamu hamil anaknya abang Rakes?" Tanya Roger.
"Kenapa pertanyaan apa seperti itu? aku istrinya abang Rakes, ya jelas dong aku hamil dengan dia, aku mengandung anak dia!" Tegas Zea penuh penekanan.
"Kamu yakin?" Tanya Roger.
"Abang suami Zea, abang lebih tau anak siapa yang ada dalam kandungannya. Satu hal yang harus kamu tau, istri abang adalah wanita baik-baik, jangankan hal lain, menyentuh yang bukan mahram saja tidak ia lakukan. Jaga ucapan mu jika berbicara tentang istri abang." Tegas Rakes.
"Roger, Zea itu putri om, om kenal putri om dengan baik, sejak kecil om yang mendidiknya. Kali ini om tidak suka dengan cara bicaramu!" Jelas Iqbal.
"Kali ini papa benar-benar kecewa sama kamu Roger." Jelas Hadi.
"Apa ada yang salah dengan ucapan ku? lagi pula aku hanya bertanya." Ujar Roger.
"Udah! jangan memperkeruh keadaan, ini berita bahagia buat keluarga kita. Zea selamat sayang!" Ujar Erina lalu memeluk erat tubuh Zea.
"Lalu bagaimana dengan sekolah Zea? apa abang tidak berpikir tentang masa depan Zea, seharusnya abang bisa sedikit menahan diri setidaknya sampai Zea lulus SMA" Jelas Roger.
"Ini masalah keluarga abang, abang akan menanganinya." Tegas Rakes.
"Kan kita bisa ambil jalan home schooling." Usul Elsaliani.
"Ayah akan mengurus semuanya. Zea, kamu hanya harus menjaga kandungan mu dengan baik, dan kamu Rakes, jaga mereka dengan baik, selebihnya ayah dan papa mu yang akan membereskan semuanya." Jelas Iqbal.
"Terima kasih ayah!" Ujar Zea.
"Zea, terima kasih karena kamu telah menambah anggota keluarga kita!" Ujar Hadi dengan senyuman lalu mengusap lembut wajah Zea yang ada dalam pelukan Erina.
"Terima kasih karena begitu mencintai kami!" Ujar Rakes.
"Sama-sama sayang, uma juga berterima kasih karena kamu sudah mencintai anak uma dengan cinta yang luar biasa." Ujar Elsaliani lalu mengusap lembut bahu Rakes.
Pemandangan penuh kebahagiaan tersebut sukses membuat Roger semakin murka, namun ia mencoba menahan semuanya karena ia tidak ingin membuat semua orang membencinya, meski hatinya terluka Roger tetap menahan semua amarahnya, ia tau kapan ia harus beraksi dan merebut kembali sang pujaan hati.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ