
Sesaat setelah mobil Zea memasuki gang sebuah tabrakan besar terjadi, suara hantaman yang begitu keras membuat Zea menghentikan laju mobilnya. Lewat kaca mobil keduanya menyaksikan kecelakaan beruntun yang melibatkan dua mobil sedan hitam dan dua truk besar.
Kejadian yang hanya berlangsung sekejap mata namun menghasilkan kekacauan lalu lintas yang luar biasa. Dua mobil sedan hitam yang tadinya terus mengikuti mobil Rakes, kini hancur berkeping terlindas dua truk yang akhirnya kedua truk tersebut juga saling bertabrakan, salah satu truk terhenti di tempat kejadian karena terbentur dengan pinggir jalan sedangkan truk yang satunya lagi malah bergelinding jauh dalam kondisi terbalik.
Seorang laki laki muda yang mengenakan pakaian serba hitam keluar dari mobil sedan hitam yang satunya lagi yang tadinya juga ikut mengikuti mobil Rakes. Lokasi yang sudah di kerumuni oleh masal, tak membuat lelaki tersebut menghentikan langkahnya. Setelah sedikit membenarkan letak maskernya, lelaki tersebut terus mendekat lalu mencoba mengambil beberapa foto dari lokasi tersebut sebelum akhirnya suara sirene menggema di udara malam.
Dari kejauhan mulai terlihat mobil ambulance dan juga mobil polisi yang semakin mendekati lokasi. Lelaki muda tersebut segera pergi menjauh, dan segera kembali ke mobilnya lalu secepat kilat meninggalkan lokasi tersebut.
Setelah merasa bahwa ia sudah benar-benar jauh dari lokasi, perlahan mobilnya berhenti di pinggir jalan sepi. Tangannya segera meraih ponsel lalu segera menghubungi salah satu kontak yang tersimpan di ponselnya, tangan gagahnya menyentuh kontak yang bernama "Tuan Besar".
"Bagaimana?" Tanya suara kharismatik dari seberang sana, suara tegas nan tangguh tersebut terdengar begitu penuh dengan harapan yang baik.
"Terjadi kecelakaan besar, dan kedua penghuni mobil tersebut tewas." Jelas lelaki muda yang sejak tadi mengikuti kedua mobil yang mengikuti Rakes, lelaki tersebut tidak lain adalah Lexel.
"Apa kamu sudah memastikan bahwa kedua penguntit Rakes benar-benar sudah tewas di tempat? saya tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi." Jelasnya lagi.
"Iya, sudah saya pastikan." Jawab Lexel pasti.
"Lalu bagaimana dengan Rakes dan Zea?"
"Saya sedang mencari lokasi keberadaan mereka berdua, saya akan langsung melapor setelah memastikan keadaan mereka." Jelas Lexel.
"Segera kabari saya!" Tegasnya dan langsung memutuskan pembicaraan mereka.
Lexel sedikit menyandarkan punggungnya, menarik nafas dalam berharap semuanya berjalan sebagaimana yang ia harapkan.
Lexel bekerja pada Temi setelah mengajukan permohonan pada sang Kepala, bukan tanpa alasan Lexel memutuskan untuk menjadi mata-mata di organisasi gelap yang penuh dengan bahaya tersebut, ia melakukannya untuk balas budi pada Jordan sang Tuan Besarnya. Jordan adalah orang yang begitu berjasa dalam hidupnya, karena Jordan lah yang mengubahnya dari pengamen jalanan menjadi seorang prajurit negera.
Jordan sengaja menjadikan Lexel sebagai tameng untuk memastikan keselamatan sang cucu tercinta. Jordan yang terlihat berdiam diri, ternyata tau segala hal tentang Rakes termasuk pekerjaan yang Rakes pilih, bahkan sejak awal Jordan tau segala hal hingga dia memutuskan untuk menjadikan Lexel sebagai matanya untuk memantau Rakes tanpa sepengetahuan siapapun.
Setelah terdiam beberapa saat, Lexel kembali menjalankan mobilnya lalu mengikuti titik merah yang terlihat jelas di layar ponselnya. Laju mobil kian bertambah hingga akhirnya mobil Lexel memasuki area sebuah rumah sakit.
"Kenapa mereka di sini? apa mereka terluka?" Tanya Lexel pada dirinya sendiri, ia tidak lagi bisa tenang, dengan terburu-buru segera keluar dari mobil lalu berlari memasuki rumah sakit.
"Pasien, haaaah! pasien atas nama Rakes Al-Maliki di ruangan mana?" Tanya Lexel dengan nafas ngos-ngosan.
"Sebentar pak!" Ujar sang penjaga resepsionis.
"Carikan sekarang!" Teriak Lexel yang sontak menghebohkan seluruh ruangan.
Semua mata seketika menatap heran pada Lexel.
"Lexel!" Panggil Rakes yang baru keluar dari ruangan yang tidak terlalu jauh dari tempat Lexel berada.
Lexel segera berlari menghampiri Rakes.
Tangan Lexel segera memastikan keadaan tubuh Rakes.
"Ada apa?" Tanya Rakes yang tidak mengerti dengan tingkah Lexel.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Lexel.
"Kenapa kamu ada di sini?" Pertanyaan Rakes sontak membuat Lexel mematung.
"Aku?"
"Iya, kamu Lexel."
"Aku mengikuti mobil anak buah Temi yang tadi mengikuti mu."
"Apa kamu sudah gila? jika Temi tau bukan hanya aku tapi kamu juga akan dihabisi. Aku atau pun kamu, tidak ada yang boleh ketahuan sebelum misi kita selesai." Jelas Rakes.
"Jika aku tidak mengikuti mereka, mereka pasti akan memergoki kamu dan juga princess." Jelas Lexel.
"Lalu? hasilnya?"
"Mereka tewas di lokasi kejadian!"
"Ulah mu?"
"Bukankah kamu yang menyebabkan kecelakaan beruntun itu?"
"Mobilmu yang melaju kencang lalu tiba-tiba masuk ke dalam gang kecil membuat mereka terkecoh dan mendadak berbelok mengikuti arah mobil mu hingga dua truk dari arah berlawanan yang sedang meluncur cepat langsung menghantam kedua mobil mereka. Rakes, apa kamu berkerja sampingan sebagai pembalap?" Jelas Lexel panjang lebar.
Rakes masih mematung dengan penjelasan Lexel yang baru saja ia dengar. Matanya bahkan tak berkedip sama sekali yang paling parah jantungnya seakan juga ikut berhenti berdetak setelah mencermati setiap kata-kata Lexel.
"Kamu benar-benar luar biasa dalam segala hal, kerja bagus Rakes!" Ujar Lexel dengan menepuk bahu Rakes.
"Ada yang harus aku pastikan, permisi!" Jelas Rakes yang kembali memasuki ruangan.
Kaki panjang Rakes terus melangkah mendekati ranjang di mana Zea masih terbaring menjalani pemeriksaan yang sedang di lakukan oleh sang dokter yang sedang menangani Zea.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Rakes setelah sang dokter menyelesaikan pemeriksaannya. Dokter wanita yang bernama Putri tersebut merupakan kakak sepupu Rakes dari pihak Hadi.
"Semuanya baik-baik saja. Zea, jangan memaksa diri untuk melakukan banyak hal, kandungan mu butuh istirahat. Jaga dia dengan baik karena jika sesuatu terjadi itu akan berefek tidak baik untuk bayi dan juga sang calon ibu." Jelas dokter Putri.
"Baik bu dokter!" Jawab Zea patuh dengan tangan kiri yang dengan lembut mengusap bagian perutnya.
"Tetaplah berbaring beberapa jam lagi, setelah merasa lebih membaik baru pulang. Rakes, nanti sebelum pulang datanglah ke ruangan kakak sebentar." Jelas dokter Putri
"Apa ada masalah?" Tanya Zea.
"Jangan khawatir, nggak ada masalah sama sekali, saya hanya meminta Rakes untuk mengambil resep obat yang harus di tebus." Jelas dokter Putri
"Baik, terima kasih kak!" Ujar Rakes.
Dengan senyuman Putri keluar dari ruangan meninggalkan pasangan suami istri tersebut.
Rakes kembali merapat ke ranjang Zea, lalu perlahan mengusap wajah Zea.
"Apa kamu melakukannya dengan sengaja?" Tanya Rakes dengan tatapan yang begitu mendalam.
"Apa kecelakaannya parah?" Zea balik bertanya.
"Hmmmmmmm"
"Aku hanya tidak ingin Chim chim berada dalam masalah, sungguh aku tidak berniat untuk mencelakai siapapun, maafkan aku!" Jelas Zea.
Perlahan Rakes duduk pada bagian ranjang yang sedikit kosong, lalu pelan-pelan mendekat lalu merebahkan setengah tubuhnya hingga membuat wajahnya mendarat di leher Zea.
"Kenapa menangis? aku yang salah lalu kenapa Chim chim yang menangis? apa aku yang membuat Chim chim meneteskan air mata?" Tanya Zea saat merasakan air mata Rakes membasahi lehernya.
"Tidak, ntah kenapa air mata abang mengalir dengan sendirinya. Zea, maaf karena harusnya abang yang melindungi kalian berdua tapi sekarang malah kalian yang melindungi abang."
"Berhenti bicara omong kosong, selama ini Chim chim melakukan segala hal untuk melindungi aku, bahkan sampai menempatkan diri Chim chim sendiri dalam bahaya, aku juga ingin melakukannya, aku ingin melindungi Chim chim dengan segenap kekuatan yang aku miliki."
"Terima kasih, my princess, terima kasih Raze Junior!" Ucap Rakes lalu mengecup lembut kening Zea.
"Selama Chim chim dan Raze Junior baik baik saja, maka apa pun akan aku lakukan!"
"Abang juga akan melakukan hal yang sama untuk kalian berdua. Terima kasih dan juga maaf karena lagi lagi abang membuat kalian berdua berada dalam bahaya."
"Berhenti mengatakan maaf dan terima kasih. Kita partner dalam segala hal, love Chim chim!" Jelas Zea lalu mengecup pipi Rakes yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
"Istirahatlah!"
"Oke!" Ujar Zea dengan senyuman bahagia lalu segera memejamkan matanya.
Tangan Rakes kembali mengusap lembut kepala Zea lalu kembali mengecup lama kening Zea.
(Akan abang pastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.) Bisik hati Rakes.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️