
Setelah memastikan bahwa pintu kamar telah ia kunci, Rakes kembali mendekati Zea yang masih saja berdiri mematung sebagaimana Rakes tinggal sesaat yang lalu.
"Aku sama sekali tidak melakukan kesalahan, lalu untuk apa kita bersembunyi?" Tanya Zea masih dengan tatapan sendu.
"Abang tau, ayo sini!" Ajak Rakes yang memandu Zea untuk duduk di sofa.
"Jika aku tidak melakukannya mungkin hal yang sama akan ia lakukan pada Chim chim dan juga abang Marvel." Jelas Zea.
"Kenapa bergerak tanpa persetujuan abang? Zea, ini pekerjaan abang, tolong jangan melewati batas!"
"Melewati batas? apa aku melakukan hal yang salah?"
"Cara kamu salah! abang tau kamu hanya ingin membantu tapi bukan begini caranya, kamu sama sekali tidak punya hak untuk turut andil dalam kejadian ini, kamu bukan bagian dari pasukan abang."
Penjelasan Rakes membuat Zea seketika berdiri lalu menjauh beberapa langkah dari Rakes.
"Stop!" Tegas Zea saat Rakes hendak mendekati dirinya.
"Aku butuh waktu untuk memikirkan semua yang baru saja Chim chim jelaskan."
"Jangan salah paham! Kamu adalah istri abang bukan pasukan abang, kamu orang yang harus abang jaga bukan orang yang harus ikut dalam pertempuran, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu, abang harus bagaimana? abang takut kamu terluka, abang nggak mau kamu dan Raze Junior dalam bahaya."
"Aku benar-benar butuh waktu untuk memahami pikiran abang!"
"Jika kamu sama sekali tidak peduli pada dirimu, setidaknya lakukan demi abang dan Raze Junior. Abang akan gila jika kehilangan kalian!" Tegas Rakes yang seketika langsung memeluk erat tubuh Zea.
"Jangan buat jarak, itu akan membuat abang sesak! tidak ada yang harus kamu pahami, abang yang salah, abang minta maaf!" Ungkap Rakes dengan tetesan air mata yang terus ia coba kendalikan.
"Hmmmmmmmm!" Ujar Zea pelan.
"Apa kamu tidak akan membalas pelukan abang?"
"Maafkan sifat keras kepala aku! sama halnya dengan Chim chim, aku juga tidak bisa tinggal diam jika Chim chim dalam bahaya, aku takut setengah mati, lalu bagaimana bisa aku duduk manis menunggu, aku takut jika aku tidak bergerak aku akan menyesali diam ku di seluruh sisa hidupku!" Jelas Zea yang langsung membalas pelukan Rakes.
Keduanya begitu larut dalam pelukan yang mulai memberi kehangatan pada hati mereka yang sejak tadi di penuhi dengan prasangka yang tidak baik, hingga akhirnya suara ketukan pintu dari luar membuat keduanya saling menatap satu sama lain.
"Siapa?" Tanya Rakes.
"Ini aku, Kania!" Jawab Kania dari luar sana.
Rakes dan Zea segera membukakan pintu, hingga terlihatlah sosok Kania yang terlihat begitu khawatir.
"Dimana abang Rafeal dan abang Marvel?" Tanya Kania.
"Mereka berdua di rumah sakit!" Jelas Rakes.
Seketika tubuh Kania langsung ambruk di lantai, air matanya terus saja menetes, ia terlihat begitu tak berdaya.
"Kania...." Ujar Zea yang segera mendekap Kania kedalam pelukannya.
"Kania, mereka emang di rumah sakit tapi yang terluka bukan mereka, tapi Bima." Jelas Rakes.
"Sebegitu kah kamu mengkhawatirkan mereka berdua? tenanglah, abang Marvel dan Rafeal baik-baik saja." Ujar Zea yang perlahan mengusap wajah Kania.
"Syukurlah!" Ujar Kania yang mulai sedikit tenang.
"Mariana dimana? apa dia baik-baik saja?" Tanya Rakes.
"Hmmmm!" Ujar Kania.
"Dan ah Reva, dimana dia?" Tanya Zea.
"Ntahlah, aku nggak tau!" Ujar Kania.
"Apa terjadi sesuatu? apa dia buat ulah lagi?" Tanya Zea.
"Kalian berdua tetaplah di sini, aku akan cari Reva." Jelas Rakes yang hendak pergi, namun kedatangan Mariana membuat langkahnya kembali terhenti.
"Kak Ana!" Ujar Kania dan Zea hampir bersamaan.
"Ada polisi di depan!" Jelas Mariana.
"Polisi? kenapa mereka kesini?" Tanya Rakes.
"Apa mereka tau tentang kejadian tadi?" Tanya Zea panik.
"Mereka ingin bertemu dengan abang Rakes." Jelas Mariana.
"Abang Rakes? kenapa? apa yang mereka inginkan? biar aku yang temui mereka." Jelas Zea.
"Zea, tunggulah di sini bersama Ana dan juga Kania, abang akan menyelesaikan semuanya." Jelas Rakes dan lekas berlalu.
"Kenapa bisa ada polisi?" Tanya Kania khawatir.
"Kak Ana...." Ujar Kania tertahan.
"Aku nggak tau apa yang sebenarnya terjadi antara kalian berdua, tapi jika itu ulah Reva maka aku pastikan Reva lah yang berbohong." Jelas Zea.
"Aku tidak sebodoh yang kalian pikirkan, aku tau mungkin Reva berbohong, tapi tatapan Kania seolah membuktikan bahwa ucapan Reva benar adanya." Tegas Mariana.
"Kak Ana, jangan salah paham pada Kania." Ujar Zea.
"Bagaimana aku nggak salah paham, jika dia hanya diam, bukankah bungkamnya menandakan kalau semua tuduhan Reva benar adanya." Jelas Mariana.
"Kak Ana punya hak untuk menilai orang sesuai keinginan kakak, apapun tuduhan kak Ana, aku terima! tapi tolong jangan libatkan abang Rafeal." Jelas Kania.
"Lihat kan Zea? jelas-jelas dia mulai goyah!" Cetus Mariana dingin.
"Kania...." Ujar Zea.
"Apa kak Zea lihat, tatapan abang Rafeal yang begitu penuh ketulusan terhadap aku dan abang Marvel? dia lelaki baik, aku akui itu, aku juga sayang sama dia, aku berharap suatu saat aku bisa membalas semua kebaikannya, apa aku salah? aku menganggapnya sebatas seorang abang, sebatas sahabat dari lelaki yang begitu aku cintai. Aku khawatir dengan keadaan abang Rafeal, apa aku salah? aku hanya ingin menjaga perasaannya karena aku tau bahwa ia tidak pernah sekalipun berniat untuk merebut aku dari abang Marvel, bahkan jika aku datang padanya dengan membuang abang Marvel, aku yakin alih-alih menerima aku dia justru akan membunuhku karena melukai sahabat terbaiknya." Jelas Kania panjang lebar dengan begitu bijaksana.
"Kak Ana, Kania adik aku, aku kenal dia dengan baik, aku harap kak Ana bisa memahaminya." Ujar Zea yang kembali mendekap Kania dengan erat.
"Maafkan aku! aku terlalu emosi, aku takut kalian berdua mengkhianati aku dan juga abang Marvel." Jelas Mariana lalu ikut memeluk Kania.
"Syukurlah! aku senang jika semuanya kembali seperti sediakala." Ujar Zea.
Ketiganya tersenyum bahagia, hingga pada menit berikutnya mereka saling menatap dalam diam satu sama lain, lalu buru-buru bangun dan segera berlari menuju ruang utama.
__________________
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rakes yang menghampiri tiga orang polisi yang sejak tadi menunggunya di depan pintu utama resort.
"Kami baru saja mendapat laporan bahwa terjadi penyerangan di sini!" Jelas Salah seorang dari ketiganya.
"Cuma sedikit salah paham saja pak, saya rasa orang yang melaporkan kejadian tersebut hanya melihat kejadiannya sekilas saja, mohon maaf pak!" Jelas Rakes.
"Tapi kami tidak hanya sekedar mendapat laporan, kami juga mendapatkan vidio dari kejadian tersebut." Jelas sang polisi sambil memamerkan ponsel miliknya yang sedang memutar sebuah vidio.
(Roger benar-benar buat ulah! apa yang harus aku lakukan? ahhhh, nggak ada cara lain, baiklah, mau gimana lagi!) Gumam hati Rakes kesal.
Rakes maju dua langkah, lalu mendekatkan wajahnya pada polisi yang sejak tadi berbicara dengannya.
"Saya dan pasukan saya sedang dalam tugas. Ahhh, kenalkan aku Rakes Al-Malik, tolong katakan pada komandan kalian kalau di sini, Komandan Rakes sedang melaksanakan misi rahasia." Jelas Rakes dengan suara yang begitu pelan.
Suara ponsel milik sang polisi membuat Rakes kembali melangkah mundur ke posisi semula, ia langsung menerima panggilannya, setelah berbicara selama beberapa menit, ia menutup ponselnya lalu dengan suara lantang memberi hormat kepada Rakes, gerakannya langsung diikuti oleh kedua bawahannya.
"Santai saja, dan saya harap vidio itu diamankan." Jelas Rakes.
"Baik pak, sekali lagi maafkan kami!" Jelasnya lagi.
"Terima kasih atas kerja samanya." Ujar Rakes.
"Sama-sama pak, kalau begitu kami permisi." Jelasnya lalu menurunkan tangannya dan lekas pergi bersama kedua bawahannya.
"Dimana polisinya?" Tanya Zea yang baru saja datang bersama Kania dan juga Mariana.
"Polisi? kenapa ada polisi?" Tanya Roger yang baru saja bergabung.
"Abang kan yang memanggil mereka?" Tanya Zea.
"Kerjaan siapa lagi kalau bukan dia!" Cetus Mariana.
"Kalian menuduh aku, atas dasar apa? lagi pula Zea terlibat dalam kejadian tadi, lalu bagaimana bisa aku memanggil polisi, apa kalian gila!" Jelas Roger kesal.
"Jadi ini ulah dia lagi!" Cetus Kania.
"Reva!" Gumam Rakes geram.
"Benar-benar tidak bisa dibiarkan!" Gumam Roger dan segera pergi.
"Sebenarnya dia kenapa sih?" Tanya Mariana kesal.
"Ayo kita cari dia!" Ajak Zea yang langsung diikuti oleh yang lainnya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida❤️❤️❤️❤️❤️