My Princess

My Princess
#093



"Berhenti menutup wajah mu!" Pinta Marvel.


Tangan Marvel langsung memindahkan daftar menu yang sedari tadi Kania gunakan untuk menutup wajahnya.


Sejak pertama masuk dan duduk di meja di sebuah Restoran mewah Kania terlihat jelas begitu risih, betapa tidak semua mata terus saja menatap dirinya bahkan banyak para wanita yang berbisik-bisik tentang dirinya yang duduk semeja dengan Marvel yang saat ini memang sedang menjadi sorotan publik setelah kedua orang tuanya memamerkan fotonya kepada seluruh dunia. Kerena alasan itu pula untuk seminggu ini Marvel di bebas tugaskan dari pekerjaannya, bukan karena status sosialnya tapi memang para atasan mencoba untuk menghindari hal-hal lainnya, seperti terbongkarnya pekerjaan Marvel kerena tertangkap media sedang beraksi dalam misinya.


Perlahan Kania menurunkan daftar menu tersebut hingga terlihatlah wajah manisnya yang jika tersenyum terlihat begitu mirip dengan sang mama.


Marvel menatapnya dengan dalam.


"Apa kamu risih berada di sini?" Tanya Marvel.


"Hmmmm!" Kania menganggukkan kepalanya pelan.


Marvel langsung bangun dari kursinya.


"Ayo!" Ajak Marvel.


"Kemana?" Tanya Kania kebingungan.


"Ke tempat yang bisa buat kita nyaman." Jelas Marvel yang langsung meraih tangan Kania lalu menuntunnya untuk ikut bersamanya.


"Tuan Marvel..." Ujar seorang pelayan yang baru saja datang.


"Maaf, saya tidak jadi pesan, dan kamu cukup memanggil namaku saja, ingat tanpa embel-embel tuan, terima kasih!" Jelas Marvel lalu segera keluar dari Restoran yang memang merupakan milik keluarganya.


Setelah menempuh perjalan selama beberapa menit, akhirnya mobil Marvel berhenti di salah satu rumah makan sederhana yang sudah menjadi langganan ia bersama kedua sahabatnya.


"Mbak Desi...." Sapa Marvel sambil terus berjalan menuju sebuah meja.


"Waaaah pak rumah makan kita kedatangan orang kaya nih, bakal untung banyak kita hari ini." Seru Desi sambil terus membawa daftar menu ke meja di mana Kania dan Marvel duduk.


"Bapak sehat kan?" Tanya Marvel sambil menoleh pak Hasan yang duduk di meja kasir.


"Alhamdulillah sehat nak, Rafeal sama Rakes mana? biasanya kan selalu bertiga kalau mau nge-bon!" Jelas Pak Hasan diiringi dengan tawa khasnya.


"Ah si bapak nggak peka sih, kali ini dia datang sama calon istri makanya dua cecunguk bobrok itu nggak diajak!" Jelas Desi.


"Doakan ya pak, biar bisa cepat halal!" Jelas Marvel.


"Siap!" Seru pak Hasan bersemangat.


"Mau pesan apa dek? oh ya mbak boleh nanya sesuatu nggak?" Tanya Desi.


"Aku pesan nasi goreng sama teh manis aja mbak, mau tanya apa? silahkan." Jelas Kania.


"Kamu yakin dia nggak main pelet? soalnya kamu cantik, sopan, soleha lagi, kok mau-maunya ya nerima si koprok ini?" Canda Desi.


"Mbak mulai deh....!" Seru Marvel.


"Tunggu sebentar, pesanan kalian akan segera diantar." Jelas Desi yang segera berlari karena di tatap oleh Marvel.


"Kalian bahkan terlihat seperti keluarga!" Ujar Kania setelah Desi pergi.


"Benarkah? itu karena hanya rumah makan ini satu-satunya orang yang ngebolehin kami bertiga ngutang." Jelas Marvel cengengesan.


"kelihatan kok kalau mbak Desi dan pak Hasan emang orang baik." Ujar Kania.


"Cieeee ada yang lagi kencan rupanya!!! anak orang kahyong kok kencannya di rumah makan anak kosaaaaaan sih??" Goda Rafeal yang baru saja masuk ke rumah makan tersebut.


"Wuiiiih makan gratis kita." Seru Rakes yang langsung duduk di sebelahnya Kania.


"Pindah nggak!" Ancam Marvel kesal dengan kelakuan dua sahabatnya yang kayak hantu tiba-tiba tanpa angin, hujan jeber main nongol aja.


"Lebih rame kan lebih seru! kak Zea kenapa nggak ikot?" Tanya Kania.


"Zea lage temanin uma belanja!" Jelas Rakes.


"Nih pesanannya, jangan minta di bon kan ya!" Jelas Desi setelah menghidangkan empat porsi makanan dan minuman.


"Makasih mbak!" Ujar Rafeal yang langsung menyantapnya.


"Bisa gila kalau gini caranya!" Gumam Marvel.


"Selamat makan!" Jelas Kania dengan senyuman lebar dan segera ikut makan.


Mereka langsung menikmati makan siang mereka, meski awalnya Marvel sedikit kesal namun semua itu tidak bertahan lama, karena setelahnya kebersamaan mereka mulai di penuhi dengan canda tawa hingga membuat Desi juga ikut-ikutan nimbrung karena suasana sedang tidak di penuhi oleh para pengunjung.


Intinya hari ini Marvel gagal kencan ala-ala drama romantis karena kemunculan tamu tak di undang, namun demikian mereka begitu menikmati kebersamaan mereka.


____________________


Berulang kali Zea menakan bel namun tak kunjung pula ada yang membukakan pintu hingga akhirnya Zea memilih untuk duduk menunggu di kursi yang ada di teras, Zea terus bermain dengan ponselnya bahkan sesekali ia tertawa lepas. Sudah selama sepuluh menit Zea menunggu namun suasana masih aja sama, tak ada seorangpun yang keluar dari dalam rumah tak pula ada yang datang.


Zea merogoh earphone dari dalam tasnya lalu segera memasangkan di kedua telinganya. Lagu favoritnya pun mulai berputar, membuat Zea akhirnya terlelap dengan posisi kepala bersandar pada bagian kursi.


Roger yang baru keluar dari mobilnya langsung melihat sosok Zea di teras sana, Roger segera berlari mendekati kursi di mana Zea terlelap.


"Selalu saja ketiduran! kamu nggak berubah sedikitpun Zea." Ujar Roger lalu tersenyuman saat mengingat kelakuan Zea yang memang selalu saja ketiduran setiap kali sedang menunggu.


Roger segera membuka pintu lalu segera mengangkat tubuh Zea kemudian membawanya masuk ke dalam. Zea hanya menggeliat lalu kembali tertidur lelap dalam gendongan Roger.


Roger langsung membawa Zea ke kamar yang dulu merupakan kamarnya Iqbal, lalu membaringkan tubuh mungil itu di sana.


"Tunggulah abang sebentar lagi Zea, abang akan menjemputmu kembali, karena kamu adalah Queennya abang, sampai kapan pun hanya abang yang berhak atas dirimu." Jelas Roger sembari mengusap lembut kening Zea.


'Cup cup' Bibir Roger mendarat di kedua pipi Zea secara bergantian membuat Zea perlahan membuka matanya.


Untuk sesaat Zea hanya tersenyum lalu kembali memejamkan matanya namun semua itu tidak bertahan lama, seketika Zea kembali membuka matanya lalu menatap lekat pada wajah yang sedari tadi begitu dekat dengannya. Setelah menyadari siapa pemilik wajah tersebut dengan cepat Zea turun dari tempat tidur.


"Apa yang abang lakukan? kenapa aku bisa sama abang??" Tanya Zea penuh amarah dan terus saja merapikan jilbabnya.


"Abang hanya menidurkan mu." Jawab Roger santai.


"Abang, berapa kali sudah aku tegaskan jangan sentuh aku!" Tegas Zea.


"Zea, kamu tertidur di teras, abang hanya membawamu masuk." Jelas Roger.


"Aku mau pulang!" Tegas Zea yang segera keluar dari kamar tersebut.


Dengan begitu buru-buru Zea terus menuruni tangga, Roger segera menyusulnya.


"Kalian sudah lama datangnya? kenapa nggak ngabarin?" Tanya Erina.


"Baru aja ma." Jawab Roger.


"Roger, apa yang terjadi?" Tanya Hadi.


"Nggak ada, aku cuma rindu sama kalian, makanya aku pulang." Jelas Roger.


"Zea, kamu sendirian? Rakes mana?" Tanya Erina.


"Hmmmm, abang Rakes nyusul katanya, ada hal yang ingin kami bicarakan sama mama dan papa!" Jelas Zea.


"Ada apa?" Tanya Roger.


"Kita tunggu Rakes aja, mending sekarang kalian bertiga istirahat dulu, mama akan masak makan malam yang lezat." Jelas Erina.


"Biar aku bantu, ma!" Tawar Zea.


"Udah kamu istirahat aja, biar mama aja, udah gih sana ke kamar." Jelas Erina.


"Baiklah." Ujar Zea menurut.


"Bibi mana ma? kok sepi?" Tanya Roger.


"Pulang kampung, anaknya lagi sakit. Ya udah mama mau masak, kalian istirahatlah!" Ujar Erina dengan senyuman dan lekas ke dapur.


"Kalian pasti lelah kan, udah istirahat sana biar papa yang nememin mama." Ujar Hadi dan segera menyusul Erina ke dapur.


Setelah Hadi pergi, Zea segera berlari ke kamar Rakes dan Roger pun menuju kamar miliknya.


Sesampai di kamar Zea langsung mengkunci pintu kamar lalu segera berlari menuju cermin, ia segera memeriksa seluruh wajahnya bahkan ia membuka jilbabnya untuk memastikan bahkan Roger tidak macam-macam pada dirinya selama ia tidur tadi.


"Zea, Zea buka pintunya!" Pinta Rakes dari luar dengan terus mencoba membuka pintu dari luar.


Mendengar suara Rakes, Zea segera membukakan pintu, dan menyambut kedatangan Rakes dengan memeluknya erat


membuat Rakes terdiam tanpa komentar.


Setelah melepaskan pelukannya, Zea langsung menyerang Rakes dengan mengecup seluruh wajahnya.


"Zea...." Ujar Rakes pelan.


"Rindu...." Adu Zea yang kembali memeluk Rakes.


Kali ini tidak hanya memeluk tapi tangan Zea mulai berpatroli kemana-mana.


"Ada apa? apa terjadi sesuatu?" Tanya Rakes yang hanya diam membiarkan Zea terus beraksi.


"Nggak tau, intinya aku rindu sama Chim chim!" Jelas Zea lalu mengecup lembut bibir sang suami.


"Zea....!"


"Hmmmmmmm!" Ujar Zea masih terus meluncurkan aksinya.


"Apa Roger buat ulah lagi?"


Pertanyaan Rakes sontak membuat Zea menghentikan tangannya yang sedang menyentuh dada Rakes.


Zea mundur beberapa langkah dari Rakes.


"Zea......" Panggil Rakes yang mendapati perubahan ekspresi dari wajah Zea.


"Kali ini apa yang dia lakukan?"


"Sudahlah, aku ngantuk, aku mau tidur!"


"Zea....." Ujar Rakes sambil terus mendekati Zea.


"Aku tertidur di teras, tapi saat terjaga aku berada di kamar bersama abang Roger." Jelas Zea dengan menundukkan wajahnya.


"Abang yakin kalau dia hanya memindahkan kamu ke kamar, nggak lebih!" Jelas Rakes lalu mereka ulang adegan tersebut.


Rakes menidurkan tubuh Zea ke atas tempat tidur.


"Dia hanya melakukannya sampai batas ini saja kan?" Tanya Rakes.


"Hmmmm!" Zea menganggukkan kepalanya.


"Zea, abang akan menjagamu dengan baik." Tegas Rakes lalu mengecup kening Zea.


"Aku percaya. Oh ya, nanti malam uma sama ayah juga akan mampir ke sini!"


"Bagus dong, jadi kita bisa memberitaukan mereka secara bersamaan."


"Tapi...."


"Kenapa? apa kamu sedang memikirkan Roger?"


"Hmmmm, bagaimana kalau abang Roger tambah marah jika tau aku hamil?"


"Abang yang memintanya untuk pulang, abang ingin dia juga tau, setidaknya dia akan berpikir dua kali jika ingin menganggu hubungan kita."


"Semoga saja!"


"Apapun yang terjadi, kita akan melewatinya bersama. Kita, kamu, abang dan Raze junior." Jelas Rakes dengan senyuman dan tangan yang beranjak mengusap pelan perut rata Zea.


"Love Chim chim!" Ungkap Zea lalu kembali memeluk tubuh Rakes.


Zea membenamkan wajahnya di dada bidang Rakes, sambil terus menikmati aroma tubuh Rakes yang membuat Zea merasa begitu tenang dan nyaman.


Setelah Zea terlelap, perlahan Rakes memindahkan kepala Zea ke atas bantal, lalu menidurkan tubuh Zea ke atas kasur, sejenak memandang wajah lelap Zea, Rakes lekas keluar dari kamar.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️