
Sepanjang perjalanan Stefany dan Alrico ke parkiran semua karyawan memandang rendah ke arah Stefany sedangkan melihat penampilan Alrico sangat dipuji oleh semua karyawan apartemen.
Stefany merasa risih dilihat seperti direndahkan sekali dirinya oleh karyawan apartemen, memang dirinya dengan Alrico sangat berbeda jauh.
Mungkin karena sudah terlalu banyak wanita yang dibawa oleh Alrico ke dalam apartemen nya dan membuat semua karyawan memandang rendah wanita yang dibawa oleh Alrico.
Yah, semua wanita yang dibawa Alrico hanya untuk memuaskan nafsunya saja tidak lebih, bahkan diantara wanita yang pernah ditidurinya sampai menyerahkan dirinya kepada Alrico.
Alrico hanya meniduri 1 wanita sekali dan tidak pernah berkali-kali dan setelah itu Alrico berurusan lagi dengan mereka semua.
Setelah sampai di depan mobil, Alrico membukakan pintu mobil untuk Stefany, dan setelah itu ia memutari mobil untuk mengemudi mobil nya.
Alrico tidak memakai supir jika hari libur, ia memakai supir jika waktu jam kerja saja.
Di dalam mobil Stefany terlihat diam dengan memandang kaca mobil tanpa melihat Alrico sedikitpun, bahkan Stefany tidak pernah diam seperti ini kepada Al.
"Bukankah kamu sudah janji tidak akan mendiami ku Stef?" Alrico belum menjalankan mobilnya karena ia masih menunggu jawaban Stefany.
"Aku gak lagi diami kamu Al" Ucapnya pelan namun masih menatap kaca mobil ke arah luar, Alrico hanya bisa menghela nafas.
"Aku lagi bicara sama kamu Stef, biasakan menatap lawan bicara kamu" Stefany akhirnya menatap wajah Alrico dengan wajah yang ditekuk.
"Iya tuan Al!" Ucap Stefany dengan memutar bola matanya.
"Kamu kenapa bete seperti ini?" Alrico merasa sangat jengah, ia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh semua orang.
"Gapapa Al, udah ayo jalan nanti keburu siang" Ucap Stefany dengan senyumannya.
Alrico akhirnya menjalankan mobilnya menuju supermarket, sepanjang perjalanan Stefany masih tetap menatap kaca mobil ke arah luar dan ia pun tidak berbicara sedikit pun, Alrico pun fokus mengendarakan mobilnya.
Akhirnya mereka berdua sampai di supermarket, dan mereka pun turun dari mobil.
"Hey cemberut melulu, nanti cantiknya ilang loh" Alrico menggoda Stefany dengan mencolek dagu nya dan membuat Stefany mencebik.
"Apa sih Al! Aku sedang tidak mood!" Alrico terkejut dengan penuturan Stefany, Stefany pun membuang wajah nya.
"Kita beli ice cream gimana?" Ucapan Alrico sontak membuat Stefany tersenyum senang.
"Mau Al, 2 yaaa" Ucap Stefany dengan pupy eye nya, dan membuat Alrico gemas dengan tingkahnya.
"Satu toko pun akan aku berikan untuk kamu" Alrico mengacak rambut Stefany gemas dan setelah itu ia masuk ke dalam supermarket.
Ketika mereka berdua memasuki supermarket semua orang yang berada di supermarket memandang mereka berdua.
Alrico dengan tangannya yang setia memeluk pinggang Stefany dengan erat takut jika gadis nya hilang, sedangkan Stefany memandang toko-toko yang membuatnya sangat ingin menjelajahi toko itu.
"Mereka semua memandang mu seperti ingin menerkam mu saja" Ucap Stefany dengan tertawa renyah nya.
"Owh iya, aku memang sudah tampan dari lahir Stef" Alrico memuji dirinya sendiri dan membuat Stefany mual mendengarnya.
Mereka berdua memilih-milih bahan-bahan untuk persediaan di apartemen Alrico, Alrico tidak mengerti tentang semua ini, ia hanya mengerti tentang bisnis nya saja.
"Al, kamu mau makan apa?" Stefany sedari tadi memilih bahan yang akan ia olah nantinya.
"Steak, tapi aku bisa membeli nya. Aku tidak mau kamu terluka" Alrico masih takut jika melukai Stefany.
"Hmm okeii seterah kamu" Stefany masih memilih bahan-bahan masakan yang akan ia buat sedangkan Alrico hanya bisa mengamati garam geriknya Stefany yang sangat lihai itu.
Tiba-tiba seorang perempuan dengan pakaian terbuka nya menepuk pundak Alrico.
"Al, kamu sedang apa disini?" Ucapnya dengan mendekatkan dirinya ke Alrico.
"Jasmine, jangan membuat ku kesal. Pergi sana aku sudah tidak ada urusan denganmu" Ucap Alrico dengan menepis tangan Jasmine dari tangannya.
"Al, kamu mau ini apa it" Belum selesai bertanya Stefany bingung melihat kehadiran seseorang perempuan dengan pakaian seksi itu.
"Siapa dia? Pembantumu?" Ucap Jasmine memandang rendah Stefany.
Entah untuk keberapa kali Stefany dipanjang sangat rendah sekali oleh orang-orang, ia sudah muak.
"Al, Tante ini siapa? Tante apakah uang mu tidak cukup sampai membeli pakaian yang kurang bahan seperti ini?" Alrico berusaha menahan tawanya akibat ulah ucapan Stefany.
"Jaga ucapan mu pembantu" baru saja Jasmine ingin menampar Stefany namun tangannya dicekal oleh Alrico.
"Jangan pernah menyentuhnya apalagi menyakitinya, dia calon istriku. Jika kau macam-macam dengannya kau berurusan denganku!" Ucapan Alrico sontak membuat Jasmine serta Stefany terkejut.
"Dasar om-om, bisa-bisa nya dia berbicara seperti itu" batin Stefany.
Alrico mngeratkan tangannya di pinggang Stefany dan membawa Stefany pergi.
"Al! Belanjaanku belum kamu bayar!" Ucapan Stefany tidak didengari oleh Alrico.
Di mobil dan sesampainya di apartemen, Alrico masih diam saja sedangkan Stefany ia pun kesal dengan sikap Alrico yang seperti itu.
Jasmine Amire
**Aku mohon bantuannya agar cerita ini tembus 10k ya teman-teman 🙏
Aku mohon di pencet jempolnya dan di komen mohon bantuannya dan kalian bisa share ke teman-teman kalian😘💞❤️
Salam penulis Amatir 😘
DIN❤️**